AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
LANTAS.. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN?


__ADS_3

'katakan, siapa kau sebenarnya???' tanya Jura, langsung keintinya.


Melihat reaksi Jura, Rabarus menanggapinya dengan santai.


'Aku masih ayahnya Tama, Tenanglah, aku tidak berniat jahat padamu, atau kepada siapapun. Maafkan aku, jika aku telah lancang memasuki pikiranmu tanpa izin. Akan tetapi.. Jika aku menanyakannya secara langsung didepan semua orang, bukankah mereka akan sangat khawatir!! Ya.. Melihat bagaimana ekspresimu.' Ujar Rabarus.


Kedua mata Jura menyipit menyelidik tiap kata yang ia keluarkan, mendengar ucapan Rabarus, Yang memang ada benarnya! Akan tetapi.. Ia masih belum mempercayai sosok yang ada didepannya tersebut.


'Kau bisa menipu yang lain, tapi tidak dengan mataku. Meskipun aku tidak tahu, masalah seperti apa yang sedang kalian hadapi saat ini?!! Sampai harus membuat Perisai sebesar itu. Hmm.. Aku tidak tahu sekuat apa Perisai yang kalian pasang, karena belum mengujinya!!'


'Apa maksudmu?' Tanya Jura.


'Maksudku, jika kau penasaran, Aku bisa membantumu untuk mencari tahu. jadi mari kita coba mengujinya untuk memastikan, apakah Perisainya sangat kokoh atau tidak. Ya.. Aku tidak akan memaksamu tapi, jika kau penasaran! Temui aku, aku akan membantumu membuktikannya. Bahkan, jika terdapat kekurangan pada Perisai yang kalian buat!! aku bisa membantu memperkuatnya lagi.. Dengan sihirku. Itupun, kalau kau percaya padaku!!' gumamnya menjelaskan.


Tak lama setelah mendengar penjelasan Rabarus, Jura kembali mengunci pikirannya.


'Meskipun perkataan yang dia ucapkan, ada benarnya.. Tapi, aku masih belum percaya pada orang itu..! Hmm.. Sebenarnya aku juga penasaran, dengan kekokohan Perisai, yang telah kami buat. Jika aku menolak tawaran Yang menarik ini, Sangatlah rugi. Namun, Jika aku menerimanya begitu saja, sedangkan aku masih tidak mempercayainya.. Kemungkinan terbesarnya, bisa saja dia berbohong.'


Jura bergelut dengan pikirannya sendiri.. Ia masih diterpa kebimbangan.


'Aku ragu, apakah harus mengujinya, atau tidak! tapi ini demi Dewi. jika aku tidak melakukannya sekarang, kapan lagi.. Kami juga tidak punya banyak waktu, hanya sedikit waktu yang tersisa menjelang malam tiba.'


Setelah menimbangnya dengan matang, Jura akhirnya memilih mengajak Rabarus, untuk menguji keabsahan dari perkataannya.


'Jika begitu.. Mari kita buktikan perkataanmu!' Ujar Jura, ingin memastikan.


'pilihan yang bagus, mari kita pergi.' Jawab Rabarus.


Keduanya pun menghilang.. Sadar akan kepergian dua orang tersebut secara tiba-tiba. Para Spirit lainnya, saling melirik khawatir, takut terjadi hal yang tidak di inginkan. mereka lagsung bergegas mengikuti, kedua pria tersebut.


Dan yang terjadi saat mereka tiba.. Membuat kelima Spirit lainnya terkejut, seolah tak percaya dengan yang baru saja mereka lihat.


...----------------...


Di tempat lain, setelah menunggu Garda, keduanya langsung berpindah tempat. Dan tempat yang mereka kunjungi, adalah tempat yang belum pernah di datangi Garda sama sekali. Garda, memperhatikan pemandangan disekitarnya!


'sesampainya di dalam, aku menghadap Paduka, tapi, tiba-tiba saja.. tanpa menjelaskan apapun, beliau langsung mengajakku pergi.. Meski wajah Paduka tampak datar seperti biasa. Tapi, aku tidak berani menanyakan apapun padanya, aku mengikuti beliau dengan patuh.. Dalam sekejap, kami sudah ada di tempat yang asing. Beliau membawaku, ketempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya.


Tempat ini dipenuhi dengan berbagai pemandangan yang aneh, dimana setiap pohon besar, tumbuh melilit hingga menyentuh awan. Dan pohon-pohon tersebut, sangat besar melebihi ukuran normal. bahkan, bunga dan segala tumbuhan yang ada disini.. Semuanya mempunyai ukuran yang tidak normal.

__ADS_1


Dan tiba-tiba Paduka menghentikan langkahnya, lalu berbalik kearahku sambil mengulurkan tangannya.'


"kuncinya..."


'aku pun mengambil kunci itu, dan memberikannya kepada beliau, lalu beliau mengambilnya, dan memberiku satu butir pil, bewarna hitam untukku makan. Karena penasaran, aku pun menerimanya sambil menanyakan pemberian beliau. '


"apa ini Paduka??" tanya Garda, sambil mengambil pil tersebut.


"telan itu.. Itu adalah penawar."


'Tanpa ragu, aku pun menelan pil yang diberikan Paduka kepadaku.'setelah menelannya, Garda dengan cepat mencari tahu. "Paduka, memangnya ini penawar apa? Saya bahkan tidak ada sakit!!" Gumam Garda heran.


***


"Dengarkan aku baik-baik Rhagel, sepertinya aku tahu, siapa dalang dibalik KASUS ini."


"Apa maksud Baginda?" tanya Rhagel mulai tertarik.


"melihat dari korban yang hilang, secara berkala, tidak diragukan lagi.. Pasti mereka Orangnya..!!"


"melihat dari apa yang Baginda katakan, sepertinya saya mulai mengerti, siapa pelaku yang Baginda maksud itu." Ujarnya.


"Heh.. benar, kau cepat tanggap Rhagel."


"hmm.. Aku ingin kau.. Apa kau mengerti?" Gumamnya, setelah memberikan misi.


"Baiklah, jika itu yang Baginda inginkan. Tapi sebelum itu Baginda, ada yang ingin saya tanyakan. jika diperkenankan, Apakah anda mengizinkannya!!!"


"katakan apa itu?"


"setelah kepergian Sanders, salah satu kursi Dewan menjadi kosong. Tanpa keberadaannya.. Bukankah Para Dewan, jadi tidak lengkap dan akan terjadi ketidak seimbangan. Bukankah Baginda sudah tahu, mengenai hal itu!!" tanya Rhagel gelisah.


"Itu masalah gampang, biar aku yang urus nanti. untuk sekarang, kau lakukan saja seperti yang aku katakan ." Perintahnya kepada Rhagel.


"Baik Baginda, kalau begitu.. Saya mohon undur diri dulu."


"Hmm.."


***

__ADS_1


Di dunia Elf, setelah Ratu menceritakan apa yang selama ini dia simpan, akhirnya ia merasa lega. Argus merasa sangat terkejut, awalnya ia sempat tak percaya.. Dengan apa yang ibunya katakan. Namun, lama-kelamaan ia mulai bisa menerimanya.


Dan ia juga baru tahu, jika Kakek dan Neneknya, yang sempat ia lawan, ternyata adalah seorang Dewa, Dewi. Begitupun dengan ibundanya.


'pantas saja, mereka berdua kelihatan biasa-biasa saja.. Saat bertarung denganku. Dan juga.. sangat wajar, jika Aura ibunda, terlihat sangat berbeda dari wanita lain, pada umumnya. Ternyata itu sebabnya!!'


Argus berjalan mengitari taman istana.. Di temani Rudolf , yang selalu setia mengikutinya kemana pun. Dan, di dalam keheningan.. Rudolf membuka topik pembicaraan.


"Yang mulia Pangeran, apakah anda sudah mengujungi Putri Rowena?" tanya Rudolf.


Mendengar apa yang ditanyakan Rudolf, Argus masih diam seolah sedang memikirkan sesuatu, sambil melipat kedua tangannya kebelakang.. Mereka berjalan pelan, mengelilingi taman istana. Rudolf melihat lagi kearahnya, untuk memastikan reaksi Pangeran. Melihat tidak adanya reaksi, Lalu.. Rudolf sambung lagi berbicara.


"Terakhir kali beliau bertemu dengan anda, beliau menangis sejadi-jadinya.. Karena anda pergi begitu saja.. Tanpa mengatakan apapun. Sebaiknya, jika anda tidak menyukainya, Lebih baik anda katakan saja Yang Mulia. Agar ia tidak mengejar anda, seperti orang bodoh."


Argus melirik Rudolf sekilas, menyadari perkataannya yang agak kasar, Rudolf dengan Cepat menundukkan kepalanya.


'Hmm.. Setelah tahu perasaannya, Aku sengaja menghindari anak itu. Perhatian yang selama ini aku berikan, sebagai seorang kakak kepada adiknya. Telah di salah artikan, oleh anak itu. Yah, sepertinya.. Jika terus menghindar tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi aku harus jujur padanya, agar ia tidak perlu membuang waktunya untuk menungguku lagi.'


"benarkah? Kalau begitu, ayo kita pergi ketempat anak itu." Ujarnya tenang.


Tampak ada perubahan diraut wajah Rudolf, Dengan perasaan bersemangat, ia tersenyum riang saat mendengarnya.


"Baik Yang Mulia Pangeran." jawabnya semangat.


Setibanya mereka di kediaman Sang Putri.. Tampak dari kajauhan, kedua pengawal sedang berjaga di pintu masuk. Melihat kedatangan Pangeran, keduanya dengan cepat memberi hormat, lalu melaporkannya kepada Tuan Putri.


Mendengar Sang pujaan yang sangat ia rindukan datang, Putri Rowena dengan cepat berlari kearahnya.


"Kakak..!!! tap..tap..tap.." teriakannya senang.


Mendengar Suara seseorang sedang memanggilnya, sambil berlari.. Argus yang sejak tadi berwajah datar. Kini berubah menjadi senyuman mekar yang muncul di wajah tampannya, ia pun membuka kedua tangannya, untuk menyambut Pelukan Putri Rowena.


"Ia ini aku." Ujarnya menenangkan, Putri Rowena yang sedang menangis di dalam pelukannya.


"hiks.. hiks.. hiks.. Ke..kemana saja ka..kau selama ini? Da..dan kenapa kakak pergi begitu saja, sa..saat melihatku terakhir kali, tanpa mengatakan apapun!! Kakak kejam sekali padaku."


mendengar ucapan Rowena, yang tersedu-sedu. ia sedikit merasa sedih, lalu melepaskan pelukannya perlahan dari Rowena, untuk melihat wajah cantiknya.. Yang basah karena di genangi air mata. Argus mengelapnya, dengan kedua tangannya.


"Dengar Rowe.. Ada yang ingin aku bicarakan padamu, ayo kita ketaman."

__ADS_1


Argus meraih tangan Rowena, lalu mengajaknya untuk duduk di taman belakang istana. Rowena mengikutinya dengan Patuh.


"Kakak.. Apa yang ingin kau bicarakan???"


__ADS_2