AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
APA ITU YANG MULIA?


__ADS_3

'baiklah, aku akan mendengarkanmu'


'pilihan pintar. kita akan bergerak saat malam tiba, setelah semuanya pergi. karena disaat itu mereka pasti sedang beristirahat, untuk mengumpulkan tenaga dan mana. sihir mereka tidak bisa berkerja jika mereka kelelahan. jadi mereka pasti bersembunyi di suatu tempat. hidungku ini sangat tajam dan sensitif, oh ya.. omong-omong kenapa tidak kau kirim saja anak baru itu kekota vala?'


'sepertinya kehadirannya tidak dibutuhkan disana, apalagi anak-anak itu sangat membencinya. itu hanya akan membuat dia semakin didiskriminasi.'


'hem lantas mau kau apakan anak itu..?'


'belum tau, aku juga masih bingung harus diapakan anak itu. walaupun aku tidak percaya padanya, dan belum menerima sumpahnya secara resmi.


'hem kalau pendapatku, anak itu sangat jujur dan bisa dipercaya. dia berbuat seperti itu.. karena hatinya menolak untuk menerima perintah yang tidak masuk akal. dia lebih memilih memihak kebenaran dan menghianati perintah itu sendiri, kau juga pasti tau resiko dari menghianati perintah itu sendiri bukan? apalagi itu mutlak.'


'tumben sekali kau banyak berbicara hari ini..!'


'bukankah kau juga sama?'


'apa maksudmu?'


'entahlah.. kau bisa mendefinisikannya sendiri.'


lannox terdiam dan mengabaikannya, dia masih bingung memikirkan tentang keputusan apa yang akan diambilnya kepada robi.


"seperti yang kau lihat sendiri..! sihir dan mana tidak berfungsi disini."


"ba.. bagaimana bisa, mustahil aku tidak percaya jika tidak mencobanya."


"yah.. silahkan saja, jika kau tidak percaya."


dean mencoba menggunakan mana miliknya.


'suhu ruangan, dan kelembaban udara, aku harus konsentrasi.'


dean duduk bersila, memulai fokus mengalirkan aliran mana kedalam tubuh dan memusatkannya pada satu titik.


'lalu pikirkan pada hal yang ingin aku lakukan, cahaya.. intensitas sebuah cahaya.


dean mulai fokus, dan memusatkan pikirannya pada sesuatu yang ia bayangkan.


'bayangkan dan keluarkan perlahan, keluarlah..'


setitik cahaya kecil muncul dikedua telapak tangannya! tapi, cahaya itu sangat lemah, ia berusaha memanifestasikan pikirannya, namun cahaya tersebut kembali menghilang.


"ah..... sial? dasar brengsek, tempat apa ini sebenarnya?" 'bahkan, manaku tidak bekerja sama sekali.'


"hahahaha seperti yang sudah aku katakan, mana dan sihir tidak berguna disini."


"jika kau tidak bisa membantu, lebih baik kau diam saja!"


"bukan tidak bisa membantu, hanya saja.. aku sudah mencobanya berkali-kali, sebelum kau melakukannya. dan itu selalu berakhir dengan gagal! tepatnya, tempat ini tidak bisa dijangkau oleh mana ataupun sihir."


'aneh, bagaimana bisa sihir dan mana tidak berfungsi disini..! tempat apa ini sebenarnya? sialan, padahal aku harus cepat menemukan keberadaan orang itu! sebelum keduluan rey dan sipenyihir itu. karena akan sangat berbahaya jika dia tiba lebih dulu sebelum orang itu, pasti akan banyak korban jiwa yang berjatuhan. darimana sebenarnya dia mendapatkan penyihir hitam? selama ini.. dia tidak pernah bercerita atau membahas tentang penyihir..! ternyata aku memang tidak mengenalnya, padahal selama ini kita sudah menjadi teman baik.'


"argus.." terdengar suara lannox yang sedang memanggil namanya.


"aha.. ini panggilan dari tuanku, berarti ini sudah ketiga kalinya beliau memanggil. syukurlah, akhirnya tuanku menyadari kalau aku sangat berguna untuknya. sejujurnya.. aku sangat iri..! karena hanya sikucing buas itu yang selalu mendampinginya. baiklah, saatnya kita mulai bekerja."


"Wuusshh.. wuusshh.. wuusshh.. saya menghadap yang mulia, apa yang bisa saya lakukan?"


"argus, malam ini aku akan mengirimkan bantuan untuk menyelesaikan masalah dikota vala. aku ingin kau membawa anak bernama robi, untuk ikut denganmu."

__ADS_1


"mengapa anda menyerahkan anak itu kepada saya, yang mulia? mengapa tidak anda ikut sertakan saja dalam rombongan?"


"kau terlalu banyak bertanya argus, lakukan saja seperti apa yang aku perintahkan."


'apa seperti ini.. perasaan Rudolf saat aku marahi..?'


"baiklah yang mulia. lantas, apakah anda tidak ikut pergi..?"


"tidak, masih ada urusan yang harus aku selesaikan disini..?"


"apa itu yang mulia? jika itu urusan tidak penting, biarkan saya saja yang menyelesaikannya."


"hah tidak perlu.. kembalilah, jangan lepaskan pengawasanmu."


tiba-tiba saat ia ingin mengakhiri percakapannya, ia teringat akan sesuatu.


"tunggu, bagaimana keadaan dikota vala?"


"ada beberapa tikus kotor, dan saya telah menangkap mereka, dan mengurungnya ditempat yang aman, seperti titah yang mulia."


"baguslah."


"ah satu lagi.. yang mulia! sepertinya, saya menangkap seseorang yang kelihatannya sangat berguna untuk yang mulia."


"apa maksudmu?"


"sepertinya.. orang ini mempunyai informasi, yang mulia butuhkan."


"jangan bertele-tele argus, aku tidak suka menunggu."


"hehe.. baiklah yang mulia, seperti biasanya, anda sangat tidak sabaran. tik"


"apa-apaan ini..?"


"yang mulia, dia adalah orang yang saya maksudkan." lannox mengurut pelipisnya yang tidak sakit.


"kembalikan saja ketempat awal, aku akan membahas ini nanti.."


dean yang tiba-tiba muncul, menjadi terkejut dengan pemandangan yang ada dihadapannya.


'tidak mungkin? orang ini.. seperti yang dikatakan nenek tua itu! rambut perak bercahaya bagai sinar bulan, mata merah menyala seperti darah.'


"hmm sayang sekali.. padahal aku juga ingin tahu informasi apa yang disembunyikannya. baiklah tik"


"tunggu du..."


deanpun lenyap dari pandangan.


"pergilah"


"baik yang mulia, saya mohon undur diri."


"wuusshh.. wuusshh.. wuusshh.."


arguspun menghilang dalam sekejap, dan meninggalkan lannox yang tengah duduk direrumput hijau, sambil bersandar dipohon besar nun rindang.


"hem.. darimana kau menemukan bocah itu?"


"kenapa?"

__ADS_1


"ya.. sangat sulit membuat kontrak dengan seorang elf uuntuk menjadi spirit, apalagi.. mereka terkenal dengan rasnya yang sangat sombong, dan tidak mau tunduk pada apapun!"


"bagaimana bisa kau tau kalau dia seorang elf?"


sementara itu, keadaan dibenua ergben, tempat Rafael memimpin.


kedua tim.. gagak Merah, dan lima prajurit siluman datang menghadap.


"hormat kepada baginda, sang penguasa ergben."


pemimpin, dari prajurid siluman maju kehadapan rafael.


"baginda.. ini seperti yang anda perintahkan."


muri menyerahkan holy stone kepada rafael, saat rafael menerimanya.. tampak cahaya terang menyala ditangannya.


"kerja bagus muri."


"kalian kembalilah, aku akan memberikan kalian libur. selama masa libur, beristirahatlah yang cukup. karena tidak lama lagi.. kita akan kedatangan tamu."


"terimakasih baginda, kami mohon undur diri dulu."


setelah kepergian tim siluman dan gagak merah. rafael menghilang dari singgasananya, dan dalam sekejap ia kembali ke kamarnya.


"hmm aku tidak berniat menghancurkan ekosistem negara itu, ini akan menjadi sebagai peringatan, karena sudah berani menantangku."


sementara itu.. dibenua selatan, tiga wizard sedang berdiskusi di sebuah ruangan khusus.


(arlo) "lukas, bagaimana menurutmu! apakah kita benar-benar akan melakukan perang?" tanyanya sedikit antusias


(lukas) "hmm.. boleh saja melakukan perang seperti yang baginda raja katakan. tapi, resikonya sangatlah besar bukan? terlalu banyak yang harus dikorbankan!"


lukas menatap arlo, dan pria berambut coklat pendek memakai kacamata, yang sedang bersandar dibibir jendela, ia masih terdiam melihat keluar jendela.


(lukas) "apa yang sedang kau pikirkan zora?"


(zora) "hmm.. apa kalian pernah dengar riwayat sang penguasa ergben?"


saat ini dikota kumuh, pria paruh baya empat puluhan, yang sedang mengenakan kacamatanya, sambil membaca dokumen hasil laporan dari setiap tim dibawah asuhannya. sekilas ia teringat akan sesuatu, tiba-tiba saja dia berhenti fokus.


"apa kedua anak itu masih hidup?"


dia melepaskan kacamatanya, tampak netra hijau zaitun terlihat lelah, ia memijit matanya yang sedikit perih.


'haah.. aku harap, anak-anak itu selamat dan bisa menuntaskan misi ini. tapi, melihat tingkat resiko yang sangat tinggi? mustahil bagi mereka untuk bisa berhasil melakukannya? apalagi selain pembantaian masal, mereka juga harus bisa menjebak sang macan, agar bisa masuk perangkap. hem.. kelihatannya aku terpaksa harus merelakan kedua anak itu. sayang sekali..! padahal mereka berdua sangat berbakat di bidangnya masing-masing.'


pria paruh baya itu.. memakai kembali kacamatanya, dan melanjutkan fokusnya melihat hasil laporan.


disebuah lorong menara yang gelap, pria berambut pendek dengan netra mata birunyanya.. sedang berdiri menghadap kelangit malam.


"tak terasa.. musim panas hampir berakhir, dan tidak lama lagi.. akan datang musim gugur. haah.. aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dan melihat wajah kebingungannya saat melihatku. tapi sebelum itu, aku harus cepat menyelesaikan masalah yang akan terjadi..? atau, apa aku saja yang langsung memulai, agar masalah ini cepat selesai?"


"baginda.. apa tidak sebaiknya Anda menunggu saja, karena setelah kejadian kehilangan holy stone, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menyerang!"


muncul bayangan hitam dibelakang rafael, rafael melirik kesamping sambil tersenyum miring. ia kemudian menatap lagi kearah langit malam.


"hem.. entahlah, aku sedang memikirkannya..! serang, atau menunggu diserang? melihat belum adanya pergerakan, pasti akan memakan waktu lama untukku menunggu, dan itu membuatku sedikit bosan."


"lantas, apa keputusan baginda..? jika anda menginginkannya, saya akan mendatangkan sebuah bencana di negara itu, saya akan melakukannya dengan senang hati untuk bagindaku."

__ADS_1


bayangan hitam itu sedikit tertawa seram, sambil menunggu izin dari rafael, keputusan apakah yang akan dipilih rafael?.


__ADS_2