AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KEMBALINYA RABARUS


__ADS_3

Seminggu kemudian.. Hari ini tepat memasuki satu bulan, setelah kepergian Kaisar Zando. Akhirnya, waktu yang di tunggu-tunggu Rabarus pun tiba.


Jura terbang bebas di langit Kastil.. Diperhatikan dengan keenam temannya, dan juga Sang Master yang sedang duduk bersama mereka, menikmati pemandangan dari puncak menara Kastil.


"Kakek Jura, tampak sangat menikmati ketika berada Di langit luas." ujar Ravella sambil berpangku dagu pada kedua tangannya.


"Ya.. Tentu saja begitu Nak! Karena hanya di saat seperti itulah, kami bisa menjadi diri kami yang sesungguhnya." Ujar Roya, di angguki Saga.


Namun mereka tidak tahu, apa yang ada dipikiran Jura saat ini.. Jura terbang mengudara bebas, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.


Ia sedang mengingat pesan Kaisar Zando, saat terakhir kali sebelum Sang Paduka pergi..


Flashback: ('Dan sebulan lagi.. Rabarus akan kembali. di saat itu! Pergunakanlah waktu kalian untuk berlatih dengan giat, bersamanya sebaik mungkin. Dia akan menjadi guru bagi kalian semua. Hem.., Aku akan menantikan perkembangan kalian, di saat kita bertemu lagi.')


Masa kini: 'Dan hari yang dikatakan Paduka, adalah hari ini. Tuan Rabarus pasti kebingungan mencari kami, karena dia tidak akan menemukan keberadaan kami di Mansion. Sebab kami sekarang ada di dunia Elf! Bagaimana caranya agar aku bisa tahu, jika dia sudah sampai ke Mansion??' pikirnya memutar otak.


......................


Rabarus berdiri di samping singgasana milik Dewa, ia menunggu dengan sabar kehadiran Sang Kaisar, untuk mengembalikannya ke bumi.


Dan beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu pun muncul. ia menghampiri Rabarus, sambil melipat kedua tangannya kebelakang.


"Apa kau sudah siap?" ujarnya kepada Rabarus.


"Ya, sudah Paduka." Ucap Rabarus semangat, dan juga sopan.


Sebelum ia mengembalikan Rabarus kemansion, Sang Paduka berpesan kepadanya.


'Rabarus..' panggilnya melalui pikiran, lalu memunggungi Rabarus dan langsung duduk di singgasana miliknya.


'Hamba Paduka!'


'Di antara keenam Spirit, aku ingin kau mendisiplinkan Zaku.'


'Euh! Jika di izinkan, bolehkah hamba tahu kenapa..?'


'Karena di antara keenam Spirit, cuma anak itu yang tidak bisa mengontrol Emosinya dengan stabil. Amarahnya mudah meledak-ledak dan sangat labil, Itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri.


Dan, selalu peringatkan ketiga anak itu.. untuk berhati-hati dengan bocah bernama Argus. Karena mereka bukanlah lawannya..!'


'Siapa yang Paduka maksud, dengan ketiga anak itu??' tanyanya penasaran, namun.. Jawaban yang keluar dari mulut Sang Paduka, membuat Rabarus semakin penasaran.


'Sisanya.. Kau bisa menyakan kepada Jura. Dan mulai hari ini, kau harus menetap di Mansion. dan lindungilah Permaisuriku, dan semua yang ia sayangi. Dan soal Argus.., kau tidak perlu ikut Campur, Biarkan Jura yang mengatasinya.


'Baiklah jika itu yang Paduka inginkan, akan Hamba ingat Paduka. Tapi siapa Arg...!'


Setelah Sang Paduka berucap beberapa pesan kepada Rabarus, Rabarus yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.. dalam sekejap mata, ia telah berada di Gazebo.


'Hah.. Beliau selalu begitu, kenapa Paduka suka sekali membuat orang penasaran sih?! Hem, Setidaknya.. aku tidak salah mengabdikan diriku kepada Beliau.

__ADS_1


Haah, Akhirnya.. setelah sekian lama aku bisa menghirup udara segar, dan kembali ke dunia ini lagi. Hem.. Aku akan memberikan kejutan untuk Putraku! Kira-kira bocah itu sedang apa sekarang..?' Pikirnya sambil menyeringai.


Ia pun kembali dengan wujud manusianya, Rabarus mencari keberadaan Putranya.. dan kelima Temannya yang lain.


***


Masih di istana Langit, setelah kepergian Rabarus.. Sang Dewa masih duduk di singgasananya. Beberapa saat kemudian, muncul seseorang yang selama ini sering mengamati Rabarus di dalam diam, tanpa sepengetahuan dari Rabarus, akan keberadaannya yang misterius itu.


"Wussshhh.." Pria berwujud cahaya, muncul di samping singgasana Paduka. 'Paduka... Izinkan Hamba bertanya!' Ujarnya dengan ekspresi datar.


'Katakan Damu.' ujar Sang Paduka, berseringai.


'Mengapa anda mengizinkan Seekor Rubah yang telah gagal melewati ujian anda, berkeliaran bebas tinggal di istana Langit? Dan, Paduka juga menyempurnakan wujud Rubah itu! menjadi sosok Rubah Suci yang sempurna, dan tidak tertandingi. Tepatnya.. Kini dia telah menjadi Spirit yang istimewa dari yang lainnya!'


Sang Paduka tersenyum tipis, karena dia tahu Damu sedang Cemburu Kepada Rabarus.


'Hem..hem.. Di bilang istimewa, tidak juga. Kau akan segera tahu nanti..! aku menyempurnakan anak itu, bukan tanpa sebab Damu. Kau tidak perlu iri kepadanya..! Hanya karena aku membawa anak itu Keistana.' ujarnya menenangkan kegundahan Damu.


'Tapi sepertinya, Paduka sangat memperhatikan anak itu! dan mengapa Paduka tidak menggunakan Hamba, seperti yang lainnya..! Hamba juga ingin berguna untuk Paduka!!' ujarnya murung.


'Belum saatnya bagimu melakukan apapun, bersikaplah dewasa. Kau paling senior di antara Spirit lainnya.. Sebagai seorang kakak, sangat tidak wajar menaruh rasa iri pada adik-adikmu sendiri bukan!!


Mereka anak-anak yang baru saja memulai perjalanan yang sebenarnya, sedangkan kau sudah melewati masa-masa itu.. Jauh sebelum mereka ada. Dan levelmu berada jauh diatas mereka semua.


Lantas, Apa yang kau irikan? Apa kau masih merasa kurang dengan apa yang telah aku berikan padamu, Damu..??' Tegur Sang Paduka mendominasi.


Mendengar teguran Sang Paduka.. Cahaya tersebut segera sadar dengan sikap tidak sopannya kepada Sang Dewa.


Semenjak Paduka memilih Jura, menjadi Pilar ketujuh..! Hamba tidak pernah lagi di panggil oleh Paduka, dan sekarang tiba-tiba saja Paduka membawa Rubah tersebut, sebagai kepercayaan Paduka..!' Ujar Damu, mencurahkan keluh kesahnya kepada Sang Kaisar.


'Haah.. Baiklah, Jika kau tidak menyukai caraku. aku akan mengembalikan levelmu ke titik terendah, dan kau bebas memilih misi yang kau inginkan. Bagaimana..! apa kau sudah siap Damu??'


Namun.. kata-kata yang keluar Dari Mulut Sang Paduka, memberi tamparan keras untuk Damu, sehingga membuat Damu ketakutan, dan dengan cepat meminta pengampunan.


'Maafkan Hamba Paduka, hamba janji tidak akan membahas masalah ini lagi kedepannya..! Hamba mohon ampuni kebodohan hamba Paduka!!!' gumamnya langsung berlutut karena takut.


***


Setelah pertemuan terakhir kalinya.. Ini adalah hari pertama Ravella datang menemui kedua anak Angkatnya itu.


Keduanya tampak canggung dan terkejut, setelah satu bulan.. akhirnya Sang Putri mau menemui mereka.


"Tok.. Tok.. Tok.." terdengar ketukan dari luar Pintu.


"Masuk." Jawab Ravella yang sedang duduk di sofa bludru, sambil membelai Gapi, yang tengah berbaring dipangkuannya.


"Ceklik.. Tap.. Tap.. Tap.. Yang Mulia Putri, saya telah membawa keduanya." ujar Reni melapor.


"persilakan keduanya masuk, Reni." ujarnya tersenyum.

__ADS_1


"Baik Putri.."


"Silahkan masuk, Yang Mulia Kecil sudah menunggu Di dalam." ujar Reni, Pada keduanya.


Setelah sebulan berlalu mereka di biarkan tanpa kabar.. Kedua kakak adik itu tampak gugup, karena ini untuk pertama kalinya Ibu Angkat mereka mau menemui keduanya.


Ron yang melihat sosok Ravella.. Meski gugup, ia tampak sangat senang, dan dalam diam mencuri pandang pada ibu angkatnya itu.


"Hormat kepada Yang Mulia Putri.. Kami datang menghadap." ujar keduanya membungkuk sopan, dan salah satu tangan diletakkan di dada


"Duduklah, maaf aku baru bisa menemui kalian hari ini. Apa kalian berdua nyaman tinggal disini?" tanya Ravella pada keduanya.


Sementara Marri, menuangkan teh hangat untuk keduanya, dan menghidangkan cookies.


"Terima kasih Yang Mulia Putri, berkat anda.. kami berdua bisa tinggal dengan nyaman di sini, dan mengenakan pakaian bagus." Ucap Rog.


"Baguslah, katakan saja jika ada yang kalian butuhkan." ujarnya tersenyum lembut.


"Baik Yang Mulia Putri." jawab keduanya bersamaan.


Menyadari Ron menatap lekat dirinya.. Ravella yang bersikap santai dan tenang, pun berujar.


"Bukankah namamu Ron..!"


"Be-benar Lady." Jawab Ron malu-malu, namun dengan panggilan berbeda dari Rog.


Melihat sikap adiknya itu.. Rog menyenggol dengan sikunya. Lalu menegur Ron. Dengan suara pelan.


"Hei.. Itu tidak sopan, begitukah caramu menyapa Orang Tua angkat kita..!!" ujarnya pelan.


"Ah.. Ma-maafkan atas sikap saya yang kurang sopan, Yang Mulia Putri." ujarnya gugup, setelah di tegur Sang Kakak.


"Hem.. Tidak apa-apa. kau bebas memanggilku seperti yang kau inginkan."


"Tuh kan Kakak, Beliau saja tidak marah denganku tuh." ujarnya pelan, karena mendapat pembenaran dari pemiliknya langsung.


"Jaga Bicaramu Ron."


Terdengar suara Ravella pecah, memenuhi kamar tersebut..


"Ahahaha.. Hahaha.." tertawa. 'mereka sangat menggemaskan.' "Baiklah anak-anak, karena kalian berdua sudah ada disini.. Aku akan langsung keintinya saja. Selama kalian tinggal di sini, kalian belum pergi kemanapun bukan?"


Keduanya menganggukkan kepala mereka.


"Kecuali berkeliling Mansion, Karena itu aku memanggil kalian berdua ke sini, ayo kita jalan-jalan keluar. Bagaimana.. Apa kalian mau?" tanya Ravella menawarkan.


Ravella memperhatikan keduanya.. Yang tampak tidak percaya dengan yang baru saja ia katakan. 'Aku berharap mereka berdua mau mengikutiku jalan-jalan keluar, Agar mereka tidak bosan hanya tinggal di Mansion terus sepanjang hari.


Dan sorenya.. Aku juga harus segera kembali ke Kastil bersama para Kakek. Karena aku cuma diberi izin satu hari dengan Ayah, untuk mengajak kedua anak-anak ini keluar jalan-jalan.

__ADS_1


Dan liburanku di kastil masih tersisah dua minggu lagi.. Dan kebetulan, Para Kakek juga bilang! mereka mempunyai sedikit urusan yang harus mereka selesaikan disini, Setelah itu mereka akan kembali bersamaku saat Sore tiba. Kira-kira urusan apa ya..? Tumben sekali mereka tidak mau melibatkan aku!


Mungkinkah, itu rahasia yang tidak boleh aku tahu!! Ah, padahal aku sangat penasaran sekali. Tapi tidak apa-apa, kebetulan aku sudah berjanji pada kedua anak-anakku yang manis ini..' gumamnya tersenyum melihat Rog Dan Ron.


__ADS_2