AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
ZION, ARGUS..


__ADS_3

"Katakan istriku, siapa orangnya? Aku akan melakukan apapun untuk membawa Putri kita kembali." Ujar Lannox tampak bersemangat.


Arabella tersenyum.. Membuat Lannox semakin penasaran.


"Dengar Lan.. Untuk saat ini kita tunda dulu masalah ini. Toh Putri kita bisa mengatasi masalah ini sendiri, ia akan kembali setelah rasa ingin tahunya terjawab. Dan sebaiknya.. kau cepat bangun sayang!!"


"Tidak, aku akan tetap di sini." Ujarnya keras kepala.


"Kau harus segera kembali sekarang, jika tidak.. Siapa yang akan menenangkan kedua Spiritmu yang sedang bertarung, hanya gara-gara masalah sepele."


"Egh, apa maksudmu Arabel!"


"Lihatlah.. Kedua Spirit kesayanganmu itu, mereka berdua bertarung tidak jelas, Kau harus membuat keduanya berhenti berkelahi. Jika tidak, salah-satu di antara mereka akan mati." ujar Arabella mengibas tangannya, dan tampak layar besar, yang mempertontonkan kedua Spirit sedang bertarung.


"Kenapa mereka bisa berkelahi?" Lannox seperti tak percaya dengan apa dilihatnya.


"Haah.. Untuk itu kau harus mencari tahunya sendiri Lan.. ah, dan Spiritmu yang bernama Argus itu, sudah mengalami proses kebangkitan. Kini dia mempunyai kekuatan setengah Dewa, Jadi sebaiknya cepat kau hentikan pertarungan ini suamiku, Jika tidak kucing kesayanganmu akan mati secara sia-sia ditangannya, Karena anak itu bukanlah lawannya."


Arabella mendekati Lannox dan memeluknya, tak lama.


***


'Hmm.. Bukankah ini kamarku!! Hari sudah siang rupanya, berapa lama aku tertidur?'


Lannox bangkit dari ranjangnya.. Lalu mendekati jendela. Ia melihat keluar, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara ledakan dari kejauhan, tak lama terdengar ketukan keras dari luar pintu. Ketukan itu memecah keheningan di dalam kamar, dan Duke segera memerintahkannya untuk masuk.


'Haah.. Ada apa ini, ketukannya keras sekali, apa mereka ingin menghancurkan pintu?! sungguh mengganggu.' pikirnya kesal.


"Tok.. Tok.. Tok.. Yang Mulia, ini saya Darren."


"Masuk."


"Ceklik.. Tap.. Tap.. Yang Mulia!"


"Ada apa sampai kau berlari dan mengetuk pintu seperti ingin menghancurkannya?" Tanya Duke, yang sedang memunggungi prajurit tersebut.


"Yang Mulia.. Di lapangan, kedua Spirit Yang Mulia saling bertarung. Jika Yang Mulia tidak menghentikan amukan keduanya, lama-lama Asrama bisa hancur kerena mereka." Lapornya yang tampak khawatir.


'Oh iya.. Aku hampir lupa, aku baru ingat Arabella pun mengatakan hal yang sama. Cih, apa sebenarnya yang membuat mereka sampai bertarung? apa yang telah aku lewatkan!!' ia berpikir sejenak, Lalu berujar. " Baiklah, aku mengerti. kau kembali saja dulu.. Katakan pada yang lain untuk tetap tenang, aku akan mengurus masalah ini."

__ADS_1


"Baik Yang Mulia.. Kalau begitu saya undur diri dulu." Tak lama Prajurit itupun keluar, dan kamar menjadi hening kembali.


Duke menghelah nafas panjang, tak lama iapun memenggil kedua Spirit miliknya.


'Zion, Argus..'


***


'Ini.. Bukankah ini Suara Master?' Pikir Zion, yang menghentikan serangannya.


'Suara Master!! Beliau sudah sadar.. Beliau sedang memanggil, aku harus kesana sekarang.' Argus melihat kearah Zion. "Kita akan lanjutkan lagi nanti." setelah ia mengatakan keinginannya.. Tak lama Argus pun menghilang di susul oleh Zion.


Keduanya pun kembali kemansion bersamaan, tampak Duke sedang berdiri dibalkon kamar, sambil memegang pagar.


"Saya menghadap Yang Mulia..!" Argus yang baru muncul, dan langsung memberi hormat.


Berbeda dengan. Zion, ia muncul tanpa basa-basi dan langsung menanyakan keadaan sang Master.


"Kau sudah bangun bocah tengik, apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa kau tertidur selama dua hari??"


'Apa...!! Sudah dua hari, pantas saja Arabella menyuruhku segera bangun, sial.. Karena dua Spirit bodoh ini, mimpiku jadi terganggu. Jika tidak karena mereka, sekarang aku masih menikmati waktu berdua dengan istriku.' pikir Duke kesal.


"Cih, sungguh tidak beradab. Kau benar-benar tidak punya sopan-santun sangat sesuai dengan rasmu.." Ujar Argus sarkasme.


"Hah.., di banding kau mahluk busuk yang penuh kemunafikan, aku jauh lebih baik darimu. kata-kata itu sepertinya di tujukan untuk dirimu sendiri.. Heh..!" Balas Zion yang tidak kalah pedasnya, sambil menyeringai.


"Kau..!!" Argus menjadi meradang, ia mengepal kedua tangannya dengan erat seolah ingin meninju Zion.


"Sudah hentikan....!!! Dasar tidak berguna, kalian menjadi Spiritku, bukan untuk saling bertarung sialan." Bentak Lannox, yang tampak kesal pada keduanya.


Keduanya pun langsung terdiam, Argus yang tidak pernah mendengar sang Master Marah kepadanya, kini menjadi bungkam dan hanya tertunduk diam. Sedangkan Zion, yang sama keras kepalanya dengan sang Master, hanya bisa mendecap kesal.


"Cih.. Jika dia tidak ada, aku tidak akan sekesal ini." sahut Zion, menahan amarahnya, lantas membuang mukanya kearah lain.


'Hmm.. Apa karena dia terlalu lama bersamaku? sampai-sampai sikapnya yang tampak keras kepala pun, jadi sangat mirip denganku!!' pikirnya sambil memperhatikan tingkah Zion, Yang tampak seperti cerminan dirinya. "Haah.. Katakan, apa yang membuat kalian berdua bertarung?!"


......................


Di wilayah Monster, Ravella akhirnya bertemu dengan Putra dari Hobgoblin. Tubuhnya jauh lebih besar dari perkiraan mereka, Putra Hobgoblin tersebut setinggi lutut Hobgoblin raksasa.

__ADS_1


"Ayah.. Siapa mereka?" tanyanya.. Kepada sang Ayah yang baru tiba.


"Untuk sementara mereka akan menjadi temanmu nak, baiklah Putri manusia. Nikmatilah waktu kalian.. Aku akan menyiapkan makanan dulu untuk menyambut kalian semua haha."


Setelah menurunkan keduabelas orang tersebut dari tangannya, Hobgoblin itu pun pergi meninggalkan mereka. Melihat kepergian Monster raksasa tersebut semakin menjauh, akhirnya tinggallah Ravella, dan yang lain bersama Putra Hobgoblin.


"Halo.. Aku Ravella, mulai hari ini aku akan menjadi temanmu. Siapa namamu?" tanyanya ramah.


"Ah.. Aku Gayu. Teman..! Tapi kalian terlalu kecil untuk menjadi temanku!!" ujarnya kebingungan.


"Hei nak, ayolah.. Apa kau terlalu pilih-pilih dalam berteman? Pantas saja kau tidak punya teman, jika sifatmu seperti itu!!" ucap Ravella cemberut, sambil bersedekap tangan.


Melihat reaksi Yang Mulia kecil, Jay berbisik kepada Roland.


"Hei komandan, saya perhatikan Yang Mulia kecil, suka menganggap dirinya lebih tua dari yang lain. Contohnya Bayi Naga itu, dan sekarang dengan Putra Hobgoblin.


Terkadang.. Pikiran beliau tampak lebih tua daripada usianya. Dan lagi.. Apa perkataan Putri, tidak terlalu kasar!!" ujar Jay, berbisik.


Roland diam sejenak, mencerna apa yang dikatakan Jay, ia memperhatikan sosok Yang Mulia kecil mereka dalam diam.


'Apa yang dikatakan Jay ada benarnya juga, terkadang memang sikap beliau seperti orang tua.' Pikirnya dalam hati. "Kau tidak perlu memikirkan masalah itu, yang jelas kita harus mencari cara untuk keluar dari sini." ujar Roland kepada Jay.


"Haah.. Tidak bisakah kita bersenang-senang sedikit..! Komandan, kau terlalu serius, sesekali Prajurit seperti kita juga butuh refreshing bukan!!"


"Refreshing kepalamu.. Apa kau lupa kalau mereka itu Monster! Jangan lengah dengan keadaan yang tampak nyaman seperti sekarang. Justru kita sebagai yang lebih dewasa dari Yang Mulia kecillah, yang harus berpikiran realistis.


Jangan ikut terbuai dengan suasana seperti ini.. Kau bukan anak kecil lagi. Seharusnya kau yang sudah pernah bertarung dengan mereka, bisa mengerti itu. tapi kenapa sekarang otakmu jadi seperti anak-anak..!"


"Cih.. Komandan, anda keterlaluan. Aku menikmatinya.. karena selama ini kita tidak pernah bisa bersantai seperti sekarang." ujar Jay, yang di angguki prajurit lain.


"Diamlah, percuma aku bicara denganmu." Roland tampak malas meladeni Jay. 'Aku harus lebih waspada pada anak itu.. Meskipun dia masih anak-anak tapi, dengan ukuran tubuhnya yang lebih besar dari kami.


Dan dengan perkataan Putri yang blak-blakan, bisa saja dia marah dan melampiaskan amarahnya itu. Tapi untungnya kami mempunyai pengalaman bertarung dengan para Monster, jadi Monster kecil sepertinya bisa kami atasi dengan mudah, jika dia bertindak diluar kendali.' Roland sedang memutar otak, untuk melumpuhkan anak Hobgoblin tersebut.


Sedangkan Putri Ravella.. bisa akrab sangat cepat dengan Putra Hobgoblin tersebut.


"Ah, aku bukan pilih-pilih seperti yang kau katakan, hanya saja.. aku belum pernah bertemu ras sepertimu! Apakah kau juga jenis lain dari ras Hobgoblin seperti kami?" tanya Gayu polos.


"Hahaha.. Ternyata kau memang masih bocah ya.. berapa usiamu?" tanya Ravella bersikap lebih tua dari Gayu.

__ADS_1


__ADS_2