
Sedangkan Argus yang sedang santai melipat kedua tangan, mengawasi dari ketinggian udara dengan tenang. Ia juga merasakan keanehan, seperti yang di rasakan oleh Zion, dan Rabarus.
'Perasaan apa ini..?' ujarnya menyipitkan kedua matanya yang indah. Ia lalu, bertelepati dengan Zion. 'Senior, apa kau merasakannya juga?' tanyanya memastikan.
Zion yang di hubungi oleh Argus, mengutarakan apa yang ia rasakan. 'Ya Aku merasakannya, aku mencium aroma yang sangat pekat menusuk hidungku, Cih! sungguh menjijikan.' ujarnya dengan ekspresi masam.
'Benar, aroma ini sangat aneh!' ujar Argus, sambil melihat kesekitar. 'apa kau sudah menemukan sumber dari kekacauan ini..?'
'Heeh.., kalau pun ia, aku tidak akan mengatakannya padamu bocah.' ujarnya ketus.
'Hehe.. Kau masih saja dendam padaku ya, Senior.'
'Jangan besar kepala dulu bocah tengik, hanya karena aku berbaik hati padamu! Bukan berarti aku akan menerimamu. Sebaiknya kau jangan hanya pamer kekuatan,
Lebih baik kau segera selesaikan para bajingan tersebut. Agar tidak mengotori pemandangan di mansion ini.' ujarnya dengan ketus, lalu memutuskan koneksi.
'Cih, dasar kucing pemarah. Dia susah sekali untuk di ajak bicara baik-baik! Dengan moodnya yang susah di tebak, yang terkadang baik, tapi dalam sekeiap juga bisa berubah menjadi buas, Dia seperti wanita saja.
Haaah...., Tapi setidaknya.. Hubungan kami sudah mulai membaik! Di bandingkan dulu, kami persis seperti anjing dan kucing yang tidak bisa akur sama sekali. Tiap kali bertemu pasti akan beradu mulut, Hanya karena hal sepele.
Tapi sekarang, saat di ajak bicara.. ia tidak pernah mengajak berdebat lagi. Meskipun ia masih belum mempercayaiku sepenuhnya... Cih, dasar Pak Tua moodyan..!
Mentang-mentang dia lebih tua seratus tahun dari ku, dia jadi besar kepala. Sepertinya aku harus lebih bekerja keras lagi.. Untuk mengambil hati Dewi,
Aku harus menjinakkan dulu pawang-pawangnya, agar tidak merepotkan ku di belakang hari. Heem.. Melihat musuh yang tiba-tiba datang menyerang!
Mereka pasti menargetkan Yang Mulia Dewi sebagai incaran, awas saja jika aku tahu siapa orangnya? Akan aku remukkan tulang mereka hingga tak bersisa. Beraninya mereka mengincar Dewiku!' pikirnya tiba-tiba kesal.
'Aku yakin, masalah seperti ini pasti sudah sering terjadi, saat aku tidak berada di sisi Master. Jika saja aku tahu dari dulu, kalau beliau adalah Dewi dari segala Dewi..
Aku pasti akan terus berada di sisinya, untuk melindunginya dari bahaya apapun yang mengancam dirinya! Dan menyingkirkan siapapun yang menyakitinya.
Ciih! Sial, kenapa aku harus tahunya terlambat! Bahkan itupun aku tahunnya dari Ibunda..! Kenapa Master tidak pernah mengatakan masalah sepenting ini..!!
__ADS_1
Apa dia tidak tahu! Betapa berharganya Putri yang ia miliki!!' pikirnya tiba-tiba bercampur kesal.
...****************...
Sementara Rabarus yang telah lebih dulu menemukan sumber kekacauan tersebut, baru saja tiba dan berhenti tepat di hadapan pusaran dimensi yang sangat besar. Ada di jarak lima ratus meter.
'Jadi, ini sumbernya. Pantas saja aku merasakan perasaan yang tidak enak! Bukankah ini ruang dimensi, tempat para penyihir hitam berada!!
Hem... Bagaimana bisa ada ruang dimensi yang terbuka sebebas ini..? Kalau begitu, sebelum bala bantuan mereka tiba!
Aku harus segera menutupi Ruang dimensi ini dulu! Dengan begitu, mereka yang masih tertinggal di sini, Tidak akan bisa kabur kemanapun. atau pun menerima bala bantuan dari teman mereka!'
Setelah menutupi pusaran dimensi yang terbuka lebar, Rabarus pun kembali fokus dengan situasi di sekitar Mansion. Ia memejamkan matanya, dan merasakan suasana di seluruh area Mansion, baik itu di dalam maupun di luar Mansion.
Ia terus merasakan dan melacak pergerakan musuh, dengan radius seratus meter.. Lalu menjadi lima ratus meter. Dan, memperlebar sudut pencariannya lebih meluas lagi, Hingga seribu meter.. Sampai muncul seringai di kedua sudut bibirnya yang runcing.
"Heem...., Akhirnya ketemu, hehehe.." seringainya seperti menemukan buruan, setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rabarus pun langsung melesat secepat kilat, dan menghilang dalam sekejap.
...****🌻****🌻****...
Ia sedang bersandar pada pohon rimbun, gadis kecil itu tengah duduk sambil menatap kelangit dan memegang kedua lututnya.
Jura, melihat Master kecilnya dari kejauhan.. dan mulai melangkah pelan, menaiki bukit dengan langkah yang tidak bisa di dengar.
Tampak rumput dan bunga-bunga liar bergoyang, seperti riak ombak. Karena tersapu oleh angin yang menenangkan jiwa. Pria tampan berpakaian serba hitam itu, berpostur tinggi tegap dan terlihat sangat dingin, namun mempunyai wibawa seorang pemimpin.
Mulai melangkah maju.. sambil menatap sendu pada Putri kecil tersebut, Ravella yang tidak menyadari kehadirannya.. Terkejut saat mendengar suaranya yang menenangkan hati.
"Apa yang sedang kau pikirkan Sayang, sampai tidak menyadari kehadiran ku..!" ujarnya risau, saat melihat sikap Masternya yang terlihat galau.
"Ka-kakek! Sejak kapan Kakek di sini?" ujarnya terkejut.
Jura tersenyum simpul melihat reaksinya yang lucu, dan polos. "sudah sekitar lima menit aku berdiri di bawah bukit, dan baru dua menit aku tiba di sini."
__ADS_1
Ujar Jura detail, lalu duduk bersandar di sampingnya yang bingung. ia terdiam dan memejamkan matanya.. Tampak bulu mata hitam lebat dan panjang, juga sangat lentik.
Ia ikut duduk menikmati ketenangan, Ravella melirik kearahnya sekilas, lalu kembali menatap langit cerah berawan.
Lama mereka terdiam, menikmati keindahan suasana alam. hingga langit berubah menjadi jingga keunguan, karena hari sudah mulai berubah senja.
Jura sengaja tidak berbicara apapun, karena ia tidak ingin mengganggu ketenangan Masternya yang sedang melamunkan sesuatu.
Tak lama.. Terdengar suara lembut sedang menyeru namanya dengan intonasi yang terdengar agak sendu dan rapuh.
"Kek..!" panggilnya lalu menatap ke langit senja.
"Ya Sayang." jawabnya sambil tersenyum tipis, karena ia senang! akhirnya Masternya mau bercerita, meluahkan isi hatinya.. Yang sejak tadi ia dera dengan kebungkamannya.
"Aku sadar, jika peran ku saat ini tidak begitu di butuhkan. Karena.. kekuatanku yang tiba-tiba menghilang entah kemana? Dan aku juga tidak ingin menjadi beban bagi Ayah dan yang lainnya! dengan bertindak nekat dan bodoh tanpa berpikir panjang." ujarnya dengan tatapan meratap sayu.
Sedangkan Jura, hanya terdiam mendengarkan tanpa menyela sedikitpun. dan membiarkan Masternya terus berbicara, agar bisa merasa lega karena telah bercerita.
"Andai aku pergi pun, aku tidak bisa membantu apapun dan hanya akan menjadi penghalang bagi yang lainnya. Tapi di satu sisi.. Aku sangat ingin berguna bagi semuanya!
Terkadang aku merasa heran, dan marah pada diriku sendiri. setelah aku bangun dari tidur yang panjang, tiba-tiba aku merasa jadi sangat lemah tak berdaya.' ujarnya melara dalam kesah.
Lalu Ravella menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya, ia menyembunyikan airmata bening sudah tertumpah tergenang.
Jura hanya bisa menghela nafas panjang, dan meraih bahu kecil itu agar menangis dalam pelukannya yang lapang. Dalam hati ia bergumam lirih. 'Jadi itu sumber masalah yang membebani pikiranmu Dewi..!!
Pantas saja.. Sejak tadi ia terus malamun, Jura menepuk pelan punggung kecilnya, hingga gadis kecil itu tertidur nyenyak, dalam pelukan hangat yang menenangkan.
'Semoga saja urusan di Mansion cepat selesai, Agar Dewi bisa bertemu dengan Ayahnya kembali. Aku yakin dia sangat mengkhawatirkan anak itu! dan begitu merindukan sosoknya, sampai ia menyalahkan dirinya sendiri.' pikirnya, yang terus mengamati Masternya.
'Peran Ayahnya sangatlah penting, untuk pertumbuhannya saat ini..!'
Jura kembali menatap sosok kecil yang tengah tertidur pulas dalam pelukannya yang tenang, dan memindahkan perlahan di atas pangkuannya. Ia membelai rambut perak indah itu dengan lembut, dan kembali menatap langit yang sudah redup.
__ADS_1
'Entah kenapa? Sejak kembalinya Dewi dari Alam Langit, hatinya begitu rapuh, dan mudah terluka. Apa mungkin cuma perasaanku saja!! Atau.. ia masih memikirkan Pak Tua Garda, yang saat ini entah di mana??' pikirnya jauh menerawang, menembusi bintang-bintang yang tergantung di awang-awang.