AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
MISI APA ITU, YANG MULIA?


__ADS_3

Setelah mendengarkan nando, ada yang setuju, dan ada yang tetap dengan pendirian mereka masing-masing. Sementara dimansion, diruangan kerja lannox, Sang duke duduk sambil mengecek satu-persatu dokumen diatas meja. Setelah satu jam berlalu.. Sang duke, mulai merasa jenuh. Ia bangun berdiri, dan menghampiri jendela, ia berdiri sambil bersedekap tangan memandang keluar, sang duke yang hanya mengenakan pakaian santai kemeja putih, dengan paduan celana navy, mulai memanggil kesatria bayangan miliknya


"dante.."


"wuusshhh... Saya yang mulia."


"apa ada kabar dari kekaisaran?"


"ada yang mulia, tapi saya tidak tau, Apakah ini penting atau tidak!"


"katakan apa itu?"


"pangeran, mencari anak yang bernama robi yang mulia."


"hmm.. Sejak kapan!"


"sudah dua minggu.. Hingga saat ini, Pangeran masih mencari tau dan menyelidiki keberadaannya."


"apa dia sudah menemukan anak itu..!"


"masih belum yang mulia..!"


"baiklah, terus awasi dia, dan Jangan sampai orang-orang suruhannya memasuki wilayahku."


"siap yang mulia."


'sudah lama aku tidak menemui bocah itu! Apa yang sedang dia lakukan sekarang?'


"doka"


"wusshh.. Saya yang mulia."


"apa yang sedang dilakukan anak itu?"


"seperti biasa yang mulia, dia sering masuk kedalam hutan, dan selalu latihan sendiri."


"apakah yang lain, masih belum menerima keberadaannya!"


"belum yang mulia, bahkan mereka tidak pernah menyapanya sama sekali."


"ini cukup sulit untuk menyatukan mereka, baiklah.. katakan padanya, untuk segera menemuiku sekarang!"


"baik yang mulia, wusshhh."


'hmm.. Apa yang harus aku lakukan pada anak itu..!'


"Tuk.. Tuk.. Tuk.."


Sang duke masih bingung, dia terus mengetuk meja dengan jarinya, sambil menunggu kedatangan robi. Selagi ia menunggu, zion datang menghampirinya.


"heh.. Sepertinya sang duke kita sedang kebingungan! Apa yang kau pikirkan? Sampai memasang ekspresi jelek begitu!"


"bukan urusanmu?"


"cih, semua yang ada didalam mansion ini adalah urusanku, termasuk masalahmu. Jika kau tidak menemukan solusi dari permasalahanmu, ceritakan padaku. Siapa tau aku bisa membantumu!"


Diam tidak ada respon, Duke tenggelam dalam pikirannya! ia masih diam seolah apa yang dikatakan oleh zion, hanyalah angin lalu baginya. Melihat reaksi duke yang masih dingin tak bergeming, zion jadi malas meladeninya, lalu pergi meninggalkannya sendirian. Sementara diperbatasan, ketiga pria masih belum menyadari keberadaan teman mereka, yang telah menghilang.

__ADS_1


(Alex) "hei.. Kenapa Ramon tidak kelihatan akhir-akhir ini, kemana perginya anak itu?"


(Alpan) "benar.. Aku belum melihatnya sama sekali, apa mungkin dia tersesat!"


(Ekxel) "cih, yang benar saja.. mana mungkin orang seperti Ramon bisa tersesat! Bisa saja dia sedang berburu, atau berkencan dengan para hewan buas hahahaha.."


(Alex) "candaanmu tidaklah lucu, kita tunggu saja sampai besok. Jika besok dia juga tidak muncul! Berarti telah terjadi sesuatu kepadanya!?"


(Alpan) "jika begitu.. Bukankah kita harus mencarinya?"


(Ekxel) "ya.. Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada anak itu! Dia memang sedikit pendiam diantara kita semua. Tetapi, dalam tugas dia selalu bisa diandalkan, sedikit bicara, banyak tindakan. Itulah yang membuat aku kagum padanya."


(Alpan) "ya kau benar, anak itu selalu bisa diandalkan dalam keadaan apapun, kita terlalu bergantung padanya! Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu kepadanya? Apa yang harus kita katakan pada kaisar nanti?!"


Yang lain hanya terdiam saat alpan mengutarakan, ketakutannya.


(Alex) "sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Kita berharap saja, semoga tidak terjadi apapun padanya."


Semuanya mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan Alex. Namun dalam hati, semuanya dilanda kegelisahan. Mereka tidak tau apa yang akan terjadi, pada masadepan mereka. Karena sesungguhnya, misi mereka untuk memata-matai sang duke telah gagal, dan masih belum ada kabar apapun dari kekaisaran. Mereka tidak tau apakah mereka masih berguna untuk sang kaisar, atau malah sudah dibuang. Semuanya bungkam dan merenung, tentang apa yang akan terjadi kepada nasib mereka kedepannya.


'hmm.. benar, sebaiknya aku lakukan seperti itu saja.'


Sang duke telah menemukan solusi dari masalah yang mengusik pikirannya. sedangkan robi, masih fokus berlatih didalam hutan. Ia merasa damai, saat berada jauh dari para prajurit, dan keramaian yang tidak menyukai keberadaannya.. Dia juga malas mendengar umpatan yang selalu saja diarahkan kepadanya.


"bwuzzz.. sekali lagi.. Huh.. Huh.. Huh..sekali lagi.." dia terus mengulang latihannya. "wussshhh.. Siuuuuunnngggg tab, katakan siapa kau?"


Robi yang melihat sekelebat bayangan hitam muncul didepannya, dengan sigap langsung melemparkan pedangnya kearah doka. doka yang sudah terbiasa dalam pertempuran, dengan cekatan langsung menghindarinya, dan dalam sekejap ia sudah berada dibelakang robi, sambil mengarahkan belati kecilnya didekat leher robi.


"tenanglah, aku diutus yang mulia duke untuk memanggilmu."


"yang mulia duke! Berarti kau teman, maafkan aku yang tidak tau apa-apa, dan langsung menyerangmu dengan tiba-tiba."


"tidak masalah, memang pantas seorang kesatria bersikap sensitif dengan keadaan sekitar. Dengan begitu, kepekaanmu akan aktif, bila mendapatkan serangan mendadak. Cepatlah bersiap! yang mulia sudah menunggumu diruang kerja beliau."


"baik, aku akan kesana sekarang."


"hem, kalau begitu aku pergi du.."


"tunggu dulu, melihat dari pergerakanmu, sepertinya kau sangat ahli dalam pertarungan jarak dekat, Kapan-kapan bisakah kau menemaniku latihan?"


Doka yang mengenakan pakaian serba hitam, dan menutupi setengah wajahnya. Tampak kebingungan, dia bukan tidak ingin membantu, akan tetapi, tugasnya adalah mengawasi target itu sendiri. Ia mengusap kepalanya, lalu melihat kearah robi, dengan senyum yang dipaksakan.


"maafkan aku! Mungkin aku tidak bisa melakukannya sekarang."


"haha begitu ya.. Biaklah, aku mengerti.. aku juga tidak bisa memaksamu."


Doka merasa tidak enak hati untuk menolaknya, tapi sekarang ia sedang dalam tugas. Jadi dia tidak bisa, santai sedikitpun. Karena sang duke, akan segera tau jika ia bolos dalam tugasnya.


"mungkin lain kali.. jika aku mempunyai waktu luang, aku akan berlatih denganmu."


"benarkah!! Kalau begitu terima kasih."


"wussshhh"


Setelah Doka pergi, Robi tampak senang, akhirnya ada yang mau berinteraksi dan berbicara santai dengannya, tanpa membahas status lamanya. Setelah doka menghilang, robipun langsung bergegas menuju sang duke.


'hmm.. Akhirnya aku bisa punya teman, omong-omong.. apakah yang mulia, akhinya sudah mau mengakui kebradaanku! Aku senang sekali.. Tapi bagaimana jika tidak! Haah.. Aku jadi merasa gugup sekarang, ada apa yang mulia memanggilku tiba-tiba begini? Semoga saja itu adalah hal baik.'

__ADS_1


Sesampainya didepan ruangan kerja sang duke, robi menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.


"haaaaaaffftt.... Huuuuuffffttt... Tenang.. Tenang.. Tenanglah.. Tok.. Tok.. Tok.."


"masuk."


"ceklik, ngiiik."


Robi membuka pintu, tampak tumpukan dokumen tersusun rapi diatas meja miliknya. Sementara itu.. ia diam-diam melihat kesofa, tampak seseorang sedang duduk diam disana.


'hee.. Siapa pria itu..!'


Robi masuk kedalam dan berdiri didepan meja sang duke, lalu memberi hormat.


"hormat saya kepada yang mulia."


"kau sudah datang, bagus. Ada yang ingin aku kenalkan kepadamu!"


"kemarilah.."


Pria itupun bangkit dari duduknya, dan menghampiri kedua pria yang ada didepannya itu.


"kenalkan dirimu kepadanya, karena kelak kalian berdua akan menjadi partner satu tim."


"baik yang mulia, kenalkan.. nama saya dean."


Dean mengulurkan tangannya untuk bersalaman, robi yang melihat uluran tangan pria yang ada didepannya itu, langsung menerima uluran tangan tersebut.


"senang berkenalan dengan anda, nama saya robi."


"bagus, mulai hari ini, kalian berdua akan bekerja sama untuk menjalankan misi pertama dariku."


"misi apa itu, yang mulia?"


Tanya robi semangat, duke sedikit menyeringai, saat melihat ekspresi robi yang kelihatannya sudah tidak sabar.


'hmm.. Apa karena ini adalah misi pertamanya! makanya dia terlihat bersemangat, sementara yang satunya.. tanpa ekspresi, apa karena dia sudah terbiasa menerima misi sulit, jadi ia kelihatan biasa saja..! ya.. kita lihat saja nanti.' duke menyelidik dalam diam. "ini adalah misi pertama untuk kalian berdua, jadi buktikanlah kepadaku bakat yang kalian miliki. Aku akan melihat kinerja kalian dalam misi ini, sebarapa seriusnya kalian berdua akan melakukannya. Misi kali ini adalah, Kalian harus mencari tau dan menangkap dalang dari penyeludupan tambang batu kristal. Pemasukan yang diterima tidak sesuai dengan jumlah penjualan yang dikeluarkan. Dan dari laporan yang aku dapatkan baru-baru ini, para pekerja tambang dalam sebulan terakhir telah berkurang dari seratus orang, menjadi dua puluh orang. Ada yang aneh dalam kasus ini, kalian harus menyelidikinya.. dan mencari tau apa yang terjadi."


"baik yang mulia."


"ah, satu lagi.. Berhati-hatilah, sudah ada yang menjadi korban, beberapa hari lalu telah ditemukan lapan mayat mati secara mengenaskan didekat tambang. Dan semuanya mati dalam keadaan yang sama, terdapat cakaran besar disetiap tubuh para korban, dan kedua bola mata mereka menghilang tanpa jejak"


"baik yang mulia, kalau begitu kami mohon pamit sekarang."


"tunggu.."


"ya.. yang mulia!!"


"bawa ini, jika terjadi sesuatu pada kalia berdua! segera hubungi aku."


"siap yang mulia, kalau begitu kami undur diri dulu."


"hem."


Keduanya menerima pemberian dari duke, dan pergi setelahnya. mansion kembali menjadi hening! Lannox menarik nafasnya dengan pelan, lalu ia duduk bersandar dibingkai jendela bewarna putih. Ia memejamkan mata indahnya yang tajam, dari penatnya memandang tumpukan dokumen. Angin sepoi yang berhembus pelan, membuat ia terlelap, gorden putih transparan sesekali menari karena belaian angin. Tanpa ia sadari, seseorang dari kejauhan sedang memperhatikannya.


'hem.. nikmatilah sisa waktumu sepuasnya lannox, karena saat waktunya tiba, semua itu akan menjadi milikku.' ia terus menatap tajam mengintai dari kejauhan, kearah duke yang sedang tertidur sambil bersandar. 'Hmm.. siapa itu..! aku harus cepat pergi dari sini, Sebelum ada yang menyadari keberadaanku.'

__ADS_1


Saat ia menyeringai tenggelam dalam ambisinya, sosok yang mengenakan jubah bertudung hitam dan menutupi setengah dari wajahnya itu. Berdiri dibalik pohon rindang yang jauh dari mantion, Namun fokusnya kepada sang duke, tiba-tiba teralihkan karena langkah kaki dari para prajurit, yang sedang berpatroli disekitar mansion.


Siapakah sosok itu..! Dan bagaimana bisa ia memasuki mantion sang duke, yang terkenal sangat ketat penjagaannya..?


__ADS_2