
Dean berjalan menyusuri hutan rimba sendirian, karena pekerjaannya mengawal Putri sudah selesai. Jadi Dean memanfaatkan waktu senggangnya, untuk berjalan-jalan sambil merilekskan diri dari kebisingan.
Saat ia memasuki area pedalaman hutan.. Tampak air terjun mengalir dengan deras. Dean lalu mendekati pinggir danau, disana ada sebuah bongkahan batu besar, di dekat air terjun. Dean lalu mendekati batu itu, dan duduk di atas batu tersebut.
Dean menghirup udara sejuk.. Ia memejamkan mata sambil menikmati nyamannya tempat itu. Dean membuka matanya kembali, pria berambut hitam, dengan netra mata seperti madu. Melihat kedalam danau bening, dan pikirannya kembali menjelajah.
'Hah..' Dean teringat kembali tentang percakapannya dengan Rog, beberapa waktu lalu. 'Siapa orang tua angkat yang dia maksud? Mungkinkah Yang Mulia Duke telah mengangkat mereka??? Jika itu benar mungkin, aku rasa Dewa sedang berpihak padanya.
Karena selama ini, ia selalu hidup menderita, jadi sangat wajar jika ia telah menemukan tempatnya untuk bersandar. Dan jika itu memang benar terjadi, akan sangat bagus untuknya.
Tapi apa mungkin Yang Mulia yang mengangkatnya?! melihat bagaimana sifat Yang Mulia, rasanya itu tidak mungkin terjadi. Yah kita lihat saja nanti..!! Aku juga sangat penasaran siapa Orang Tua Angkat, yang dia bilang sangat menggemaskan itu??'
***
Sesampainya Gira dan Zaku di mansion, keduanya langsung mencari keberadaan Ravella.
Ravella sedang berada di gazebo di dekat danau, Ia sedang bersandar di tubuh Zion yang sedang tertidur pulas, sambil membaca buku. Tampak Jura dan Saga serta kedua Spirit lainnya.. juga duduk disana sedangkan Tama dan Roya sedang fokus bermain Catur.
Jura sedang duduk bersandar sambil bersedekap tangan dengan kedua mata terpejam. Sementara Saga.. Sedang membaca buku seperti Ravella.
Zaku dan Gira menghampiri mereka, yang tampak sedang sibuk dengan dunianya masing-masing.
'Bagaimana latihan kalian?' Ujar Tama sambil fokus menatap papan catur.
'Lumayan menyenangkan, kalian tampaknya sedang banyak waktu luang ya.. Kenapa waktu yang begitu senggang tidak kalian gunakan untuk berlatih?' Ujar Zaku ketus.
'Hem.. Aku sudah bosan berlatih sebelummu tau?' ujar Tama sambil memegang dagu.
'Hem.. Kapan?' tanya Zaku heran.
'Waktu aku menjalani ujian dari Ayahku.' Ujar Tama santai.
'Oh..' Zaku melirik kearah Ravella, yang tidak sadar akan kehadiran mereka berdua. 'Tampaknya beliau sangat fokus ya.. Sampai tidak sadar kami datang.
'Buku apa yang Beliau baca? Sampai terlihat seserius itu!' tanya Gira sambil berjalan, lalu duduk di samping Jura.
'Entahlah.. Sepertinya Buku tentang strategi perang.' Ujar Roya.
'Pantas saja beliau tampak sangat serius.'
Jura yang sejak tadi hanya diam mendengarkan obrolan temannya itu, tiba-tiba Jura merasakan kehadiran seseorang yang sangat Akrab. Jura Lalu tersenyum tenang dan berujar, Dengan kedua mata yang masih terpejam. Membuat yang lain kehilangan fokus, dan beralih melihat kearah Jura.
"Apa kabarmu Pak Tua? Lama tidak bertemu..!" Ujar Jura santai.
"Cih, ternyata aku ketahuan ya..! Yah, sudah lama.. Tampaknya kalian baik-baik saja." Garda mendecih senang.
__ADS_1
Spirit lain terkejut mendengar suara yang sangat mereka kenal, sedang berbicara dengan Jura. Lalu, pandangan mereka beralih kearah Garda.
"Kau.. Kemana saja kau baru kelihatan!!" ujar Tama yang langsung melempar pertanyaan.
"Cih.. Inilah yang membuat aku malas menunjukkan diri.. Karena kalian pasti akan menghujaniku dengan banyak pertanyaan." Ujar Garda yang tampak malas.
Garda memperhatikan Ravella, tampak Ravella sudah tertidur pulas, dengan buku menutupi wajahnya. Begitupun Zion, yang tampak sangat nyaman berada di dekat Sang Putri kesayangannya sampai membuatnya tertidur nyenyak.
"Cih.. Cih.. Lihatlah kedua anak ini..! Mereka sangat lucu bukan!!" ucap Garda memperhatikan keduanya.
Yang lain pun ikut tersenyum, melihat keduanya tampak sedang tertidur pulas.
"omong-omong dimana Bayi Naga? Kenapa aku tidak melihatnya!" tanya Garda celingak-celinguk mencari keberadaan Gapi.
"Dia sedang latihan, di dunia Peri." ujar Jura Yang baru membuka kedua matanya.
"Hem.. Pantas saja ia tidak kelihatan." Ujar Garda mengangguk.
Garda melihat kearah Ravella, lalu berujar kepada yang lainnya.
"Tampaknya kekuatan Dewi jadi melemah."
"Karena itu kami selalu di samping beliau." Ucap Saga cepat.
"memangnya apa yang telah terjadi pada Dewi??" Tanya Garda tampak serius.
"Apa.. Kekuatannya jadi berkurang sejauh itu!!" Garda tampak terkejut. 'Apa mungkin, karena itu Paduka menyuruhku kemari??'
"Ya, Ini terjadi begitu saja setelah Beliau bangun. Dan sepertinya.. Dewi harus memulai semuanya dari awal lagi." Ujar Jura yang tampak Risau.
Tidak hanya Jura, begitupun dengan Spirit lain. Ekspresi mereka pun jadi berubah serius, saat membahas masalah Sang Master. Begitupun Garda, yang juga sedang mencerna, alasan dari Sang Paduka mengirimnya kemansion.
Tak lama tiba-tiba saja terdengar seruan, di telinga Garda.
'Kau tidak perlu khawatir, karena aku yang telah menyegel kekuatanya, Aku ingin Permaisuriku memulai semuanya dari awal kembali.'
'Haah.. Kalau begitu hamba lega mendengarnya, lantas.. Kenapa Paduka mengirim hamba kembali kemansion?' tanya Garda penasaran.
'Hem.. Nanti kau juga akan tahu. jadi, manfaatkan waktumu sebaik mungkin.' setelah membuat Garda penasaran setengah mati, sekarang Dewa malah menambah lsgi rasa penasaran Garda.
Dan setelah Sang Paduka berbicara, tak lama suaranya pun langsung menghilang, Garda hanya bisa menghela nafas.
'Haah.. Mulai lagi, kenapa aku merasa jika Beliau suka sekali mengerjaiku.' Pikir Garda sambil mengusap kepalanya sendiri.
Sementara itu.. Jura memperhatikan Garda yang tampak sedang kesulitan. 'Hem.. Beliau pasti memberi misi kepada Garda, tanpa memberitahu alasanya, jika tidak, mana mungkin ia terlihat kerepotan seperti itu.'
__ADS_1
***
dua jam sebelum Zion bergabung dengan Ravella, dan para Spirit lain.
"Tok.. Tok.. Tok.. Yang Mulia, ini saya Reni."
"Masuk."
"Ceklik." Reni masuk keruangan kerja Duke, tampak berbagai dokumen bertumpuk di atas meja. Dan setelah beberapa saat kemudian, Duke menghentikan kegiatanya itu lalu berujar kepada Reni.
"Reni, dua hari lagi aku akan menghadiri undangan Kaisar, bersama Putriku. jadi persiapkan Gaun yang bagus untuk Putriku, karena ini cuma acara tea time. Jadi tidak perlu mengenakan Gaun yang terlalu mencolok. Apa kau mengerti..!"
"Baik, dimengerti Yang Mulia."
"Bagus, kau boleh kembali."
Setelah kepergian Reni.. Tak lama Zion pun muncul.
"Ada apa kau memanggilku bocah?" Tanya Zion, yang baru saja keluar dari bayangan dinding ruangan.
"Aku ingin membahas tentang Ramalan Putriku."
"Heeh.. Apa kau sudah berubah pikiran? Bukannya kau sendiri tidak percaya tentang Ramalan??"
***
Di istana langit.. Rabarus merasa canggung dan tidak tahu harus melakukan apa? selain duduk diam tanpa suara, di samping Kaisar Zando. Ia tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun, melihat Sang Kaisar hanya terdiam setelah kepergian Garda.
Dan setelah beberapa menit kemudian, Kaisar Zando mengeluarkan suaranya, membuat Rabarus tersentak kaget karena gugup.
"Rabarus.."
"Ha-hamba Pa-Paduka."
"Apa kau tahu, kenapa aku membawamu kemari??"
"Ti-tidak Paduka!! Bolehkah hamba tahu apa alasannya, jika Paduka mengizinkan."
Setelah beberapa saat bungkam, Sang Kaisar kembali berujar.
"Setelah Jura, kau adalah yang kedua tahu siapa aku."
Rabarus tertegun mendengarnya, sekaligus merasa senang.
"Hamba bersyukur karena telah di beri kepercayaan oleh Paduka."
__ADS_1
Kaisar menyeringai mendengar perkatan Rabarus, dan kembali memberi pertanyaan.
"Apa kau bisa.. Memegang tanggung jawab, dari sebuah kepercayaan yang telah di amanahkan kepadamu??" tanya Kaisar menyeringai.