AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
HENTIKAN SUAMIKU! APA TIDAK CUKUP BAGIMU, TELAH MEMBUATNYA KEHILANGAN MUKA.


__ADS_3

"apa maksudmu?"


"di area paru-paru dan jantung, ada bekas luka bakar.. Tepatnya, meskipun dia dirawat menggunakan sihir biasa, dan berbagai pengetahuan manusia.. tetap tidak akan bisa! Memang ia tampak sehat secara jasmani, tapi tidak dengan luka dalamnya. Kekuatan suci milik zion hanya mampu menyembuhkan luka luarnya saja, tapi tidak bisa menyembuhkan luka dalam."


"bagaimana bisa.. Bukankah zion memiliki kekuatan suci yang sama seperti dewi? Seharusnya dia bisa menyembuhkan lukanya!"


"aku juga tidak mengerti.. Bagaimana cara kerjanya kekuatan suci! Tapi, meskipun lukanya telah dimurnikan dengan kekuatan suci sekalipun, kekuatan itu hanya bisa menyembuhkan luka luar saja. Sementara luka dalamnya tidak tersentuh dengan pemurnian milik zion, entah karena level mereka yang berbeda dengan dewi.. atau tubuh anak ini yang menolak menerimanya!"


"lalu apa yang telah kau lakukan pada anak ini barusan?"


"Aku menggunakan sihir kuno, untuk membuat paru-paru dan jantungnya beregenerasi kembali, dengan begitu dia akan segera pulih.. mungkin besok dia sudah bisa bermain dengan bebas tanpa harus merasa khawatir sekalipun. Dan lagi.. Tanpa sengaja, sihirku telah membuka segelnya."


"segel.... segel apa yang kau bicarakan!" seru jura kebingungan.


"entahlah.. aku juga tidak tau itu segel apa!" ia menggaruk pipinya yang tidak gatal, karena malu atas. ketidaktahuannya. "yang jelas, segel itu telah mengaktifkan salah satu pusat energi yang ia miliki. ya.. kita akan segera tau nanti."


"syukurlah dia tidak kenapa-napa! Karena dewi akan sangat sedih.. Jika terjadi sesuatu padanya." ujarnya 'bahkan, paduka saja sampai ikut turun tangan demi anak ini, Aku yakin bocah ini pasti sangat istimewa. Apapun itu aku harus menjaga anak ini.'


Diistana langit tempat para pilar berkumpul, garda yang telah tiba disana telah disambut para pilar lainnya. Kecuali jura. "adik, apa gerangan yang membuatmu datang kemari? Bukankah kau masih menjalankan misi..!"


"kakak, apa kalian tidak merasakan energi dari dewa penghancur?"


"Ya kami semua merasakan hal yang sama sepertimu, tapi bukannya masalah ini tidak ada pengaruhnya bagi paduka!"


"aku mengerti, paduka juga tidak peduli akan masalah ini. Tapi, ini akan sangat berpengaruh bagi keberadaan dewi dan yang lainnya."


"apa kau sangat mengkhawatirkan mereka!" tanya golba


"tentu saja.. Mereka sudah seperti keluarga keduaku, setelah kalian."


"ya.. Kita tunggu saja, kedatangan paduka. Kau tau sendiri, beliau sangat sulit untuk ditemui. Kecuali ada masalah penting, baru beliau akan muncul. lihat saja singgahsana miliknya yang selalu tampak kosong! tapi juga tidak berarti itu kosong. jika sembarangan menyentuh singgahsana itu, mereka akan menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun." ujar Renma lagi


Tak lama setelah berbicaralah dengan saudaranya, garda duduk termenung melihat singgahsana kosong yang ada dihadapannya. 'heran.. Jika paduka tidak pernah duduk disinggahsana miliknya, lantas untuk apa singgahsana itu ada disitu! Apa cuma dijadikan pajangan saja."


"apa kau mengataiku, dasar bodoh.. aku sudah ada disini bahkan sebelum kau tiba."


Tiba-tiba sang paduka muncul entah darimana, ia duduk sambil menyilangkan kedua kakinya, dengan satu tangan yang menopang wajahnya, ia tersenyum. Semua yang melihat wujud sang paduka, terkejut dan berlutut menunduk hormat dihadapannya.


"pa.. paduka, maafkan atas keteledoran kami yang tidak menyadari kehadiran paduka. Hormat kami kepada sang dewa agung." seru garma dan yang lainnya dengan lantang, semuanya berlutut hormat dihadapannya, termasuk garda.

__ADS_1


"katakakan garda, apa yang mengganggu pikiranmu? Hingga mengusik ketenanganku." tanya sang paduka, meski ia sudah tau apa yang akan garda katakan.


"paduka, hamba merasakan kekuatan dari sang dewa penghan.."


"lalu.." potong sang dewa lagi, seolah ia tidak peduli dengan apa yang terjadi.


"pa.. paduka, bukankah dewa penghancur telah tiada. tapi, bagaimana bisa kehadirannya muncul kembali setelah sekian lama ketiadaannya? Dan juga.. saya sangat khawatir, jika beliau sampai ikut turun tangan dan berambisi ingin memiliki dewi."


"aku tau kekhawatiranmu itu, akan tetapi.. Kau tidak perlu risau. Meskipun dia masih hidup! Dia bukanlah dewa rakus dan serakah seperti yang kau pikirkan, dia sangat setia dengan apa yang telah dimiliknya. Dan kekuatan yang kau rasakan itu memang miliknya, tapi bukan dirinya."


"apa maksud paduka?"


"aku akan memperlihtakan kilas balik riwayat sebelum kematian rummanoz." sang dewa menjentikkan jarinya, tampak kepulan asap berubah menjadi layar besar dihadapan para pilar. Semua yang melihat seolah terkejut, dan tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.


Setelah memperlihatkan kejadian tersebut, asap itupun menghilang dari hadapan mereka. "jadi.. Itu adalah spirit miliknya, bukan dewa itu sendiri..Tapi paduka, bukankah sangat berbahaya jika seorang manusia biasa, sampai memiliki spirit hebat seperti itu? Berarti spirit dewi bukanlah tandingannya!"


Ditempat lain kekaisaran ergben, rafael yang masih berada dikota valthoz. Sedang duduk santai diistana baru miliknya, ia mengenakan pakaian santai kemeja putih, dengan dipadu celana hitam. Diluar balkon kamarnya, Ia duduk dikursi dengan beraneka macam cemilan terhidang diatas meja, disana pemandangan terbentang indah.


"istananya berhadapan dengan laut, cukup menyegarkan. Bahkan aku tidak berpikir, jika kerajaan kecil ini akan menjadi milikku." ia mengambil teh hangat lalu menyeduhnya, sambil menikmati keadaan sekitar. 'suasana yang sangat tenang, aku memiliki segalanya.. tapi, apa gunanya jika tidak ada seseorangpun disisiku! masih butuh waktu sedikit lama, untuk menunggu debut kedewasaanya. hmm.. apa yang sedang dia lakukan sekarang? Aku juga tidak tau, rasa ingin memilikinya ini.. apakah sebuah ambisi.., atau aku ingin menaklukkannya karena dia adalah anak dalam ramalan. Cinta.. heh, Sangat tidak mungkin aku seorang rafael, jatuh cinta pada anak sepertinya! ya.. Memang aku akui, meskipun dia masih kecil, tapi kecantikannya tidak bisa diragukan lagi. kemanapun ia pergi, Semua mata hanya akan tertuju kepadanya, bahkan aku sendiri sempat terpesona pada kecantikan anak itu. yang aku tau.. saat aku melihat sosoknya, aku tidak ingin kecantikan langka itu dimiliki oleh siapapun. Dia hanya akan menjadi milikku, aku tidak sabar melihat bunga itu tumbuh mekar. Karena saat itu tiba, hanya dia yang pantas menempati posisi ratu disisiku. Hingga saat itu.. Aku akan bersabar, dan akan terus mengawasi perkembangannya, tidak ada yang boleh menyentuh milikku.'


"apa yang anda lakukan baginda? Akhir-akhir ini saya perhatikan, anda sering tersenyum sendiri. Apakah ada yang membuat anda senang?" tanya razak yang tiba-tiba muncul disampingnya.


"hem.. bukan urusanmu. Bagaimana pencarianmu, Apa penyihir itu telah ditemukan?"


"tidak apa-apa, jangan terlalu memaksakan dirimu razak. Bukankah kau juga perlu istirahat, setelah mengeluarkan energi yang sangat besar!"


"saya sudah pulih baginda, ah, omong-omong.. Bagaimana spirit baru anda! Apakah anda sudah bisa menjinakkannya?"


"bukan masalah besar bagiku, untuk membuatnya menjadi jinak, tapi untuk sekarang.. Aku sedang tidak ingin melihatnya dulu."


'hmm begitukah, pasti dia tidak ingin melihatnya, karena anak itu sangat berisik dan cerewet hihi.' ia memperhatikan wajah tuannya yang masih terfokus memandang lautan. 'Tatapannya dingin seperti biasanya, namun sangat ambisius, jika sudah berkeinginan memiliki sesuatu! Ia pasti sedang memikirkan gadis kecil itu.' "baginda, lalu kapan kita akan kembali? Saya tau disini sangat nyaman, tapi bagi saya.. Istana pusat lebih nyaman dari pada yang ada disini. Dan lagi.. Masih banyak pekerjaan yang harus anda kerjakan bukan! tugas dikekaisaran sudah menumpuk, daskal pasti sangat kesulitan sendirian."


"karena kau sangat mengkhawatirkan keadaannya, kalau begitu.. aku akan menyerahkan sebagian pekerjaannya kepadamu."


"ha.. ha.. sa.. saya tidak tertarik baginda." razak mengusap kepalanya. "saya tarik kembali kata-kata saya untuknya. Jika begitu, selamat menikmati waktu santai anda baginda, saya pamit dulu." razakpun langsung menghilang, rafael tersenyum melihatnya kabur karena tidak ingin diganggu dengan tugas kekaisaran. "hmm.. dasar, jika menyangkut masalah ini saja dia langsung kabur."


...----------------...


Sementara ditempat para elf, ratu yang menyaksikan keduanya sedang berseteru tidak jelas. "apa yang sedang kalian berdua lakukan?" raja menjadi panik, saat mendengar suara lembut menegur mereka berdua.

__ADS_1


"i.. istriku.. k.. kau sudah selesai?"


"aku tanya, apa yang sedang kalian lakukan!" raja faran, merasa terintimidasi dengan kehadiran istrinya.


"haha.. Itu, tadi aku sedang bersantai disini, sambil menunggumu selesai istriku. Tapi saat aku sedang tertidur, tiba-tiba saja anak ini datang menabrak kepalaku." ratu memperhatikan badar, tangannya tiba-tiba terlepas dari pergelangan kaki raja faran.


"ah, s.. saya tidak sengaja menabrak baginda raja maha ratu, lalu baginda kesal dan menger.. Mmmh.. Mmmh.." Raja dengan cepat membekap mulut badar, badar tidak bisa bicara sama sekali.


"i.. istriku, sebenarnya aku ingin meberitahumu, jika ayahanda dan ibunda datang berkunjung, dan beliau menyuruhku untuk mencarimu. Sebenarnya aku tidak mau, karena kau tidak ingin diganggu. Tapi, jika aku tidak


pergi.. Beliau akan mengutukku menjadi nyamuk, untuk itulah aku disini istriku. Tapi aku tidak berniat mengganggu semadimu sama sekali, benar aku serius." ujar raja meyakinkan istrinya.


'haah.. sifatnya masih saja seperti dulu.. manja dan polos, tetapi terkadang suka jahil dan, bocah itu selalu menjadi korbannya. Tapi jika dia datang sampai melanggar perintahku! ayah dan ibu benar-benar ada disini. pantas saja sampai dia ketakutan seperti itu.' ratu diam sejenak. "baiklah, aku tidak akan mempermasalahkan masalah ini. Ayo kita kembali, ayah dan ibu pasti sudah lama menunggu. Aku tau sifat ibuku, dia sangat tidak suka menunggu. melihat wataknya yang tidak sabaran, dia pasti akan langsung menyusul kemari."


Raja langsung meraih tangan istri tercintanya, lalu merekapun berpegangan dan pergi membelakangi badar. Badar yang menyusul dari belakang, merasa sedikit kesal karena telah gagal mengerjai baginda, Baginda menoleh kebelakang dan menyeringai licik kepada badar. 'hehe masih terlalu awal bagimu untuk mengerjaiku bocah.'


"hentikan suamiku! Apa tidak cukup bagimu, telah membuatnya kehilangan muka."


"hehe.. Habisnya dia selalu membuatku kesal. Istriku,"


"hmm.." ratu sudah terbiasa dengan sifat suaminya, yang terkadang seperti anak-anak.


"omong-omong.. anak kesayanganmu pulang dengan mertua.."


"apa.. argus pulang dengan mereka! Bagaimana bisa..?" kaget sang ratu pada suaminya


"entahlah, aku juga tidak tau bagaimana ceritanya.. anak itu bisa datang bersama keduanya. tapi yang jelas! Dilihat dari tampang anak kita.. Sepertinya dia masih belum tau apapun, Bahkan ayah ibumu juga menanyakan hal itu kepadaku, karena cucunya seperti tidak mengenal mereka berdua. sayang, kenapa tidak kau katakan saja yang sejujurnya.. kepada argus, jika didalam dirinya mengalir darah dewi, darimu."


Ratu terdiam sesaat mereka terus berjalan, sementara badar menjaga jarak sekitar dua puluh meter kebelakang. Jika ia melihat ratu dan raja tengah berbicara serius, ia akan mundur menjauh memberi ruang pribadi pada kedua pasangan itu. 'sepertinya, beliau berdua sedang mengobrol masalah penting..! Aku harus menjauh, pasti ada hal yang ingin mereka bicarakan, yang tidak boleh didengar olehku. Hmm aku rasa segini sudah cukup, suara mereka juga tidak kedengaran dari sini.'


"belum saatnya.. aku memberitahukan anak itu."


"apa yang membuatmu, tidak ingin menceritakannya?"


"aku tidak ingin dia menjadi sombong, karena didalam darahnya mengalir darahku. Dan aku juga tidak ingin melihat putra-putri kita yang lainnya, merasa diperlakukan tidak adil, sebab aku bukanlah ibu kandung mereka. Apalagi, mereka semuanya sudah kuanggap seperti anak-anakku sendiri, Aku tidak membeda-bedakan mereka dengan argus. walaupun argus adalah putra kandungku. Aku tetap menyayangi semuanya secara adil. Dan biarkan argus membangun kekuatannya sendiri tanpa bantuanku, dengan begitu dia bisa mandiri seperti yang lainnya."


"istriku.. Aku sangat beruntung memiliki dewi sepertimu sebagai istriku, yang mau menerima kekuranganku, tinggal dan menua bersamaku."


"ya.. Tapi kau jangan terlalu memanjakan anak itu, lihat sekarang! dia seenaknya kabur dan tidak pernah pulang. Lalu dimana anak itu?"

__ADS_1


"haah seperti biasan.. Dia mengibuliku. Tapi aku sudah memerintahkan rudolf untuk mencarinya, bahkan aku memberikan cincinmu, agar dia mau pulang. Namun, aku tidak tau harus beralasan apa? pada ayah dan ibu mertua. Aku serahkan sisanya padamu istriku, kau tau aku tidak bisa apa-apa jika berhadapan dengan mereka."


"kau tenang saja, aku akan mengurus keduanya." Merekapun pergi meninggalkan tempat itu, diikuti dengan badar dari belakang.


__ADS_2