AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
PERTANDINGAN DIMULAI


__ADS_3

Setelah meninggalkan istana Kekaisaran.. Dalam perjalanan pulang, Ravella yang tampak lemah mulai tertidur pulas dalam pelukan Sang Ayah. Sambil menepuk pelan punggung Putrinya.. Duke berujar kepada Zion.


Tampak sekelebat Asap putih muncul, dan Zion dengan wujud manusianya, tengah duduk berseberangan dengan Duke, sambil melipat kaki dan bersedekap tangan, Ia bergumam.


"Ada apa?"


"Sepertinya Aura penyihir sudah tidak mengikuti lagi, apa kau merasakannya..! Karena hidungmu lebih tajam dari aku."


"Cih sialan, kau pikir aku serigala.." ketus Zion sambil membuang muka menghadap ke jendela kereta.


"Aku tidak bilang begitu, kau saja yang terlalu sensitif, dasar Pak Tua."


"Cih, Tenang saja.. pasti si Bocah Elf kesayanganmu itu, sudah mengatasi masalah tersebut."


"Haah.. Baguslah kalau begitu."


***


Dan keesokan harinya, Ravella menerima surat dari seseorang. Ravella yang sedang duduk bertopang dagu pada kedua tangannya di atas meja.. Tiba-tiba Di kejutkan dengan sesuatu.


Jura, Gira dan Saga. Sedang duduk di dekatnya.. Memperhatikan sikap Sang Master, yang tampak sedang bosan. Tiba-tiba sepucuk surat jatuh di atas meja, tepat di depan Ravella, dan yang lainnya.


"hah.. Surat apa ini?? Apa ini kerjaan Kakek?" tanya Ravella kepada yang lain.


"Tidak Nak, itu bukan perbuatan kami." ujar Saga.


"Sepertinya itu untukmu, Nak Dewi." Ucap Gira, melihat kearah surat polos tersebut.


Sedangkan Jura hanya diam memandangi surat tersebut.. Ia tidak memberi respon apapun, seperti kedua temannya.


'Ini aneh, hanya penyihir yang bisa melakukan trik seperti ini. mungkinkah..!' mata Jura menyipit, tampak sedang mencurigai sesuatu.


Ravella mengambil surat tersebut, dan membukanya.. Saat ia membaca surat tersebut, Ekspresi Ravella tampak berubah kecut.


(Kepada Lady Ravella


Halo Lady.. Bagaimana kabar anda?


Setelah sekian lama.. Akhirnya saya di beri kesempatan membuat surat ini. Dan dalam minggu ini, saya akan datang berkunjung, saya tidak sabar menunggu hari itu segera tiba. Semoga hari anda menyenangkan Lady.


Rael.)


Setelah Ravella selesai membacanya.. Jura langsung bertanya asal Surat tersebut!


"Apakah kau mengenali siapa pengirimnya..?" Tanya Jura.


"Ya, aku pernah bertemu dengannya sekali, waktu acara pesta penyambutan Ayah."


"Hem.. Berarti kau masih belum mengenalinya! Lantas apa isi surat tersebut, Nak?"


"Sepertinya.. dia akan datang berkunjung dalam minggu ini Kek." Ujar Ravella malas.


"Haah.. Padahal baru sekali bertemu, tapi dia sudah berani datang kemari. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran anak


itu! Apa yang akan di lakukan Ayah..? Saat tahu ada orang asing yang akan datang berkunjung kemari, dan mengirim surat padaku!!"


"Hem.. Tentunya dia akan di usir dari mansion." Ujar Gira.


"Jika tidak, dia akan di tendang Ayahmu keluar, atau mati. hahaha.." Jawab Saga.


"Cih itu tidak lucu kek."


"Kalau begitu, biarkan anak itu kemari, aku juga penasaran ingin melihatnya."


"Haah.. Apa kakek yakin??" Tanya Ravella yang tidak mengira dengan jawaban Jura.


"Benar, seharusnya biarkan saja.. Tidak perlu diladeni. Untuk apa kau penasaran dengan bocah itu?" Ujar Gira, tidak setuju dengan Jura.


Sedangkan Saga mengangguk, sependapat dengan Gira.

__ADS_1


"Hem.. Kita lihat saja nanti." ujarnya berseringai, sambil melipat kedua tangannya. 'aku yakin dia bukan bocah sembarangan, apalagi ia bertindak nekat, sampai mengirim surat menggunakan jalur sihir pendeteksi keberadaan. Firasatku mengatakan bocah ini berbahaya.


Meski ini baru berdasarkan asumsiku, namun, untuk membuktikan kebenarannya.. aku harus melihat langsung siapa anak itu??' Pikirnya dalam diam.


***


Sementara Di dunia peri.. Kelima Peri, sedang mengawasi Gapi dalam berlatih. Tampak Gapi bersungguh-sungguh dengan latihannya..


SERIN "Hei.. Kenapa Raja Kecil, tampak bersemangat sekali?"


BENI "Entahlah, Dia tampak berbeda dari sebelumnya."


LOLI "Apa maksudmu?"


BENI "Sepertinya dia tampak sedang kesal, dan melampiaskan amarah pada latihannya."


RAMIS "Apa mungkin Raja Kecil pernah melawan musuh yang bukan tandingannya..!"


ROXY "Hei.. Mana mungkin, siapa yang mau melawan bayi kecil sepertinya! Lihatlah, betapa menggemaskan dia.. Jadi tidak mungkin jika Raja Kecil sampai mempunyai musuh."


Keempat Peri lainnya setuju dengan ucapan Roxy.. Mereka mengawasi Gapi dari atas pohon.


Gapi terus melempar Badai Api miliknya.. Ia memekik lantang, Badai Api berputar membakar apa yang ada di sekitarnya.


RAMIS "Hei.. Kalian, jika begini terus. Lama-kelamaan kita juga bisa di bakar dengan badai Api tersebut."


LOLI "Kau benar, sepertinya serangan Raja Kecil membabi-buta, tidak tepat sasaran. Dia belum bisa mengontrol Apinya dengan benar!!"


SERIN "Bisa berbahaya, jika Ratu Peri sampai tahu masalah ini, Beliau pasti akan marah besar.. jika tempat indah ini, hancur terlalap Api Raja Kecil."


BENI "Lebih baik kita segera hentikan Raja Kecil, dan memadamkan Api Tersebut."


ROXY " Setuju."


Kelimanyapun langsung terbang menghampiri Gapi, yang sudah kelelahan.


Dari kejauhan sayup-sayup terdengar dengung suara memanggil namanya.. Gapi menoleh pada suara tersebut. Kelima Peri terbang mendekatinya.


BENI "Raja Kecil.. Raja Kecil.. Kau harus segera menghentikan latihanmu!"


GAPI "Heh.. Kenapa memangnya?"


SERIN "Apa Kau Tidak lihat.. Badai Apimu bisa membakar hutan Peri."


RAMIS " Ya, jika di biarkan begitu saja.. Lama-kelamaan Apinya akan semakin membesar, dan merebak luas hingga menjangkau kota."


Gapi yang baru tersadar, tanpa sadar mengumpat kesal atas kesalahannya tersebut.


GAPI " Sial, aku lupa akan masalah itu.. Kalau begitu ayo kita matikan Apinya." Gapi langsung berlari mencari danau terdekat.


BENI "Tenanglah Raja Kecil, Aku bisa melakukannya sendiri."


GAPI "Apa maksudmu?"


LOLI "BENI adalah Peri Air, jadi ia bisa memadamkan Apinya."


GAPI "Benarkah?"


RAMIS "Tentu saja.. Makanya anda cukup perhatikan saja."


Beni Sang Peri Biru, memutar Jarinya dan menunjuk kearah Api yang hampir melahap hutan. Muncul awan gelap di atas Api Tersebut, dan awan itu langsung mengeluarkan hujan, untuk membasmi area yang sudah terlalap Api.


GAPI "Wuah.. Itu sangat hebat. Bagaimana dia bisa melakukannya? Aku tidak menyangka, jika kalian punya sihir seperti itu." ucapnya polos, akan pemandangan tersebut.


ROXY "Kami Para Peri memang di beri sedikit kelebihan, meskipun kami hanya level rendah."


GAPI " Level rendah saja sudah seperti itu.. Apalagi jika level kalian sudah tinggi. Ini saja sudah terlihat menakjubkan." Pujinya.


***

__ADS_1


Di Zona Mana.. Ketiga Spirit sedang bersemedi. Setelah mendengar perkataan Jura, Roya dan Tama telah sepakat untuk latihan.. mereka kompak mengajak Zaku.


Awalnya Zaku tidak ingin ikut, karena dia juga sudah berlatih dengan Gira, Jadi Zaku merasa bosan jika harus Kembali.


Akan tetapi.. Karena keduanya sudah merencanakan sesuatu, keduanya kompak mengerjai Zaku, Akhirnya Zaku sekarang ikut bersemedi bersama mereka.


(Flashback) "Hei Zaku, ayo kita latihan bersama.. Sudah lama kita tidak latihan bertiga bukan!!" Ujar Roya.


"Hah.. Kalian Saja. Aku sedang malas, lagian aku sudah latihan dengan Gira kemarin." ucapnya enggan.


"Jangan bilang, kau takut latihan bersama kami?" ujar Tama memprovokasi.


"Heeh.. Jangan memancingku, karena aku tidak akan terpengaruh."


"Halah.. Akui saja kau memang takut bukan!!" Ujar Roya sambil menyeringai.


Zaku masih belum terpancing, tampak ia sedang menggertakkan gigi, sambil menahan amarahnya.


"Cih.." Zaku mendecah. 'Aku harus tenang, tumben sekali kedua bocah ini kompak menggangguku!!'


"Sepertinya dia memang takut, dasar pencundang. Yah sudah, jika tidak mau. Kami akan berlatih berdua saja, dasar bocah pemalas, ayo." ujar Tama.


"Eegghhhh Sial, baiklah, akan aku ladeni kalian berdua, ayo kita ke Zona Mana sekarang." Zaku sudah terpancing, dan dia pergi lebih dulu.


Roya dan Tama saling menoleh senang, mereka saling menepuk tangan


karena berhasil mengerjai Zaku.


"Heh.. Kita berhasil, ayo kita tahan dia di sana.." Ujar Tama berseringai.


"Ayo." Angguk Roya.


Sesampainya di Zona Mana..,


(Masa kini) "Sial.. Jadi ini yang kalian berdua sebut latihan hah..! Dasar penipu.....!!!!!!" ujar Zaku kesal.


"Jangan salah, ini juga termasuk latihan bodoh. kita akan beradu kesabaran, siapa yang paling lama bertahan dalam semedi, dia yang akan menang hihi.." Ujar Roya berseringai.


"Sedangkan Yang duluan selesai.. Dia dinyatakan kalah. Apa kau siap..??" tanya Tama melihat kearah Zaku.


"Dasar kalian berdua bajingan sialaaaaannn...!!!!! Beraninya kalian mengibuliku." teriak Zaku kesal.


Tama dan Roya menutup kedua telinga mereka, dari teriakan Zaku.


"Ternyata kalian sudah sepakat menipuku hah... Baiklah, jika kalian kalah! Bersiaplah menerima hukuman." ujarnya bersemangat.


"Siapa takut." Jawab Tama.


"Mari kita mulai." Ucap Roya.


Namun, saat mereka akan memulai permainan, Tak lama.. muncul Garda yang tampak menertawakan kekonyolan ketiganya.


"Hahaha.. Hahaha.. Sungguh tontonan yang menarik, kalian berhasil menghiburku." Ujar Garda yang sejak tadi sudah berada lebih dulu disana, ia hanya memperhatikan dalam diam, tingkah kekanak-kanakan ketiga Spirit tersebut.


"Hei kau Pak Tua.. Kebetulan sekali kau ada di sini. Kalau begitu, aku ingin kau menjadi pengawas kami bertiga. siapapun di antara kami yang selesai lebih dulu. Berarti dia dinyatakan kalah, dan pemenangnya adalah yang bertahan paling lama." Ujar Zaku bersemangat.


Sedangkan Roya dan Tama saling melirik, keduanya menyeringai. Keduanya saling berbicara, mereka memblokir pikiran mereka agar Zaku tidak mendengar obrolan keduanya.


'Haah.. Dasar bocah bodoh, padahal awalnya cuma iseng supaya dia mau ikut latihan, jika kita tidak berbohong.. Dia pasti menolak untuk ikut.


Apalagi Jura menyuruh kita membawa anak ini, terserah bagaimanapun caranya. Tapi karena sudah terlanjur berbohong! apa boleh buat, kebohongan ini harus kita teruskan.' ujar Roya.


'Kau benar, jika mengatakan yang sebenarnya, yang ada.. bocah ini akan semakin menggila. Dan jatuhnya bukan latihan lagi.. Tapi perperangan antar Spirit.' Ujar Tama sambil mengusap kepalanya sendiri.


'Betul sekali.' Angguk Roya, sambil bersedekap tangan.


Garda yang mendengar semuanya, hanya menahan tawa, dan menyeringai. Sambil berujar dalam hati.


'Hehe.. Dasar bocah nakal, mereka berdua.. tega sekali menjahili temannya. Dengan memanfaatkan emosi temannya itu.. Baiklah. aku sebagai pengawas, akan menikmati permainan dari ketiga bocah konyol ini. Mari kita lihat, siapa pemenangnya!!' "Baik, aku setuju.. pertandingan dimulai."

__ADS_1


__ADS_2