
"huh pantas saja mereka sulit ditemukan, ternyata mereka sering berpindah-pindah lokasi."
"untunglah mataku ini lebih jeli tama. tapi mereka memang pintar dan cerdik., menggunakan tempat pertemuan ditebing sungai. dengan memakai teka-teki aneh."
"ya! untunglah otakmu itu tidak bodoh roya, jadi kita bisa cepat menemukan lokasi mereka."
"bedebah kau tama, kau yang cuma enak-enakan! mana mengerti arti kerja keras. apa kau tidak tahu? seberapa keras usahaku untuk menemukan mereka."
"heh! ya..ya..ya.. kuhargai kerja kerasmu dasar sensitif. kau seperti wanita saja."
"dasar sialan kau, bisakah kau tutup mulutmu."
"hah kenapa aku harus tutup mulut! mulut-mulutku apa pedulimu."
"kau sudah seperti zaku saja, banyak omong."
"bedebah kau roya, kau mau cari ribut ya..! jangan samakan aku dengan pria genit itu, aku tidak sudi dunia akhirat."
"pufffhtt. jika bukan karena misi, aku pasti sudah tertawa lepas sekarang. bagaimana jika zaku sampai mendengar kau mengatainya! aku yakin dia akan memberimu seribu tendangan untukmu."
"hah, untunglah aku tidak ditugaskan berdua dengannya. kalau tidak! aku bisa pusing kepala karena sifat kekanak-kanakannya."
(zaku) "hah kenapa telingaku serasa gatal, apa ada yang mengataiku?!"
"jika kita pulang setelah misi, aku janji padamu akan menceritakan semuanya pada zaku."
"sialan kau! awas saja kalau kau berani melakukannya."
"hah jangan menantangku tama, lagian untuk apa aku takut padamu! paling kita bertiga baku hantam."
"sialan, kau juga sama saja dengan zaku, bisakah kau diam roya, kalau kau bicara terus! lama-lama kita bisa ketahuan."
"haha, maaf gegara kau, aku jadi lupa, kalau kita sedang menjalankan tugas."
"apa semuanya sudah hadir?"
"maaf bisakah kita menundanya? karena lima orang dari timku belum datang."
"apa mereka tidak tahu jawaban semudah ini."
"bukan begitu wakil ketua, akan tetapi setelah mereka dikirim dalam tugas. hingga sekarang mereka masih belum memberi kabar apapun."
" tidak bisa, kita tidak punya banyak waktu. kita harus melanjutkannya meskipun tanpa mereka. jika dalam dua hari timmu tidak ada kabar! berarti misi mereka telah gagal, dan kita juga harus bersiap dengan kemungkinan yang terjadi kedepannya."
'cih, semudah itu dia bicara, karna dia tidak pernah menghargai kerja keras yang kami lakukan, dan menganggap remeh, nyawa yang kami korbankan.'
"rasanya kelompok mereka mulai berbeda pendapat. lihatlah pria itu! kelihatan sekali.. dia sedang kesal dengan pemimpin mereka."
"ya rasanya, kita bisa memanfaatkannya."
"tama! lebih baik, langsung kita sergap saja."
"biarkan dulu! aku ingin dengar kelanjutan dari misi mereka. jika langsung kita sergap kita tidak tahu informasi penting lainnya."
"kau benar juga! baiklah kita tunggu sedikit lagi."
"bagaimana perkembangan di wilayah Utara! apakah sudah kau benahi kerusakan yang terjadi disana?"
"sudah yang mulia, ini hasil laporan keadaan disana!"
lannox memeriksa lembaran kertas yang menumpuk di atas meja, ravella yang sejak tadi, sibuk membaca di sofa sedang asyik dengan dunianya sendiri. sesekali lannox memperhatikan putrinya, yang tengah serius membaca.
'itu lebih baik daripada dia bosan.'
tiga jam kemudian! sudah tengahari, lannox menatap kearah jendela melihat matahari sudah tinggi, kemudian meregangkan otot yang lemas. karena menghadap tugas yang menumpuk sejak pagi. ia lantas berdiri, menghampiri putrinya.
'ini sudah waktunya makan siang, lihatlah dia nyenyak sekali tidurnya.'
ia lantas memanggil pelayan, untuk segera menyiapkan makan siang.
"bawa keruanganku, aku akan makan disini."
"baik yang mulia."
lannox duduk kembali kesofa yang ditiduri putrinya. dan memindahkan kepala ravella, diatas pangkuannya. ia membelai kepala putrinya!"
'dia menangis! apa dia sedang bermimpi buruk?'
ceklik, nampak keempat pelayan memasuki ruangan kerja, setelah menghidangkan makanan diatas meja, para pelayanpun kembali pergi meninggalkan mereka berdua.
"sayang.. sayang.. nak! bangunlah. sudah waktunya makan siang. ravella putriku!"
revella yang setengah sadar, membuka matanya perlahan dan melihat sang ayah yang tengah melihatnya kebingungan.
"ayah!"
"ya sayang, bangunlah ayo kita makan siang, jika kau masih mengantuk! kau bisa lanjutkan tidurmu nanti, setelah selesai makan."
ravella menggosok matanya yang masih mengantuk.
seperti biasa! lannox memotongkan daging, yang ada di piring untuk sang buah hati.
"ayah biarkan ravel melakukannya sendiri."
__ADS_1
"tidak apa-apa sayang! ayah tidak keberatan melakukannya untukmu."
"mmm.. tapi ravel bukan anak kecil lagi!"
"siapa bilang? sampai kapanpun! kau akan tetap selalu kecil di mataku"
"huh! ya.. ya.. serah ayah sajalah."
'aku paling malas berdebat dengannya, percuma saja.. aku tidak akan bisa menang.'
lannox tersenyum melihat tingkah laku putrinya, yang terlihat malas meladeninya. ravellapun mulai mengambil irisan daging yang telah dipotong oleh ayahnya. dan menikmatinya dengan mata tertutup, seolah masih mengantuk.
"sayang makan yang benar! jangan makan seperti itu, nanti kau bisa terluka nak."
'apa terluka? yang benar saja! masa, makan seper.. ni.. buk.'
"huh, ravella! bukankah sudah ayah bilang, jangan makan sambil tidur! lihatlah kecerobohanmu."
"pelayan, bersihkan ini ganti dengan yang baru!"
"baik yang mulia."
"ayah...! bisakah nanti saja makannya! aku benar-benar masih mengantuk." lannox membersihkan wajah putrinya dengan lembut.
"tidak bisa! kau harus makan, perutmu tidak boleh kosong."
"hmmm. baiklah!"
"apa kau begadang! sampai kau jadi ngantuk seperti ini?"
"tidak."
"cuma kami bermain berdua gapi jadi, mungkin aku hanya sedikit kelelahan."
"lalu dimana peliharaanmu?"
"dia dibawa kakek jura."
setelah makan siang lannox duduk sebentar, meluangkan waktunya untuk putrinya. ravella yang duduk di pangkuan ayahnya sedikit berwajah cemberut.
"ada apa sayang! apa yang kau pikirkan?"
lannox membelai kepala putrinya, dan membenarkan poni putrinya. ravella yang masih ragu ingin menanyakan sesuatu! melihat tatapan ayahnya, yang tengah menunggu jawaban darinya.
...****************...
dengar semuanya! ketua memerintahkan, malam ini kita harus bergerak. dan inilah pentunjuk yang diberikan oleh ketua.
(dibawah sayap bangau putih, terdapat telur emas. Rebutlah telur emas itu, lalu berikan pada sang ular.)
"kita akan bertemu lagi dua minggu mendatang, sekarang mari berpencar." merekapun menghilang dalam sekejap
"apa? itukan urutan paling terendah. dalam orsi..!"
"memangnya kau tahu! apa yang dimaksud dengan tingkat sepuluh, rog??"
"tentu saja aku tahu rey, dulu aku pernah berada diposisi itu! sebelum masuk tingkat tujuh."
"terus apa itu tingkat sepuluh, rog?"
"tingkat sepuluh, adalah kelas terendah, isinya para budak dan orang-orang orang-orang yang terbuang. dan tugas mereka adalah membersihkan. para mayat penghianat orsi, lalu menguburnya. tidak hanya sampai disitu.. mereka juga dipaksa memakan bangkai hewan selama seminggu. jika mereka berhasil bertahan, mereka akan direkrut ketingkat dua. sedangkan yang gagal akan dibunuh dan dijadikan makanan para buaya.
huh teka-teki lagi.. heran!! kenapa dia selalu suka sekali, bermain teka-teki? dan memberi misi yang sangat aneh, pada kita! sebelum menemukan jawaban, harus mencari kunci jawaban. aaarrghh aku lelah, memangnya kita siswa academi?"
rog terus mengacak-acak kepalanya, karena ia merasa jengkel. sementara dean dan rey, terus memperhatikan teman mereka! yang biasanya terlihat tenang, kini jadi terlihat frustasi.
"rog berarti.. ketua masih belum mempercayai kita! tapi, aku baru tahu! kalau kita berada diurutan tingkat tujuh. aku pikir, kita sudah jadi tim inti. ternyata kita hanya meminjam nama para senior."
"ya begitulah adanya dean! tapi jika kalian tidak memulai misi dari kelas sepuluh! lalu, bagaimana bisa kalian berada ditingkat ketujuh?"
"aku direkrut oleh pamanku."
sementara dean hanya diam tidak menjawab, dan sedikit ragu! harus menceritakannya atau tidak! tapi? karena orang dalam timnya yang hilang dianggap tidak cekatan dan gagal, dia memikirkannya kembali.
"kenapa kau diam dean?"
"huh, aku adalah pembunuh jalanan, sejal awal. dan karena kebetulan misi yang aku jalani adalah melindungi pihak orsi, entah itu pihak atasan atau bukan, tiba-tiba suatu hari, pihak orsi mendatangiku dan mengatakan kalau aku berbakat. jadi aku direkrut ke orsi. awalnya aku menolak! karena sudah bekerja dengan pihak lain, akan tetapi! mereka mengatakan kalau orang yang memperkerjakan aku! sudah menjualku kepihak orsi. jika aku menolak aku akan dibunuh ditempat! karena itulah aku bergabung. tapi aku tidak tahu? kalau kita berada diurutan tingkat tujuh!"
"kalian beruntung tidak melewatinya seperti aku."
"aku ikut bersimpati, atas kisahmu rog. maaf! karena rasa keingintahuan kami, malah jadi mengingatkanmu, pada masalalu yang ingin kau lupakan."
"ya aku juga meminta maaf."
"kau tidak perlu begitu rey, dean. takdir kita sebagai manusia memang berbeda-beda! namun kita harus terus hidup untuk bertahan bukan! demi meraih masa depan yang cerah! walaupun proses yang harus kita lalui, sangatlah suram. percuma mengeluh tentang nasib atau menyalahkan takdir, setiap manusia sudah mendapat porsinya masing-masing, kau hanya harus menerimanya dengan lapang dada, dan menjalaninya dengan bersyukur. maka kau akan menikmati hidupmu, meskipun kau berasal dari kelas terendah sekalipun."
kata-kata yang sarat akan nasehat! dan terdapat pengalaman yang pahit didalamnya. membuat semuanya terdiam, suasana menjadi hening. hanya suara nyala api yang bermain di telinga. dan merenungkan kembali, apa yang mereka hadapi.. tidak seburuk nasib teman mereka! namun terkadang mereka masih mengeluh, tentang hidup yang mereka jalani.
"roya aku tertarik dengan anak yang bernama rog!"
"kenapa?"
"pendirian anak itu lebih teguh daripada yang lain.!"
__ADS_1
"terus! mau kau apakan anak itu? jangan bilang mau kau rebus lalu mengambil otaknya dan memakannya."
"cih! kenapa kau mendefinisikan seditel itu. apa kau ini koki dapur?"
"sialan! aku mengataimu dasar rubah bodoh?"
"heh, aku kira kau mau memasaknya, untuk santapan kita."
"diamlah, lantas mau kau apakan itu bocah? apa mau kita tangkap lalu membawanya menghadap dewi..!"
"rendah sekali pikiranmu? bukan begitu! maksudku anak itu punya potensi dibandingkan yang dua itu, bagaimana kalau kita membuatnya pindah kepihak kita?"
"apa kau kira segampang itu! lihatlah pendiriannya lebih teguh daripada bocah dua itu. siapa bilang? akan aku pastikan, bocah itu berada dipihak kita kau tunggu saja."
"heh serah kau saja tama! yang aku tahu, misi kita adalah menangkap pemimpin mereka, setidaknya aku harus memberitahukan informasi ini pada dewi."
"ya itu sudah keharusan, karena dewi pasti sedang menunggu kabar dari kita. kalau begitu! kau pergilah kabari dewi... serahkan urusan disini padaku."
"baiklah, aku akan segera kembali."
royapun menghilang, sementara tama kembali ketempat Arnold. untuk melindunginya namun, sebelum dia kembali dia melihat ada seekor tikus lewat disampingnya! ia tiba-tiba merasa tertarik, dan langsung mengambil tikus itu dan,,
"hei bocah! jika kau ingin hidup! patuhi perintahku?"
tikus itu menggigil ketakutan, lalu menggangguk menyetujui perintah tama.
"aku akan membuatmu bisa bicara, dan merubah bentukmu. tapi ada syaratnya? kau harus melaporkan setiap yang kau dengar, dan kau lihat, kepadaku! jangan ada satupun yang terlewatkan. jika aku mendapati kau menipuku? akan kucari keluargamu. lalu menyantap mereka hingga tak bersisa sama sekali, heh! meskipun kalian bukan seleraku sih. lalu yang terakhir, akan kubakar kau hidup-hidup dan setelah matang, aku akan memakanmu."
sangking takutnya dengan apa yang didengarnya, tikus itu pingsan ditangan tama.
"heh... begini saja nyalimu? atau aku yang terlalu bersemangat mmm.. apa mungkin! kau yang terlalu bersemangat? sampai kau begitu senangnya dan pingsan."
tama memegang dagunya, sambil menatap tikus yang ada di tangannya itu. saat tikus itu membuka matanya.. dilihatnya wujud tama yang mengerikan, iapun pingsan kembali untuk kedua kalinya.
"hah.. aku benar-benar, sudah kurang kerjaan rupanya.. sampai harus mengganggu seekor tikus jalanan, hanya karena bosan."
setelah tikus itu terbangun, tama langsung membuatnya bicara. dan membisikkan sesuatu kepadanya.. lalu mengubah bentuknya menjadi seekor kelelawar dan mengucapkan mantra. (grajiuz ramante)
"ingat pesanku, katakan semua yang kau lihat dan apa yang kau dengar. dan jika kau ingin merubah diri atau kebentuk lainnya! kau cukup mengucapkan mantranya seperti yang telah kukatakan tadi. dan mantranya hanya bersifat sementara, perjanjian akan ku anggap hangus jika kau berkhianat. dan mantra itu akan berbalik melahap jiwamu, dan kau akan mati terbakar."
"eh, b..baik tuan."
'huh apes benar nasibku, berjumpa dengan iblis mengerikan sepertinya'
"aku mendengarmu"
"a..ampun tuan, a..aku akan pergi sekarang."
tikus yang telah merubah diri menjadi kelelawar itupun segera pergi, mengikuti tempat kawanan orsi berada. dan menguping semua pembicaraan mereka, tama bisa melihat dan mendengarnya dari mata dan telinga sang kelelawar.
"dengan begini, aku tidak perlu repot-repot, mengurus mereka. aku hanya tinggal fokus, melindungi Arnold dan keluarganya saja."
...----------------...
"ayah!"
"ya.. sayang!"
"ada sesuatu yang lupa ravel ceritakan!"
"apa itu nak?"
"ini tentang masa depan, ingat tidak waktu ayah menyelamatkan Ravel, saat akan melawan penyihir?"
"tentu saja ayah ingat, lalu apa hubungannya dengan ceritamu?"
"saat itu.. ravel masih tertidur, dan aku bermimpi bertemu dengan ibu! diantara semuanya, hanya satu pesan ibu yang belum ravel sampaikan kepada ayah. singkat cerita!"
"ibu bilang, kelak akan datang seorang anak yang berniat memusnahkan keturunan duke serta, merebut kekuasaan ayah. dengan memanfaatkan simpati ayah, dan juga kata ibu! kita berdua pasti bisa melewatinya."
"kenapa kau baru memberitahukannya sekarang sayang! jika seperti itu yang dikatakan ibumu, berarti kita harus mempersiapkan diri karena kita tidak tahu siapa musuh kita, dan kapan mereka mulai bergerak."
"tentu saja kau banyak musuh! karena kesempurnaan yang kau miliki, belum lagi sifat sombong dan aroganmu itu! huh aku saja sampai muak denganmu."
"puuffttt..."
'suara ini..! tidak salah lagi, cuma dia yang berani mengatai ayah secara blak-blakan.'
"cih, tidak bisakah kau diam! dan jangan mengganggu waktuku, bersama putriku?"
"tidak bisa..! putrimu ya putriku juga."
"sejak kapan putriku menjadi putrimu?"
"sejak hari ini."
"kenapa? mau ngajak ribut! ayo kita keluar."
"cih, aku malas membuang waktu berhargaku, hanya untuk kucing yang kesepian."
"dasar kau bocah tengil, makin ringan saja mulutmu."
"heh, bukankah kau juga sama?"
__ADS_1
saat mereka berdua tengah asyik bertegang urat, ravella mendapatkan panggilan penting dari roya.