
Hari sudah berganti malam, Roya berdiri dibalkon kamar sambil menatap langit gelap. Sesekali pohon-pohon bergoyang dibelai oleh angin. Memasuki purnama keempat belas, para spirit semakin gelisah. Meskipun mereka tidak tahu, musuh yang seperti apa yang akan mereka hadapi..! Jika itu para monster, mereka bisa mengatasinya dengan mudah. namun, Jika yang datang adalah Dewa! Sudah tentu mereka tidak akan sanggup menghadapinya.
Biarpun para Spirit sudah berusaha keras untuk berlatih, namun kenyataannya.. mereka masih belum yakin, apakah mereka mampu menghadapinya, atau tidak..!!
'Tama, masih belum juga kembali, kemana anak itu??' pikir Roya.
Sementara yang lainnya.. tidak ingin menyiakan waktu luang mereka dengan sia-sia. dan ketiganya sedang fokus melatih pusat energi. Saga dan Gira mengisi waktu luang dengan bersemedi, begitupun dengan Zaku. Sementara Jura.. Sedang berada di atas atap mansion. Sedangkan Zion, tengah berbincang dengan Lannox.
"lalu.. Apa yang akan kau lakukan dengan para ketiga bocah, di perbatasan?" tanya Zion menunggu jawaban.
Lannox diam sejenak, ia sedang berpikir, tindakan apa yang akan dia ambil, untuk mengusir informan kaisar. Dan beberapa detik kemudian, terlintas ide di kepalanya.
"Rauf, Lobi!!!" serunya.
"wuusshh.. wuusshh.. Saya menghadap Yang Mulia." dalam sekejap, kedua kesatria bayangan milik Duke pun muncul.
"Rauf, Lobi, aku ada misi penting untuk kalian berdua!!" ujar Lannox serius.
"Apa itu.. Yang Mulia?" tanya keduanya bersemangat.
"aku ingin kalian menyebarkan Rumor, tentang tiga informan kaisar, di seluruh ibukota kekaisaran ini. Dan kata kuncinya adalah..! (KUMBANG HITAM) lakukan sekarang."
Note: (KUMBANG HITAM, adalah kamuflase dari misi tidak terduga, dimana tidak terdapat rencana dalam misi tersebut. Pembawa pesan bebas melakukan tindakan apa pun, baik itu menyebar atau menggali informasi lebih dalam lagi, tidak ada aturan, dan tidak ada batasan.)
Mendengar perkataan terakhir Duke, Rauf dan Lobi, saling melirik dan mengangguk tanda mengerti.
"baik, kami mengerti Yang Mulia, kalau begitu.. Kami izin pamit." ujar Rauf mewakili.
"bwussshhh.. bwussshhh.." keduanyapun menghilang.
Setelah keduanya pergi, Zion membuka suaranya.
"apa yang kau rencanakan? Dengan memakai trik yang sama dengan Orsi??"
__ADS_1
"heh.. Kau akan mengerti nanti." ujar Lannox menyeringai.
'hem.. Apa sebenarnya yang bocah ini rencanakan?' tatapan Zion menyipit, seolah sedang menyelidik. 'cih.. Ekspresi licik itu, aku sangat mengenalinya. Mungkinkah...!! Hmm.. sepertinya, sesuatu yang menarik akan segera terjadi.' pikirnya.
"hmm.. Omong-omong dimana Si Naga Hitam?? Bukankah seharusnya, dia menjaga Putriku?" tanya Lannox, sambil mencari keberadaannya.
"jangan khawatir, beliau sedang ada di atas atap mansion." ujar Zion, sambil menjilat tangannya.. seperti kucing.
"ha.. Memangnya apa yang dia lakukan diluar?"
"untuk berjaga-jaga siapa tahu, ada penyusup yang tak di undang, karena kehadiran musuh tidak bisa kita Prediksi. Jadi, untuk mewaspadai kemungkinan yang terjadi, beliau merasa lebih baik ada diluar. dan menjadi perisai utama, bagi mansion. Dan apa pun yang terjadi nanti, ingatlah satu hal.. keselamatanmu dan Putrimu, adalah yang paling utama." Ujarnya Tegas, layaknya orangtua kepada anaknya.
Mendengar perkataan Spirit miliknya, Lannox melemaskan diri, bersandar pada sofa hijau, yang ia duduki. Lalu.. Ia Menatap plafon kamarnya, sambil bergumam.
"haah.. berarti.. besok adalah purnama penuh! Dan, Putriku akan segera terbangun. Aku tidak sabar ingin melihat kedua matanya, dan memanggilku Ayah."
"cih, jangan senang dulu, berdoalah agar hari esok.. berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan. Aku tidak bisa memberimu kepastian, karena aku juga tidak bisa memprediksi masa depan. Namun, akan selalu ada harapan, agar kau tidak berhenti menyerah, untuk meraih apa yang kau inginkan."
"heh.. Di pertengahan kata-katamu hinggan akhir, sepertinya ditujukan untuk dirimu!! Apa kau sedang menyukai seseorang?!!" tanya Lannox. Menyelidik apa yang sempat ia lupakan, beberapa hari lalu.
Lannox menyeringai mendengar ocehan Zion, namun ia terus melanjutkan berbicara dan mengabaikan Zion, yang menatapnya.
"hmm.. Ketika hati sudah terkunci pada seseorang, dunia ini akan terasa begitu indah. Meski pun, cinta itu tumbuh hari demi hari, dan mekar dalam diam. Perasaan itu akan terus berkembang, ingin selalu disiram. Rasa dahaga ingin memiliki.. Semakin lama akan membuatmu menjadi gila, kau akan kecanduan ingin berada di dekatnya, dan menatap wajahnya. serta memeluknya untuk melepas kerinduanmu. Dan.. jika kau tidak bisa melihatnya sebentar saja.. Akan muncul rasa rindu yang sangat dalam. Dan rasa itu, akan terus menyiksamu. rindu yang tak akan berhenti kecuali, saat ia datang membalas perasaanmu, dan memelukmu, dengan perasaan yang sama." Lannox bergumam dengan lirih.
Tampak kesedihan singgah di wajah tampannya, tanpa ia sadari.. Air mata jatuh menimpa pipi mulusnya. Lalu ia bangun dari duduknya, dan melihat sekilas kearah Zion.
"akui saja pak tua, kau sedang jatuh cinta pada seseorang bukan!" ujarnya tersenyum lembut.
Zion, tidak bisa mengelak lagi, namun, ia merasa penasaran. Bagaimana Lannox bisa tahu, apa yang sedang ia rasakan.
"kau pasti penasaran, bagaimana aku bisa tahu bukan? Hem.. Tentu saja aku tahu, karena aku pernah merasakannya, bahkan hingga sekarang.. rindu itu tidak pernah berhenti. Kecuali.." ia melirik kearah putrinya.. yang masih tertidur, dan melanjutkan lagi berbicara. "harta satu-satunya yang ia tinggalkan untukku, Dan itulah yang telah menjadi penawar rinduku padanya. sampai aku bisa bertahan hingga saat ini." ujarnya dengan lirih.
setelah ia meluahkan perasaannya yang selalu ia sembunyikan, ia pun pergi melangkah pelan.. Kembali naik keranjang, dan memeluk Gadis kecilnya. Tapi air mata itu tidak berhenti dan terus mengalir tanpa izin, Lannox hanya bisa menangis tanpa suara. Hingga akhirnya ia tertidur lelap, sambil memeluk Gadis kecilnya.
__ADS_1
'anak itu sudah berusaha dengan sangat baik selama ini.. Hanya untuk menyembunyikan kerinduannya. Perasaan menyiksa karena di tinggalkan, telah membuat lubang dihatinya semakin dalam. Dan, lubang itu hanya bisa terisi dengan kehadiran mendiang istrinya.'
Zion berjalan pelan.. berdiri disamping ranjang tempat Lannox berbaring. Ia menatap lekat pada kedua anak manusia.. yang sedang terlelap itu, dalam seketika muncul asap putih pada tubuh singa putih itu, dan berubah menjadi manusia.
'aku merperhatikan masterku, yang sedang tertidur, masih ada jejak air mata yang tertinggal di wajahnya. Kau telah banyak menderita nak! Dan hartamu satu-satunya adalah hadiah terindah darinya. Aku berjanji pada jiwaku, wahai Dewa.. Saksikanlah sumpahku. aku bersumpah akan melindungi kedua anak ini, dan beserta keturunannya.. dengan segenap jiwaku. Aku akan menjaga mereka layaknya anak-anakku sendiri, hingga nafas terakhirku.'
...........
Di suatu tempat yang gelap tak terlihat, dan tak terjangkau oleh siapapun.. Seseorang yang sangat misterius, sedang duduk di atas singgasana kebesaran miliknya. Ia duduk menyatu dalam kegelapan malam, dan menyaksikan apa yang terjadi. sambil melipat kaki, dan memiringkan kepalanya kesamping, dengan rahang pipi yang ditopang di atas kepalan tangannya. Kemudian ia tersenyum, dan bergumam pelan.
"hem..hem.. aku telah mendengar sumpahmu bocah nakal, karena kau telah tulus mengucapkan sumpahmu, untuk melindungi Permaisuriku. sebagai ganti aku menerima sumpahmu.. Dengarkanlah tanda yang aku berikan ini." sang Dewa mengetuk satu jarinya. "tek"
"Gledukk.. Gledukk.. Jedduuaarrrr.."
Setelah Zion mengucapkan sumpahnya, tiba-tiba saja terdengar suara menggelegar di atas langit, memecah keheningan malam, seolah-olah langit akan di buat runtuh olehnya. Dan, anehnya lagi.. suara tersebut hanya bisa didengar oleh Zion sendiri.
'bukankah itu suara petir, hmm.. Apakah itu tanda Dewa, telah mendengarkan sumpahku?!!' pikirnya, sambil melihat keluar jendela.
Zion, berjalan menghampiri jendela.. Ia menyingkap tirai tipis, yang menutupi jendela kamar dan melihat kearah langit.
'tapi tidak ada mendung ataupun petir, lalu darimana datangnya asal suara itu..! Hmm, untuk memastikannya aku akan menyakannya pada Kakek Jura, atau Kek Roya.' setelah itu ia menutup kembali tirai tersebut.
Asap putih muncul lagi, dan keluar dari tubuhnya, Zion kembali kedalam bentuk Singa Putih. Kemudian Ia masuk, dan tenggelam dalam bayangan.
...****************...
Roya memperhatikan ketiga temannya sedang fokus bersemedi. Dari luar jendela di dekat balkon kamar. Sedangkan Jura berada di atap Mansion, ia sedang berdiri diam, sambil melipat tangan kebelakang. melihat dan memantau keadaan disekitar mansion.
Roya memperhatikan Lannox, dan zion, dalam diam. Tampak keduanya sedang berbincang serius. Tidak ingin mengganggu keduanya, ia pun terjun dari balkon, dan bertransformasi menjadi burung elang biasa. lalu ia melaju cepat, terbang tinggi berputar mengitari langit mansion.
"kyeeeaaaaaaaakkkggg.. Kyeeeaaaaaaaakkkggg..." Roya memekik lantang, di keheningan malam.
Bulan bersinar terang, tampak bintang-bintang muncul, bagai butiran pasir yang bertebaran di seluruh angkasa.
__ADS_1
'hmm.. tampaknya ia sedang bosan!!' Jura memperhatikan temannya sekilas, kemudian ia kembali fokus mengawasi keadaan sekitar.
'hari ini sudah memasuki empat belas purnama.. Dan besok adalah hari sadarnya nak Dewi. Dan jika benar seperti yang dikatakan oleh Paduka, Gerhana akan terjadi besok malam, saat purnama penuh. Ini benar-benar membuatku tidak bisa tenang, dan kenapa Tama belum juga kembali.. Di mana anak itu? Apa mungkin dia mendapat..' sadar akan sesuatu, Jura melirik kearah Roya. 'Roya, apa kau merasakannya juga..?!!'