AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
APA KAU MERINDUKANKU...!


__ADS_3

hi all..! terimakasih buat yang udah vote, like, n komen. sebenarnya saya mulai jenuh dengan tulisan saya sendiri, tapi membaca komen dari kalian, membuat saya semangat lagi makasih, happy reading 😉


"apa itu dewi..?"


"hmm aku akan menjawab rasa penasaran kalian nanti, untuk sekarang lebih baik kita fokus pada kek jura terlebih dahulu."


"baik dewi." jawab mereka kompak


(dante) "aahhh ototku sudah mulai kaku karena kebanyakan duduk."


dante lantas berdiri dan membuka jendela ruangan kerja lannox, saat ia akan membuka jendela..!


(Dante) "hei teman-teman, lihatlah.. telur emas apa itu? besar sekali..!"


perro langsung bangun menghampiri jendela tempat dante berdiri..


(perro) "dimana...!"


(dante) "lihatlah keatas sana di arah jam sebelas!"


perro melihat kearah jam sebelas ia mengucek matanya berkali-kali, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. mereka baru saja bangun dari tidurnya, karena pekerjaan lembur yang diberikan lannox , sehingga mereka tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.


(yoan) "apa benar itu telur? kenapa besar sekali..!"


(doka) "ya.. bagaimana bisa ada telur sebesar itu...! tunggu, apa mungkin itu telur monster?"


(nando) "aku jadi merasa merinding, ya telur apa lagi yang bisa sebesar itu..! jika bukan telur para monster."


(alfo) "jangan bilang kalau telur itu dibawa yang mulia..?"


(lobi) "heh yang benar saja! telur apa yang bisa dibawa yang mulia dengan wujud sebesar itu? dasar kau ini..!"


(alfo) "benar juga."


(ardan) "tidak mungkin kalau yang mulia lannox yang membawanya, bisa jadi itu kerjaan yang mulia zion."


(rauf) "ya aku setuju denganmu ardan, lagian dengan apa yang sudah kita saksikan bersama akhir-akhir ini aku sudah tidak heran lagi. ya, apalagi tingkat kegilaan yang mulia dan spiritnya tidak ada yang bisa menandinginya."


(perro) "pfffttt.. hahaha benar sekali aku setuju denganmu kalau soal itu, semua yang terjadi benar-benar diluar nalar manusia, rasanya keberadaan kita juga jadi tidak berguna lagi, seperti kita hanya menjadi beban jika berada diantara para spirit milik putri dan yang mulia..!"


semuanya jadi merasa tersentak dengan apa yang baru saja dikatakan perro, ucapan pria muda berambut coklat barusan, membuat semuanya merasa kecewa dan sedikit tergganggu.


(dante) "percuma kalian memasang tampang seperti itu, mungkin peran kita memang tidak dibutuhkan jika berperang melawan para monster atau mahluk aneh apapun itu. tapi jangan lupa! kita juga adalah prajurit bayangan, tugas kita adalah menjadi bayangan yang mulia. jadi kita bergerak sesuai dibawah keinginan dan perintah yang mulia lannox."


(yoan) "tepat sekali.., kita sudah mempunyai peran masing-masing. jadi, tidak perlu merasa kecewa ataupun iri."


(ardan) "semuanya, lihatlah dari tadi aku perhatikan, disana tidak hanya ada telur saja. tapi itu bukannya tuan putri kita? dan para spirit miliknya juga ada disana, bahkan yang mulia zionpun juga ada disana. dan kenapa riuh sekali di luar sana? apa kita sudah ketinggalan berita penting pagi ini..!"


(nando) "hmm.. sepertinya ini sudah memasuki jam sepuluh pagi, berarti berapa lama kita sudah ketiduran..?"


(dante) "ya, sebaiknya kita tanyakan saja dengan Roland nanti, hal apa saja yang telah kita lewatkan pagi ini. dan mengapa langit terlihat begitu murung apa karena tidak ada matahari.. pagi ini?"


(doka) "aku rasa kau pasti kurang minum obat dante, makannya bicaramu jadi ngelantur begitu!"


(dante) "enak saja siapa bilang, memang benar apa yang aku katakan barusan, lihatlah langit mendung dari tadi bahkan matahari saja masih belum muncul dari peraduannya. kalian saja yang tidak bisa mengerti keindahan bahasaku."


(rauf) "cih sudahlah, lebih baik kita selesaikan saja tugas kita yang tinggal sedikit lagi."


semuanya kembali melanjutkan tugas mereka.


"gramion, glaton, terimakasih kalian sudah boleh kembali."


(glaton) "baik dewi kami pamit dulu."


(gramion) "dan kau bocah bulu, berhenti membuat dewiku khawatir! aku tidak akan memaafkanmu, jika kau merepotkan dewi lagi..!"


"hehe.. ia maaf.. maaf.. ini kesalahanku. aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


'heh dasar bocah, apa mereka tidak tahu kalau aku ini jauh lebih senior dari mereka.. untung saja mereka milik dewi, jika tidak, sudah aku makan mere..!'


(gramion) 'aku mendengarmu sialan.'


'huh apa! bahkan kalian juga bisa mendengar pikiranku...!'


(gramion) 'huh, apanya yang senior! sifatmu saja seperti bocah. hei tua bukan berarti dewasa, buktinya kau sendiri hahahaha.'


(zion) 'cih dasar kalian para bocah beraninya, huh tidak aku harus sabar aku tidak boleh terpancing oleh dua bocah tengik ini.'


kedua aura dan mana itupun menghilang, ketika mereka kembali kezona mana.


(glaton) "kau tidak perlu sampai membuat kucing itu merasa kesal."

__ADS_1


(gramion) "kenapa! biarkan saja, siapa suruh dia menyusahkan dewi kita."


(glaton) "huh serah kau sajalah, lebih baik aku fokus latihan daripada membuang waktu berdebat denganmu."


glatonpun pergi meninggalkan gramion sendiri.


(gramion) "kau... dasar anak itu, kenapa sih dia selalu tidak sepemikiran denganku!"


'dari suara, sepertinya mereka masih bocah, yang bernama gramion itu mulutnya lancang sekali, sangatlah kurang ajar tidak punya sopan santun terhadap yang lebih tua. dan juga sombong, mirip sekali seperti seseorang yang sangat menjengkelkan.'


zion melihat kearah lannox, kemudian ia berkomunikasi dengannya.


'hei nak, apa kau merindukanku...!'


'sial ada apa denganmu, kupikir kau akan melukai putriku.., hampir saja aku membuat perhitungan denganmu pak tua kapan kau akan turun dari sana.'


'oh tenanglah nak, tidak perlu sepanik itu.. mana mungkin aku melukai dewiku, yang benar saja. kalau disuruh memilih, lebih baik aku melukaimu.'


'sialan kau pak tua, aku juga akan membunuhmu kalau begitu.'


'ouh kau menyakitiku nak, nanti kau akan kesepian lo.. kalau tidak ada aku.'


'cih diamlah, heh, apa yang sedang kalian lakukan disana! mengapa kalian tidak cepat turun, apa kau tidak tahu betapa sakitnya kepalaku sejak tadi, karena terus melihat kalian berada diatas sana.!'


'ya sudah jangan dilihat, gitu saja kok dibuat repot sih! dasar bocah cerewet.'


'sialan kau pak tua, sebaiknya cepat kau turun sekarang, dan jelaskan semuanya padaku apa sebenarnya yang telah terjadi antara kau dan jura?'


'tidak mahu!'


'kau..!'


'ya.. ya.. akan aku ceritakan nanti padamu, kau tenang saja duduklah yang manis disana.'


'lalu kenapa kalian tidak turun? bukankah semuanya sudah di selesaikan..!'


'semuanya memang sudah selesai, akan tetapi disaat pertarungan, kakek tua itu malah berevolusi. dan itu adalah cangkang telur naga, kami masih menunggu perubahannya Karena butuh waktu yang agak lama bagi seekor naga berevolusi.' perubahannya akan menentukan dia berada dilevel apa.'


'hmmm pantas saja kalian para spirit berkerumun seperti sedang memperebutkan daging heh.'


'bocah sialan, kau pikir kami apa hah! dasar bocah semprul, tapi aku memang lapar sih, apa kumakan saja kau.'


'huh benarkah..! kalau begitu kemarilah, makanan ini akan merobek mulutmu hingga kau tidak bisa mengunyah apapun lagi.'


'tutup mulutmu, jika kau sudah selesai dengan urusanmu segera temui aku nanti, kau berhutang banyak penjelasan padaku.'


'ya.. ya.., baiklah bocah bawel.'


...****************...


sementara di tempat lain.


"hmm... apa yang sedang ia lakukan saat ini, sebaiknya aku kesana saja biar bisa lebih dekat dengannya, mmm sebelum itu lebih baik aku mengirim surat terlebih dahulu. untuk memberitahunya tentang kedatanganku, agar dia tidak terkejut."


pangeran berjalan-jalan di taman rahasia favorit miliknya. saat ia melihat mawar berduri ia jadi teringat dengan sosok ravella.


"mawar ini sangat mirip denganmu vella, cantik namun berduri. kau bahkan melindungi dirimu dengan duri sama seperti mawar ini, kau membuat jarak agar aku tidak bisa menyentuh hatimu. kenapa kau selalu saja menghindariku vella! itu membuatku semakin ingin memilikimu kau harus menjadi milikku.. harus."


"hei.. darimana saja kau rog..!"


"kenapa ada apa! memangnya tidak boleh kalau aku keluar?"


"bukan begitu rog! aku hanya bertanya, kenapa kau jadi sensitif sekali..?"


"aku sedang bosan, jadi aku pergi jalan-jalan keluar untuk mencari angin segar."


"biarkan saja rey, kau tidak perlu sampai menginterogasi begitu, kau seperti orang yang sedang menaruh curiga saja pada ketua kita."


"tidak begitu dean, huh ini karena kebiasaan lamaku saja. maafkan aku rog, aku tidak bermaksud mencurigaimu."


"tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dicurigai."


rey menjadi tidak enak hati, sementara rog bertindak seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa, sedangkan dean melanjutkan tidurnya kembali.


"akhir-akhir ini aku merasa situasi sudah mulai tenang, apa mereka juga menghentikan pergerakan mereka..! jika terlalu aman begini rasanya jadi sangat aneh, apa tidak terlalu mencurigakan? mereka berhenti bergerak apa mereka mengawasiku! atau mereka melempar umpan, agar aku memakan umpannya dan pada saat itu mereka akan segera menangkapku..! entahlah daripada beropini yang tidak-tidak, lebih baik aku segera menemui yang mulia."


hari sudah mulai memasuki siang namun, entah mengapa langit masih juga terlihat gelap. sedangkan jura masih belum menunjukan reaksi perkembangannya, padahal cangkang telur sudah mulai sedikit retak.


"nak jika kau lelah istirahatlah! biarkan kami yang berjaga disini."


"betul dewi, anda juga belum makan bukan?"

__ADS_1


"aku tidak apa-apa kek zion, gapi..! aku juga ingin melihat perubahan kek jura, sebaiknya kau makan duluan saja gapi, biarkan aku dan para kakek yang menunggu kek jura."


"tidak, aku akan menunggu dewi saja, dan juga aku sangat penasaran ingin melihat paman jura berevolusi."


"huh dasar kalian berdua, bikin aku khawatir saja. tunggulah disini nak, aku akan segera kembali."


"memangnya kakek mahu kema..."


"bwussshhh"


zionpun menghilang dari pandangan.


"bwuussh hei pelayan, berikan aku beberapa potongan roti panggang yang dilapisi dengan daging dan juga salad, dan juga sediakan daging segar yang sedikit lebih besar.. ayam mentah juga boleh."


"ah, anda mengagetkan kami yang mulia. baiklah akan segera kami siapkan yang mulia, mohon anda untuk menunggu sebentar."


"ya cepatlah perut putri tidak boleh dibiarkan kosong."


"baik yang mulia."


beberapa menit kemudian


"ini yang mulia, roti panggang berlapis daging dan salad juga satu botol susu hangat untuk yang mulia putri. dan ini untuk naga kecil."


"terimakasih"


zion mengambil keranjang yang berisi makanan ravella dan bungkusan daging segar untuk gapi. zionpun langsung membawanya dan menghilang, dalam sekejap sudah ada dihadapan ravella dan gapi."


"ini nak makanlah, jangan biarkan perutmu kosong kalian berdua masih dalam masa pertumbuhan. jadi, harus makan yang banyak, dan ini ambillah nak! ini sarapan untukmu."


zion melempar bungkusan yang berisi daging ayam mentah, yang masih segar, gapi langsung menyambut bungkusan itu dan merobeknya. sementara ravella, duduk bersandar ditubuh zion, sambil menyantap sarapan yang dibawakan zion.


"kek kau tidak perlu sampai repot-repot begini!"


"benar waman awu bifa memahan fapar. (aku bisa menahan lapar)"


"huh selesaikan dulu makanmu, baru bicara."


"hmmm mafafih fafan. (makasih paman)"


"tidak perlu sungkan."


sementara garda dan spirit lainnya mengelilingi telur besar itu, sambil duduk bersila diudara dan mereka juga tidak ingin membuang-buang waktu hanya dengan menunggu saja, mereka juga ikut memanfaatkan keadaan menjaga sambil bermeditasi dan berfokus menajamkan ingsting kepekaan mereka terhadap alam sekitar, dan memperluas jarak pandang dalam mendeteksi setiap pergerakan.


'huh melihat mereka jadi fokus seperti itu, aku juga jadi ingin latihan, tapi tidak mungkin aku meninggalkan dewi, dan membiarkannya bersendirian dengan hanya ditemani naga kecil dan lemah sepertinyakan..!'


zion melihat sang naga merah yang sedang menjilat jari karena sudah kenyang, dengan posisi tiarap disamping Ravella.


'hmmm... lihatlah, bahkan dia terlalu santai. ya... tidak heran diakan masih bayi.'


dimata zion gapi sangatlah lemah bahkan terlalu lemah, walaupun sudah ada perkembangan dalam beberapa level Karena telah dilatih jura. tapi itu masih terlalu awal baginya, karena jura lebih banyak melatih gapi dalam hal berburu untuk mempertajam ingsting kepekaan sifat alaminya sebagai seekor predator, agar gapi bisa mandiri ketika berada dihutan.


"kakek ada apa!"


"tidak kenapa-napa nak, aku hanya heran saja sampai kapan dan berepa lama lagi naga itu berevolusi."


kilah zion pada ravella


"hmm benar juga, tapi bukankah kakek saga dan kek zaku, sudah mengatakan butuh waktu lama bagi para naga untuk berevolusi. apalagi mereka adalah roh spirit kuno, merekakan bukan naga biasa, jadi kurasa kelasnya juga pasti berbeda dengan naga seperti gapi."


'hmmm ya benar juga. apalagi mereka spirit tingkat elit, dan juga yang pernah ada dalam legenda kuno. tapi, jika spirit hebat seperti mereka saja tidak bisa melawan para dewa, apalagi aku hanya spirit biasa. walaupun kakek mengatakan aku ini istimewa entah kenapa aku masih ragu dengan perkataannya mengenai masalaluku. yah, bukan berarti aku tidak mempercayainya. hanya saja jika satu dewa sehebat itu apalagi jika dewa yang lainnya berdatangan kami para spirit bisa mati konyol.'


zion sibuk tenggelam dalam pikirannya. sementara Ravella yang telah tertidur bersandar diperut zion, sambil memeluk erat tubuh singa putih itu. bulu zion yang lembut membuatnya semakin nyaman dan lena, begitupun gapi yang ikut-ikutan bersandar ditubuh zion yang besar sambil tidur telentang berguling-guling disamping ravella. saat ravella sedikit bergerak, hingga menyadarkan zion yang tengah perang batin dengan pikirannya sendiri.


'huh mereka sampai tertidur seperti ini.. mereka anak-anak yang sangat lucu. hmm.. rasanya jika bisa, aku tidak ingin melihat dewi cepat bertumbuh menjadi dewasa. aku lebih suka melihatnya imut seperti sekarang ini. walaupun dia mempunyai jiwa yang sedikit tua dengan pola pikir seperti orang dewasa. karena pikiran yang tidak biasa seperti anak-anak pada umumnya. tapi justru itu membuatnya terlihat lebih mencolok daripada anak-anak lainnya, akan tetapi, dia tetaplah masih anak-anak, yang masih membutuhkan perhatian orangtuanya.'


'dan aku sangat kasihan melihatnya tumbuh tanpa seorang ibu disisinya, apalagi jika mengingat kembali betapa buruknya dulu lannox memperlakukan darah dagingnya sendiri, padahal dia masih sangat kecil belum tahu apa-apa dan belum mengenal dunia. dia tumbuh tanpa tahu apa salahnya! mungkin itu juga salah satu faktor yang membuat dia jadi dewasa sebelum waktunya, dan syukurlah bocah itupun juga sudah menyadari kesalahannya. disatu sisi, aku juga kasihan melihat bocah itu! apalagi aku belum pernah melihatnya menangis sampai seperti malam tadi. dia pasti sangat menderita karena menahan rindu dan, terpisah dari sang istri. ya.. siapa yang tidak menderita! jika kasih yang sudah terjalin penuh dan tersimpul rapi, tiba-tiba harus direnggut oleh takdir! dan meninggalkan spool yang kosong itu pasti sangat menyakitkan baginya. yah setidaknya rindunya telah terobati hingga menampakan musim semi, di raut wajahnya yang selalu terlihat dingin.'


"Oscar kemarilah."


"ya Baginda!"


"sampaikan surat ini kepada putri ravella, ingat kau harus menyampaikan surat ini secara langsung ketangan putri ravella, jika kau tidak menemukannya! jangan pernah memberikannya kepada siapapun mengerti?"


"baik baginda, akan saya laksanakan."


"hmm... kau boleh pergi."


"saya mohon pamit baginda, tap..tap..tap..!ceklik ."


ruangan kembali menjadi hening.

__ADS_1


'aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi, sebaiknya pakaian apa yang harus aku kenakan, dan hadiah apa yang harus aku bawa untuk membuatnya senang..?'


__ADS_2