
Sesampainya di depan Istana kerajaan Raja Zavier, kereta Duke pun berhenti. mereka sudah disambut dengan kedua Suami Istri, dan beserta para pengikutnya berdiri di depan istana, untuk menyambut kehadiran tamu spesial.
"Ayo sayang, kita telah sampai." ujar Duke.
Duke turun lebih dulu, di susul Ravella. Duke memegang tangan Putrinya dengan erat, seolah takut jika Putrinya akan terlepas dari genggamannya.
Raja Zavier Pria yang kelihatan seumuran Duke, berambut coklat keemasan. Dengan mahkota Emas Putih, berhiaskan berlian hitam di mahkotanya. Ia tampak berwibawa dan sangar.
Wajah yang terlihat sudah banyak melewati lika-liku kehidupan, tampak tidak termakan oleh usia. Ia masih terlihat seumuran dengan Duke, meski Jarak usia mereka berbeda jauh.
Sedangkan Ratu, yang berambut merah terang juga mengenakan tiara yang terbuat dari berlian, bertengger di atas kepalanya. Ia tampak tenang dan tegas, jika melihat sekilas, siapapun yang belum mengenal sosoknya.. akan merasa terintimidasi hanya dengan pandangannya saja.
"Apa Kabarmu, teman lamaku??" ujar Raja Zavier, menyalami Duke sambil memeluknya.
"Sudah lama tidak melihatmu Lan.." ujar Ratu tersenyum.
"Seperti yang anda lihat Baginda, hem. Begitupun Saya Baginda Ratu!!" jawab Duke, yang juga senang melihat kedua teman lamnya itu.
Setelah melepas rindu dengan teman lamanya.. Perhatian Raja Zavier jatuh pada sosok Putri kecil. Di lihatnya gadis kecil imut yang sangat cantik, sedang berdiri di samping Duke, sambil di pimpin oleh Sang Ayah.
"Kau pasti Putri dari Arabella bukan?!" ujarnya tersenyum lembut.
Ravella yang melihat Sang Raja menyapanya lebih dulu, segera memberi hormat.
"Hormat saya pada baginda Raja, dan Baginda Ratu. semoga berkah Dewa selalu menyertai Anda Berdua, dan seluruh negeri ini."
"Terima kasih, Nak." ujar Raja, semetara Ratu tersenyum lembut saat melihatnya.
"Aku tidak menyangka, Putri dari Arabella sudah sebesar ini." ujar Ratu.
Melihat sosok Yang mirip dengan sahabat lamanya itu.. Raja Zavier pun berlutut dengan satu lutut. menatap lembut Pada Putri kecil, yang sedang tersenyum hangat padanya.
"Kau sangat lucu dan Cantik Nak, persis seperti Ibumu." ujar Raja menatap sendu, seolah menyimpan kerinduan yang dalam di matanya. Lalu ia memeluk Putri kecil Itu dengan erat, seperti Putrinya sendiri."
Ravella menatap Duke, yang sedang tersenyum padanya.
'Hem.. Apa aku sebegitu miripnya dengan Ibu..! Haah.. Bertambah lagi Pak Tua yang harus kutenangkan. Selagi beliau memelukku, aku menepuk pelan punggung beliau.'
Raja Zavier yang terkejut melihat Putri kecil yang dipeluknya, seolah sedang menenangkannya.. Malah Tersenyum, ia merasa lucu, dan segera melepas pelukannya secara perlahan dari tubuh kecil, yang ada di hadapannya itu!
"Kau seperti Ibumu Nak, sangat peka sekali. Untunglah kau tidak mirip Ayahmu hahaha.."
"Cih.." Duke mendecah.
"Tapi..!" raja Zavier melihat sekilas kearah Duke, dengan seringai penuh arti. "Kau sangat Lucu Nak, mulai sekarang, panggil aku Paman." ujarnya lalu mengangkat tubuh Ravella, lalu menggendongnya seperti Putri sendiri.
"Pa-paman, saya bisa jalan sendiri..!"
"Hahaha.. Tidak apa-apa Nona cantik, Putri Arabella, berarti Putriku juga."
__ADS_1
***
Sesampainya di istana, Raja Zavier memperkenalkan kedua Putranya.
"Nak, perkenalkan kedua Putraku Agapios, bulan ini ia berusia delapan belas tahun, dan Agatho empat belas tahun." ujar Raja memperkenalkan kedua Putranya.
"Senang berkenalan dengan anda berdua Pangeran, saya Ravella Nasya Rallex." ujar Ravella, memperkenalkan diri dengan sopan.
"Putraku, ajaklah Putri bermain."
"Baik Baginda." ucap keduanya Formal.
"Ayo Nona, kami akan membawamu untuk melihat instana." ujar Pangeran kedua ramah.
"Baik.." jawabnya. 'Hem.. Putra kedua cenderung ceria dan ramah, Ia juga tampak mudah bergaul. berbeda di banding Pangeran Pertama, yang lebih cenderung pendiam, namun tampak lebih suka mengamati.' pikir Ravella menyelidik.
Setelah keduanya menjauh pergi.. Akhirnya Raja Zavier baru bisa leluasa berbincang dengan temannya itu.
"Aku turut berduka cita untuk Mendiang Istrimu Lan, kenapa kau tidak memberitahuku dari awal, Jika aku tahu dia akan pergi secepat itu! aku pasti akan datang mengunjunginya. Sakit apakah Bella?? Sampai kau tidak memberitahu kami." tanya Raja penasaran sekaligus kecewa.
Duke terdiam sejenak, merenungkan pertanyaan yang tiba-tiba mengenai kematian mendiang Istrinya.. Beberapa menit kemudian, dengan ekspresi dingin, ia berujar.
"Ia pergi setelah beberapa menit melahirkan putriku." ujarnya.. Terdengar intonasi kesedihan.
Zavier tersentak mendengarnya.. Dan segera berujar untuk mengalihkan topik, kerena melihat perubahan Ekspresi temannya itu mulai berubah mendung.
"Haah.. Maafkan aku telah mengungkit masa lalu. Hmm.. Omong-omong tentang Putrimu, anakmu sangat istimewa Lan! Namun.. dia juga membawa beban di pundak kecilnya."
...****************...
"Hee.. Apa itu! Mungkinkan sudah di mulai??" ujarnya langsung bangun dari baringnya, dan menyingkap tirai daun yang lebat di hadapannya, untuk melihat penampakan yang menakjubkan.
Di suasana hutan yang sangat gelap dan sunyi.. Hanya di penuhi dengan banyaknya pohon besar yang Rimbun dan juga tampak menakutkan. Di tambah betapa besar dan hitamnya gunung, yang berdiri kokoh di balik hutan tersebut! membuat suasana di tempat itu terasa sangat menyeramkan.
Namun.. perasaan berdebar muncul memompa jantung Damu, saat menyaksikan penampakan yang sangat indah dan mengagumkan.
'Apa-apaan itu!!' ujarnya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya kini.
Tiba-tiba di depan kaki gunung, muncul sebuah Gerbang hitam raksasa. Gerbang tersebut terbuka lebar dengan sendirinya.. Dan tak lama, lampion gantung bewarna-warni bertebaran menghiasi area hutan.
Hutan yang tadinya gelap-gulita, kini menjadi terang benderang karena pancaran cahaya lampion tersebut. Tidak hanya itu, Bahkan hutan yang tadinya tidak ada apa-apa, Tiba-tiba saja langsung muncul area perkotaan yang sangat luas.
Tidak hanya itu.. Banyak Roh yang mulai bermunculan sambil membawa lampion, di tangan mereka.
'Haah.. Aku tidak menyangka, yang dinamakan Festifal Roh itu seperti ini..! Mereka berkeliling sambil membawa lampion di tangan mereka.. lalu berkeliaran melihat area kota. Sambil mencari setangkai bunga favorit mereka.'
Tak lama.. Di antara keramaian tersebut, muncul rombongan barisan sambil membawa sesajen sebagai persembahan menyambut berkah Dewa, dan Mawar Raksasa, dengan kelopak Sembilan Warna, yang diletakkan di atas punggung Luing berkaki seribu sebagai kendaraan pembawa bunga tersebut.
Dan, tepat saat barisan Roh sedang membawa Bunga Persembahan.. Sambil di iringi nyanyian pemujaan! Tiba-tiba saja di tengah keramaian, banyak sosok Roh berteriak dan berlari ketakuatan.
__ADS_1
"Aaaggghhhh...." suara teriakan di tengah keramaian.
"Tolong Ada Monster.... Lariii..." pekik suara seorang pria.
"Tolong Selamatkan aku.. Ada Monster ingin memakanku!" teriak Roh lainnya.
"Hehe.. Akhirnya si pembuat onar telah muncul. Tapi, siapa sosok yang telah berani membuat kekacauan di dalam Festival, yang di adakan Untuk Dewa?" pikir Damu, bertanya-tanya sambil menunggu dengan jelas. Kemunculan sosok tersebut.
Tak lama samar-samar dari kejauhan, sosok transparan muncul dengan lebih jelas lagi. sosok Monster bertubuh setengah Manusia bertangan dua, dan setengah hewan berkaki empat seperti laba-laba.
dengan kepala yang setengah hancur, dan mata dan mulut yang terpisah tidak beraturan. Rambut panjang jarang-jarang sebagian ada yang tidak berambut, dan sebagian lagi dipenuhi rambut.
Sambil berlari menabrak bangunan kota, hingga sebagian bangunan ada yang hancur ditabrak oleh tubuhnya yang besar. Dengan air liur yang terus meleleh membasahi dagunya.
"Sial, sosok apa itu? Menjijikan sekali..." ujar Damu, masih berdiri memperhatikan dari atas pohon.
Sosok Monster tersebut, terus berlari ingin menangkap Para Roh yang berkeliaran bebas di jalan, untuk dijadikan santapannya. Melihat Banyaknya Para Roh berlari ketakutan dan sebagian ada yang telah menjadi korban!
Akhirnya.. Damu turun tangan, dan muncul di tengah keramaian kota. Damu segera menghadang Monster tersebut, dari amukkannya yang ganas. ia hanya menjentikkan jarinya.. Dan monster tersebut Pun langsung menghilang dari kerumunan begitu saja.
"Hehe.. Maaf ada tawanan yang lepas. Jadi, silahkan di lanjutkan kembali acaranya." ujarnya santai, sambil menggaruk kepala, lalu menghilang.
Damu menjelma menjadi sosok anak kecil berusia sepuluh tahun, ia berpakaian serba hitam lalu manghilang, Bersamaan hilangnya Monster tersebut. Damu memindahkan Monster tersebut, kearea hutan yang jaraknya lebih jauh dari suasana keramaian kota.
"Mahluk Apa kau ini? jelek sekali." ujar Damu merasa jijik.
"Heh.. Kau menganggu ritualku manusia! Hari yang telah lama kutunggu-tunggu jadi berakhir sia-sia di karenakan dirimu. Dasar bocah sialan.. Kalau begitu, kau harus menanggung akibatnya. Sebagai gantinya aku akan menelan jiwa murnimu! Hehe.."
"Haah.. tutup mulut baumu itu, sampah. tugasku hanya menangkapmu, Kalau begitu bersiaplah." ujarnya meremehkan.
Monster itu pun marah dan menyerang Damu dengan brutal, ia mengamuk dan melompat tinggi ingin mencengkram tubuh kecil Damu. Namun, damu yang bertubuh kecil tidak bisa di anggap remeh.
Damu dangat tubuh yang sangat lincah, ia mengelak dan langsung menendang Sosok bertubuh besar tersebut dengan sangat kuat.. Sosok itu pun tercampak jauh, hingga menabrak pohon sampai terjungkal.
Namun, Monster itu tidak menyerah, ia bangkit kembali dan dalam sekejap menghempas tubuh kecil Damu, dengan semangat yang membara.
"Bwuuuuusshh..." senyap tak ada perlawanan.
"Apakah aku berhasil?" ujar monster tersebut, hampir mengira ia menang.
Tapi, belum sempat ia tertawa puas, tiba-tiba saja Damu yang masih utuh, menahan serangannya dengan mudah, Hingga tanah yang ia pijaki berlubang dalam.
sampai menimbulkan keretakan besar di tanah yang ia pijaki sekarang, disebabkan hantaman keras dari Monster tersebut. Damu berada di bawah telapak tangan besar Monster itu!
"Hehehehe.... Kau mencariku Mosnter Jelek? Tapi Maaf saja, aku masih hidup tuh! Sekarang giliranku. Terimalah ini.. (SANGKAR JIWA)."
Dan dalam waktu yang sekejap.. Tubuh monster tersebut sudah terkurung dalam kurungan besar.
"Ti-tidak... Lepaskan aku!!!" pekiknya.
__ADS_1
Dan Saat Damu ingin merubah ukuran Sangkar tersebut menjadi kecil, tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan pun terjadi..!!
"A-apa!! Bagaimana bisa dia...??" ujar Damu heran.