
Dan sorenya.. Duke, dan Putrinya Ravella, kembali ke Mansion. Begitupun dengan kedua Spirit mereka! Jura Dan Zion, dan tidak lupa juga Si bayi Gapi.
Saat sampai di Mansion, Argus merasakan kehadiran Zion. Tanpa menunggu lama.. Argus langsung melesat pergi mencari keberadaan Zion.
Di lapangan, tampak Zion sedang berjalan di halaman Mansion.. Ia berhenti sejenak, karena mencium aroma darah yang sangat kental, hampir mendekat memasuki area Mansion.
Dari kejauhan tampak Sosok Rog, sedang di tandu dengan keempat teman-temannya. ia tampak telah pingsan dan tidak sadarkan diri, karena sangking banyaknya mengeluarkan cairan darah segar.
Zion berjalan mendekati area perbatasan hutan dan Mansion, tiba-tiba sosok Argus muncul dan langsung meneriaki Zion, meluahkan kekesalannya tersebut.
Menyadari kehadiran Argus, yang di penuhi dengan amarah. Zion pun berpura-pura tuli, mengabaikan juniornya itu. Dan setelah Argus puas melampiaskan kekesalannya tersebut. Barulah Zion, mulai berbicara padanya.
"Apa kau sudah selesai berkicau..?" tanyanya mengejek Argus.
Menyadari ekspresi ledekan Zion, Argus langsung mengumpat kesal. "Sialan kau Senior! Aku ini sedang memarahimu kau tahu, apa kau tidak mendengarkanku hah..? Jangan bilang kalau pendengaranmu mulai tuli??" celetuk Argus, menatap kesal padanya.
Mendengar ocehan receh dari Argus, sebelah alis Zion terangkat keatas. "Kita bahas nanti saja, mengenai masalah keterlambatanku! Dan bisakah kau pergi.. Jangan ganggu aku sekarang, aku sedang sibuk!" ujar Zion, beralasan. Karena ia merasa risih dengan kehadiran Argus yang terus menempel padanya.
Dan tiba-tiba tercium aroma amis yang sangat menyengat menusuk hidung Argus, dan Zion. Aroma tersebut semakin kuat, tapi, karena Zion sudah mengetahui bahwa bau itu berasal dari darah Rog! Jadi ia hanya diam. Sedangkan Argus, berceletuk membuat salah satu alis Zion terangkat keatas.
"Hemz.. Hemz.. Hemz.. Bukankah ini bau darah? Darah siapa ini?" ujarnya mengendus-endus sambil mencari asal dari arah bau tersebut.
Zion yang tengah menghela nafas jengah, langsung menjawab rasa penasaran Argus. "Haah.. Itu adalah darah dari Putra Dewi." ujarnya.
"Hah.." kaget Argus, saat mendengar jawaban Zion. Argus seolah tak percaya, Lalu ia melihat keseriusan Zion menatap jauh. Argus Mengikuti arah pandangan Zion tersebut, yang tengah melihat rute mengarah kedalam hutan.
Dari arah tersebut, tampak beberapa Prajurit cadangan keluar dari semak-semak belukar. Di belakangnya menyusul beberapa orang lainnya.
Ada yang membawa peralatan Rog saat sedang berburu, dan beberapa orang lainya lagi, sedang menandu tubuh Rog yang tidak sadarkan diri. Sementara yang sebagian lagi.. membawa hasil buruan mereka.
Melihat Kedua Spirit menghampiri mereka! Para Prajurit pun langsung berhenti menurunkan semua barang dan juga murunkan tandu kebawah dengan hati-hati.. Dan menyapa hormat pada keduanya.
"Yang Mulia Zion, Yang Mulia Argus.." sapa dua puluh Prajurit muda tersebut, menundukkan kepala dengan hormat.
"Hem.. Apa yang terjadi, sampai anak ini bisa mendapatkan luka?" tanya Zion menghampiri Rog yang sedang terkapar tidak sadarkan diri.
Mereka pun melaporkan kronologi kejadian, saat mereka tengah berada di dalam hutan.. Seseorang yang di pilih sebagai ketua tim, menjawab pertanyaan Zion.
"Saat kami tengah asyik berburu di hutan, tiba-tiba kami kehilangan Rog Yang Mulia. Dan semua panik mencari keberadaan Rog yang menghilang. Lalu kami berpencar menelusuri semua area hutan hingga memasuki kebawah lembah yang belum pernah kami masuki sebelumnya.
Di sekitar lembah, kami menemukan Rog sudah tidak sadarkan diri dengan pakaiannya yang telah di penuhi dengan banyak darah segar. Pundaknya terdapat luka gigitan yang sangat dalam.
Kami sudah melakukan pencegahan awal, dengan membalut lukanya. dan meracik ramuan herbal yang kami tahu dan melumuri di sekitar pundaknya.
Akan tetapi.. Luka tersebut seolah menolak ramuan yang kami berikan. melihat tidak adanya reaksi perubahan pada lukannya..! Dan kondisi tubuhnya yang semakin melemah.
Jadi kami memutuskan untuk menghentikan latihan perburuan tersebut, dan, segera kembali ke Mansion. Namun, kami tidak tau apa yang telah terjadi padanya..! Hingga mengakibatkan Rog jadi seperti ini, Yang Mulia." ujar ketua Tim, menceritakan secara detail.
Tidak ada yang tahu! apa yang telah melukai Rog. Zion dan Argus menghampiri tandu tersebut, karena penasaran, Argus pun membuka perban di bahunya.
"Kerja bagus." puji Zion, karena mereka lebih memilih kembali, dan peduli pada keadaan temannya.
"Ini adalah gigitan dari seekor Serigala." ujar Argus, saat membuka kain yang membaluti lukanya tersebut.
Saat ia melihat bekas luka gigitan besar dan sangat dalam, Zion langsung tahu, jika aroma tersebut berasal dari Ras Spirit Serigala. Zion merasa kesal, karena ada yang berani memasuki wilayahnya dan menyerang orangnya.
"Menepilah.. Aku akan menyembuhkannya." ujar Zion pada Argus, Mendengar perkataan Zion, Argus sempat meragukannya.. Namun, semua itu berubah setelah melihat apa yang terjadi.
Arguspun segera menepi memberi ruang untuk Zion mendekat, Zion langsung meniupkan Hawa Murni, pada luka Rog. Dan di perhatikan oleh yang lainnya.
Setelah selesai meniupkan Hawa Murni.. Luka Rog perlahan-lahan mulai menyusut dan pulih, lalu menghilang seperti tidak pernah terkena luka sama sekali.
Para Prajurit muda itu pun terkejut dengan pemandangan tersebut, mereka tidak mengira jika Spirit milik Tuan mereka! Bisa menyembuhkan luka.
Begitu pun dengan Argus yang juga bereaksi sama dengan Para Prajurit muda.. Lalu ia langsung berceletuk mengutarakan pikirannya.
"Wow.. Sejak kapan kau bisa menyembuhkan orang Senior??" ujarnya menatap kearah Zion.
__ADS_1
Zion mengabaikan perkataan Argus dan berujar pada Prajurit.. "Bawa dia kembali ke asrama. Dan salah satu dari kalian ikut aku, tunjukkan Lembah yang kalian bicarakan tadi." perintahnya penasaran.
"S-Siap Yang Mulia." Ujar salah seorang yang bertindak sebagai Ketua tim, Sedangkan yang lainnya, langsung pergi membawa kembali hasil buruan mereka, dan mengangkat tandu.
Sementara itu.. Tampak kemarahan yang di tekan Zion, muncul di permukaan wajahnya. Zion pun langsung berujar pada Argus.
"Kau tetap di sini.. Lakukan tugasmu karena Master telah kembali, jika ia tahu kau sedang bersantai, dan bolong dari tugasmu. Ia pasti akan menambah berkali-lipat menjadi beberapa bulan. Heheh.." ujar Zion memperingatkan, dengan seringainya.
Argus yang baru sadar, langsung menepuk jidatnya sendiri. "Plak! Oh Astaga, aku hampir saja melupakan keberadaan Master! Terima kasih sudah mengingatkan ku Senior. Kalau begitu aku pergi dulu, jangan katakan pada Master jika aku mampir kesini ya, hihi.." gumamnya langsung menghilang.
"Seorang Prajurit muda tersenyum melihat reaksi Argus, sedangkan Zion kembali serius." 'Bagus, hanya dengan cara itu aku bisa mengusirnya menjauh dariku. Jika tidak, dia pasti akan memaksa untuk ikut dengan dalih bosan.
Aku akan menghukum Serigala yang berani masuk kewilayah ku! Lancang sekali..., berani-beraninya dia menyerang Putra, Nak Dewi.' pikirnya dengan raut yang terpahat kesal. "Ayo kita pergi, dan tunjukkan jalannya padaku!" perintahnya garang.
"Baik Yang Mulia." pria itu pun berjalan lebih dulu, mendahului Zion. Untuk menunjukkan jalan kepadanya.
...🌸****🌸****🌸****🌸****🌸...
"Di dalam Mansion, Ravella dan Duke.. Sedang duduk di Gazebo. Menikmati suasana Sore, sambil Tea time bersama Putrinya. Ia mengambil Teh yang masih hangat, lalu menyeruput pelan sambil memperhatikan Putrinya yang tengah bermain bersama Piaraannya.
Ravella mengejar kupu-kupu di dekat taman sekitar Gazebo.. Ia berlari riang bersama Gapi, keduanya tampak tertawa bahagia.
Dari kejauhan terdengar teriakan Gapi. "Dewi.. Sebelah sini Dewi.. Kupu-kupunya berpindah tempat." ujar Gapi.
"Heheh.. Ayo kita tangkap kupu-kupunya Gapi..!" ujar Ravella semangat.
"Baik..." begitupun Gapi, yang tampak sangat senang sekali bisa bermain dengan Ravella.
Duke pun tersenyum simpul, di suguhkan dengan pemandangan indah tersebut. Ia pun secara perlahan-lahan mulai menerima keberadaan Gapi, di sisi Putrinya. Ia tidak pernah lagi mengusik Gapi.
Melihat betapa sayang dan begitu protektif Putrinya terhadap peliharaannya tersebut.. Jika kehilangan Gapi sebentar saja, Putrinya akan panik mencari keberadaan Gapi. Begitupun Gapi, seolah perasaan keduanya telah terbagi untuk saling melindungi.
*Flashback*
Duke yang telah tersadar karena pergerakan Putrinya.. Berpura-pura tidur, dan mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Kresek.. Kresek.."
"Haah.. A-apa itu?" ujar Ravella mundur beberapa langkah, karena terkejut.
"Hehehe... Ini aku Dewi. Aku minta maaf telah mengagetkanmu! Habisnya, saat aku sedang tertidur, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki Ayah Dewi.. Jadi aku cepat-cepat turun dan bersembunyi di sini.
Ayah Dewi terlalu menyeramkan untuk di hadapi." akunya polos. Ravella tertawa mendengar jawaban hewan kesayangannya tersebut.
"Hihihihiii.. Tidak apa-apa Gapi, Ayah tidak akan memakanmu. Ayah sebenarnya sangat baik, hanya saja dia terlalu gengsi untuk menunjukkan kelembutannya. Jadi kau tidak perlu takut lagi oke.
"Benarkah!? Jika Dewi bilang begitu, baiklah. Aku akan berusaha membuktikkan pada Ayah Dewi, Jika aku akan selalu menemanimu dan melindungimu Dewi." ujarnya percaya diri.
"Hem.. Hem.. Lucunya bayiku! Baik-baik aku sangat bangga padamu. Mari kita buktikan pada Ayah, jika kita bisa saling melindungi dan tidak seperti yang Ayah Pikirkan." ujarnya bersemangat.
"Emh.." angguknya menggebu-gebu, lalu keduanya pergi keluar. Meninggalkan Ayahnya yang sedang tertidur.
Duke yang malas membuka matanya.. Tersenyum mendengar celoteh Putri kecilnya, dan peliharaannya. Ia merasa keduanya terdengar sangat lucu dan menggemaskan.
*Flashback Berakhir.*
Saat ia sedang fokus memperhatikan keduanya.. Tiba-tiba terngiang perkataan Rabarus, jika ia datang dengan misi untuk melindungi Putrinya, dan semua yang di sayanginya.
'Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika Putriku yang lucu, tiba-tiba menjadi Dewasa dan pergi meninggalkan ku..! Andai waktu bisa ku hentikan, aku tidak ingin masa-masa seperti ini hilang dan berlalu.
Haah, Arabella.. jika saja kau ada di sini bersamaku, dan melihat betapa cantik dan lucunya Putri kita. Pasti hidupku akan lebih sempurna lagi dan keluarga kecil kita akan lebih lengkap dengan kehadiranmu di sisi ku, dan Putri kita.' pikirnya hanyut dalam lamunan.
Duke tengah duduk bersandar sambil bertopang dagu, pada satu tangannya. Menatap lurus kearah Ravella dan Gapi yang sedang berlari mengejar kupu-kupu indah.
Tidak terasa, ada Air Mata jatuh tergenang membasahi kedua pipinya.. Ravella yang sudah selesai bermain, kembali menghampiri Sang Ayah. Dan ia terkejut saat mendapati Ayahnya sedang bermuram durja, bersimbah Air Mata.
Ia langsung mendekati Lannox, yang tengah tenggelam dalam lamunan panjangnya, ia mengkhayalkan keluarga kecil mereka.. Sedang bermain di sekitar Gazebo, ketiganya berlari saling berkejar-kejaran di taman.
__ADS_1
"Hahaha... Bersiaplah aku akan menangkap kalian berdua!!" ujar Duke.. Membuat wajah seram.
"Aaah.. Ibu Ayah mengerikan! Cepat bu.. Kita harus bersembunyi." ujar Si kecil Ravella menarik tangan ibunya.
"Hahahaa.. Iya cepat Sayang, ayo lari.. Selamatkan dirimu Putriku." ujar Arabella pada Ravella. Karena ia telah tertangkap oleh Duke.
"Hahaha aku mendapatkanmu Istriku! Kau tertangkap.." ujar Duke langsung memeluk Arabella dari belakang dan mengecup Ceruk lehernya, lalu memegang pinggang Arabella dan mengangkatnya tinggi dengan kedua tangannya yang kekar."
"Ahh... Hentikan Lan.. Ini terlalu tinggi." ucap Arabella berteriak manja.
Lannox tertawa bahagia dan berputar-putar lalu menarik kembali Arabella kedalam pelukannya, dan mendekapnya lebih erat, sambil mengecup ceruk lehernya yang putih mulus.
Arabella tertawa geli.. Lalu berlari melepaskan diri, Setelahnya Duke kembali berlari mengejar Istrinya dan Putrinya yang berlari kecil menghindari tangkapannya. Dan ketiganya bermain dengan bahagia sekali..
Melihat reaksi sang Ayah.. Yang tidak menyadari kehadirannya! Membuat perasaan Ravella menjadi terenyuh. Saat mendapati Air mata Ayahnya, mengalir jatuh membasahi kedua pipinya.
'Apa Ayah sedang memikirkan Ibu lagi...!? ia pasti sangat merindukan Ibu?' Ravella menurunkan pandangannya pada rumput hijau. Sekelebat Wajah cantik Ibunya, kembali singgah dalam ingatan.
Tak ingin terlalu Larut dengan kerinduannya.. Ia dengan cepat menyadarkan Ayahnya. "Ayaaah..." serunya pelan, sambil membelai kepala Ayahnya dengan lembut.
Merasakan sentuhan lembut nan hangat singgah di rambut peraknya.. Duke langsung tertampar oleh kenyataan, ia segera tersadar dari lamunan yang menghanyutkan. Hingga membuatnya seketika, menyadari kenyataan.
"Pu-Putriku! Kapan kau ada di sini?" Ujarnya yang baru saja tersadar, saat melihat senyuman indah Putrinya, sudah berada di hadapannya.
Gapi yang hanya diam sejak tadi.. Memperhatikan dari jauh, Tampak agak bingung dengan pemandangan tersebut. Namun ia hanya diam mengamati keduanya.
Mendengar ucapan Ayahnya, Ravella diam dan maju lebih dekat lagi sambil mengusap air mata yang membanjiri wajah tampan Ayahnya..
Lalu ia langsung merangkul Lannox, yang juga terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Putrinya. "Ayah pasti sangat merindukan Ibu bukan!!" ujarnya pelan, terdengar lirih seperti ingin menangis.
Lannox hanya diam, dan hanya membalas memeluk Putrinya dengan erat, tanpa mengatakan apapun. dan Air mata yang telah kering, kini kembali jatuh menimpa punggung Putrinya. Dan terdengar lagi suara Putrinya.
"Aku juga merindukan Ibu...! Jadi Ayah jangan Menangis lagi ya, Karena Ravel jadi ikutan sedih!!!!" ujarnya.. dan Air mata si kecil pun jatuh, karena semua ingatan Ravella asli, telah menyatu dengan dirinya. Dan ia teringat kembali pelukan hangat Ibunya, sewaktu berada di dalam mimpi.
Ingatan tersebut, membuatnya jadi merindukan pelukan hangat sang Ibu, yang tidak pernah ia rasakan selama ini, semenjak ia terlahir kedunia.
Keduanya saling berpelukan erat, dan bungkam dalam kesedihan yang dalam, yang hanya di mengerti oleh mereka berdua. hingga matahari di telan kegelapan, menikmati heningnya kebersamaan.
Jura yang melihat dari kejauhan.. Tidak ingin mengganggu keduanya, ia hanya memberi kode pada Gapi. Untuk membiarkan keduanya menghabiskan waktu bersama.
Gapi pun mengikuti Jura dengan Patuh, ia pergi meninggalkan keduanya yang terlihat sama-sama mengeluarkan Air Mata kesedihan, sambil mengenang mendiang Istri dan Ibu. Yaitu Arabella.
Menyadari Putrinya yang sudah terlelap, Duke bangun dari duduknya.. Dan berjalan sambil menggendong Putrinya yang telah tertidur.
Ia berjalan perlahan menuruni bukit, dan menuju jembatan sambil melihat Bulan, menikmati keindahan malam, dan merangkul si Buah Hati dalam pelukan hangatnya.
Ia mencium Putrinya dengan penuh kasih sayang, yang tidak pernah ia berikan saat Ravella masih Bayi. Rasa menyesal, perasaan bersalah, perasaan Sayang, perasaan cinta kasih, hingga rasa takut kehilangan.
Semua bercampur aduk menjadi satu, dalam hati dan ingatan Duke muda tersebut.. Hanya Alam yang menjadi saksi bisu. Akan derasnya Air Mata yang mengalir dalam diam.
Jura dan Gapi pergi meninggalkan Gazebo, Membiarkan waktu menenangkan kedua anak manusia tersebut, yang tengah di rundung duka yang sangat dalam.
***
Rabarus.
Sedangkan Di Zona Mana.. Rabarus tetap tinggal untuk memantau perkembangan Para Spirit yang masih dalam Proses Evolusi.
Rabarus menatap tajam, dan bertindak protektif pada Kelima Telur tersebut. Ia berdiri di dekat jendela, melipat kedua tangannya kebelakang. Sambil bergumam dalam hati.
'Hem.. Setelah Roya, kini di susul Gira.. Keduanya termasuk yang paling cepat di antara yang lain. Setelah mereka selesai berevolusi, aku harus mulai serius dengan pelatihan kelima anak-anak itu.
Tidak ada lagi kata bermain.. Selain melindungi Dewi Permaisuri..! ini juga adalah salah satu misi yang paling penting, yang telah di perintahkan oleh Paduka kepadaku. Aku tidak boleh menundanya lebih lama lagi..!
Karena waktu terus berjalan, dalam tiga tahu kedepan. Sebelum mencapai musim Semi yang ketiga! Anak-anak itu sudah harus bisa menguasai jurus-jurus baru. Yang sesuai dengan karakter dan kemampuan di bidang mereka masing-masing.
Karena menurut cerita Jura.. Jika tiga tahun mendatang, Paduka akan hadir melihat perkembangan mereka secara langsung. Dan, aku harus membuktikan jika aku telah berguna untuk Beliau. Agar Beliau tidak menyesal telah memilihku.' pikirnya merenungi semua yang akan terjadi.
__ADS_1