AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KEPUTUSAN RABARUS


__ADS_3

Di Zona Mana.. Salah satu Telur-telur Raksasa mulai bereaksi.. Kulit telur tiba-tiba terkelupas halus dengan sendirinya..


Pecahan kulit telur mengelupas melayang berterbangan di udara, dan perlahan jatuh ketanah.. Dari jauh tampak Gira sedang duduk bersedekap tangan memperhatikan salah satu telur tersebut.


"Telur itu..! Bukankah itu milik,, Bagaimana bisa? Dimana si Pak Tua Rabarus?? Apa dia tidak memeriksanya..!" ujarnya dengan ekspresi heran, sebab melihat Rabarus mengabaikan telur tersebut.


Sedangkan di atas Gunung, Rabarus yang telah berubah dengan tubuh Mana Beastnya.. Kini melolong menggaung kearah langit luas. "AAAUUUUUUUUUWWWWW!!!"


Gira yang mendengar lolongan sayu itu.. Mengalihkan pandangannya kearah Gunung. Tampak sosok Rubah Api Suci Raksasa, sedang berpijak pada puncak gunung.


Ia melihat kearah langit luas.. Seolah sedang melepaskan kesedihannya.. "Apa yang terjadi pada Rubah Tua Itu? Kenapa ia melolong pilu..!? Kejadian ini persis seperti Tama dulu!" ujarnya mengamati sifat Rabarus dari kejauhan.


Tak lama setelah ia melolong panjang, Rabarus pun menghilang dari gunung tersebut. Begitupun dengan salah satu cangkang telur yang kini telah kosong di tinggal pemiliknya..!


'Haah.. kemana perginya anak itu? Sial, gara-gara memperhatikan Pak Tua itu, aku sampai melupakan telur tersebut. Kemana perginya anak itu?? Baru sekejap aku mengalihkan pandanganku darinya.., kini dia sudah menghilang.' pikirnya panik mencari keberadaan pemilik telur tersebut.


Tiba-tiba suasana di Zona Mana berubah mencengkam! Petir menyambar menghujam di seluruh Zona Mana. Melihat fenomena itu, Gira dengan cepat berlindung dari sambaran tersebut. Ia melindungi dirinya dengan aura pelindung, agar tidak terkena sambaran petir Zaku.


Sementara dari kejauhan, langit terang di penuhi badai petir di mana-mana. Tampak Sosok Rubah Api Putih Raksasa, sedang bertarung dengan Singa Putih Raksasa.


'Hem.. Tidak hanya warna apinya saja yang berubah, bahkan ukuran tubuhnya juga sudah sebanding dengan kami. Padahal ukuran Pak Tua itu dulu tidak begitu, dulu ia terlihat sedikit lebih kecil di bandingkan sekarang.' gumam Jura memikirkan perubahan fisik Rabarus.


"GGGUUAAARRRRRRRRRR!!!! BLEEDUAARRRR!!! BLEEDUUAAARRRR!!! BLEEDUAARRRR!!!" DUUNTAAAM!" setelah auman Zaku yang menggema di langit, tak lama petir pun turun menyambar keras di setiap tempat. Menghujam bagai hujan.


Auman Zaku mengegelegar di langit Zona Mana, membuat seluruh Zona mana bergetar karena auman kerasnya yang membahana. Zaku mengamuk tidak karuan menggaungkan amarahnya terhadap Rabarus.


Kedua raksasa kini saling berhadapan, Entah kenapa Zaku menunjukkan gelagat aneh dan tidak bersahabat sama sekali. Ia yang baru selesai berevolusi, tanpa sebab tiba-tiba langsung menyerang Rabarus, membabi buta.


"GUUAAAAARRRRRR!" aumannya membuat Awan di langit tiba-tiba menghitam, Kilat dan badai petir menyatu dan menyambar Rabarus.


Rabarus melihat kearah awan hitam pekat dan petir yang saat ini sedang bergemuruh kencang, ia hanya menatap sambil menyipitkan kedua matanya. Rabarus tampak masih tenang dan santai, ia bahkan tidak bergidik sedikitpun terhadap auman Zaku.


Ia diam sejenak menyaksikan awan hitam pekat, yang saat ini sedang bergumul dengan petir dan kilat. Semua itu menyatu menghasilkan badai dahsyat. Melihat hal tersebut.. dalam sekejap Rabarus menghilang dari pandangan Zaku.


Rabarus kini telah berpindah berdiri di atas awan.. Ia berjalan pelan, seolah tidak terpengaruh sedikitpun dengan awan petir yang ia pijaki. Ia berjalan menyentuh awan pekat, lalu menurunkan pandangannya pada Zaku yang kini tengah berada di bawah awan.


Angin bertiup kencang, hingga bulu panjang Zaku yang halus seputih salju, berkibar indah di belai angin. Gira yang sejak tadi mengamati dari kejauhan, terpegun seketika menyaksikan kedua Spirit berukuran Raksasa itu, kini tengah saling bertatapan satu sama lain.


'Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Zaku?? Mengapa dia tiba-tiba menyerang Rabarus! ini benar-benar sangat aneh.


Seharusnya Telur Roya yang menetas lebih dulu darinya.. Karena melihat dari perkembangan telur, sudah seharusnya memang Roya yang lebih dulu menetas.

__ADS_1


Tapi, kenapa malah Zaku yang lebih dulu selesai? Sedangkan telur Zaku masih utuh tidak menunjukkan reaksi apapun. Haah... Sial, memikirkan hal yang tidak penting saja sudah membuatku jadi pusing.' pikirnya mencerna kejadian janggal tersebut.


Sedangkan di atas langit.. Zaku menatap tajam pada Rabarus yang kini juga tengah memperhatikannya dari balik awan hitam yang di penuhi dengan gemuruh petir dan kilat.


Tiba-tiba di atas awan, tampak Rabarus menyeringai Sambil menatap Zaku. Kedua Tanduk Api merahnya.. kini berubah menjadi tanduk petir.


'Heuh.....! Tu-tunggu dulu, Apa itu? Kenapa tanduk Apinya berubah menjadi petir emas??' pikir Zaku mengernyitkan keningnya tak percaya. Ia menatap heran pada perubahan tanduk Rabarus.


Begitupun dengan Gira yang saat ini, sedang memandang takjub melihat perubahan tanduk Rabarus. 'Sial, Pak Tua Itu.. Apa lagi sekarang yang akan ia lakukan?? haah.. Sebaiknya kau menyerah saja Zaku!


Aku bahkan merinding hanya dengan melihatnya saja.. Pak Tua itu bukanlah Rabarus yang dulu kita hadapi.' suara hati Gira bergumam memikirkan perubahan Rabarus yang tidak masuk akal, ia tiba-tiba merasa nyeri melihat hal tersebut.


Kedua tanduk Rabarus kini telah berubah menjadi petir.. Berbeda dengan keduanya, Rabarus justru masih belum menyadari apapun.


Tidak hanya perubahan tanduknya yang membuat kedua Spirit itu terkejut, tapi petir yang sedang bergumul bersama awan hitam saat ini.. Semuanya di serap oleh tubuh Rabarus. Petir-petir itu menyatu menjadi satu dengan tubuh Rabarus.


Zaku dan Gira di buat melongo dengan pemandangan menakjubkan tersebut! Rabarus menyerap semua kekuatan petir yang ada di dalam awan hitam, menjadi satu dengan dirinya.


Lalu.. Rabarus melihat kebawah, tampak sosok Zaku yang kini tengah menatap sinis kearahnya. Rabarus menyeringai, dan dalam sekejap petir di tubuhnya.. Berubah menjadi senjata dan menyerang Zaku.


"BLEDEEUUUAAARRRRR!!" petir dengan kekuatan penghancur yang mengerikan, dari ukurannya saja.. Sekali serang bisa menghancurkan satu pulau, petir itu melesap laju menyambar Zaku.


Zaku yang tidak sempat mengelak, dengan cepat melindungi kedua matanya dengan tangan kanannya.. Dan beberapa detik kemudian. Angin yang semula bertiup kencang, kini mulai mereda bertiup sepoi mengibaskan bulu putihnya yang bersinar terkena cahaya matahari. Ia membuka kedua matanya perlahan-lahan.


'Bukankah ini masih di Zona Mana!! Hah.. Berarti aku tidak mati...?' gumamnya pada dirinya sendiri. Kedua matanya terbuka lebar karena masih tak percaya mendapati tubuhnya masih utuh dan tidak hancur, dirinya juga masih hidup.


Tak lama terdengar suara seseorang sedang berbicara dan mendekatinya..


"Tenang saja, kau masih hidup bocah nakal! Jadi tidak perlu mengkhawatirkan yang tidak terjadi. Aku tidak mungkin membunuhmu, justru sebaliknya. Apa yang kau lakukan padaku?"


"Eug! Apa maksudmu?" tanya Zaku, menatap Rabarus tak mengerti.


"Kenapa kau menyerangku dengan nafsu ingin membunuh! Kau tiba-tiba menjadi berang dan menyerang dengan ganas?" tanya Rabarus, memastikan meski ia sudah bisa menebak dengan perubahan sikap Zaku, yang bahkan tidak di sadari Zaku.


"Kau benar! Entahlah, Tiba-tiba aku marah karena merasakan firasat buruk" ungkap Zaku, yang kini kembali menjadi cemas.


'Ternyata memang benar karena masalah itu!' pikir Rabarus, setelah mendengar ucapan Zaku. Rabarus pun langsung berujar. "Ah, iya! aku baru ingat. Sepertinya aku tahu kenapa kau menjadi cemas dan kesal di waktu yang bersamaan" ujar Rabarus ambigu.


"Heh.. Apa maksudmu?" tanya Zaku heran.


"Ayo ikuti aku, kita harus pergi sekarang. Karena aku tidak punya waktu untuk menjelaskan semuanya padamu. Tapi sebelum itu, mari kita temui Gira dulu.

__ADS_1


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Zaku penasaran.


"Ikuti saja.. nanti kau juga akan segera tahu." ujarnya berlalu pergi, meningalkan Zaku dalam kebingungan.


Zaku mengikuti Rabarus dari belakang, dan keduanya menghampiri Gira. dari kejauhan tampak Gira sedang duduk di atas bongkahan batu besar. ia melihat Rabarus dan Zaku berjalan mendekat kearahnya.


"Hah.. Jadi kau telah selesai duluan?" tanya Zaku sinis.


"Hehehe tentu saja.. Untuk itulah aku di sini sekarang." Ujarnya beralasan, membuat Zaku heran.


Gira melihat kearah Rabarus.. Dan langsung menghujani pertanyaan, mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Lalu, bagaimana Pak Tua? Apa keputusanmu??" tanya Gira membuat Zaku semakin bingung dengan percakapan keduanya.


Rabarus diam saat mendengar ucapan Gira, beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan suaranya kembali. "Ayo kita pergi." ujarnya tanpa mengatakan apapun.


"Hah.. Apa kau yakin Pak Tua?" tanya Gira, memastikan kembali pendengarannya akan jawaban Rabarus.


"Heeh.. Tentu saja! Ayo kita berangkat." ujarnya lalu berjalan mendahului memunggungi keduanya. 'Firasatku benar-benar tidak enak! Anak-anak bertahanlah.. Semoga saja kami masih belum terlambat.' gumamnya dalam hati, tampak kekhawatiran bertengger di wajah tampan Rabarus.


Ketiganya pun berangkat meninggalkan Zona Mana.. Zaku yang tidak mengerti apapun hanya mengikuti dengan patuh. Namun ia merasakan perasaan aneh! dadanya tiba-tiba saja merasakan sesak, hatinya menjadi resah. Berbagai pertanyaan bergelayut mengusik ketenangannya.


***


Sesampainya di mansion, ketiga pria tampan itu di buat terkejut dengan pemandangan yang ada di mansion. Sebagian dari mereka berjalan menyusuri tempat tersebut.


Tampak area rumput yang di penuhi dengan sisa gumpalan daging manusia.. Dan darah yang masih segar menempel di atas rumput.


Dari kejauhan, tampak sosok Argus sedang bertarung melawan Para Monster dan Penyihir. Argus yang tengah bertarung tiba-tiba merasakan kehadiran ketiga Pria yang tidak ia kenal.


Kecuali Gira, karena ia pernah melihat Gira saat ia merasakan Aura Ravella, yang sempat membuat Mansion heboh karenanya. Bahkan Duke, di buat khawatir dengan masalah tersebut.


'Ng? Siapa kedua orang yang bersama Pria itu?? Aku belum pernah melihat mereka. Tapi, kenapa aku merasakan perasaan yang tidak asing dengan salah satu Pria diantara mereka!' pikirnya menelaah, sambil bertarung.


Para ULOK yang tidak pernah ada habisnya.. Monster ULOK lain terus berdatangan menyerang Argus yang hanya seorang diri menghadapi mereka, sedangkan jumlah mereka jauh lebih banyak.


'Cih sial.. Monster -Monster Ini tidak ada habisnya..! Mereka juga tidak pernah kelelahan. Terbuat dari apa sebenarnya Tubuh Para monster ini, sialan.. mereka benar-benar merepotkan.' keluhnya yang melihat musuh terus berdatangan menyerangnya. Membuatnya semakin muak dan kesal.


Sedangkan Gira dan Zaku, merasakan perasaan mengerikan datang dari area barat Mansion. Zaku tiba-tiba meneteskan air mata.. Tanpa ia tahu sebabnya kenapa! Keduanyapun bergegas mengikuti Rabarus.


Dalam sekejap ketiganya telah sampai di area Barat, dan saat Mereka melihat temannya dan Zion sedang meregang nyawa kesakitan.


Jura.. ti-tidak, heh.. Bukankah dia..., tidak, Zioooooooonnn.....!" Teriakan pilu Zaku menggema keras di seluruh Mansion.

__ADS_1


Hingga membuat siapapun yang mendengarnya menjadi ngeri.. Sontak saja Emosi Zaku langsung meledak-ledak naik ke ubun-ubun..!


__ADS_2