AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
MULAI HARI INI.. AKU INGIN KAU KEMBALI KEMANSION.


__ADS_3

Tiga hari kemudian.. Suara kicauan burung masih terdengar merdu di telinga siapapun yang mendengarnya, Tak lama tiba surat dari kekaisaran, Ranov si kepala pelayan datang keruangan Duke.


"Tok.. Tok.. Tok.. Yang Mulia."


"Masuk." Ujar Duke Lannox, Yang sedang sibuk dengan kegiatannya.


"Ceklik, tap.. tap.. tap.. Yang Mulia, ini ada surat dari istana, untuk Yang Mulia Putri." Ranov meletakkan surat tersebut, di atas meja Duke.


"Apa.., Untuk Putriku!!" Mendengar surat untuk Putrinya, Duke menghentikan pekerjaannya, Dan ia segera mengambil dan membuka surat tersebut.


Tertera nama Pangeran, di surat tersebut. Duke membaca surat itu setelah beberapa menit kemudian, ia mendecah kesal lalu menyeringai jijik.


"Cih, Bakar saja surat tidak penting ini." Ujar Duke, kepada kepala pelayan.


Ranov sedikit terkejut, dengan perintah Duke itu.


"Tapi Yang Mulia.. Bukankah sebaiknya, surat ini deserahkan kepada Yang Mulia Putri dulu."


Duke meletakkan kedua sikunya di atas meja kerjanya.. Lalu ia bertopang dagu pada kedua punggung tangannya, Sambil menatap tajam kearah Ranov.


"Apa menurutmu anak itu benar-benar tulus berteman dengan Putriku, Ranov??" Ujarnya dengan seringai tidak senang.


'Egh, apa aku salah bicara! Beliau tampaknya sedang kesal. Memangnya apa isi surat ini? Sampai membuat Yang Mulia seperti itu.' Ranov, melirik surat yang ada ditangannya tersebut, Lalu berujar. "Dari penglihatan saya.. Beliau menyukai Putri, Yang Mulia."


"Heh.. Karena itu surat tersebut tidak pantas diterima Putriku." Ujarnya dingin. 'Dasar bocah naif!! Ayah dan anak sama saja.' pikir Duke, Merasa kesal. "Ranov, panggilkan Reni."


"Baik Yang Mulia, kalau begitu saya pamit undur diri dulu." Ujar kepala pelayan, langsung pergi meninggalkan ruangan Duke.


"Hem."


Setelah melihat kepergian Ranov menghilang ditelan kedua pintu, Duke bangun dari kursinya.. Ia melangkah pelan keluar menuju kebalkon. Duke menghirup udara segar, untuk merilekskan pikirannya yang agak kalut.


'Bocah sialan yang masih belum mengenal dunia.. Seorang bocah yang baru melewati masa puber. Sudah berani menunjukkan ketertarikannya kepada Putri kecilku!! Heh.. Sungguh cari mati.


Untuk saat ini aku akan mengawasinya.. Hem, dalam dua hari lagi, aku dan Putriku.. harus menghadiri undangan Ular Tua itu. Seberapa jauh dia mengetahui ramalan tentang Putriku??'


Duke melemaskan tubuhnya, dan meletakkan kedua lengannya pada pagar balkon. Lalu ia merenung sejenak, memikirkan Ramalan tentang Putrinya.


'Omong-omong soal Ramalan, aku belum mencaritahunya..! Sejujurnya aku tidak percaya sama sekali akan Ramalan yang dikatakan Zion, kenapa mereka selalu mengaitkan Putriku dengan Ramalan??


Bahkan si Ular Tua itu pun, ikut-ikutan membahasnya.. Dan seringai yang ia tunjukkan waktu itu.. Sungguh mencurigakan!! Bahkan tidak hanya Ular Tua itu saja.. Si Kaisar Penyihir yang pernah menculik Putriku, juga tahu akan masalah ini.


Aku harus memanggil Zion, untuk mencari tahu kebenaran akan masalah ini. Zion...!!!'

__ADS_1


***


Zion baru saja keluar dari hutan larangan, setelah ia melihat sang pujaan hatinya, ia sedikit merasa tenang. Namun, telinganya masih terngiang-ngiang akan perkataan Argus tempo hari.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa...?"


'Bocah sialan, entah kenapa aku merasa khawatir setelah berbicara dengannya.. Firasatku jadi tidak enak akan bocah Elf itu. Haruskah aku kenceritakan masalah ini kepada anak itu!!


Tapi, jika aku menceritakan masalah ini, Lannox belum tentu percaya dengan perkataanku. Yang ada aku malah dikira cemburu, karena terkesan menghasut agar membencinya.


Hem.. Bagaimana caranya agar bocah itu tahu!! Lantas, setelah ia tahu.. Apakah si bocah Elf itu akan mundur? Hem.. Rasanya tidak mungkin! Sekarang aku akan mencoba menempatkan diriku di posisinya.


Jika aku jadi anak itu.. Tentu saja aku tidak akan mundur sedikitpun walau harus melawan Master, karena..! Nah itu dia, anak itu pasti berpikir seperti itu bukan. Karena akupun pasti melakukan hal yang sama, jika jadi anak itu..!


Hah sialan, memikirnya saja membuat kepalaku pusing. Sebaiknya aku minta solusi dari Kakek saja... Ah tidak, tidak, tidak, percuma kalau meminta solusi darinya! bukan menemukan titik terang, yang ada malah tambah besar masalahmya. Melihat bagaimana emosi Kakek yang suka meledak-ledak, apa lagi ini menyangkut Dewi.


Kakek, tanpa pikir panjang, pasti langsung menghujani bocah itu dengan serangan, kalau sudah begitu.. Si bocah yang merasa Spiritnya di serang, pasti akan membalas menyerang Kakek. Hah.. Sial, kalau begini urusannya akan jadi semakin runyam.


Hem.. Ah iya benar. Sebaiknya aku menanyakan masalah ini dengan Beliau saja..!'


Baru Zion mahu melangkahkan kakinya.. Tiba-tiba saja terdengar suara sang Master memanggil namanya.


"Zion...!!!"


"Ada apa kau memanggilku?" Tanya Zion, yang baru saja keluar dari bayangan dinding ruangan.


...****************...


...----------------...


......................


"Paduka.. Kemana saja anda selama ini? setelah kembali anda langsung menghilang begitu saja.. bagai di telan Bumi, tanpa mengatakan apapun. Egh.. Tu-tunggu dulu, siapa dia Paduka??"


Garda merasa asing dengan sosok yang ada di samping Sang Paduka, Rabarus tampak sangat bangga bisa duduk berdekatan disamping Kaisar Zando, Ia menyeringai saat menatap Garda.


'Kenapa dia menatapku seperti itu? dia seolah sedang ingin pamer di depanku, cih sombong sekali dia. Entah Mahluk dari mana yang di Pungut Paduka..! Hem.. Aku benci melihat tatapannya itu!! Ingin rasanya kucolok matanya.. Biar tidak bisa melihat lagi.'


Mendengar isi pikiran Garda.. Sang Dewa menyeringai tanpa menjawab apapun, setelah beberapa menit kediamman sang Paduka, Tak lama ia berujar kepada Garda.


"Garda.."


"Hamba Paduka!"

__ADS_1


"Mulai hari ini.. Aku ingin kau kembali kemansion."


"Apakah telah terjadi sesuatu Paduka??" Tanya Garda khawatir.


".........." Dewa Zando bungkam tidak menjawab apapun. Hingga menimbulkan pertanyaan di benak Garda.


Tidak hanya Garda.. Bahkan Rabarus juga ikut mencerna saat mendengar kata Mansion.


'Mansion..!! Ah benar, Beberapa waktu lalu.. Beliau juga pernah mengatakan kepadaku.' (Flashback) Hmm..., baiklah. Lakukan sesukamu, tapi jika kau sudah lelah! Kau bisa kembali kemansion Masterku." (masa kini) 'Setelah itu beliau pergi begitu saja.. Mungkinkah Master dan Mansion yang di maksud Beliau adalah...!'


***


Di Zona Mana, Zaku bertarung dengan Gira dalam bentuk mana Beast. Keduanya tampak bersemangat sekali.. Ular biru Raksasa menyemburkan Es untuk membekukan tubuh Zaku.


Namun Zaku dengan cepat menghindarinya.. Dalam sekajap Zaku sudah berada di belakang Ular Biru itu. Menyadari kehadiran Singa Besar di belakangnya.. Gira langsung mengibas dengan Ekornya.


Sadar akan serangan lain.. Zaku langsung menghilang dan muncul dari arah udara.. Ia membuka mulutnya, untuk menyerang Gira.


"Hehehe.. Mari kita lihat, apa kau bisa menghindari seranganku yang ini..!"


"khi.. Khi.. Silahkan saja, kalau kau bisa!" Ujar Gira dengan seringainya, ia menatap kearah Zaku.


Tiba-tiba muncul serangan bertubi-tubi datang dari mulut Zaku. Gumpalan cahaya kuning datang menghujani Gira, Gira yang tampak senang langsung mengibas serangan demi serangan, hanya dengan menggunakan kibasan ekornya..


"Bwussshhh.. Bwussshhh.. Bwussshhh.."


Serangan Zaku tidak berhasil mengenai Gira, Gira balas menyerang. ia mencipatkan puluhan tombak Es, yang melayang di udara.


"khe.. Khe.. Terima ini."


Gira mengontrol puluhan tombak Es, yang melayang di udara.. hanya dengan pikirannya, Tombak itupun di mengarah kearah Zaku. Melihat tebaran Tombak Es langsung menyerangnya.. Zaku yang tidak mahu kalah, balas menyerang.


"hehehehe.. Jangan senang dulu, terima ini. " Zaku menyeringai senang.


"Booom.. Booom.. Booom.." Ledakan demi ledakan terjadi di hadapan mereka.


Hingga akhirnya.. latihan tersebut berakhir dengan seri. Setelah selesai bertarung, keduanya duduk untuk bersantai.


"Ayo kita pulang, sudah cukup latihannya untuk saat ini. Kita bisa lanjutkan saat Rabarus kembali nanti." Ujar Gira kepada Zaku.


"Kau benar, kita belum menyapa Beliau sama sekali setelah ia kembali ke Mansion." Jawab Zaku.


Keduanya pun, akhirnya meghilang dari Zona Mana.

__ADS_1


__ADS_2