Andi X Sarah

Andi X Sarah
156. Perlombaan (SEASON 3)


__ADS_3

Drama-drama ini berlanjut hingga esok hari. Tasya dan Nabe tampak tidak bersapa sehingga membuat hati Andi menjadi cemas. Sarah bilang kalau Andi tidak usah ikut campur, padahal masalah ini akan berhubungan dengan kinerja mereka bersama. Namun, Andi memahami jika masalah wanita bukanlah seperti pria yang baku hantam langsung selesai. Biarlah Sarah yang berurusan dengan mereka berdua.


Pagi hari tempat berkicau bagi para burung yang keluar dari sangkarnya. Andi duduk bersama Sarah di depan meja makan seakan sepasang suami istri yang sarapan. Nasi diambilin, lauk diambilin, bahkan kopi dihidangkan. Tinggal rokok aja yang menunggu untuk dibakarin, tapi takutnya Sarah tiba-tiba aja menyiram Andi dengan air gayung kalau Andi melakukannya.


“Lo makan sarapan kok kaya porsi makan siang sih?” tanya Sarah sembari berpangku tangan.


“Makan yang banyak biar sehat. Elu sih kaga tahu.” Andi nambah nasinya lagi dari bakul.


“Kalau lauk dibanyakin masih masuk di akal karena mengandung protein tinggi. Ini malah banyakin nasi. Sehat kaga, diabetes iya.”


“Ah … masih muda mana ada diabetes-diabetes segala!” Andi sok tahu.


Kepala Andi dijitakin sama Sarah. “Eh, gue ini kuliah kedokteran, jadi gue paham. Lah elo, kuliah jasmani tapi ga ngerti sama kebugaran tubuh. Nasi kan mengandung gula, gula pada nasi ini sulit dicerna buat tubuh dan butuh waktu yang lama. Nanti kalau lo banyak makan nasi, tubuh lo bisa lemes dan ngantul. Getooo!”


“Ah sok tau loh … buktinya gue sehat-sehat aja,” balas Andi.


“Iya sekarang sehat-sehat aja. Nanti lo kalau udah sakit gula di usia tua, mampus lo ngerasainnya.”


“Lah kan itu besok, bukan sekarang.”


Sarah menggeleng-geleng melihat ahli nutrisi yang ada di hadapannya. Nasehatin Andi tentang makanan kaya nasehatin dia kalau lagi ngerokok. Pasti ada aja alasan-alasan yang dikeluarin buat mendukung pernyataan dia.


“Jadi, mereka udah baikan?” tanya Andi.


“Siapa?”


“Tasya dan Nabe. Masa ga tau.”


“Yaa  masih kaga sapa-sapaan gitu. Bahkan, Tasya ga mau tidur di samping dia. Padahal sebelumnya selalu samping-sampingan.”


“Hadeeeh … masalah apaa sih mereka bisa sampe segitunya.”


\ “Tenang aja, nanti juga baikan.” Sarah beridiri. “Cepetan abisin nasinya. Lo sama Nabe kan mau ke SD buat ngajar. Gue sama yang lain mau nancapin kayu pancang asmaul husna.”


“Oke …. Gue nambah nasi lagi.”


“HEH!”


Salah satu proker keagamaan mereka ialah mengiasi jalanan desa dengan kayu-kayu bertuliskan asmaul husna. Jadi, jalanan utama nanti akan ditancepin kayu-kayu tersebut dengan harapan pejalan yang lewat bisa sekalian hapal asmaul husna. Selain jadi hiasan, bisa juga jadi ladang pahala karena selalu menyebut nama Allah.


Andi dan Nabe pergi ke SD untuk mengajar. Di hari yang sama seperti hari pertama Andi mengajar, tentu saja Andi langsung bertemu dengan kelas absurd. Mereka ngeributin lagi olahraga apa yang akan dimainkan. Seperti zombie-zombie berkeliaran, Andi jadi letih meminta mereka agar duduk di tempatnya masing-masing. Belum lagi Maya selalu menatap sinis kepada Andi dan mengungkit lagi kalau Andi pengen ngedeketin Sofi.


“Ya udah … main kaya kemarin aja. Cowok main bola, cewek main volley.”


“Gantian dong Bang!” ucap salah satu cowok. “Kami juga pengen main bola kaki.”


“Jangan banyak cing cong deh. Langsung aja ke lapangan.” Andi sudah mulai kesal.


Lapangan penuh dengan anak murid Andi yang berolahraga. Andi duduk di tepain lapangan volley untuk mengasai murid cewek yang sedang melakukan service bola. Untuk anak laki-laki, Andi membiarkan mereka mau ngapain. Semakin diatur, malah semakin menjadi-jadi. Andi tidak peduli apakah lapangan futsal itu bakalan jadi arena MMA.


Maya duduk di samping Andi karena dia tidak mau main.


“Maya, kamu kok ga main?”


“Ga disuruh ayang ….”


Andi tidak tahu di mana nih anak dapat kata-kata itu. Pasti diajarin sama temen cowok sekelas karena sedari tadi Andi mendengar istilah tersebut.


“Aduh … masih kecil udah ayang-ayang. Kamu main setelah ini ….”


“Ga … Om aja yang main.”


“Kan saya guru, mana bisa main sama kalian. Kalau saya main, abis tuh semuanya kena bola.” Andi menggeleng-geleng sembari mengelus rambut Maya.

__ADS_1


“Jangan belai-belai rambut Maya dong Om. Pasti mau nyari hati Maya buat ngedeketin Kak Sofi.”


“IH!!! Makin parah nih anak.”


Bel istirahat berbunyi. Andi meninggalkan anak muridnya yang absurd tersebut. Tempat mengumpul anak KKN yang sedang mengajar ialah di UKS. Namun, Andi tidak mendapati Nabe berada di sana. Baru aja duduk beberapa menit, pintu UKS terbuka. Tampaklah Nabe seperti guru-guru muda yang menarik mata untuk meliriknya.


“Lah ke mana aja lo?”


“Ini buat lo ….” Nabe memberikan sandwich kepada Andi. “Ada yang jualan sandwich di depan SD. Gue belum sarapan, jadi sekalian aja beli buat lo satu biji.”


“Oh makasih banget. Rejeki anak soleh ini mah.”


Mereka pun duduk berdua sembari menikmati sandwich di UKS. Andi berharap tidak ada guru yang minta tolong buat duduk di meja piket, soalnya anak KKN selalu jadi langganan biar guru-guru bisa pergi ngerumpi di kantin.


“Gimana ceritnya sih elo sama Tasya? Udah baikan?”


“Ah gue ga mau bicarain tentang dia.”


Andi diam sejenak. Wajah Nabe tersirat jika ia tidak ingin membicarakan hal tersebut dengannya.


“Ya elah … cerita aja sama gue kali. Kan gue orangnya penjaga rahasia. Lo juga cerita tentang masa lalu lo ke gue, masa ini kaga berani.”


Nabe menoleh pada Andi. “Gue kaga ngerti deh sama Tasya. Kayanya dia punya sentimen sendiri ke gue. Padahal nih ya, gue kaga ada masalah apa-apa sama dia. Apa gue lebih cantik dari dia ya.”


Mulut Andi menganga waktu Nabe mengatakan hal tersebut. “Eh Maiemunah … masih aja bisa nyombongin diri. Taysa itu lebih cantik dari elu.”


“Eh kok gitu sih?”


Alis Andi naik dua kali. “Tapi elu lebih bohai. Hehehe ….”


“Nah kalau itu udah terjamin heheh ….” Nabe memberikan jempolnya. “Gue enggak ada sapa-sapaan sama Tasya. Terserah die dah, gue ga peduli lagi. Emangnya dia aja temen gue di dunia ini. Gue punya Sarah, punya elo, punya Ari Kiting, punya Rijek, dan lain-lain.”


“Jadi lo nganggap gue teman?”


“Ga mau gue jadiin selingkuhan?” pancing Andi.


“Mau sih, tapi gue digergaji sama Sarah.” Nabe mengigit kembali sandwichnya. “Eh ada ada aja pertanyaan elo.”


“Heheh canda doang mah. Makasih ya udah nganggap gue sama Sarah jadi temen lo. Gue seneng kok elo jadi temennya kami. Sarah juga seneng di deket elo.”


“Andi, kan udah gue bilang dari awal. Gue pengen deket sama elo, bukan berarti gue mau ngerebut elo dari Sarah. Lama kelamaan kita juga udah biasa begini canda-candaan. Kayanya elo sahabat pertama gue deh di kampus, terus bikin gue berubah jadi lebih baik lagi. Ntar gue juga bisa move on.”


Andi mengigit seluruh sandwichnya. “Makin pengen ngejadiin elo selingkuhan rasanya.”


“BAPAKMU!”


Persahabatan antara Andi dan Nabe terjalin baik dengan awal yang sangat buruk. Bayangkan aja waktu pertama kali Andi digoda Nabe buat masuk ke kos-kosannya. Ampir aja Andi ngelepas keperjakannya kepada Nabe. Namun, Andi mendapatkan hikmah setelah dirinya menolak hal tersebut. Andi jadi bisa bersahabat baik dengan Nabe, dan Nabe bisa juga akrab dengan Sarah.


Hari-hari berikutnya Andi disibukkan dengan seluruh persiapan tujuh belasan. Selama kurang dari dua minggu ini Andi jarang pulang ke posko karena harus urus ini itu. Dia pergi bersama Bang Asep buat nyewa tenda, nyewa orgen tunggal, biduan, sama mengundang pejabat-pejabat sekitar seperti Pak Camat dan Kepala Desa sekitar. Andi jadi deg-degan karena sewaktu malam puncak ia harus menjadi pembicara sebagai perwakilan panitia dan anak KKN.


Persiapan sudah rampung. Tepat kami setelah seminggu lebih bersiap-siap, mereka berkumpul di lapangan yang sudah ditentukan. Tiga buah pohon pinang berdiri dengan megah, masing-masing diperuntukkan buat dewasa, remaja, serta anak-anak dengan ketinggian yang berbeda. Arena-arena lainnya sudah dikotak-kotakkan karena nanti perlombaan bakalan ada yang  berlangsung pada satu wilayah. Hari kamis ini akan full dengan permainan anak-anak pada umumnya, jika tidak sempat habis maka dilanjutkan hari esoknya. Hari jumat para remaja akan melangsungkan pertandingan fustal dan ibu-ibu melakukan pertandingan volley di SD Binaan Deda Maju Jaya. Hari Sabtu menjadi puncak acara karena diadakan dua permainan besar, yaitu turnamen bola dewasa memakai sarung dan panjat pinang. Malam harinya akan diisi sebagai malam puncak tujuh belasan karena mereka berkumpul untuk berpesta dengan orgen tunggal.


“Terima kasih ibu-ibu sama bapak-bapak yang udah mendaftarkan anak-anaknya buat berpartisipasi di acara tujuh belasan ini. Saya Andi Firmansyah perwakilan dari ketua panitia pemuda desa serta ketua KKN desa ini, mengucapkan selamat berpuas.” Andi diam sejenak kaya orang goblok. Masa selamat menunaikan ibadah puasa. “Maksudnya selamat menyaksikan dan ikut serta dalam acara ini. Saya undur diri dulu, terima kasih ….”


Seluruh hadirin di lapangan bertepuk tangan meskipun Sarah menutup matanya karena Andi yang salah bicara.


“Wah hebat banget lo Ndi, udah kaya Ketua BEM kita,” puji Rijek.


“Wah jelas dong. Kan gue calon BEM masa depan heheeh ….” Ia mencolek Nanang sebagai coordinator lapangan. “Langsung arahin anggota buat mulai perlombaannya.”


“Siap Ketua!”


Perlombaan dimulai. Keseruan terjadi karena anak-anak sangat antusias dengan acara kali ini. Ada yang teriak-teriak karena menang, ada yang nangis kaga mau ikutan, ada pula yang diem aja karena ga dibolehin main sama emaknya. Gimana mau main, lah dia aja lagi demam dan terpaksa duduk bersama orangtuanya di tepi area.

__ADS_1


“Om … jangan deket sama Kak Sofi ya ….”


Andi udah tahu siapa yang bilang ini. Maya sedang lomba makan kerupuk. Sedangkan Andi jadi komentator dengan menggunakan mikropon.


“Kakak lo gue bawa jalan nanti. Sumpah ni ye kalau ga berhenti-berhentinya bilang begitu.” Andi enggak peduli lagi kalau bapaknya Maya sering bawa senapan angin.


“Awas aja kalau berani!”


“Ya udah …”


“Ya udah …” Maya tidak mau kalah.


Maya makannya lapah bener, kaya ga dikasih sarapan dan makan siang sejak tadi. Dia malah minta nambah sama Sarah yang jadi juri di hadapannya. Di saat anak yang lain masih setengah, Maya sudah habis keseluruhannya. Dengan senyum lebar bapaknya, Maya digendong dengan sepaket hadiah yang ia bawa pulang hari ini.


Perlombaan anak-anak selesai. Sore sudah usai, Panitia membersihkan sampah-sampah yang berserakan di lapangan. Setelah itu, Andi meminta anggota panitia agar pulang untuk beristirahat, terutama panitia cewek yang besok akan ikut turnamen bola volley. Turnamen bola volley akan ada dua partai, pertama partai ibu-ibu, kedua partai anak muda. Setelah masing-masing partai ada pemenangnya, mereka diadu lagi untuk menentukan siapa juara umum bola volley.


Panitia terbagi dua tim volley wanita. Sarah, Nabe, dan Kelly berada di kubu A, sedangkan Tasya, Aulia, dan Sofi berada di kubu B. Terdapat dua tim lainnya yang berasal dari luar panitia. Kalau dilihat dari postur tubuh kubu lain, Andi yakin mereka kuat-kuat. Biasanya  nih, kalau tubuhnya gede bakalan punya power untuk menghantam bola.


Hari esok tiba, pertandingan ibu-ibu sudah mendapatkan pemenangnya. Mulailah pertandingan wanita-wanita muda. Tentu saja nih para pemuda bakalan ngumpul di lapangan volley SD, apalagi anak KKN ikut bermain. Cewek KKN semenjak di desa ini jadi primadona.


“Eh mata lo ke mana ….”


Kepala Andi dipaksa untuk menoleh kepada Sarah, soalnya Andi tertangkap menoleh ke gadis-gadis desa yang memakai baju olahraga ketat.


“Itu … liat ibu-ibu yang udah menang. Pasti suaminya seneng. Malamnya langsung dikasih jatah hehehe ….”


“Pikiran lo ini!” Sarah langsung minum segelas penuh kukubima enerji rosso punya Andi. “AHHHH!!!!”


“Anjir lo minumnya kaya kuli mau bangun rumah,” sindir Andi waktu ngelihat gelas kukubima enerji rosso miliknya sudah habis ditenggak sama Sarah. Dia minumnya kaya air putih


“Beneran rupanya langsung tenaga gue jadi joss gara minum ini.” Sarah bertegak pinggang sambil tersenyum. “KUKUBIMA!!!”


“ENERJI ROSSO!!!” sambung Andi.


Nabe yang ada di samping Andi langsung menatap datar kepada sepasang manusia ini yang kaga ada bentuk pacarannya sama sekali.


“Nabe … kan ada Tasya nanti tuh. Hantam aja kepalanya pakai bola. Lo pandai main volley kan?” seru Sarah kepada Nabe. Matanya sempat ke dada Nabe. Dia pun membedakan dengan miliknya, sungguh perbandingannya seperti bola pingpong dan bola kaki.


“Ah ga boleh gitu ….”


“Jangan lemes gitu. Angkat dada lo biar semangat, jangan nunduk,” ucap Andi.


“WTF?” Sarah menoleh kepada Andi. Ia tahu maksud Andi ini. “Pergi sana lo.”


“Apaan sih? Kan kalau nunduk pertanda tidak percaya diri.”


Nabe pun menangkat dadanya. Bukannya Andi yang jadi panik, malah Sarah yang menelan ludah. Body Nabe memang kalah jauh darinya, Sarah sebagai cewek saja mengakui.


“Gue bakalan bikin tim kita menang,” ucap Nabe.


“Ayo … kita tos dulu.” pinta Sarah.


“Nanti lo kasih aja operan ke gue, nanti gue smash kepala Tasya biar tanggal sekalian kepalanya,” jelas Sarah seperti seorang psikopat.


“Lo mau main volley atau suting pilem psikopet sih?” tanya Andi.


“Ah jangan banyak bacot.” Sarah menodongkan kotak rokok milik Andi. “NIh rokok, saksikan pertandingan kami sampai ke final. Oke?”


“Ide yang bagus ….”


Baru pertama kali Sarah nyuruh Andi ngerokok.


***

__ADS_1


__ADS_2