AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KENGERIAN YANG MUNCUL DI ZONA MANA! 2


__ADS_3

Kepala Zaku tiba-tiba terputus! mulutnya robek terbelah. Percikan darah Zaku, muncrat mengenai wajah Tama, dan Saga. Karena keduanya berada paling dekat dengan Zaku.


Semua yang menyaksikan kematian Zaku, kini menjadi bungkam, dan pucat tak berdaya. Seluruh tubuh mereka gemetar ketakutan. Padahal mereka belum membuat perlawanan samasekali, akan tetapi.. Mental mereka telah dirusak hanya dalam waktu sekejap, karena kejadian tersebut.


Padahal Zaku hanya sekedar menantang, tapi dalam waktu yang singkat, ia berakhir dengan cara mengenaskan. Mereka langsung ditampar kenyataan, Apapun yang mereka lakukan semuanya telah menjadi sia-sia.


Mereka harus mengakui, jika mereka memang tidak berdaya di hadapan Dewa. Tubuh Para Spirit yang saat ini, sedang dibelenggu oleh sesuatu ikatan yang tak terlihat, baik dengan mata telanjang, ataupun mata surgawi.


Dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat kepala teman mereka menggelinding jatuh ketanah, dengan rahang mulut yang sudah terbelah. keenam Spirit benar-benar dibuat kacau, dan gemetar ketakutan.


'T-tidak mungkin, a-apa yang terjadi..? I-ini pasti hanya mimpi kan..! Jika memang benar ini cuma mimpi, cepat bangunlah Rabarus. Sampai kapan kau harus melihat hal menyedihkan ini..!' Beberapa detik terus berlalu.. Tak lama, terdengar suara gugup Tama, seketika menyadarkan lamunan Rabarus.


"A-ayah.. I-ini.. A-apa yang h-harus kita la-lakukan? S-s-saudaraku.. ti-tidak-tidak ini tidak mungkin terjadi benarkan!! Jawab aku, Ayahanda.. Katakan jika semua ini tidak benar!!! Hiks.. Hiks.." desak Tama, pada Sang Ayah.


Hati dan pikirannya dipenuhi berbagai emosi, ia menjadi sangat labil. Saat melihat mayat temannya dengan kepala yang sudah terpisah dan tergeletak di atas tanah.


Bibir mereka seolah terkunci seketika, setelah menyaksikan kepala Zaku melayang tepat di hadapan mereka. Setelah dipaksa melihat kebrutalan yang mengerikan.


Ketakutan saat melihat mayat Zaku, yang telah mereka anggap saudara sendiri begitu menyayat hati. teman satu-satunya yang paling keras kepala, tidak sabaran, sembrono, mudah emosi, dan paling berisik di antara yang lainnya. Semua tingkah konyolnya langsung terbayang jelas di benak keempat Spirit, begitupun dengan Rabarus yang tidak bisa berkata-kata.


Rasa putus asa, serta rasa kehilangan seketika muncul merasuk hati dan pikiran mereka. bahkan air mata mengalir deras, membasahi keempat saudaranya yang kini tidak berdaya menyaksikan kematian tragis, dari saudaranya itu. Tubuh mereka tidak bisa di gerakkan.. Kecuali kedua tangan. Karena telah di belenggu oleh ikatan gaib.


"Sial.. Zakuuu.., hiks.. Hiks.. Dasar kau bocah nakal, kenapa kau tidak mendengarkanku keparat! Jika kau mendengarkanku, semua ini tidak akan terjadi padamu, dasar bocah bodoh, keras kepala. Hiks... Hiks.. kenapa kau tidak ada takutnya haah... Cepat bangun sialan..!!


Sebelum aku memukul kepalamu yang bodoh itu... Cepat bangun...


Kenapa kau hanya diam saja, bocah bodoh. Zakuuu.... jawab aku sialan!!! cepat bangun dan balas kata-kataku karena telah mengataimu...hiks.. hiks.. Jangan bercanda kawan, ini tidak lucu! Hiks.. Hiks.. Aagggghhhhh!!!Aaaaaauuuuuuwwwww!!! Aaaaaauuuuuwwwww!!!"


Lolongan Tama, terdengar sangat keras dan memilukan. Membuat ketiga saudaranya semakin sedih dan sakit saat melihat saudara mereka sendiri, harus pergi dengan cara yang mengenaskan.


Umpatan, teriakan demi teriakan, bergema keras di langit Zona Mana. Tangisan pilu, dan lolongan kesedihan terus bergema. Membuat keempat Spirit, yang baru saja mendengarkan umpatan dari kemarahan Sang Rubah Api.. Pada Zaku, terus mengeluarkan air mata kesedihan.


Begitupun Roya yang sejak tadi hanya diam.. Kini Juga ikut meratapi kepergian temannya itu. Tak hanya Tama yang merasa kehilangan. Ketiga temannya yang lain juga ikut merasakan kepedihan tersebut.


Apalagi Roya, mereka bertiga sangat dekat di bandingkan ketiga Spirit lainnya. Yang cenderung lebih bersikap seperti kakak bagi ketiganya. Sedangkan Tama, Roya, dan Zaku. lebih konyol dan ke kanak-kanakan dari ketiga Spirit lainnya.


"Dasar Zaku.. Kenapa kau harus pergi dengan cara menyedihkan seperti ini kawan...! Dasar bocah keras kepala.. Hiks.. Hiks.." Ratapan Tama dan Roya, membuat pilu siapapun yang mendengarnya.


Bahkan Rabarus yang di tanya Putranya, hanya bungkam tanpa mengatakan apapun. Ia tidak sanggup dan tiada daya menjawab pertanyaan Putranya. Apalagi dalam kondisi yang memilukan seperti ini.. Karena ia sendiri pun sebenarnya merasa paling terluka diantara keempat Spirit lainnya.


Disebabkan ada beban berat yang harus ia tanggung sendiri di kedua pundaknya.. Selain merasa kehilangan, ia juga sudah menganggap Zaku seperti Putranya sendiri. Rabarus menundukkan wajahnya, dan memejamkan kedua mata.


Ada perasaan menyesal dan rasa bersalah.. Yang amat sangat tidak bisa ia ungkapkan kepada siapapun. Is menahan air matanya, agar terlihat tegar.. Namun didalam hati Rabarus, ada perasaan berkecamuk sedang mencambuk hatinya.


'Apa yang harus aku katakan pada Permaisuri Kecil, dan Paduka!? Aku telah gagal sebagai seorang guru, dan juga orang tua. Maafkan hamba yang lemah ini Paduka.. Hamba telah gagal menjalankan misi dari Paduka.


Wahai Paduka, jika Paduka mendengar suara hamba..! Hamba bersedia diberi hukuman apapun, meski itu dengan nyawa hamba sendiri. Hamba telah gagal menjalankan perintah Paduka.


Hamba tidak sanggup menghadapi Permaisuri Kecil.. Lebih baik Paduka hukum saja Hamba.' Rintihan tulus Rabarus terdengar jelas di telinga Sang Paduka. Detik dan menit telah berlalu..


Tak ada sedikitpun perubahan yang terjadi, suasana duka mengelilingi kelima Spirit yang tengah berkabung. Dengan badan yang telah dibelenggu.


Begitupun tubuh Zaku yang juga terbelenggu bersama Spirit lainnya. Hanya kepalanya yang lepas dari badan, sementara tubuh Zaku, terus mengeluarkan darah segar.


Hingga mengenai bagian tubuh Saga, dan Tama. Saga seakan mematung, ia benar-benar tidak sanggup lagi berbicara. setelah menyaksikan pemandangan memilukan tersebut.


Apalagi darah Zaku, yang tak hentinya meneteskan darah segar. tubuh dari Singa Putih tanpa kepala, masih terikat bersama tubuh mereka. Meski tangan para Spirit berusaha melepaskan belenggu tersebut, tetap saja mereka tidak mampu melepaskannya.


Apalagi... Musuh yang mereka hadapi saat ini, masih juga belum menampakkan diri. Mereka bertambah bingung! Dan tidak tahu, sedang berhadapan dengan lawan yang seperti apa?


Tak ada suara, tak ada wujud. Hanya tekanan dari energi yang menakutkan yang terasa terus mendistorsi tubuh mereka. Tidak hanya itu, bahkan seorang Rabarus pun tidak sanggup melacak keberadaan lawannya tersebut.


Hanya dengan menantang saja.. Bahkan Salah satu dari mereka telah berakhir mengenaskan. Bagaimana bisa mereka berani berpikir untuk menyerang!


Hingga sesuatu yang mengejutkan lainnya muncul, membuat para Spirit terhenyak tak percaya, dengan apa yang mereka lihat saat ini.


...****************...


Di Mansion, Zion yang sedang santai tiba-tiba merasakan firasat yang tidak enak. Ia lantas bergumam pada Argus, melalui pikiran.


'Bocah, aku titip Putri sebentar.'


Argus yang melihat gelagat aneh Zion, balik bertanya. 'Kau mahu kemana Senior?'


'Kau tidak perlu tahu.. Aku pergi dulu.' dalam sekejap Zion, menghilang dari pandangan.


'Sebenarnya apa yang terjadi pada Senior? Kenapa wajahnya tampak murung??' pikir Argus, sambil sesekali memperhatikan Ravella dan Gapi.

__ADS_1


Hati Zion, benar-benar tidak tenang. Ia kembali ke kerajaannya dengan perasaan kalut. Seperti biasa kehadirannya selalu disambut. Para Spirit menunduk Hormat padanya.


Namun kali ini mereka tidak berani berbicara.. karena melihat ekspresi mengerikan Raja Mereka. Yang tidak seperti biasanya. Mereka menunggu titah Sang Raja untuk berbicara.. Akan tetapi, Sang Raja hanya diam tak bergeming dari singgasananya.


'Sepertinya tempat ini baik-baik saja.. Semuanya tampak aman. Lalu.. Kenapa hatiku masih gelisah? Apa mungkin telah terjadi sesuatu pada Master??


Kalau begitu aku harus kembali Kemansion, dan menghubungi anak itu sekarang. Semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya!'


Setelah itu Zion, pergi dari kerajaannya, tanpa mengatakan apapun pada bawahannya. Membuat semuanya bingung dengan perubahan sikap Rajanya.


***


Sesampainya di Ruang kerja Lannox, Zion langsung menghubungi Sang Master, Yang kini tengah melawan Monter.


"Huh.. Ada apa kau menghubungiku di saat tidak tepat Zion..? Aku sedang sibuk sekarang. Aku akan menghubungimu lagi na.."


"Tunggu dulu bocah, ini penting. Jawab aku, apa kau sedang dalam bahaya sekarang, atau tidak? Jika ia, aku akan langsung menyusul ketempatmu sekarang."


"Haah.. Apa kau terlalu meremehkan aku, Pak Tua! Apa kau tidak lihat, sekarang ini aku sedang apa? Bwusssh buuug." terdengar suara Lannox sedang melawan para Monster.


Melihat kekhawatiran Zion, Lannox mencoba menenangkannya agar tidak khawatir.


"Tenang saja.. Aku tidak kenapa-napa, Pak Tua. Aku akan kembali setelah semua urusan di sini selesai. Aku akan mengabarimu lagi nanti, tut." sambungan pun langsung terputus.


'Cih, dia memang tampak baik-baik saja. Bahkan kelihatannya ia tidak membutuhkan bantuanku samasekali..! Tapi kenapa hatiku masih saja tidak tenang? Sebenarnya apa yang terjadi??' pikir Zion, lalu menghampiri jendela.


Ia menatap jauh melihat pemandangan luas dari balik jendela ruangan kerja Lannox. 'Kakek... Ah benar, apa mungkin telah terjadi sesuatu pada Kakek!!?


Hem.. Rasanya tidak mungkin, soalnya Kakek saat ini sedang latihan bersama Kakek lainnya. Apalagi ada Pak Tua Rubah, bersama mereka.


Kalau begitu, sebaiknya aku kembali saja, aku tidak tenang meninggalkan Putri pada Bocah itu.' pikirnya lagi.. Segera menepis kekhawatirannya tersebut.


***


Berbeda dengan Zion, Ravella yang terhubung langsung dengan Para Spiritnya. Merasakan kesedihan dan kepedihan yang amat sangat mendalam. Air matanya tiba-tiba tumpah karena persaan sakit yang ia rasakan di hatinya saat ini.


Gapi yang melihat kedua mata Dewinya yang telah basah, langsung mendekat. Ia menyeruduk manja pada Ravella.


"Dewi.. Kenapa kau menangis?" tanyanya sambil mengusap air mata Ravella, dengan wajah Merahnya.


"Putri, apa yang sebenarnya terjadi? Katakan siapa yang telah mengganggumu? Biar aku musnakan mereka sekarang."


"Ah, haha.. tenanglah Gapi, Argus. Aku tidak kenapa-napa. Hanya saja.. Aku tiba-tiba merasa sedih."


"Katakan sedih yang seperti apa, Putri? Jika aku bisa membantumu, akan aku lakukan, untuk membuatmu tidak menangis lagi." ujar Argus, sambil mengusap air mata Ravella, dengan jarinya.


Zion yang baru saja muncul, langsung berang melihat Putri kesayangannya yang baru saja ia tinggalkan sebentar, kini malah menangis.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi pada Putri..? Kau apakan Putriku, sampai dia menangis, Argus?" tanya Zion, mulai emosi.


"Tenanglah Kek! Ini tidak ada sangkut pautnya Dengan Argus. Hanya saja.. Tiba-tiba aku merasakan firasat buruk..!" ujarnya sambil memegang dadanya, tampak Ekspresi khawatir muncul di wajahnya.


"Apa.. Jadi kau juga?"


"Apa Maksud Kakek? Apa Kakek juga merasakan hal yang sama sepertiku??" Tanya Ravella terkejut, setelah mendengar ucapan Zion.


Sedangkan Argus dan Gapi, malah bingung melihat reaksi keduanya.


...----------------...


Di Zona Mana..., Tiba-tiba dari kejauhan mata memangdang. Muncul sosok Naga Emas, yang sangat mencolok sedang berjalan pelan. Menghampiri para Spirit yang kini, tampak sedang putus asa.


Keempat Spirit yang sedang berduka, merasakan perasaan yang sangat akrab. Saat pandangan mereka teralihkan, kearah sosok berkilau dari kejauhan. Perasaan sedih bahagia bercampur menjadi satu.. Air mata yang terus menetes sejak tadi langsung berhenti, saat melihat kehadiran Kaisar Zando.


Badan yang masih terbelenggu.. Memberi hormat kepada sosok yang sangat mereka agungkan itu.


"Hormat kami, Baginda Kaisar.." ujar kelima Mana Beast, bersamaan.


Kaisar Zando berjalan di udara, dan berhenti tepat di hadapan Para Spirit, yang saat ini tidak berani menatap wajahnya.


"Angkat wajah kalian." ujarnya sambil memperhatikan kelima Spirit.


Setelah mendengar perintah Sang Kaisar.. Mereka mengangkat wajah mereka. namun, pandangan mereka masih tertunduk sedih dan tidak berani menatap Sang Kaisar. Karena merasa bersalah, dan malu. Dengan apa yang terjadi pada Zaku, dan diri mereka yang sedang dalam kondisi berantakan.


"Hmm.." Kaisar Zando menatap, Keampat Mana Beast penuh arti.


Rabarus yang merasa takut dengan kemarahan Sang Kaisar, bergumam dengan cepat.

__ADS_1


"Baginda.. Jangan Hukum mereka, semua ini terjadi karena kelalaian hamba yang tidak becus melindungi Spirit Master." ujarnya menyebut Ravella, dengan Kata Master. Karena ia teringat, jika Kaisar Zando pernah menyebut Putri Ravella, dengan sebutan Master. Saat dalam wujud Naga.


"Hem.. Sebaiknya kita bicara di markas saja." dalam sekejap, mereka sudah berpindah tempat.


Tubuh yang tadinya terikat, kini telah bebas. Merasakan belenggu di tubuh mereka telah terlepas, dan tubuh mereka telah kembali mengecil. Keempat Mana beast, dengan cepat berlutut memohon pengampunan.


"Kami bersalah Baginda.. Apapun titahmu, kami bersedia menerima hukuman. karena telah gagal melindungi saudara kami." ujar Tama, dan yang lainnya bersamaan.


Rabarus yang tidak ingin melihat keempat Spirit di hukum.. Lanjut bergumam.


"tidak Baginda, mereka tidak salah. Ini sepenuhnya kesalahan hamba. Hukum saja hamba, yang telah gagal melindungi Kedua Spirit Master. Hamba mohon pertimbangan Baginda, untuk melepaskan keempat anak-anak ini." ujarnya memohon dengan tulus.


Melihat itu.. Tama tidak tinggal diam. Ia tidak ingin melihat Ayahnya di hukum. Dan kembali bergumam. Namun, belum sempat ia berbicara, perkataannya langsung dihentikan, Sang Kaisar.


"Haah.. Cukup. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi, dari kalian."


"Tapi Bagi..." Tama, kembali berbicara. Namun langsung dipotong, Kaisar.


"Cukup, Kalian berlima bangunlah, lihat aku. Aku akan langsung keintinya saja." ujarnya berseringai.


Kelima Spirit saling beradu pandangan, mereka merasa heran dengan reaksi Sang Kaisar, yang saat ini sedang menyeringai.


"Tik.." Kaisar Zando, menjentikkan Jarinya. Dan dalam sekejap, sosok Jura dan Zaku, muncul di hadapan mereka. dalam keadaan sehat tanpa terluka sedikitpun. Keduanya kini menghampiri Tempat Kaisar, yang tengah duduk Di atas singgasananya. sambil berpangku dagu pada kepalan tangannya.


Tampak seringai dari kedua Spirit, yang sedang menyapa tanpa dosa. Pada teman mereka, yang saat ini tampak sangat terkejut. Seolah mereka sedang melihat hantu.


"Hihi... Hai.. Apa kalian merindukanku!!" celetuk Zaku, yang baru saja muncul dengan seringai penuh arti. Lalu ia duduk di samping kiri, Sang Kiasar. sambil nyengir pada kelima Spirit.


"Ekhem.. Aku kembali." ujar Jura, tampak malu-malu. Ia pun langsung duduk di samping kanan, Sang Kaisar.


"Kalian....., Bagaimana bisa kalian berdua!!" ucapan Gira, Terhenti. Karena dipotong Oleh Kaisar.


"Tragedi yang kalian lihat tadi, hanyalah ilusi. Tik." ujar Kaisar menjentikkan jarinya kembali.


Dan seketika tubuh Jura yang telah membeku, dan tubuh Zaku yang tanpa kepala. Langsung menghilang menjadi serpihan debu, yang berterbangan di udara. Kelima Spirit dibuat tercengang, sekaligus merasa lega.


"Sial, Jadi ternyata kau masih hidup, bocah keparat..!" celetuk Tama, yang dengan cepat langsung memeluk Zaku. Begitupun dengan Roya.


"Kau benar-benar kurang ajar Kucing bengis. Plak." ujar Roya memukul kepala Zaku, lalu lanjut memeluknya. Ketiga Mana Beast itu tampak bahagia, setelah tahu saudaranya itu masih hidup.


"Hei.. Hei.. Ada apa ini? Menjauh dariku, kalian menjijikan." ujar Zaku, berusaha melepaskan diri dari pelukan, kedua temannya itu.


Saga, Gira, Jura, serta Rabarus. Tampak lega melihat ketiga Mana Beast tersebut, telah kembali bersatu.


"Hehe.. sepertinya tempat ini akan kembali berisik..!" ujar Rabarus, yang juga ikut merasa lega setelah melihat ketiganya kembali bertengkar, lalu tertawa lagi.


Rabarus kini mulai memasang wajah serius, dan berbicara kepada Sang Kaisar yang tengah tersenyum melihat ketiga Spirit, milik Permaisurinya. Sedangkan Saga, dan Gira, mendekat kearah Rabarus, dan Jura.


"Jadi, apakah tadi adalah perbuatan anda Baginda..?"


Ketiga Spirit yang sedang asik bertengkar, kembali terdiam. Dan mulai serius menyimak pertanyaan Rabarus. Karena mereka juga penasaran akan musuh yang telah menyerang mereka, dan bisa memasuki Zona Mana.


"Kau benar, itu adalah perbuatanku!" ujarnya menyeringai.


Rabarus dan yang lain tersentak, mendengar ucapan yang tidak pernah mereka duga sama sekali, kini keluar dari mulut Sang Kaisar.


"A-Apakah kami telah membuat kesalahan, Baginda?" tanya Rabarus berhati-hati, setelah mengalami bahaya yang mengerikan tadi.


Kaisar Zando masih terdiam, melihat tidak adanya jawaban dari mulut Sang Kaisar. Para Spirit tak ada satupun yang berani bersuara. Mengingat apa yang baru saja mereka alami. Rasa keputusasaan, rasa takut yang membuat seluruh tubuh sampai gemetar ketakutan.


Selain Rabarus dan Jura, Kelima Mana Beast tersebut. Memang belum pernah merasakan secara langsung, dan perasaan takut yang baru saja mereka alami tadi.., adalah yang pertama kali bagi mereka. Suasana menjadi tegang dan hening seketika. Karena tidak adanya jawaban dari Sang Kaisar.


'Celaka, kenapa beliau hanya diam..? apa mungkin aku telah membuat kesalahan, dengan menanyakan hal tersebut..!' pikir Rabarus mulai khawatir.


Sementara Sang Kaisar, yang telah mendengar pikiran Rabarus, hanya menyeringai tipis. Beberapa saat kemudian, Kaisar Zando kembali mengeluarkan suara baritonnya.


"Hmm.. Karena sudah lama aku tidak melihat kalian, aku jadi ingin bermain sebentar. Dan melihat sejauh mana kalian telah berkembang." ujar Sang Kaisar, namun tak lama tampak raut kekecewaan singgah di wajah Naga Emas itu.


Membuat ketujuh Mana Beast menunduk malu.. Ketujuh Hewan Spirit tersebut, tidak berani berbicara dan menatap sedikitpun pada wajah Kaisar Zando.


"Tuk.. Tuk.. Tuk.." Di keheningan, terdengar suara ketukan jari Sang Kaisar. "Untuk sekarang, hentikan latihan kalian. Sudah saatnya bagi kalian menghirup udara luar.. Dan untuk kalian berdua!" Sang Kaisar menatap pada Jura, Dan Rabarus.


"Temui, Garda, sekarang. Dan tunggu aku di sana." Perintahnya, dengan wajah serius.


"Baik Baginda, titahmu adalah perintah bagi kami. Kalau begitu kami mohon pamit undur diri." ujar keduanya bersamaan, lalu keduanya pun menghilang.


Setelah kepergian keduanya, kini hanya tinggal empat Mana Beast, yang masih menunggu perintah dari Sang Kaisar. Kaisar Zando, menatap lekat pada keempat Spirit, dengan wajah yang masih tertunduk takut.

__ADS_1


__ADS_2