AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
BERBURU DI TENGAH HUTAN 2


__ADS_3

'Apa-apaan ini..? Kenapa sekarang tempat ini, jadi di penuhi dengan banyak kabut tebal? Bukannya tadi udaranya sangat bersih Dan asri..!' pikirnya aneh.


Rog berjalan menelusuri hutan.. Dan tak terasa ia sampai di bawah lembah yang tampak berembun dan di selimuti dengan banyak kabut tebal. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding ia mengusap tengkuknya.


'Haah.. Mungkin ini karena musim gugur, apalagi suhu udara di bawah lembah sangatlah lembab dan dingin. Ya, mungkin ini karena dingin, makanya bulu kudukku sampai merinding semua.' pikirnya mensugesti dirinya sendiri.


Namun tanpa ia sadari, banyak mata yang sedang meperhatikan dirinya dari kejauhan di atas lembah bukit. Rog terus berjalan, mengeluarkan pedangnya, sesekali ia menebas dahan yang menghalangi jalannya.


'Aku melihat sekitar hutan yang di penuhi dengan banyak kabut tebal menghalangi pemandangan ku. Padahal hari masih pagi.. Tapi kenapa serasa sudah malam!


Bahkan, sosok Serigala Hitam tidak kelihatan sama sekali, baik itu jejak maupun keberadaannya. Aku yakin aku tidak salah lihat! Jelas-jelas bidikan ku sudah tepat mengenainya..


Bagaimana bisa anak panah tersebut bisa meleset begitu saja, seolah-olah aku telah salah sasaran, ini aneh! Aku harus memastikannya sendiri, apakah itu benar sosok Serigala, atau bukan.. Agar tidak kepikiran nanti, karena gagal mendapatkannya.'


Tiba-tiba di tengah perjalanan, Rog merasakan ada tekanan yang sangat kuat di sekitarnya. Dan ia melihat banyak pasang mata sedang menatapnya, Ia pun langsung menghentikan langkahnya.


Rog tetap bersikap tenang, tidak menunjukkan kegugupannya sama sekali. Dan di antara pekatnya kabut! Terdengar langkah kaki menginjak dahan ranting, hingga patah. "KREETAK" Ia menelan salivanya. Menunggu hingga sosok tersebut muncul menampakan wajah.


Rog pun tetap tenang dan waspada dengan apa yang akan muncul di balik kabut tersebut. Ia bergerak perlahan mengeluarkan anak panah dan menarik kencang busurnya, lalu ia tahan. Sambil menunggu pergerakan dari sesuatu yang belum jelas wujudnya.


Rog masih menahan, dan menunggu dengan sabar. Dan seketika, tampak muncung panjang menampakkan dirinya. Rog mengernyitkan kedua alisnya, saat melihat sosok yang sedang berseringai menghampirinya.


"Hehehehe..., Kau pikir serangan murahanmu itu bisa mengenaiku!?" serunya menyeringai, meremehkan manusia yang ada di hadapannya.


Rog tampak terkejut seolah tak percaya dengan apa yang di dengar olehnya, ia di kejutkan dengan penampakan Serigala Hitam tadi. Rog Masih menahan anak panahnya, mengarahkan pada Serigala hitam tersebut. Sambil bergumam.


"Jangan mendekat, dan cepat katakan siapa kau? Jika tidak, jangan salahkan aku jika anak panah ini mengenaimu!" ujanya mulai serius.


"Heh..., coba saja kalau kau bisa anak muda!" ia malah menantang balik ucapan Rog. Rog mengernyit saat mendengar ucapan Serigala Tersebut.


"Kalau begitu.. Jangan salahkan aku, jika kau sampai terluka." ujarnya memberi peringatan. Namun dalam hati. 'Aku masih ragu, apakah dia benar Monster atau bukan!!' pikirnya yang tampak meragukan pikirannya sendiri.


"hmm.. hmm.." Serigala Hitam itupun, tampak seperti sudah menebak, apa yang akan di lakukan Rog padanya.. Namun, ia tetap diam. Ia mulai menunjukkan taringnya yang tajam. Rog tampak berkeringat dingin, melihat Serigala besar yang ada di hadapannya.


'Sial, seumur-umur, aku belum pernah menjumpai mahluk mistis yang berakal dan bisa berbicara seperti layaknya Manusia. Namun setelah aku memasuki Mansion, berbagai hal yang tidak masuk akal, bisa aku lihat dengan mudah.


Bahkan, mereka ada di sekitar kami, dan berdampingan dengan manusia. Sebenarnya, aku berada di dunia manusia! Atau di dimensi lain? Pikirnya mencerna semuanya.


Rog pun mulai melepaskan anak panahnya.. Yang telah ia tahan sejak tadi. "WUUUUSHHHZZZ!" Serigala tersebut dengan mudahnya menghindar dan langsung menghilang dari pandangan. Dan tiba-tiba muncul segerombolan Serigala lain datang menyerbu Rog.


Melihat hal tersebut, Rog pun tak tinggal diam, ia dengan sigap langsung mengeluarkan pedangnya dan menebas Lima Ekor Serigala yang datang mendekat ingin menerkam dirinya. Serigala itu jauh lebih kecil dibandingkan Serigala yang berbicara dengannya tadi.


Tak lama datang lagi sepuluh Serigala yang jauh lebih ganas dari sebelumnya, Serigala menyerang dengan sangat buas.. Rog dengan cepat mengayunkan pedangnya dan menendang kasar Serigala tersebut, lalu memutar tubuhnya dan melibas Serigala lain. dengan sekali tebasan.


"Euuuuuugh..." Serigala itu terpelanting jauh hingga menbrak pohon. Suaranya melengking karena kesakitan, yang terdengar pilu di telinga kawanannya.


Tak hanya di situ.. Muncul lagi Gerombalan Serigala yang jauh lebih banyak, datang melompat kearahnya. Rog dengan tindakan cepat langsung membuat sihir penghalang, Alhasil Serigala itu terpental karena tertabrak perisai yang di buat Rog.


Setah Perisai menghilang, Rog kembali membantai para Serigala tanpa ampun. Melihat banyak pengikutnya yang telah terkapar tak berdaya! Pemimpin Serigala itupun mendecih kesal. Ia mulai melolong menyuruh yang lainnya untuk segera mundur.


'AAAUUUUUUUUUUUUUUWWWW!" Lolongan keras dari Pemimpin Serigala, membuat para pasukannya mundur perlahan-lahan. Sang Pemimpin langsung turun tangan, menghadapi Rog sendirian. Ia dengan cekatan langsung melompat menerkam Rog, Rog pun dengan lincahnya menghindar, dan memutar balik tubuhnya lalu menendang tubuh Peminpin Serigala tersebut.


Akan tetapi, Serigala yang bisa membaca Pergerakan Rog dengan cepat menghindar dan menghilang! Rog Terperangah melihat sosok Serigala bisa menghindari serangannya. Dan tiba-tiba muncul dari belakangnya, ia langsung menggigit bahu kanan Rog hingga banyak mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Rog yang kesakitan berusaha mengeluarkan belati kecil, dari dalam saku celananya. untuk menusuk leher Serigala besar tersebut. namun, Serigala yang bisa membaca pergerakannya.. langsung melempar tubuh Rog dengan kasar, hingga menabrak Pohon dengan keras.


"AGH... BRUUGGG.. GEDEBUUUG...!" Rog merintih kesakitan, pakaiannya yang tadinya bersih tak bernoda, kini basah karena bahunya mengeluarkan banyak cairan kental dan segar. Rog mulai melemah, Serigala besar tersebut memperhatikan anak manusia sedang terkapar tidak berdaya lagi untuk melawannya.


Serigala itu pun menghampirinya dan menatap dengan dingin.. Lalu ia berujar padanya. Rog tidak kuasa lagi melawan, karena rasa sakit yang menderanya. ia memegang bahunya yang kesakitan disebabkan terkena gigitan tajam. dan Rog memperhatikan Serigala yang ada di hadapannya dengan pasrah.


'Sial, ini sakit sekali, tubuhku terlalu banyak mengeluarkan darah.' pikirnya.


"Kali ini, aku mengampunimu Manusia.. Dan jika kalian ingin selamat, Jangan pernah memasuki wilayahku lagi. Katakan juga itu pada kaummu." tak lama setelah mengatakan beberapa kalimat. Serigala itu pun menghilang dalam sekejap. Begitupun dengan Pasukan Serigala yang telah menyerangnya tadi.


Semuanya menghilang seperti tidak terjadi apa-apa.. Rog berusaha bangun dan beringsut pelan bersandar pada batang Pohon. Ia melihat sekelilingnya, semuanya kembali menjadi sunyi dan tenang. Kabut pun perlahan-lahan mulai memudar lalu menghilang.


Dan tampak Cahaya Surya masuk menembusi hutan. Ia menarik nafas lega.. Dan merobek sebagian bajunya untuk dibalut pada luka di bahunya. Ia pun perlahan bangun dan berjalan dengan pelan, untuk keluar dari lembah tersebut.


...****************...


Di Zona Mana... Rabarus hanya menyeringai dan melemaskan tubuhnya, lalu bersandar pada sandaran kursi.. Sambil menengok keatas "Haah.. Aku kira apa?" ucapnya sambil melihat ke langit-langit Ruangan yang telah di bangun Kaisar Zando, hanya dalam waktu satu menit.


'Hem.. Ternyata Cucu Zaku lebih kritis dari Kakeknya. Anak ini juga terlalu waspada padaku!' pikirnya sambil melihat Zion sekilas. Lantas ia berbicara dengan Jura, melalui pikiran. 'Apa dia selalu seperti ini..?'


Jura tersenyum tipis.. 'Hem.. Begitulah. Dia memang berlawanan sifat dari Kakeknya.. Bahkan sifatnya lebih mirip dengan Masternya, di bandingkan Kakeknya sendiri.'


"Tuk.. Tuk.. Tuk.." Rabarus mengetukkan jari di atas meja. 'Begitu ya.. Tapi itu lebih baik. Dengan begitu dia tidak mudah di kelabui.' ujarnya lagi.


"Kenapa diam Kakek Tua?" ujar Zion menatap tajam pada Rabarus. "Bukankah aku sedang berbicara padamu!" ujarnya kesal karena di abaikan.


"Haah.. Baiklah jika kau begitu ingin tahu." Rabarus kembali duduk dengan tegak, dan menaruh kedua sikunya di atas meja. Sambil bertopang dagu pada kedua Punggung tangannya. Ia jeda sejenak.. Beberapa detik kemudian, ia kembali mengeluarkan suaranya.


Mendengar ucapan Rabarus, Ekspresi Zion berubah terkejut. Tapi ia masih meragukan perkataan Rabarus. Dan mencoba bertanya untuk yang kedua kalinya. "Benarkah Kakek Kaisar yang menyuruhmu?"


"Tentu saja.. Kau bisa menanyakannya kepada Beliau, jika kau masih meragukan perkataanku!" ujarnya dengan tatapan penuh percaya diri.


Mendengar jawaban Rabarus, Zion hanya mendengus. "Cih, omonganmu jadi mirip dengan Kek Jura." ketusnya. "Ya, jika itu benar-benar Kakek Kaisar sendiri yang memerintahkanmu. Aku akan mempercayainya. Dan itu terdengar cukup baik." lanjutnya lagi.


"Omong-omong dimana Mastermu?" tanya Rabarus, karena tidak melihat keberadaan Lannox, setelah sekembalinya dia dari memeriksa telur.


"Dia ada di dalam, bersama Putrinya." jawab Zion.


"Lalu.. Bagaimana dengan kondisi telurnya?" tanya Jura, tiba-tiba.


"Tak lama lagi telurnya akan menetas.." ujar Rabarus, sambil melihat keluar kearah telur-telur itu berada.


"Benarkah.. Lalu, telur siapa yang akan lebih dulu menetas?" tanya Zion penasaran.


"Tentu saja Roya.. Kelihatannya ia jauh lebih cepat dibandingkan yang lain." Jawab Rabarus. "Dan kita akan segera melihat perubahannya." sambungnya lagi.


"Hem.. Aku jadi tidak sabar ingin melihat perubahan Para Kakek!" celetuk Zion.


"Kalau begitu, kau harus bersabar." ucap Jura, melihat kearah Zion sesaat.


Saat mereka sibuk berbincang, sedangkan di dalam kamar.. Lannox yang sudah tertidur sambil memeluk Putrinya. Membuat Ravella terbangun karena merasa ada tangan berat sedang menindih perutnya. Ia pun terbangun untuk mencari tahu siapa itu?


Ia mengucek-ngucek matanya dan melihat lebih jelas.. Dan ia terkejut Jika itu adalah tangan Ayahnya. Ravella bangun perlahan-lahan lalu mengangangkat tangan Ayahnya dan memindahkan ke tempat lain. Ia mencari keberadaan Gapi yang tidak ada di dekatnya.

__ADS_1


'Heuh, Dimana Gapi?' ia melompat dari ranjang yang agak tinggi. Dan mencari sosok Gapi. Gapi tidak ada di ruangan kamarnya. Ia memanggil pelan Gapi, agar tidak membangunkan Ayahnya.


"Gapi..." panggilnya dengan pelan.


Tak lama terdengar suara kresek.. Kresek di bawah ranjang. Ravella mundur beberapa langkah karena mendengar suara tersebut. Dan tampak kepala Gapi muncul di bawah ranjang.. Ia Sedang merayap pelan keluar dari bawah ranjang.


'Haah.. Ternyata itu kau! Mengejutkan saja. Aku kira siapa?' Ravella dengan cepat mengambil Gapi. "Kenapa kau ada di bawah Gapi?"


"Hehehe... I-itu.. Saat mendengar suara Ayah Dewi, aku cepat-cepat turun dan bersembunyi di bawah ranjang. Ayah Dewi terlalu menyeramkan untuk di hadapi." akunya polos. Ravella tertawa mendengar jawaban hewan kesayangannya tersebut.


"Hehe.. Tidak apa-apa Gapi, Ayah tidak akan memakanmu. Jadi kau tidak perlu takut lagi. Omong-omong dimana yang lain? Ayo kita keluar." ujarnya di angguki oleh Gapi.


Ravella pun berjalan keluar.. Tampak Ketiga Spirit sedang duduk di depan Meja bundar, sambil berbual kosong. Zion dan Jura yang melihat kehadirannya langsung berdiri menghampiri sosok kecil itu.


"Kau sudah bangun sayang?" tanya Jura.


"Sudah Kek! Apa yang kalian lakukan?" tanyanya membuka topik pembicaraan. Sambil menatap sekilas kearah Rabarus. Jura menarik kursi untuk Ravella dan kembali duduk di kursinya. Ravella meletakkan Gapi di atas meja.


"Kami hanya berbincang-bincang biasa." ujar Jura, yang di angguki oleh Ravella karena ia sudah mengetahuinya.


'Aku tahu, hanya saja aku sengaja membuka topik lebih dulu, agar tidak canggung.' pikirnya.


"Bagaimana tidurmu Nak?" tanya Rabarus.


"Sangat nyenyak sekali, oh ya, Kek! Bagaimana keadaan di Mansion, apa situasinya sudah terselesaikan?" ujarnya menanyakan hal tersebut pada Zion.


Rabarus yang mendengar itu.. Lansung menatap Jura. 'Bagaimana dia bisa tahu? Bukankah saat kita membicarakan masalah ini. Dia sudah tertidur!!'


Jura tersenyum mendengar keterkejutan Rabarus. 'hanya jasadnya saja yang tertidur, namun sebenarnya.. Jauh di bawah alam sadarnya! Ia melihat apa yang sedang terjadi, dan mendengar semua pembicaraan kita.' ucap Jura.


'Benarkah? Aku tidak menyangka ada kasus seperti itu! Semakin aku mengenalnya.. Semakin banyak hal menarik yang tidak aku tahu.' jelasnya sambil memandang wajah Ravella dengan tersenyum.


'Ya, begitulah seorang Permaisuri Paduka! Akan lebih banyak kejutan yang membuatmu lebih terkejut lagi.' ujar Jura bangga.


'Hem.. Hem.. Aku bersyukur karena telah di utus untuk melindunginya. Dengan begitu, aku bisa lebih mengenalnya dengan baik.' ujar Rabarus menyeringai.


"Tenang saja Putri, keadaan di Mansion kini jauh lebih baik, berkat bantuan Kakek Tua Rubah." jelas Zion sambil melihat Rabarus dengan seringainya.


"Syukurlah jika begitu!" ucap Ravella merasa lega.


"Hei.. Kelihatannya kau sangat tidak menyukaiku ya, Singa muda!"


Zion diam malas meladeni.. Ia hanya mendengus membuang wajahnya kesamping, sambil memperhatikan telur Raksasa yang tengah tergantung di langit.


*****


Sementara di Mansion, Argus sedang menunggu Zion yang katanya akan menyusul. Tapi hari sudah hampir siang.. Namun batang hidung Zion masih belum kelihatan. Argus jadi makin kesal karena Zion tidak menepati Janjinya.


"Cih, kemana kucing besar itu pergi..? Bukannya dia bilang akan menyusul, tapi hingga aku selesai introgasi, ia masih juga belum muncul.' pikirnya sambil melihat kelangit, tampak matahari sudah mulai tinggi.


Argus kembali keruangan kerja Duke, dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang telah ia tinggalkan. Gara-gara ada gangguan tak terduga dari musuh.


Namun, dalam hati, ia masih bertanya-tanya, kemana perginya Sang Master dan Zion. Yang menghilang begitu saja, bagai di telah bumi.

__ADS_1


__ADS_2