
Baru kali ini
Seiring hari berganti, temen-temen ******* Andi makin sering main ke rumah. Sudah pasti tujuan mereka Aisyah. Bahkan, di masa ujian pun Aisyah tidak luput dari kunjungan mereka. Alih-alih ingin belajar bersama Tami, ternyata mereka malah pengen ngobrol sama Aisyah. Kalau mereka ngumpul di rumah Tami, Aisyah biasanya juga ikut karena suntuk di rumah. Kerjaannya cuma nyapu, ngepel, dan bantuin Mama masak.
Sebagai gadis minang, pantang sekali tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Malu rasanya tidak bisa mengupas bawang, menanak nasi, bahkan memasak rendang. Jika sudah remaja, gadis Minang biasanya akan diajarkan cara membuat rendang yang terkenal dengan lama pembuatannya dan berbagai rempah yang rumit. Apalagi seumur hidup Aisyah dihabiskan di kampung halaman yang kental dengan budaya Minang. Tidak diragukan lagi kemampuan memasak rendangnya.
Sarah sama sekali belum pernah bertemu dengan Aisyah semenjak ia tiba di Ibu Kota. Berkali-kali Andi mengajak ke rumah, namun Sarah menolak karena cuma ngobrol ga jelas sama ketiga teman ******* Andi. Selain itu, Aisyah memang jarang keluar rumah. Beda sama Sarah yang keluyuran pake motor trail-nya bolak-balik bengkel.
"Agus mana, ya?" tanya Tami. Ia membawakan cemilan yang sudah habis dimakan selama belajar bersama tadi.
"Ga tau ... biasanya selalu ada. Kalian tahu Agus di mana?" tanya Andi.
Nanang dan Felix mengangkat bahu. Mereka sama sekali tidak mengetahui keberadaan Agus. Padahal tadi siang setelah ujian, mereka masih nyebat sama-sama di kedai Pak Topoi.
"Tadi masih ada batang hidungnya. Main domino malah semangat banget. Eh , tiba-tiba aja anyeb ga ada kabar di group." Nanang menyelipkan sebatang rokok. "Neng, abang ngerokok dulu ya ...."
Aisyah tersenyum. Ia baru tahu Nanang merupakan anak Ustadz Nazaruddin yang membimbingnya sewaktu kejuaraan seni baca Al-Quran Nasional sebagai perwakilan dari pesantrennya. Kebetulan sekali Kyai pesantrennya berteman dekat dengan Ustadz Nazaruddin.
"Hehehe ... iya, Bang. Takut Ais bilang ke Ustadz, ya?" tanya Aisyah.
"Nah, elu tau ..."
"Jadi, kapan adek lo masuk sekolah kita?" Felix mengembat rokok Nanang yang tinggal dua batang, lalu menawarkan kepada Andi.
Tanpa sepengatahuan Ais, Andi menunjuk adiknya sebagai isyarat bahwa ia segan ngerokok di depan Ais. Isyarat itu dimengerti oleh Felix dan menarik tangannya kembali.
"Mama bilang semester depan."
"SAMLEKOM!!!!!" teriak Sarah yang baru datang dengan motor trailnya lewat samping rumah Tami. Suara motornya menggelegar memekakkan telinga. Masing-masing dari mereka menutup telinga.
"Woi, motor lo ga bisa santeuy, ya?!" protes Nanang.
"Suka gue, dong. Jadi, mana bagian makanan gue ... masih ada?" tanya Sarah.
Tangan Aisyah menyiku tangan Andi. Ia mendekatkan kepala ke telinga saudaranya tersebut. "Uda, itu sia?"
Bang, itu siapa?
Andi menutup wajah karena malu. "Itu Sarah, cewek Uda. Agak lain urangnyo saketek."
__ADS_1
Itu Sarah, ceweknya abang. Agak lain orangnya sedikit.
Mata Sarah tak henti-hentinya melihat wajah perempuan berhijab yang tengah berada di samping Andi. Abis ngelihat Ais, dia ngelihat Andi, trus ngelihat Ais, ga lama kemudian ngelihat mukanya Andi. Dia heran kenapa kok mirip gitu. Matanya, putihnya, mancungnya, bahkan, bentuk bibirnya juga sama. Kaya copy-an beda kelamin.
"Lah, elu Aisyah, ya?" tanya Sarah sambil melepas helm.
"Iya ... Kak. Aku Ais."
"Wah, logatnya Minang banget. Kaya Mamanya Andi." Sarah mendekat sambil berdehem. Ia rapikan tata rambutnya yang acak-acakan karena helem. "Kenalin, gue Sarah ... kakak ipar lo."
"Wah, kak Sarah ternyata sabana kamek ...," puji Aisya pada Sarah.
Tatapan Sarah memberikan isyarat kalau dia ga ngerti kata terkahir dari kalimat Ais. Untung aja Andi peka dan langsung ditranslet.
"Sabana kamek itu artinya cantik banget ..."
Hati Sarah girang karena dipuji sama adik ipar sendiri. Ia mencubit kedua pipi Aisyah yang tembem kaya bakpao. Udah kaya kucing aja dimainin pipinya. Soalnya Sarah ga tahan, Aisyah imut banget.
"Adu du du du ... adik gue kok imut begini. Beda kaya Abangnya ...."
Yaelah ...
"Kak Sarah juga cantik kok ... cocok kali sama Uda Andi," balas Aisyah.
"Iya, Uni Sarah ..."
Kalau enggak karena Aisyah itu adiknya Andi, Sarah ogah banget sok imut begini. Apalagi sama ketiga teman Andi, mau muntah kalau dipaksain juga beginian. Yang ada mereka takut kalau Sarah ngelembutin diri sama mereka. Kaya yandere psikopat yang bunuh orang.
"Andi, adek lo sama gue aja ya ...." Nanang langsung-langsung aja.
"Wah, ogah gue kalau Aisyah sama lo."
"Sumpah gue jagain sepenuh hati. Dia kan juga udah kenal juga sama Babeh, gue juga udah kenal sama mama-nya lo."
Sarah langsung menepuk kepala Nanang biar sadar sama diri sendiri. "Eh, sadar diri lo. Hapal dulu tiga jus Al-Quran, baru lo bisa ngelamar Aisyah. Lagian gue sebagai kakak ipar ga setuju."
Mendengar percapakapan ini, Felix agak menghindar. Dia ga ngerti sama cinta-cintaan. Lebih suka sendiri dan menyendiri di ketenangan hati. Caelah ...
"Felix, gue penasaran siapa yang lo suka?" tanya Andi. "Nih, sama adek gue aja. Tapi lo jadi mualaf dulu."
Semuanya tertawa mendengar celotehan Andi.
"Semuanya ada waktunya. Lo kira gue beneran gay apa?" jelas Felix.
__ADS_1
"Kak Felix ga jelek-jelek amat kok." Tami menyambung.
Ga jelek-jelek amat ... berarti gue masih ada jeleknya dong ...
"Iya, loh ... lo itu tinggi, sipit, dan banyak duit," ucap Nanang.
"Sebenarnya ada sih ........"
Kalimat Felix membuat semuanya mendekat, kecuali Aisyah. Baru kali ini Felix terbuka sama cerita cintanya.
"Siapa? siapa?" tanya mereka bersamaan.
"Ada sih ... dia temen Cece gue. Anak pengusaha konter handphone yang letaknya di depan ruko gue. Gue kan juga buka konter, jadi sering main ke ruko-nya buat ngebicarain bisnis."
"Gimana orangnya?" tanya Sarah penasaran.
Terlihat wajah Felix yang memerah. Kulitnya kan putih pucat, jadi jelas banget kalau mukanya memerah karena malu.
"Yaa baik kok orangnya. Dia juga sering main ke ruko kami. Namanya kan juga sahabatnya Cece gue."
"Gimana lo sering bicara?" lanjut Sarah.
Tangan Felix mengusap rambutnya. "Jarang sih ... kalau sekali bicara, dia orangnya asyik banget."
"Lo ajak jalan kek, gimana kek," tantang Andi.
"Yaa mana bisa. Dia itu kuliah semester 2, lah gue masih SMA. Yang ada gue diketawain sama Cece gue."
Tangan Andi merangkul Felix yang malang ga dapet-dapet pacar. Percuma wajah ganteng, duit banyak, tapi ga bisa ngedeketin cewek. Jomblo yang ada.
"Cinta itu ga mandang bulu, cinta itu buta sahabatku. Tenang, kalau lo butuh saran percintaan. Ada gue ... ada Andi sang pangeran cinta."
Tawa tercipta oleh candaan Andi. Percakapan mereka berlajut cuma buat nyindirin Felix yang ga pernah ngedeketin cewek sekali pun. Sekalinya dapat gebetan, eh malah bingung gimana cara ngedapetinnya.
Keesokan harinya mereka kembali masuk untung melaksanakan ujian. Seperti biasanya, sebelum masuk, mereka pasti nongkrong dulu di kedai buat ngerokok pagi. Pagi itu ternyata menjadi tidak biasa saja. Emosi Andi dibuat terkuras, meja ia hentak sekuat kuatnya hingga pemilik kedai keluar dari rumah. Ia menarik kerah baju Agus.
"Siapa yang buat lo begini?" tanya Andi.
Wajah Agus membiru akibat berkelahi dengan seseorang tadi sore sewaktu dia mampir di kedai sejenak. Tatkala ia hendak menyalakan motor untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Tami, sekumpulan anak kelas 10 mendatanginya. Seseorang maju duluan menghantam Agus sekeras-kerasnya dengan pola serangan yang sama, yaitu perut. Agus tidak bisa bergerak. Ia berhasil bangkit dan menumbangkan setengah dari jumlah mereka. Namun, ia akui ... lawannya kali ini terlalu berat.
"Dandi ...," balas Agus dengan pelan.
Baru kali ini ia kalah berkelahi.
__ADS_1
***