
Di Langit Kastil.. Pertempuran hebat pun terjadi. Pasukan Damu terus membantai pasukan musuh.
Meskipun jumlah mereka lebih sedikit.. Tapi hal tersebut tak menyurutkan semangat mereka sedikitpun.
Sedangkan jumlah pasukan musuh semakin berkurang, dari yang nominalnya seribu! Kini menjadi delapan ratus orang..
Berbeda dengan pasukan Damu, tidak ada satupun di antara mereka yang terkena cedera. Justru mereka terlihat baik-baik saja setelah menghadapi seribu prajurit.
Melihat hal tersebut, meski Sang Pemimpin sedang bertarung dengan Damu.. Namun matanya sekilas-sekilas melihat kearah pasukannya.
Padahal ia sangat yakin bisa mengalahkan mereka dalam sekejap, apalagi jumlah mereka lebih banyak dari pasukan musuh yang mereka hadapi sekarang.
Hinggga timbul pertanyaan di hati terkecilnya.. Yang membuat dia heran tidak percaya apa yang sedang dia lihat.
'Siapa mereka sebenarnya..? Kenapa jumlah pasukan mereka tidak berkurang sedikitpun? Malah pasukanku, yang banyak mengalami luka-luka.
Dan sebagian ada yang tidak bisa ikut bertarung lagi.. Oh Dewa, Kenapa bisa begini? Bukankah pasukan kami, adalah yang terbaik ketiga di antara para pasukan milik Dewa..!!'
Gumamnya dalam hati merasa heran, sementara itu.. Damu yang tertawa menyeringai melihat ekspresinya.
"Hem.. Kemana kau melihat di saat sedang berhadapan dengan musuh? Jangan lengah, kalian bisa celaka! SYIUUUNNNNGGGGG..."
Serangan hebat pun di lepaskan kearah Damu.. Yang sedang berbicara padanya, tanpa ia sadari kehadiran Damu.
"BOOOOMMMMM KRUUUUSSSSHHHH.." ledakan hebat pun terjadi...
Damu yang melihat serangan tersebut, segera menghindar. Ia tidak menyangka Pria yang seorang pemimpin merespon dengan terkejut akan kehadirannya, yang tiba-tiba mendekat.
'Hem.. Kenapa ia seterkejut itu? Bukankah seharusnya dia menyadari kehadiranku! Sangat aneh sekali, pemimpin pasukan yang memegang kendali terhadap seribu pasukan.
Kini malah terlihat tidak ada apa-apanya sama sekali di mataku! Lalu.. kenapa malah dia yang di utus memimpin pasukan terbaik?
Tidak hanya itu.. Bahkan, yang katanya pasukan terbaik pun tidak bisa mengalahkan seratus prajurit yang telah di utus Sang Paduka..!
Haah.. Bisa-bisanya tadi aku sempat meragukan beliau! Aku menyesal dengan apa yang kupikirkan. Maafkan hamba, wahai Paduka..' gumamnya dalam hati.
Setelah ledakan besar tersebut, Damu masih melayang di udara, melihat dari juah ledakan tersebut. Sedangkan Pemimpin musuh mencari keberadaan Damu, yang telah menghilang begitu saja.. Setelah serangan besar yang ia arahkan pada Damu.
'Dimana dia? Apa dia berhasil terkena seranganku!!' ucapnya sambil celingak-celinguk mencari sosok Damu.
Tak lama Damu langsung muncul di belakangnya, sambil bergumam di samping telinga Pria itu! "Apa kau mencariku"
Mendengar suara Damu, pria itu merinding dan dengan cepat menghindar menjauh dari sosoknya yang tidak bisa ia rasakan kehadirannya itu.
"Bwuusssshhh.... Siapa kau sebenaranya?" ujarnya saat sudah menjauh dari Damu.
"Heem.. Entahlah, kami hanya prajurit biasa yang di utus untuk menghadang kalian!!" ujarnya merendah, sambil melayang dan berpindah mengalihkan perhatiannya dari sosok sang pemimpin,
Ia melihat kearah para pasukan yang sedang bertarung sengit saat ini, Damu melipat kedua tangannya.. Dan memperhatikan seratus prajurit yang telah di bawanya.
Mereka sangat gesit dan lincah saat bertarung, bahkan lawan pun, tidak bisa melihat pergerakan mereka. Melihat reaksi Garda, yang mengabaikannya.. Pria itu sangat marah dan bergumam.
__ADS_1
"Cih, jangan remehkan kami... Hanya karena kalian labih unggul dari kami saat ini." ujarnya merasa kesal.
Meski apa yang di lihatnya saat ini adalah kenyataan.. Pasukannya yang masih bertahan, kini hanya tinggal lima ratus orang.
'Sial, jika begini terus kami akan kalah telak!' Tidak terima melihat pasukannya banyak di bantai, Pria itu pun langsung menyerang Damu dengan brutal.
Ia mengeluarkan pedang miliknya.. Sebuah pedang yang bisa terbang mengikuti pikirannya. "BWUSSSHHH.. CIUUUUSSS.."
Darah segar mengalir keluar menembusi lengan kanannya.. Meski ia hanya sedikit tergores, akan tetapi.. Ia berhasil mengenainya.
Tanpa Damu menyadari kehadiran pedang tersebut, setelah melukai lengan kanan Damu, pedang itu melayang kembali menuju tuannya.
Melihat Damu yang masih bisa bersikap tenang setelah di serang, membuat kedua alis tebalnya mengernyit heran.
'Meski aku berhasil melukainya, tetapi kenapa responnya biasa saja? Apa dia meremehkan ku Hah, Apa....!!! Tidak mungkin!!' ia terkejut saat melihat Damu bisa menyembuhkan lukanya sendiri.
Lukanya beregenerasi dengan sendirinya.. Melihat reaksi musuh yang ada di hadapannya sekarang..., Damu bergumam sambil menyeringai padanya.
"Aku bertanya-tanya.. Apa benar kalian Prajurit terbaik ketiga!! Melihat bagaimana lemahnya kalian saat ini, heeh.. Ternyata kalian tidak seperti yang di gembar-gemborkan" tampak tatapan merendahkan dari Damu.
Dan Pria itu mulai bertambah kesal, mendengar ucapan Damu, ia kembali ingin menyerang akan tetapi, Tak lama.. Terdengar langit bergemuruh seolah memberi tanda untuk segera berhenti.
"GELEDUK.. GELEDUK.. GELEDUK.. JEDUAARRRR."
Mendengar hal tersebut, Semua pasukan berhenti bertarung, dan melihat kearah langit yang sekarang sedang bergemuruh kencang. Bahkan Damu pun ikut melihat ke langit tersebut..
...****************...
Begitupun dengan para Spirit yang ikut bereaksi seperti Zion, Tak lama.. Rabarus bergumam mencairkan suasana dalam ruangan.
"Mungkin akan segera turun hujan.." ujarnya pada yang lain.
"Ya bisa jadi.." sambung Tama.
Tak lama Zion menyela, pembicaran kedua beranak itu.. Yang membuat semuanya terkejut saat mendengar pertanyaan darinya.
"Omong-omong sejak kapan anda ada di sini? Bukankah anda langsung menghilang setelah kejadian saat itu.
Meski begitu.. Aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkan Dewi kecilku. Aku sudah mendengar semuanya dari Kakek. Tentangmu."
"Hem..hem.. Sudah sepantasnya aku menyelamatkan beliau, bukan begitu anak-anak..!?" ujar Rabarus menyeringai melihat kearah Para Spirit.
Jura terbatuk mendengar ucapan Rabarus.. "Uhuk.. Uhuk.." 'hati-hati dengan mulutmu Pak Tua!' gumamnya bertelepati dengan Rabarus. reaksi Jura membuat Zion heran. Namun ia segera mengabaikannya.. Setelah melihat pergerakan Lannox yang mulai tersadar.
"Kau sudah bangun Bocah?" ujarnya menyapa Lannox, yang sedang meregangkan ototnya.
Lannox berpura-pura secara alami jika ia baru saja terbangun, padahal ia sudah terjaga sejak tadi, saat Para Spirit muncul menyapa Zion.
"Haa.. Ada apa ini? Kenapa kamarku di penuhi dengan banyak orang!!" ujarnya kepada para Spirit yang sebenarnya sudah tahu, jika ia sudah sadar dan mendengarkan semua pembicaraan mereka.
Namun mereka berpura-pura tidak tahu, dan mengabaikannya begitu saja, karena Zion tidak menyadari hal tersebut.
__ADS_1
Di karenakan Zion terlalu fokus memarahi para Spirit, Saat menyadari kemunculan mereka.. yang sempat menghilang begitu saja.
Sedangkan Zaku, yang berseringai saat mendengar Lannox yang sangat pintar bersikap alami, seolah ia benar-benar baru bangun.
Dan Zaku dengan isengnya menjawab, membuat Lannox mengeryit tajam padanya. "Cih, kau pasti lebih tahu kenapa bukan?" ujar Zaku dengan satu alis terangkat.
Lannox yang cepat tanggap, menatap tajam kearah Zaku. Melihat reaksi Zaku, ia sadar jika ketujuh Pria itu telah menyadarinya.
Jika ia sedang menguping pembicaraan mereka, hanya Zion yang tidak mengetahui hal itu. Dan Zion, dengan entengnya berbicara, membuat Lannox tidak senang mendengarnya.
Karena ia merasa Zion berpihak pada Kakeknya... "Benar, merekakan Spirit Putrimu, jadi sudah sepantasnya mereka ada disini." ujarnya yang tidak tahu apapun.
Mata Lannox menyipit tajam pada Zion, sedangkan Zion tidak mengerti dengan respon Masternya itu.. Yang tampak tidak suka dengan jawabannya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Bukankah apa yang aku katakan itu benar!!" ujarnya polos.
"Sebaiknya, kalian semua pergi dari sini, termasuk kau Zion.. biarkan aku dan Putriku sendiri. Sebaiknya kalian jangan mengganggu, karena Putriku bisa terbangun karena kehadiran kalian yang berisik." ujarnya kesal.
Lannox langsung berdiri, dan mengangkat Putrinya yang tengah terbaring di tubuh Zion dengan sangat nyenyaknya.
Ia mengangkatnya perlahan, agar Putrunya tidak terbangun dan memindahkannya keatas kasur miliknya.
Melihat reaksi Sang Master, Zion berucap yang mebuat para Spirit hanya bisa berseringai mendengarnya..
"Cih, ada apa dengan anak itu? Apa dia sedang menstruasi.. Tiba-tiba saja mengusirku!!" ujarnya menatap kesal melihat respon Lannox yang mengabaikannya begitu saja.
"Puk.. Puk.. Heem.. Hem.. Sudah biarkan saja Mastermu. mungkin ia sedang ingin berduan dengan Putrinya, tanpa di ganggu oleh kita Para Spirit."
Gumam Zaku menyindir Lannox, sambil menepuk punggung Cucu kesayangannya itu. Lannox yang mendengar sindiran Zaku, hanya bersikap acuh seolah ia tidak mendengarkannya.
Dan setelah mengatakan itu.. Zaku dan yang lain pun pergi meninggalkan Lannox dan Putrinya.
Lannox yang merasa tenang setelah kepergian Para Spirit, segera turun dari ranjang, dan membunyikan lonceng memanggil para Pelayan.
"Tok.. Tok.. Tok.."
"Masuk.."
"Ceklik" wakil kepala pelayan dan kedua pelayan berdiri di hadapan Duke.
"Apa perintah anda Yang Mulia.."
"Segera bawakan makanan, dan panggil Emilio kemari." perintahnya.
"Baik Yang Mulia.. Kalau begitu kami undur diri dulu." ujarnya lalu pergi meninggalkan kamar.
Setelah melihat kepergian mereka, Lannox duduk di pinggir ranjang di samping Putrinya yang masih terlelap, ia mengusap rambut putrinya yang terkadang warna rambutnya bisa berubah-ubah itu.
'besok kita akan kembali kemansion, aku harap Putriku senang mendengar hal ini.. Dan mau berbicara lagi dan tidak murung.' pikirnya tampak cemas, dengan perubahan sikap putrinya yang selalu tampak murung dan sedih.
Tapi di satu sisi.. ia sangat senang, Karena Putrinya sangat manja padanya.
__ADS_1