AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KEMURKAAN DEWA ZANDO


__ADS_3

Di Kastil, di dalam Kantor. Lannox dan Zion sedang termenung memikirkan ketiadaan Ravella.


Di dalam keheningan suasana yang menegangkan itu.. Zion yang tampak gelisah, akhirnya mengeluarkan suara Garaunya.


"Nak, sampai kapan kau akan seperti ini? Jika kita hanya menunggu tanpa melakukan apapun, aku tidak bisa tenang." Ujar Zion, menghampiri Masternya.


Sedangkan Lannox, sedang duduk sambil berdiri di depan jendela balkon Kantornya. Ia hanya diam tidak merespon apa yang di katakan Spiritnya.


Sementara itu, Zion yang terlihat kesal melihat Sang Master tidak merespon sama sekali ucapannya! Karena tidak sabaran, akhirnya ia mulai menunjukkan eksistensinya.. Pada Lannox. membuat Lannox yang tadinya mengabaikannya, Kini berbalik menoleh kearahnya.


"Jawab aku bocah sialan... Apa benar kau sungguh mempedulikan Putrimu hah..?


Jika kau saja tidak pernah keluar dari ruangan ini, dan hanya merenung dengan kesedihan bodohmu itu.


Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah bisa menemukan Putrimu. Apa kau pikir hanya kau saja yang sedang sedih disini haah...!!" ujar Zion sangat geram, dengan sikap Masternya itu.


Lannox membalikkan badannya, dan melihat kearah Zion, yang sedang menatap padanya dengan sorot mata yang tajam.


Lalu ia bersandar pada pagar balkon, sambil melihat kelangit biru dan bergumam pada Spiritnya yang sedang menatapnya.


"Haah.. Tenanglah Pak Tua. Aku mengerti kekhawatiranmu itu! Tapi entah kenapa? Aku merasa Putriku baik-baik saja saat ini." ujarnya, yang sebenarnya meragukan perkataannnya sendiri.


Zion yang tampak bingung, mulai bertanya dan mengutarakan pikirannya.


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu kalung ini bukan?" ujar Lannox, mengeluarkan Kalung yang telah di berikan oleh Putrinya itu.


Zion memperhatikan Kalung yang di keluarkan oleh Lannox, dari balik pakaiannya. Lannox memegang Kalung Permata Darah tersebut, Sambil menciumnya.. Lalu ia bergumam dan melihat kearah Kalung tersebut.


"Ini adalah Kalung Permata Darah, pemberian Istriku melalui Putriku untuk kami berdua. Kalung ini ada sepasang, Salah satunya ada pada Putriku, dan satu lagi ada padaku."


"Terus apa hubungannya..?" tanya Zion, masih belum mengerti.


"Kalung ini bisa saling terhubung, jika salah satu dari kami ada yang terluka."


"Tunggu dulu, jika itu dari mendiang Istrimu, Lalu.. kapan tepatnya dia memberikan Kalung tersebut?


Sedangkan Putrimu tidak pernah sekalipun bertemu dengan Arabella, semenjak ia lahir kedunia ini." ujar Zion heran.


Lannox yang mendengarkan pernyataan tersebut dari mulut Zion, terdiam sejenak. Lalu, ia tersenyum sambil memperhatikan Kalung yang ada di tangannya itu.


"Hem.. Itulah masalahnya! Jika di pikirkan dengan nalar.. Itu sangat mustahil!


Tapi itulah kenyataannya.. Kalung ini di dapatkan oleh Putriku, saat ia bertemu dengan Arabella di dalam mimpinya."


Zion tampak terkejut, dan memang benar seperti apa dikatakan oleh Lannox. Awal ia mendengar ucapan dari Masternya..


Dia memang tidak mempercayainya.. Tapi setelah ia mencerna kembali ucapan Masternya tersebut! Ia kembali begumam.


"Haah.. Tapi jika itu Putrimu! Tidak ada yang tidak bisa dia lakukan. Bahkan, yang mustahilpun bisa terjadi.


Lalu.. Apa kau bisa merasakan bagaimana keadaan Putrimu saat ini?" Tanya Zion, langsung keintinya.

__ADS_1


"Hem.. Tenang saja. Aku bahkan tidak merasakan apapun padanya. Dan satu lagi, kalung ini juga bisa digunakan untuk berkoneksi satu sama lain."


"Apa....! Jika begitu, apalagi yang kau tunggu, ayo cepat lakukan sekarang. Tapi, omong-omong apa kau sudah tahu cara menggunakannya?" tanya Zion, tiba-tiba ragu.


...****************...


Sementara itu di Zona Mana.. Para Spirit tampak sedang gelisah memikirkan keadan Master mereka, yang tidak bisa di hubungi sama sekali.


Mereka sudah berusaha melacak keberadaan Sang Putri, namun semuanya menjadi percuma, karena mereka tidak mendapatkan hasil apapun atas usaha pencarian mereka. Sehingga membuat Para Spirit menjadi kecewa sendiri.


"Bagaimana.. Apa kalian sudah mendapatkan kabar tentang Master??" ujar Roya, yang langsung melontarkan pikirannya, saat Jura baru saja tiba di markas.


Jura baru habis berkeliling di dunia manusia.. Begitupun dengan yang lainnya. Kecuali Zaku, Tama, Dan Roya. Mereka di wajibkan tinggal di Zona Mana. kalau-kalau ada pergerakan dari Putri, di sana.


Tak lama setelah Jura masuk kemarkas, Gira, dan Saga pun muncul. Mereka segera di desak dengan Spirit lainnya, yang juga penasaran dengan pencarian mereka.


"Bagaimana hasilnya??" tanya Tama, sambil bersandar pada dinding yang ada di dekat jendela markas.


Gira, dan Saga. Menggelengkan kepala mereka, Tanda mereka telah gagal.


Melihat reaksi dari keduanya! Para Spirit tampak mulai kecewa dan lelah.


Karena mereka masih belum menemukan keberadaan Dewi kecil tersebut hingga sekarang.


Sementara Zaku bolak-balik di tempat, Ia tampak sangat gelisah. sadar akan kegelisahan temannya itu.. Jura pun bergumam memecah keheningan di dalam ruangan yang sunyi.


"Apa yang membuatmu sangat gelisah Zaku?" tanya Jura.


"Cih, tidak perlu di lihat kalau pusing, sialan." jawab Zaku, kesal dengan omongan Tama.


Lalu beberapa saat kemudian, ia melanjutkan kembali menjawab pertanyaan Jura. "Haah.. Aku khawatir, jika Master sampai bertemu dengan orang-orang yang berniat jahat padanya.


Seperti saat ia kabur dari Ayahnya! untung saja saat itu ada Baginda Kaisar.


Jadi beliau bisa selamat, Sedangkan Kaisar sudah memberi kita peringatan!


Jika kali ini, beliau tidak akan datang lagi membantu kita, apapun yang terjadi.


Kalau sampai terjadi sesuatu pada Dewi.. Aku bersumpah, aku akan menghukum mati diriku." ujar Zaku, yang sudah membulatkan tekadnya.


Mendengar pernyataan temannya itu, membuat yang lainnya terdiam membisu saat mendengar ucapan Zaku, Mereka semua merasa tertampar dengan kata-kata Zaku.


"Jika kau sudah bilang begitu.. Aku pun sebagai Spirit Master, tentu saja akan melakukan hal yang sama. Karena kita semua sudah bersumpah setia dan berjanji pada Baginda Kaisar,


Jika kita akan melindungi Dewi dengan nyawa kita sendiri apapun yang terjadi." sambung Saga, yang membuat yang lainnya, ikut mengangguk setuju dengannya.


...***************...


Di tempat lain.. Di waktu yang sama.


"Kakek, Lantas siapa orang yang telah memerintahkanmu untuk merahasiakan tempat ini!? dan, apa statusmu sebenarnya???" tanya Ravella dengan polosnya.


"Gulp,," Garda terkejut dengan pertanyaan Frontal dari Ravella.

__ADS_1


"Ehem, Nak Dewi.. Kelihatanya Saudaraku sudah sampai." gumam Garda, mengalihkan perhatian Ravella.


Usaha Garda mengalihkan perhatian Dewinya itu memang berhasil, nyatanya.. Ravella langsung menoleh kearah kelima bersaudara, yang sudah ada di hadapannya itu.


"Selamat datang kepada Yang Mulia Dewi.. Kami sangat senang, kota ini telah kedatangan Tamu istimewa seperti anda." ujar Saudara tertua, Germa.


Ravella menanggapi dengan tersenyum, namun, karena bingung dengan pernyataan Germa. Ravella mengabaikan Germa begitu saja, dan melihat kearah Garda, lalu berujar padanya.


"Apa maksudnya Kek!!"


Melihat reaksi polos Dewi kecilnya itu... Garda memberi kode pada Saudaranya. dengan sedikit batuk yang di buat-buat.


"Uhuk.. Uhuk.. Kakak, sebaiknya jaga ucapan kalian, saat sedang berhadapan dengan Dewi." gumam Garda, melihat penuh arti.


Germa yang peka dan faham maksud dari saudara kelimanya itu.. Dengan cepat ia menjawab.


"Ahahaha.. Maafkan atas ucapan saya, yang telah membuat Dewi menjadi bingung." ucapnya sambil mengusap kepalanya.


"Senang melihatmu lagi Kek!" ujar Ravella yang masih dalam gendongan Garda. "Kek, turunkan Aku." ujarnya sambil meronta-ronta meminta diturunkan.


"Tidak Apa-apa Nak Dewi, aku lebih senang saat menggendongmu." ujar Garda tersenyum simpul, dan tidak mahu menurunkan Ravella.


'Haah.. Jika seperti ini, dia jadi kelihatan mirip dengan Pak Tua Lannox.' Pikir Ravella, Menghelah nafas.


Keempat Saudara Garda, yang berkulit biru sepertinya.. Tersenyum melihat sikap Garda yang tidak ingin melepaskan Dewi kecilnya itu.


"Mari Dewi.. Akan saya perkenalkan tempat ini pada Dewi." ujar Germ.


Mereka pun berjalan lebih dulu, di susul Garda yang sedang menggendong Ravella dari belakang.


Dan perjalanan kekota Ruga Pun di mulai, namun.. Semua itu batal karena kemurkaan Dewa Zando yang tiba-tiba.


...****************...


Dewa Zando yang baru saja tiba di puncak gunung langit, Sedang berdiri bersama Sosok Damu yang berada di belakangnya dalam diam.


Damu yang selalu setia, tidak pernah bertanya apapun yang di lakukan oleh Dewa Zando. Dewa Zando yang tampak sedang menikmati kediammannya itu..


Tiba-tiba saja bergumam pada Damu, yang membuat Damu terkejut seketika, dan, mau tidak mau harus memberanikan diri untuk bertanya.


"Damu...," panggilnya.. Sambil menatap lurus kedepan.


"Hamba Paduka!


Damu yang berada di belakang Sang Dewa, menunduk dengan patuh sambil menunggu titah, turun dari mulut Sang Paduka.


"Sudah saatnya bagimu, memanggil mereka."


"A-a-apakah telah terjadi sesuatu yang tidak hamba tahu, wahai Paduka??" ujarnya terkejut, dengan titah Dewa Zando tersebut.


Dewa Zando yang masih bungkam, menatap lurus kedepan sambil menyeringai, membuat Damu merinding saat melihatnya seperti itu.


"Kau akan segera tahu nanti." ujarnya ambigu.

__ADS_1


__ADS_2