
"Hahahaha... Tenang saja, aku berjanji dengan kata-kataku. Kecuali..." Perkataan Jura terhenti seketika, salah satu alisnya terangkat keatas. Membuat para Herbivora bergidik ngeri menunggu kelanjutan ucapan Jura.
"Kecuali..., jika aku kelaparan. melihat ketegangan di antara hewan herbivora, semua menjadi hening saat mendengar ucapan Jura.
Namun, suasana kembali tercairkan. tika suara Naga Hitam Putih itu.. pecah membahana. "Hahahaha.. hahahaha... aku bercanda." sambungnya membuat yang lain merasa lega, karena ternyata Sang Naga hanya bercanda.
tak lama setelah keriuhan tersebut, Zion pun terbangun dari tidur panjangnya. ia terkejut saat sadar ia sudah berada di negeri antah-berantah yang ia tidak tahu dimana itu. ia melihat ke arah kerumunan, tampak sosok Naga Hitam Putih yang belum pernah ia lihat, sedang duduk bersebelahan, dengan sosok Rusa Putih bercahaya.
Penasaran akan hal tersebut, dia pun berjalan menghampiri keduanya. Jura melihat Zion, langsung menyapa. Membuat Zion heran dengan Sosok Naga, yang menurutnya sok kenal itu
"Kau sudah bangun Nak?" tanya Jura, yang sedang melihatnya sambil bersedekap tangan.
"Heh..., kalian siapa? di mana ini??" tanya Zion, yang masih belum sadar jika sosok Naga tersebut adalah Jura. dan ia juga melihat lingkungan sekitar yang terasa sangat asing baginya.
"Apa kau lupa ingatan? sampai tidak mengenaliku bocah!" gumam Jura dengan salah satu alis ternagkat naik. Ia melihat Zion dengan tatapan heran, karena tidak mengenali dirinya.
"Cih, Jika aku tahu aku tidak akan bertanya." celetuknya kesal.
"Haah...." Jura menghela nafas. 'Wajar saja.. Aku juga bereaksi sama dengannya, saat sadar. Jadi tidak heran jika dia tampak kebingungan.'
"Kita sekarang ada di dimensi lain, dan berterima kasihlah pada Rubah Tua Rabarus, dan Pak Tua Ini. Karena Pak Tua Rabarus yang mengirim kita kemari, dan Pak Tua inilah yang menyelamatkan kita." jelasnya membuat Zion berpikir lama, dan kembali bergumam mengutarakan pikirannya.
"Tunggu.. Maksudmu kita..., jangan bilang jika kau Kakek Jura!!?" ujar Zion memastikan,
"Benar, ini aku." ujarnya berseringai.
Mendengar ucapan Naga besar di hadapannya itu.. Zion diam seketika. mencerna kembali perkataannya sambil menilik Jura, dari atas sampai bawah.
"Ka-kau, Kakek Jura..!!!" teriaknya dengan ekspresi masih tak percaya.
"Hahahaha.. Mana mungkin, setahuku Kakek Jura itu Naga Hitam pekat. Sedangkan kau warnamu hitam putih." ungkap Zion menjelaskan apa yang ia ingat.
"Hem.. ya, tapi ini memang warnaku yang sebenarnya,bocah."
"Haa.. Tapi sejak kapan, Kakek mempunyai belang seperti ini? dan juga.. Dari mana datangnya kedua tanduk itu??" ujarnya memperhatikan kepala Jura yang kini bertanduk.
Jura hanya menghela nafasnya, lalu kembali bicara. "Haah.. sejak aku berevolusi. hanya saja, aku tidak pernah menunjukkannya kepada siapapun. karena terlalu mencolok." jelas Jura sambil bersedekap tangan.
"Eum.. Kenapa Kakek menyembunyikannya! menurutku itu sangat keren. oh, iya Kek. omong-omong bagaimana keadaan Mansion..?"
"Ah, benar.. berbicara tentang Mansion, Pak Tua! Terima kasih sebelumnya, karena kau telah menyembuhkan kami. Tapi, ini sudah saatnya bagi kami untuk kembali. Karena keadaan di Mansion saat ini sedang tidak aman. Bisakah kau mengembalikan kami ke Mansion sekarang..!" tanya Jura, pada Rusa Tersebut.
"Tidak sekarang! Untuk sementara, kalian berdua harus tinggal di sini, hingga masalah di Mansion selesai.
Karena saat ini.. si bocah Rubah sedang berusaha melindungi semuanya, jadi lebih baik kalian tinggal dulu. karena kehadiran kalian berdua hanya akan menghalangi usaha anak itu!" Jelas Si Rusa, membuat keduanya terdiam.
"Haah... kau benar Pak Tua! kehadiran kami cuma jadi penghalang untuk Pak Tua itu. bahkan kami tidak berdaya menghadapi Dewa." jelas Jura, mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya.
__ADS_1
"Tentu saja.. karena kalian berdua bukanlah tandingannya." sambung Si Rusa.
"Lalu.. Apakah beliau sendiri mampu melawan Dewa tersebut? daripada membiarkannya sendiri, bukankah lebih baik jika kita membatunya?" sambung Zion, yang tampak khawatir.
Jura menepuk bahu Zion, untuk menenangkannya. "Kau tenang saja bocah, Pak Tua Rubah yang sekarang, jauh berbeda dengan yang dulu."
"Tapi...!" ujanya masih keras kepala.
"Cukup, aku tahu kau peduli padanya. jadi, berharaplah semoga beliau bisa menyelesaikan masalah tersebut tanpa kendala. Agar Dewa itu cepat pergi. Karena kehadiran kita tidak membantu sama sekali, justru malah akan jadi beban untuknya." tegas Jura.
Mendengar jawaban Jura, Zion menggertakkan gigi sebab menahan diri untuk tidak pergi. 'Kakek benar! jika aku pergi pun, kami berdua hanya akan jadi penghalang.' pikirnya menelaah kembali.
.
.
Sedangkan di sisi lain, Argus yang saat ini sedang terdesak. menunggu luka-lukanya membaik, sebab masih dalam proses beregenerasi.
Sambil menunggu, ia melihat pemandangan yang menakjubkan berada di langit. awalnya tampak meteor besar sedang mengarah ke Bumi. ia terkejut melihat fenomena tersebut, ingin bergerak menyelamatkan semua orang, namun dirinya sendiri tidak berdaya dan sedang diawasi dengan bebola hitam. Yang kini berada di luar perisai.
Dan tiba-tiba.. Dari kejauhan, muncul sosok Rubah Api Putih Raksasa. yang entah datang darimana! dan kini tengah menghadang dari kejauhan untuk menghentikan meteor tersebut.
'Apa itu? bahaya, jika sampai Meteor sebesar itu jatuh menabrak bumi.. Bumi akan hancur tak bersisa. gawat, apa yang harus aku lakukan? kondisiku saat ini sangat tidak memungkinkan untuk bisa bergerak bebas.
Ini semua gara-gara Penyihir sialan itu! jika saja mereka tidak muncul, masalah seperti ini pasti tidak akan terjadi.' pikirnya kesal, sambil melihat kearah penyihir yang saat ini tengah melihat kelangit, dengan seringai yang terukir di wajah pucatnya.
'Huh.. apa itu? apa itu seekor Rubah Raksasa!? aku belum pernah melihat Rubah seperti itu? sedang apa dia?? apa dia cari mati..! dengan menghadang Meteor sebesar itu sendirian. Bodoh sekali dia, solusi satu-satunya adalah dengan memindahkan semuanya sekaligus dari tempat ini.' berbagai pertanyaan muncul di benaknya yang kini, tengah terperangah menyaksikan pemandangan yang tidak biasa itu.
Di sisi lain.. penyihir yang sepertinya sudah tidak terkejut. Ia hanya menyeringai menyaksikan fenomena tersebut.
'Hehe.. sepertinya sudah di mulai ya..! bagus, membusuklah kalian semua di tempat ini. dengan begitu, keinginan beliau akan segera terwujud.
Namun, aku masih belum melihat beliau membawa anak itu! bahkan sekarang beliau hanya berdiam diri saja, sambil menyaksikan usaha Si Rubah Raksa itu, untuk menghentikan kekacauan ini.
Hehe.. kita lihat saja, apa mereka bisa menghentikan kekacauan ini. apalagi beliau sudah mengatakan, jika ia tidak menemukan Putri Tersebut, maka beliau akan menghancurkan tempat ini dalam sekali serang. hehehehe... aku tidak sabar melihat kehancuran Sang Singa Kekaisaran.
Negara ini tidak akan bisa apa-apa tanpa adanya Singa Dan Duke, di pihak mereka hehehe...!' ia berseringai menunggu kehancuran Dukedom.
...----------------...
Sementara Sang Dewa yang tengah menyaksikan usaha Rabarus menghentikan meteor, hanya tersenyum tipis, menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan musnah. Ia berniat mengakhiri semua hanya dalam satu serangan.
Namun, ia masih belum serius dengan niatnya tersebut, ia masih ingin bermain dengan Rabarus. Karena merasa tertarik dengan Sang Rubah, yang menurutnya telah berani mengerjainya. untuk itu ia ingin menguji Rabarus terlebih dahulu.
'Jika dia mampu menghentikan Meteor tersebut, aku akan memberi mereka kesempatan untuk hidup. Namun jika dia gagal menghentikannya.. Bersiaplah menuju kehancuran yang sebenarnya..!' pikirnya masih mengamati Rabarus.
Sedangkan Rabarus yang kini tengah berusaha menghentikan meteor tersebut, ia mengeluarkan bola energi dari mulutnya..
__ADS_1
*Rabarus*
Bola energi semakin lama semakin membesar dan lebih membesar lagi, hingga menyamai bentuk meteor. dan dalam hitungan detik, Rabarus melemparkan bola energi kearah meteor.
Setelah melepaskan serangannya, Rababarus kembali membuat bola energi lain, dan di tembakkan secara berkala kearah meteor, sehingga meteor yang tadinya mengarah ke bumi.. kini perlahan-lahan mulai terdorong menjauh. dan benturan demi benturan bola energi pun di lepaskan kearah Meteor.
Hingga Meteor yang awalnya akan jatuh kebumi.. Kini terlempar jauh.
"BOOOMMM! WOOOOSSSHHH!" Hingga ledakan besar pun terjadi di langit.. Membuat Rabarus, dan Argus, Merasa lega.
"Huuufffttt, nyaris saja. Haah.. tapi untuk sekarang Aku masih belum bisa bernafas lega! Karena Dewa itu masih ada sana. Rabarus berubah kembali kebentuk manusianya.. Dan terbang melayang menuju Dewa tersebut.
Sang Dewa memperhatikan dari kejauhan, Rabarus melayang turun, saling berhadapan dan menatap kearah Sang Dewa. "Hem.. Hem.. Awalnya aku ingin Meratakan tempat ini, hingga tak bersisa.
Tapi karena kau berhasil mencegah kehancuran bumi.. Aku akan menundanya." jelasnya lalu seketika menghilang dari pandangan Rabarus. tak lama setelah itu, hanya terdengar suaranya yang masih bergema di telinga Rabarus.
"Aku akan kembali lagi menyelesaikan semuanya.. dan aku akan mengambil Dewi Kecil ku dari kalian. Untuk saat ini, aku akan membiarkan kalian. menikmati waktu yang tersisa hehehehe..!" setelah ia berbicara dengan Rabarus, tak lama ia berujar pada Seseorang.
"Ayo kita pergi Doja!" perintahnya mutlak.
"Baik Sang Agung.." saat mendengarkan suara itu, Doja pun mematuhinya. Namun sebelum pergi, ia menoleh kepada Argus dan bergumam padanya.
"Hehe.. Kalian beruntung karena Sang Agung menundanya. Kita akan segera bertemu lagi, dan saat itu tiba.. aku akan menghabisimu." jelas Doja dengan intonasi yang mengancam. Tak lama muncul tirai terbuka di udara. Doja pun berlalu menghilang bersama tirai tersebut.
Begitupun dengan bola hitam yang tadi berserakan di udara.. kini Ikut lenyap bersamaan hilangnya penyihir tersebut.
'Cih.. Setidaknya kalian pergi itu sudah bagus.' pikirnya mulai bernafas lega, Argus menghilangkan perisai yang saat ini membentengi dirinya.
Ia pun kembali bangkit berdiri dan menatap kelangit.. Tampak seorang Pria sedang berdiam diri sambil bersedekap tangan di udara.
'Siapa Pria itu? Aku belum pernah melihatnya..! Dan dimana sosok Rubah Raksasa tadi?' pikirnya penuh tanya. 'sebaiknya lupakan dulu soal itu sekarang, lebih baik aku melaporkan masalah ini pada Master dulu.' setelah itu.. Argus pun segera menghilang dibawa pusaran angin, dan kembali melaporkan semua yang terjadi pada Duke.
Sedangkan Rabarus, masih berdiam diri dan bergumam dalam hati. 'Hem.. Siapa mereka sebenarnya? Kali ini aku hanya beruntung saja, karena dia hanya belum serius. Jika tadi dia benar-benar serius bertarung.. Entah apa yang akan terjadi padaku!
Aku juga harus mulai serius mengajar keenam anak-anak itu! karena tidak ada yang tahu, kapan mereka akan datang lagi.
Ah, hampir saja aku lupa.. aku harus segera menghapus ingatan bocah Elf itu, karena ia telah melihat wujud Mana Beast ku, dan Zaku. Tik.' Rabarus menjentikkan jarinya, dan dalam sekejap perubahan terjadi pada Argus.
'Hem.. sudah saatnya aku kembali ke Zona Mana.' pikirnya lalu menghilang.
Argus yang baru saja tiba di hadapan Duke, tiba-tiba merasa linglung. 'Ugh! apa yang terjadi.. kenapa aku merasa seperti ada yang hilang..!' pikirnya merenung, sambil memegang dagunya.
Melihat reaksi Spirit miliknya, Lannox pun langsung bertanya. "Kau Kenapa?"
"Ah, tidak kenapa-napa Master. saya hanya merasa sedikit pusing saja haha.." Ujar Argus berdalih.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita bicarakan masalah ini di ruang kerja ku sekarang."
__ADS_1
"Baik Master." Keduanya pun langsung berpindah tempat.