AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
RAHASIA TERSEMBUNYI DI BALIK TATO


__ADS_3

Keempat Spirit saling bertarung sengit.. Gira melawan Roya, Tama melawan Zaku. Gira sang Raja Ular memunculkan ratusan Jarum Es di udara.. Sedangkan Roya tersenyum melihat aksi temannya tersebut.


"Hehehe.. Apa kau yakin ingin menyerangku dengan jurus payahmu itu hah! Ular jelek." ujar Si Raja Elang meremehkan jurus temannya itu.


"Hohoho.. Cih.. Cih.. Cih.. Lihatlah dirimu itu, sekarang keangkuhanmu sudah hampir menyamai Zaku. Hahaha.. Hebat.. Hebat.. Apa ini yang telah kau dapatkan selama latihan tiga tahun terakhir!!" sindir Gira tajam, sambil menertawakan Si Raja Elang Roya.


Mendengar ucapan Gira, Roya menjadi panas. Rasanya amarah Si Raja Elang, seakan membara ingin keluar menghancurkan apapun disekitarnya. Namun, ia menyembunyikan kekesalannya tersebut dengan bersikap tenang.


"Sial, jangan samakan aku dengan bocah sinting itu! Jangan banyak bicara, mari kita mulai." ujar Roya langsung mengibaskan salah satu sayap emas kecoklatan miliknya.


"Ayo, siapa takut!" celetuk Gira menyeringai.


Jarum-jarum Es yang tadinya berserakan di udara.. Tiba-tiba terhempas jatuh, menancap apapun yang ada di sekitarnya. "Sekarang rasakan ini." Roya mengeluarkan cakar Elangnya dan bersiap ingin merobek sisik Gira, yang berkilau indah. lalu ia baru menyambar tubuh Gira dan menghempaskannya dengan keras.


Melihat itu, Gira tidak tinggal diam. ia sengaja membiarkan hingga Roya mendekatinya.. Saat Roya hampir mencakar dan mencengkram tubuh besarnya. Gira dengan respon cepat, langsung menyemprotkan salju Es di kedua kaki Roya.


Dalam sekejap kaki dan cakar Roya, membeku menjadi Es. melihat itu.. Roya dengan cepat langsung terbang mengatur keseimbangannya, agar tidak terjatuh. "Cih, dasar salju Es merepotkan." gerutunya kesal, Ia lalu menebas dengan kekuatan angin miliknya. Roya memproyeksikan kekuatan angin, menjadi senjata yang mencabik-cabik pergelangan Es di kakinya.


"WUUUUSHHHZZZ.. KREEEUUSSS.. KREEEUUSSS." Es yang telah membeku di kakinya.. Akhirnya pecah. Kini kaki Roya kembali bergerak dengan bebas. Ia terbang tinggi.. Namun kali ini, ia merubah bentuknya menjadi transparan, dan menyatu dengan udara. agar sosoknya tidak terlihat oleh lawannya tersebut.


"Heheh.. Kita lihat apa kau bisa menghindari seranganku kali ini." ujarnya menyeringai, lalu segera meluncur dan menghilang. Gira yang melihat Roya tiba-tiba menghilang begitu saja.. mulai waspada terhadap benda yang ada disekitarnya.


Sementara itu, di tempat lain.. yang tak kalah sengitnya. Zaku dan Tama kini, saling melempar serangan. Keduanya berlari dan saling menyerang satu sama lain. tubuh Zaku di penuhi dengan cahaya Kilat Putih dan Petir Perak, yang menyala-nyala.


Sedangkan Tama.. Tubuh apinya berkobar panas bak lahar.. Namun Api di tubuhnya kini agak berbeda jauh dari sebelumnya. Tubuh Rubah Api miliknya.. lebih pekat dan agak merah kehitaman. Panasnya pun lebih panas dari api biasa.


"GGWAAAAARRRRR!" auman Zaku, mengelegar dan memunculkan Tombak Petir di langit. Tombak Petir yang telah terbentuk sempurna.. langsung menghujam tajam kearah Tama. Tama yang melihat hal tersebut langsung menyeringai.


"Hehe.." Tama mengarahkan tangannya keatas, tiba-tiba muncul Black Hole berukuran besar, dan langsung menelan tombak petir Zaku, begitu saja.


Melihat itu, Zaku menjadi kesal. Karena serangannya yang dahsyat, lenyap begitu saja. 'Cih, dasar penyihir sialan. Dia menelan begitu saja Tombak Petirku! Kalau begitu, rasakan ini..' keluhnya kesal. "Tornado Petir!!!" serunya lantang. langit yang telah menghitam, kini mengeluarkan tornado bercampur petir, dan mulai melahap apa saja di sekitarnya.


Setiap yang tersentuh serangan Tornado Petir, semuanya menjadi menghitam dan gosong tak bersisa. Melihat hal tersebut, alis Tama mulai terangkat sebelah.


'Kheh.. Gawat, jika sampai terkena tornado bocah itu! aku bisa mampus. Kalau begitu aku harus membuat sesuatu untuk menghentikan serangannya.' pikirnya ngeri, lalu Tama mulai bertindak cepat, dan berseru lantang. "Perisai Sihir Ketiga.. Pentahedron Piramid." dalam sekejap muncul Cahaya merah terang melindungi Tama.


"BBWWWWUUSSSS! BBWWWWUUSSSS! GLEDUG.. GLEDUG.. JEDUAARRRR BOOOOMMM." Tornado Petir milik Zaku, tidak bisa menghancurkan Perisai milik Tama. Tama yang berada dalam perisai, menyeringai sesaat. Dan ia secara diam-diam mulai merapalkan mantra.


Zaku yang melihat dari jauh, mulai menaruh curiga dengan kesenyapan Tama, yang sedang berada di dalam perlindungan Perisai Sihir miliknya. Ia mengangkat satu alisnya, dan menyipitkan kedua matanya.. Ia mulai bersikap waspada.


'Sial, Rubah sialan itu! Dia benar-benar merepotkan.. Dia pasti sedang merapalkan Mantra aneh miliknya. Aku harus berhati-hati.' gumam Zaku, dalam hati.


Sedangkan Tama.. ia kini tengah merapalkan Mantra. Dan dalam sekejap sesuatu dari bawah tanah, menjalar cepat, dan sedang menuju kearah Zaku berada saat ini. Zaku yang merasakan sesuatu datang kearahnya.. Mulai bersiap-siap dengan kemungkinan yang akan terjadi.


Dan tak lama.. Muncul akar besar yang menjulur keluar, datang dari bawah tanah, lalu menyerang Tubuh Zaku. tapi, Zaku yang bergerak dengan lincah langsung terbang keudara. Dan mengeluarkan Bola Petir, lalu melemparkannya pada akar-akar Tersebut, hingga menjadi hancur dan gosong.


'Cih, gagal lagi. Padahal sedikit lagi aku bisa mengenai kucing besar itu!' decih Tama, mengeluh kesal. Dan Keduanya kini berakhir dengan seri.


"Hah.. Ini membosankan, kita berakhir seimbang lagi." jelas Tama.


"Heheh.. tidak usah mengeluh dasar idiot, Setidaknya perkembangan Jurus kita sudah jauh berkembang, di banding dulu bukan!" celetuk Zaku, kini Mendarat kembali.


Keduanya pun telah selesai berlatih, dan mulai menyusul kedua Naga, yang kini sedang istirahat. Sedangkan Roya dan Gira, masih belum selesai, Dentuman hebat terus terjadi di udara. Serangan demi serangan dahsyat, saling berbenturan di langit Zona Mana.


Tiba-tiba.. Cakaran tajam yang tidak terlihat, entah datang dari mana! langsung mengenai Gira. Tapi untungnya yang kena Adalah perisai Es miliknya. Jadi Gira tidak terluka.


'Hmm.. Serangan tidak terlihat ya!' gumamnya dalam hati, sambil berseringai "Kalau begitu aku akan membuatmu jadi terlihat sekarang, Selimut Salju." ujarnya menyeringai.

__ADS_1


Muncul Salju pekat turun dari langit, suhu udara menjadi sagat dingin. Roya yang tak terlihat, kini perlahan mulai terlihat. karena butiran Salju memunculkan eksistensinya. Melihat gumpalan Salju pekat menyelubungi tubuhnya.. Gira langsung meproyeksi Salju tersebut, menjadi sebuah cengkraman.


Roya yang menyadari ia sudah terlihat, dan mendapati perubahan yang di hasilkan Bola Saju, kini telah berubah menjadi sebuah cengkraman. Dengan cepat ia berubah mengecil, dan keluar meloloskan diri dari Cengkraman Salju milik Gira.


'Haah.. Hampir saja." Ujar Raja Elang lega. Kini ia mulai melayang dan memutar tubuhnya dengan kecepatan penuh. Tiba-tiba suhu udara di sekitar yang tadinya menjadi dingin bersalju.. Kini telah berubah cerah kembali. Dan Raja Elang besar itu berhenti, lalu menatap Gira tajam.


'Heh.. Apa yang akan dia lakukan?' pikir Gira mengamati.


Dalam sekejap, muncul ribuan Burung yang entah datang darimana? Burung-burung itu langsung terbang menyerbu beramai-ramai kearah Gira. Melihat pemandangan itu, Gira langsung membekukan burung-burung tersebut, dan saat ia sedang fokus membekukan ribuan Burung.


Melihat Gira yang sedang lengah, Roya pun langsung menciptakan Sabit Angin. Ia lantas menerbangkan Sabit Angin, dan mengarahkannya kearah Gira. Menyadari bahaya datang mendekat.. Gira dengan cepat menghindar, dan sabit angin melesat terbang membelah Gunung.


'Sial, itu berbahaya sekali.' umpatnya.. Gira yang mengira serangan tersebut telah selesai, merasa lega. Namun, perasaan mengerikan itu kembali lagi menghampiri dan menebasnya dengan ganas. Gira menghindar, kepalanya yang bertanduk langsung menjulur masuk kedalam Tanah.


Hingga Roya kehilangan sosok Raja Ular Silver tersebut.. Gira yang sudah masuk menembusi tanah, kini lenyap begitu saja bagai di telan bumi. Geram melihat Ular Silver itu tidak kunjung keluar dari persembunyiannya. Roya langsung menerbangkan Sabit Angin hingga menembus dan membelah tanah tempat Gira bersembunyi.


'Heum.. Tidak ada balasan? Apa seranganku berhasil mengenainya!!' pikirnya memperhatikan tanah tersebut tak bergeming sedikitpun. Tiba-tiba, hal tidak terduga pun terjadi.. Laser biru perak muncul dari dalam tanah, dan langsung menembak kearah Roya. Melihat itu.. Roya pun mengeluarkan Laser transparan miliknya.


Keduanya saling bertahan, Gira langsung melesat terbang mendorong lasernya agar membuat Roya terdesak. Namun Roya tak tinggal Diam, ia menarik kembali Sabit Angin yang tadi sudah terbenam ke dalam tanah.


Dan.. Sabit Angin meluncur terbang naik kepermukaan dengan kecepatan kilat dan mengincar tubuh Gira. "WUUUSHHH.. WUSSHH.. BOOOOM!" Ledakan hebat pun terjadi di langit, Gira terkena hantaman Sabit Angin, milik Roya.


Kelima Saudaranya yang memperhatikan Sabit Angin Tersebut, bergidik ngeri.. hingga salah satu dari mereka berceloteh di tengah ketegangan.


"Sial, jika sampai terkena Sabit Angin miliknya, sangat berbahaya sekali. Bagaimana bisa Roya mengontrol di saat ia sendiri tengah bertarung menahan serangan Gira..!!" celetuk Tama penasaran.


"Benar, selama ini bocah itu tidak pernah menunjukkan Sabit Angin miliknya saat latihan. Tapi kenapa baru sekarang ia menunjukkannya, dan menggunakan untuk menyerang Gira?" ujar Zaku.


"Hem.. Itu karena Gira telah meledeknya." Celetuk Rabarus tiba-tiba muncul, membuat semuanya terkejut dengan kehadirannya. ia tertarik mendengar perbualan mereka, Dan melayang mendekat di antara keempat Raksasa Mana Beast.


"Heum, memangnya apa yang dikatakan Gira, sampai-sampai ia jadi semarah itu?" tanya Saga penasaran.


Keempat saudaranya terus memperhatikan Gira dan Roya, yang saat ini sedang bertarung. Ledakan besar pun terjadi.. Hingga membuat asap hitam yang mengepul, menyebar menutupi tubuh keduanya. Sabit Angin telah mengenai Tubuh Gira, akan tetapi.. Saat asap dari ledakan perlahan mulai memudar, yang terjadi malah sebaliknya. membuat semuanya tercengang tak percaya!


Tubuh Gira Kini berubah menjadi kulit logam penuh kilau.. Yang kebal terhadap serangan ataupun Sabit Angin, milik Roya. 'Tidak mungkin.. Bagaimana bisa Sabit Angin ku tidak bisa melukainya??' pikirnya tak percaya.


"Hihihi.. Kau pasti heran! Kenapa Sabit Angin milikmu sampai tidak bisa menembus kulitku bukan?" ujarnya nyengir, membuat alis Roya terangkat sebelah. Roya diam, menunggu jawaban.


"Heum.. Tapi itu rahasia, hahahahaha." ujarnya tertawa dan berlalu pergi.. meninggalkan Roya, yang tampak sangat penasaran.


"Cih, dasar Ular sialan. Aku yang dengan bodohnya percaya dan serius menunggu jawaban anak itu. Eh malah dia pergi meninggalkan ku begitu saja, tanpa memberi jawaban." gerutunya kesal, Lalu pergi menyusul temannya itu menuju keempat Mana Beast lainnya. Latihan keduanya pun berakhir seri, sama seperti yang Lainnya.. Kecuali Jura. Ia selalu menang saat latihan, melawan kelima saudaranya tersebut.


"Baik semuanya.. sekarang waktunya kalian untuk istirahat. Nikmati waktu istirahat kalian sebaik mungkin! Aku akan pergi sebentar." ujar Rabarus lalu menghilang.


Setelah kepergian Rabarus, Keenam Mana Beast telah kembali kewujud Manusia. Mereka berjalan bersama. Di tengah waktu santai mereka.. Tama berceletuk.


"Cih, kemana lagi Pak Tua Itu akan pergi..? Selalu saja begini.. Setiap selesai latihan, dia pasti akan menghilang begitu saja. Sedangkan kita, hanya terkurung tidak diperbolehkan keluar. Kita sudah terlalu lama berada disini.. Aku sudah tidak sabar lagi ingin keluar." gerutu Tama kesal.


"Kau benar, aku juga sudah terlalu bosan tinggal di sini, hanya melakukan latihan setiap hari.. tanpa bisa melihat dunia luar." celetuk Zaku.


"Haah.. Jika seperti ini terus, lama-lama kita akan membusuk di tempat ini. Apalagi setelah selesai Berevolusi, kita langsung di ajak paksa latihan, dengan Ayah mu itu. Hah.. Nasib kita benar-benar sial, sejak kedatangan Ayahmu." Sambung Roya, membuat yang lainya tertawa.


"Brengsek kau, seharusnya kau protes saja padanya.. Bukan pada ku sialan." umpat Tama kesal, yang disambut tawa oleh keempat, kawan-kawannya.


"Heh.. Kau itu kan Anaknya. Seharusnya kau merayu saja, minta kelonggaran padanya.. Agar kita di izinkan keluar dari sini." balas Roya lagi.


"Cih, kalau semudah yang kau bicarakan, tidak perlu kau bilangpun, pasti sudah aku lakukan sejak dulu. Tapi sayangnya.. Dia yang sekarang, bukanlah Ayahku yang dulu! Mudah di ajak bicara.

__ADS_1


Jika aku tetap memaksa, bisa-bisa aku mati konyol ditangan Pak Tua Itu. Kalau kau pintar ngomong, kenapa tidak kau saja yang minta." Ujar Tama, kesal.


"Kau anaknya saja, tidak bisa! apalagi aku bodoh." balas Roya lagi.


"Haah.. Terserah kau saja, Aku malas berdebat denganmu." ujar Tama malas, Lalu suasana kembali menjadi hening.


...😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈...


Sementara itu.. di perbatasan Negara ADOLLAS dan BORAMA.. Duke tengah Duduk bersebelahan dengan Spiritnya, Si Panther Hitam Icarus. Yang kini sedang menyimak dan mendengarkan Masternya.


"Aku tidak pernah menceritakan masalah ini pada siapapun sebelumnya, termasuk Spiritku sendiri." ujarnya langsung menjatuhkan diri, dan duduk bersila dengan menyilangkan kedua tangannya. Lannox terdiam sejenak, sambil melihat kearah rumput hijau penuh arti.


Seolah pikirannya kini tengah melayang jauh, sedangkan Icarus hanya terdiam menunggu tanpa menanyakan sebab-musababnya! Dan beberapa saat kemudian.


"Masalah ini baru aku ceritakan padamu!" Ujarnya ambigu. Namun, Icarus hanya menyimak tanpa ada niat menyela. Lannox terdiam lagi... Dan beberapa saat kemudian, Ia kembali bergumam.


"Haah... Sebenarnya aku mempunyai sihir yang sangat besar di dalam tubuhku. Sangking besarnya.. Kakek ku sampai menyegel sebagian sihir milikku. Karena pada saat usiaku, yang baru saja menginjak tiga tahun.. aku masih belum bisa menguasai sihir tersebut.


Suatu hari.. pada saat aku sedang latihan berdua Kakek. Sihirku tiba-tiba meluap keluar, dan mulai menguasai pikiranku. Pada saat itu aku tidak bisa mengendalikannya sama sekali. berhubung usiaku yang masih sangat kecil.. Karena takut Sihir yang membahayakan itu menelan seluruh kesadaranku, dan melahap tubuhku.


Aku yang setengah sadar, melihat Kakek yang sangat menyayangiku, tampak begitu khawatir dan panik. untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan itu, Kakek pun menyegelnya.


Saat aku sadar, aku pun menanyakan apa yang terjadi, dan kenapa ia menyegelnya? tapi Beliau berdalih, jika sampai Sihirku meluap dan menguasai kesadaranku.., Aku akan berubah menjadi orang asing, yang sangat bertolak belakang dengan sifat ku sebenarnya! Makanya ia menyegelnya. Tapi setelah aku Dewasa, ingatan itu perlahan mulai kembali.


Dan aku kembali teringat dengan kejadian tersebut. Sejak itu aku tahu, jika Kakek sedang berbohong demi kebaikanku. Tapi, dampak dari penyegelan tersebut, ada keterbatasan saat aku menggunakan sihir. bahkan aku tidak bisa menggunakannya untuk terbang seperti yang lain, setiap kali aku menggunakannya saat latihan.., pasti ada keterbatasan penggunaan. Aku hanya bisa membuat Portal atau Perisai untuk melindungi yang lain.


Namun aku tidak bisa menggunakannya untuk menyerang atau melindungi diriku sendiri.. Dan itu sangat menyedihkan. Aku terampil dalam menggunakan Mana dan Aura, Namun tidak dengan Sihir..!" ujarnya tampak ada rasa kecewa hinggap di permukaan wajahnya.


"Hmm.. Jika sihirmu sampai di segel dengan kekekmu! Itu berarti, dia juga pasti tahu cara membuka segelnya bukan? Apa dia ada mengajarkan padamu, bagaimana cara membuka segel tersebut..??" tanya Icarus memastikan.


"Heum.. Sayangnya tidak. Sejak saat itu beliau tidak pernah lagi membahas soal Sihir, ataupun memberitahu bagaimana cara membuka segel. Ia terus bungkam sampai ajal menjemputnya..! Karena itu aku sangat lemah, jika terkena serangan yang bersifat sihir. Andai saja aku bisa menggunakannya..!" sambungnya penuh harap.


"Lalu, kenapa kau tidak menceritakan masalah sepenting ini, pada Spiritmu yang lain? Dan mengapa kau malah menceritakannya padaku, yang baru menjadi Spiritmu..!?" tanya Icarus heran dengan sikap Masternya itu.


"Hmm.. Entahlah, mungkin saja karena aku merasa nyaman menceritakannya padamu.. Karena kau agak berbeda dari yang lain." ujarnya tersenyum tipis.


Icarus diam setelah mendengar ucapan Masternya, dalam hati, ia sedang mencerna dan merenung. memikirkan bagaimana cara melepas segel tersebut.


"Jika aku boleh tahu, dimana Kakekmu, menyegelnya?" tanya Icarus penasaran.


Lannox membuka bajunya.. Dan menunjukkan punggungnya. "Apa kau lihat Tato Seekor Gagak tengah menelan hampir seluruh bulan, dan hanya menyisakannya sedikit. Lalu keduanya berada di dalam kurungan??" ujarnya saat menunjukkan punggungnya, pada Icarus.


"Ya, aku melihatnya." ujar Icarus memperhatikannya, dengan penuh tanya di benaknya.


"Kurungan itu adalah segel itu sendiri.. Sedangkan gagak yang sedang menelan hampir seluruh bulan, adalah sebagian Sihirku yang telah menghilang. Sedangkan bagian bulan yang tersisa.. Itu adalah sihir ku saat ini." jelasnya, sambil mengenakan kembali pakaiannya.


"Hem.. Ini sangat menarik. Sejujurnya, jika diperhatikan dengan teliti.. Mata gagak yang sedang menelan hampir seluruh bulan tersebut! tampak seakan-akan ia hidup. Aku tidak tahu apakah ini cuma perasaanku saja, atau bukan! Yang jelas.. Matanya sekilas bergerak menatap kearah ku!" jelas Icarus, yang tiba-tiba merasakan perasaan ngeri dari tatapan gagak tersebut.


"Benarkah? Aku juga tidak tahu, sebenarnya rahasia apa yang telah disembunyikan Kakek, dariku! Aku memang mengingatnya saat ia terlihat panik dan menyegel Sihirku. Namun yang terjadi setelahnya.. aku tidak ingat lagi! Karena kesadaran ku telah ditelan kegelapan." ujarnya.


"Heum.. Bocah, selama ini apakah ada yang tahu, atau curiga, dengan Tato di punggungmu itu??" tanya Icarus tiba-tiba, membuat Lannox menatap penuh tanya.


"Tidak, tidak ada satupun yang tahu atau pun menaruh curiga terhadap tato ku. Mereka menganggapnya hanya sebagai tato biasa. Kenapa memangnya?" tanya Lannox merasa tertarik.


Icarus bungkam sejenak, ia menatap kosong pada rumput yang tersentuh kabut, seolah-olah ia sedang menimbang-nimbang, ingin menceritakan atau tidak. Lannox memperhatikan tingkah Spiritnya itu, dan menunggu penuh sabar, dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya.


'Apa yang ia pikirkan? Sampai-sampai ia mengerutkan keningnya..!?' pikir Duke, mengamati.

__ADS_1


'Hem.. Aku jadi teringat dengan cerita takhayul tersebut! Setelah mendengar cerita anak ini..., Aku jadi berpikir kembali. apakah mungkin cerita itu, ada sangkut pautnya dengan kisah anak ini!!' ujarnya dalam hati, Icarus larut dalam pikirannya sendiri. Sehingga ia tidak sadar, jika saat ini.. Sang Master tengah menatap penuh tanya padanya.


Semenit kemudian, Icarus kembali mengeluarkan suaranya. "Sebenarnya..., Ini hanyalah sebuah cerita turun-temurun, yang telah diwariskan dari para leluhur kami terdahulu! Yang menurutku, itu hanyalah takhayul. Aku juga tidak yakin, apakah cerita ini ada sangkut pautnya denganmu, atau tidak!" ujarnya masih ragu.


__ADS_2