
"tok.. tok.. putri ravella! ini saya reni putri."
"reni..! masuklah," saat reni membuka pintu, ravella langsung berlari memeluk reni.
"puk reni, aku sangat rindu padamu. bagaimana kabar ibumu..?"
"saya juga merindukan anda putri, berkat bantuan anda, ibu saya telah pulih dan sehat, dan bisa beraktivitas kembali seperti biasanya, terimakasih banyak putri. sungguh saya tidak bisa membalasnya, hanya kesetiaan dan pengabdian yang bisa saya berikan pada anda putri."
"syukurlah, tidak apa-apa reni, kau telah merawatku sejak kecil, dan itu tidak ada apa-apanya bagiku."
"sekali lagi terimakasih putri."
"oya mulai sekarang, kau akan bekerja sama dengan marri untuk merawatku."
"baik putri. putri saya dengar, tidak lama lagi.. akan di adakan pesta penyambutan, untuk singa kekaisaran. dan putri juga, harus menghadirinya."
"apakah harus!!"
"tentu saja putri..! karena anda telah di undang secara langsung oleh kaisar."
"kenapa begitu?"
"karena putri adalah keluarga yang mulia duke, ya.. walaupun sebenarnya! Yang mulia tidak pernah ingin membawa anda. akan tetapi kaisar tetap memaksa beliau."
"kenapa ayah tidak mahu membawaku, apa ayah malu mengakuiku?"
reni terlihat panik dia tidak menyangka, kata-katanya disalah artikan oleh ravella.
"eh tidak, bukan begitu putri.. itu tidak seperti yang anda pikirkan!"
"apa maksudmu!"
"i..ia, yang mulia memang tidak ingin mengajak anda, tapi bukan karena malu putri."
'hmm reni terlihat lucu kalau sedang panik, aku jadi ingin menjahilinya.'
"terus karena apa! jika benar ayah tidak menyukaiku, aku akan pergi dari sini!"
'oh, tidak, aku salah bicara.'
"b..bukan begitu putri, ayah anda tidak mengajak anda pergi , itu karena beliau takut, putri akan dimanfaatkan oleh kaisar."
"benarkah, kenapa?"
'kenapa reni keliatan takut sekali'
"ada apa reni, kenapa kau diam?"
'bisa bahaya, kalau aku bicara sembarangan, apa lagi bisa saja mata-mata kaisar ada disini.' "s..saya akan mengatakannya, t..tapi saya mohon rahasiakan apa yang anda dengar putri.!"
'kenapa dia seserius itu..?'
"baiklah! akan kulakukan memangnya apa itu?"
"saya dengar-dengar kaisar, ingin memanfaatkan anda untuk menundukkan yang mulia."
'aku pikir apa! sampai reni berbisik segala.'
"darimana kau dengar isu seperti itu reni?"
"i..ini bukan hanya isu putri, bahkan pelayan di istana kaisar sempat bergosip tentang ini, hingga sampai ditelinga para kesatria kita, yang sempat ditugaskan disana."
"baiklah, anggap itu benar. tapi tetap saja tidak semudah itu mereka bisa menundukkan ayah, reni. dan aku juga tidak sebodoh itu, sampai mahu dimanfaatkan oleh mereka."
"m..maaf putri, saya tidak pernah berpikir seperti itu."
"tidak apa-apa reni, lupakan masalah ini. jangan sampai disalah fahami oleh orang yang mendengar, bisa-bisa kau dalam bahaya reni."
"b..baik putri saya akan berhati-hati dengan omongan saya"
......................
"bagaiman ron! apa kau sudah mempersiapkannya?"
"sudah komandan, saya sudah mengatur seperti yang anda perintahkan."
"bagus sekarang tinggal menunggu pasukan bayangan tiba."
"baik komandan"
"hi Roland, apa kami terlambat?"
"ah ya.. lumayan, baiklah karena sekarang kita sudah berkumpul, tinggal menunggunya saja sebentar lagi beliau sampai, untuk menghindari kecurigaan ayo kita berpencar."
"siap komandan"
"reni, marri, mengapa mansion ini sunyi sekali? dimana para kesatria! apakah mereka mendapat misi lagi..?"
"i..itu saya, kurang tahu juga putri. sejak pagi pagi sekali, mereka beramai-ramai pergi ketempat latihan, di kawasan timur."
"apa! jadi mereka semua pergi latihan, sampai meninggalkan mansion dalam keadaan kosong begini!! bagaimana jika ada musuh datang secara tiba-tiba, lalu menyerang?"
"s..saya juga kurang tahu putri." ujar marri gugup
"apa ayah mengetahuinya?"
"i..itu saya tidak tahu putri."
"kalau begitu, ayo kita kesana sekarang."
"t..tapi putri, area lapangan itu sangat jauh dari sini, nanti anda bisa kelelahan."
"hehe apa kau meremehkanku reni,"
"eh.. t..tidak seperti itu putri, saya tidak berani berpikir seperti itu."
"kalau begitu, aku akan ganti baju dulu, memakai gaun saat berjalan jauh, itu sangat tidak nyaman."
"baik putri"
__ADS_1
ravellapun memakai setelan celana hitam dan kemeja putih, dan mengepang rambut indahnya, dan memakai sepatu boot hitam, lalu mereka berangkat ketempat latihan. namun yang terjadi.. sungguh diluar perkiraan ravella.
"bag.. bag.. bag.. bag.. bruggg. hormat yang mulia putri, terimalah sumpah kami, kami berjanji. akan bersumpah setia melindungi putri dengan seluruh jiwa kami, dan kami tidak akan berdiri.. sebelum yang mulia putri menerima sumpah kami."
"t..tunggu! a..apa ini! bahkan ayah juga ada disini? ayah apa yang terjadi? mengapa para prajurid! euh, tunggu! bukankah mereka sedang latihan? lantas apa ini..!"
ravella yang kebingungan, dengan sumpah para prajurid. juga melihat sang ayah berdiri disana, hanya berdiri diam, sambil bersedekap tangan melihat tingkah mereka.
"Ayah juga tidak tahu nak, tiba-tiba mereka mengajak ayah kemari, dan bilang ingin memberi kejutan untukmu. dan, inilah yang terjadi sekarang. jadi sayang, apa yang akan kau lakukan? apa kau akan diam saja, membiarkan mereka seperti itu!"
"huh! ini benar-benar merepotkan."
'apa mereka sudah gila! atau aku yang bisa gila? belum tingkah si pak tua yang protektif, begitupun para roh spirit, dan Sekarang, di tambah para prajurid yang bertingkah semaunya. aku bisa-bisa tua sebelum waktunya, apa yang harus aku lakukan!'
"kenapa kau diam saja sayang, apa kau keberatan!"
"apa ayah tidak keberatan? mereka ini semuanya adalah prajurit milikmu ayah! jika mereka melakukan sumpah kesatria padaku lanstas bagaimana denganmu ayah?"
"sayangku, mereka tetap prajuritku, namun mereka juga milikmu kau bisa memegang kendali militer ditanganmu. selama itu untukmu, ayah rela memberikan apapun, bahkan nyawa ayah sekalipun, karena kau adalah hartaku nak."
'oh, tidak! pak tua ini sudah gila! bisa-bisanya dia menggadaikan nyawanya semudah itu. huh aku benar-benar menyesal datang ketempat ini,,'
"hmm, bagaimana jika aku menolak!"
"kami tidak akan pernah beranjak dari tempat ini, kami akan terus menunggu yang mulia putri, sampai menerima sumpah kami." ucap mereka serentak.
'ternyata tidak hanya si ayah yang gila, bahkan para prajuritnya juga ikutan gila'
roland datang kehadapan ravella, dan memberinya pedang untuk menerima sumpah kesatria. ravella melihat pedang itu dengan bingung, lalu mencoba memegangnya dengan bantuan mana angin, pedang itupun menjadi lebih ringan. jika dia tidak menggunakan mana, pedang itu akan sangat berat, tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang kecil.
'hmm biasanya! sumpah ini dilakukan untuk menerima kesatri pribadi, itupun satu orang kesatria, akan tetapi ini ini terlalu banyak. menerima sumpah, dari keseluruhan pasukan militer. ini benar-benar gila! apalagi.. memimpin pasukan militer terbesar dikekaisaran. huh, apa yang harus aku lakukan? tidak mungkinkan, aku suruh mereka guling-guling manja. rasanya aku juga sudah ikutan gila sekarang.'
"sayang jangan ragu! lakukanlah dengan percaya diri."
"hmmm baiklah."
ravella berjalan mendekati, kehadapan para prajurit. para prajurit yang menunggu keputusan ravella, menantikan dengan hati yang berdebar. ravella melayang sedikit tinggi agar tubuhnya bisa terlihat oleh semua pasukan. lalu, dia menghunuskan pedangnya, kearah seluruh pasukan.
"aku ravella nasya rallex, menerima sumpah para kesatria. sekarang bangunlah!"
setelah menerima sumpah, ravella turun perlahan. namun, kekaguman tak henti-hentinya mengarah padanya. setiap mata yang melihat tak hanya terpesona bahkan mereka sanggup mengorbankan nyawa mereka, jika itu! yang diinginkan sang putri.
"apa! kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"kami sangat bangga memiliki putri seperti anda" jawab roland singkat.
"baiklah! bisakah kalian bubar sekarang."
"tidak putri, kami masih memiliki hadiah yang lain untuk anda."
"apa, lagi...!"
"ini adalah barang unik, yang hanya ada sedikit didunia. karena populasinya yang terbilang langka."
"apa ini?"
ravellapun membuka kotak sedang yang ada ditangannya.
"i..ini lucu sekali..!
"itu adalah naga merah, yang hanya ada empat didunia, mereka tinggal di kawah merapi." ujar lannox menjelaskan
"bagaimana kalian mendapatkannya? bukankah sangat sulit menemukan naga merah! bahkan mereka dianggap dewa oleh sebagian penduduk yang meyakininya."
"saat kami pergi kehutan dan, mendapat misi untuk membunuh para monster, tidak sengaja kami menemukan naga kecil ini yang mulia, ia kehilangan induknya. walaupun kecil dia sangat galak putri, jadi mohon putri harus berhati-hati, dan kami menidurkannya dengan menggunakan bius yang terbuat dari sihir."
"beraninya kau memberi hewan berbahaya kepada putriku, apa kau sudah bosan hidup roland?" lannox mengarahkan pedangnya keleher roland, jika sedikit saja ia bergerak! maka nyawanya akan melayang ditangan lannox.
"a..ampun yang mulia, saya benar-benar tidak ada niat, untuk mencelakai putri. kami menghadiahinya, karena kami tahu! hanya putri yang bisa menjinakkannya."
"apa maksudmu roland! apa kau menghina putriku?"
"ayah! 'aku memegang pedang yang mengarah ke sir Roland, dan menurunkannya perlahan.' tidak apa apa ayah"
"ravel! kau harus bunuh hewan itu, akan sangat berbahaya jika dia sampai menyerangmu, karena merasa terancam. dan, jika itu sampai terjadi, kepalamu akan menjadi gantinya roland."
"jika itu terjadi, saya dengan senang hati menerima hukuman saya yang mulia."
"ayah tenanglah! aku akan membuktikannya padamu, jika naga ini tidak berbahaya."
"baiklah! jika apa yang kau katakan itu benar! maka ayah akan melepaskannya."
'huh, dasar pak tua merepotkan, aku benar-benar tidak mau, melihat kepala berguling-guling didepan mataku. mengapa dia mudah sekali mengambil nyawa tanpa ada rasa simpati samasekali, dasar pak tua tiran.'
"baiklah, akan kubuktikan sekarang."
'aku membangunkan naga kecil itu, dengan menetralisir biusnya. dan kemudian rasa kantuk yang dirasakan naga inipun menghilang, iapun terbangun dari mimpi indahnya. naga yang malang!'
'aku benar-benar tidak percaya, dengan apa yang dilakukan putriku.'
"khaakks.. khakkks.."
"waaa, lucunya."
'ketika naga itu melihatku, ia dengan tiba-tiba datang kepangkuanku dan bermanja sambil mengulurkan kepala mungilnya ditanganku. aku langsung menggendong naga itu, lalu langsung menunjukkan kepada orangtua yang keras kepala ini.' "apa sekarang masih perlu bukti lagi..?"
'anak ini, selalu saja memberikan kejutan yang tak terduga.'
"huh, baiklah ayah menyerah! akan tetapi, jika aku melihatnya membahayakanmu, aku akan langsung membunuh hewan itu, juga orang yaang memberikannya padamu."
Lannox memasukkan pedangnya kemabli.
setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Lannox langsung pergi meninggalkan ravella dan yang lainnya.
'dasar sialan, semakin hari dia jadi semakin menakutkan saja, kenapa juga aku harus terlahir sebagai putrinya!!!'
"sir roland! terimakasih untuk hadiahnya. akan kujaga naga ini dengan baik."
"saya yang seharusnya berterima kasih putri, karena anda telah menyelamatkan nyawa saya."
__ADS_1
"hmm, anda boleh kembali sir roland."
"baik putri, saya mohon izin pamit."
Roland dan para pasukannya pun ikut pergi, yang tinggal hanya ravella dan naga, juga kedua pelayannya.
"reni marri..! bisakah kalian juga kembali, karena aku sedang ingin sendiri disini."
"tapi putri, akan berbahaya jika anda sendirian."
"reni, jangan sampai aku mengulang kata-kataku kedua kalinya."
reni dan marri saling menatap! dan agak ragu, dengan apa yang diperintahkan ravella. namun! karena tidak ingin membuat tuan putrinya marah, merekapun berlalu pergi. tinggalah ravella dan naga itu sendirian.
"khaakk.. khhaakk.."
"kau sangat lucu, dengan warnamu yang merah seperti mataku. mmm aku harus memberimu sebuah namakan, apa ya.."
"khakkk.. khakkks.."
"apa kau senang! karena akan diberi nama? baiklah nama apa ya.. yang bagus untukmu? mmm, bagaimana kalau gapi, singkatan dari naga merah merapi."
"khakkss.. khakkss.."
"ternyata kau senang sekali ya.."
tiba-tiba tempat itu jadi penuh dengan kabut, ravella yang melihat kabut pekatpun jadi waspada, sang naga kecilpun ikut merasakan bahaya, namun tetiba gapi, merasa ketakutan dan seluruh tubuhnya menggigil.
"ada apa gapi..? 'kenapa dia ketakutan begini' tidak apa-apa jangan takut, aku akan melindungimu gapi, tenanglah."
ravella benar-benar tidak menyadari apa yang mendekatinya. dan antara pekatnya kabut, munculla sosok tampan, pria berambut putih sebahu dengan, dengan netra mata sehijau zamrud. ia mengenakan baju dan celana hitam sherwani bersulam emas.
'wow dia tampan dan sangat indah, tapi siapa dia?'
"tap.. tap.. tap.. tap." ia berhenti tepat dihadapan ravella, dan mensejajarkan tubuhnya dengan ravella. dan iapun akhirnya mengeluarkan suaranya.
...****************...
"lannox dimana dewi! mengapa aku tidak melihatnya sama sekali?"
"apa! jadi dia belum kembali?"
"kembali? apa maksudmu bocah! bukankah dia denganmu?"
"celaka! zion coba kau tanyakan pada roland! terakhir aku meninggalkan ravella dengannya. aku akan pergi mencarinya"
"baiklah!"
"bwusshhhh"
"astaga anda mengagetkan saya, ada apa yang mulia?"
zion muncul tiba-tiba langsung keluar dari bayangan Roland, roland yang melihatnyapun, langsung terjatuh dan kaget.
"roland! apa dewi bersamamu?"
"tidak yang mulia, dewi masih dilapangan, beliau masih disana."
"apa jadi dia tidak bersamamu? diman lapangan itu??"
"disebelah timur yang mulia, bwusshhhh"
zion langsung menghilang, tenggelam dalam bayangan. sementara lannox yang telah sampai duluan disana terlihat kaget dan pucat saat melihat putrinya dan naga kecil itu pingsan.
"astaga ravella, bangun nak, ravella.. ravella.. apa sebenarnya yang terjadi padamu?"
lannox lansung menggendong ravella dan naga kecil itu, dan iapun langsung berteleport kekamarnya.
"zioonn! kemarilah. ranov cepat panggilkan dokter sekarang!"
"b..baik yang mulia"
ranov segera berlari meninggalkan lannox dan putrinya, sementara! zion yang mendengar panggilan lannox, langsung bergegas kekamar lannox.
"ada apa bocah! apa yang terjadi? d..dewi kenapa dengan dewi? dan siapa naga kecil ini?"
zion melemparkan pertanyaan bertubi-tubi yang membuatnya terkejut dan khawatir.
"aku tidak tahu! saat aku sampai, dia sudah tidak sadarkan diri, bersama naga dalam pelukannya. ini aneh? pasti ada sesuatu yang terjadi padanya!"
"bagaimana dokter kondisi putriku?"
"tidak ada gejala apapun! ditubuh putri yang mulia. ini bukan faktor kelelahan, atau penyakit. sepertinya putri hanya pingsan biasa."
"pingsan.., tidak ada gejala apapun! ini aneh? lalu bagaimana dengan naganya?"
"naga? t..tapi saya bukan dokter hewan yang mulia. jadi saya tidak ta.."
"aku tidak mahu tahu cepat kau periksa dia!"
"b..baik yang mulia."
dokter armanpun terpaksa memberanikan diri untuk memgecek naga kecil itu.
"bagaimana?"
.......
"saya juga tidak merasakan ada gejala penyakit atau apapun! yang mulia, kondisinya sama seperti putri."
"sudah kuduga, ada sesuatu yang tidak beres! kau boleh pergi dokter."
"b.. baik yang mulia, saya mohon pamit."
'aneh! tidak biasanya yang mulia setenang ini, biasanya dia akan marah, atau membunuh. jika tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. tapi, apapun itu aku bersyukur, aku selamat.'
"nak! apa mungkin! para dewa sudah mulai bergerak?"
"apa maksudmu zion?"
__ADS_1