
Di Zona mana.. Garda yang menjadi pengawas antara pertarungan Para Spirit, terus menantikan siapa di antara ketiganya yang akan kalah.
Sambil menunggu, Garda membuat klon dirinya.. Untuk tetap berjaga menggantikannya, saat ia sedang tidak berada di tempat. Garda mengambil batu kecil lalu meniupnya, ia menlempar batu itu di hadapannya, dan batu itupun berubah dalam sekejap menyerupai bentuk dirinya.
"Hei kau.. Tetaplah berjaga disini. Tugasmu adalah mengawasi ketiga Bocah nakal itu..! Siapa di antara mereka yang selesai duluan, berarti dia yang kalah. Dan yang menang adalah yang bertahan paling lama, diantara ketiganya. apa kau mengerti?"
"Di mengerti Tuan."
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu."
"Baik Tuan." Garda tampak sedang bosan, ia kembali kemansion untuk bertemu dengan Zion. Karena hingga saat ini dia belum memberitahu Zion, akan kehadirannya.
Dalam sekejap ia sampai di mansion, dan benar saja seperti yang ia duga. Jika Zion, sedang berbaring di Gazebo di dekat danau, tempat favorit Zion.
Ia menyeringai.. Sambil melipat tangannya kebelakang, ia menghampiri Gazebo tersebut. Desir angin berhembus pelan.. Pohon lebat dan rimbun dengan daun yang berjuntai ketanah, berayun pelan tertiup angin. sedangkan cabangnya yang jarang-jarang dan banyak, mirip seperti pohon bonsai.
Zion benar-benar terlihat sangat santai dan menikmati suasana tersebut, yang juga di suguhkan dengan pemandangan indah dari gunung dan danau. Sangking fokusnya dengan keadaan tersebut, ia sampai tidak menyadari kehadiran Garda.
"Apa yang kau lamunkan?" ujar Garda duduk di sebelah Zion.
Zion yang tampak kaget, langsung bangun dari posisi berbaring menjadi duduk. Dan berujar kepada Garda.
"Kakek.. Sejak kapan kau ada di sini?"
"Baru saja." ujar Garda memegang kedua lututnya.. Lalu melihat kedanau.
"Bukan itu... Maksudku, sejak kapan Kakek tiba di Mansion!!" Ujar Zion membetulkan kalimatnya.
"Ah, eum... Mungkin sudah hampir sepuluh hari." ujarnya sambil memegang dagu, memikirkan pertanyaan Zion.
"Apa....!!! Sudah selama itu? Kenapa aku tidak tahu jika Kakek sudah berada selama itu di Mansion?!" ujarnya mengoceh. "Apa Jangan-jangan kau memang sengaja tidak memberitahuku..!!"
"Hem.. Entahlah! Kukira aku hanya sebentar disini, tapi ternyata itu hanya dugaanku saja." ujar Garda tersenyum.
__ADS_1
"Apa maksud Kakek?" ujar Zion, tidak mengerti.
"Lupakan soal itu! Omong-omong bagaimana keadaanmu?" tanya Garda sambil menepuk pundak Singa itu, yang sedang dalam bentuk Mana beast.
"Seperti yang kau lihat.. Kakek sendiri, kemana saja selama ini? Dan apa yang kau lakukan selama kau pergi??"
"Hem.. Seperti biasa, mengerjakan tugasku, dan lain-lainnya. Tidak ada yang menarik untukku ceritakan padamu. Lalu.. Apa yang telah terjadi dengan Dewi setelah... Ini, bukankah ini Aura milik Dewi...!" ujar Garda yang berhenti berbicara dan melirik kearah Mansion, lalu kembali menatap Zion.
Zion yang juga merasakan hal yang sama, melirik kearah Garda lalu mengangguk. Dan keduanya pun segera menghilang, mengikuti arah keberadaan Aura Dewi tersebut.
***
Di Mansion.. Zion Dan Garda Muncul bersamaan dan langsung melempar pertanyaan. Saat mereka tiba, nampak Lannox sedang memeluk erat Putrinya.. Seolah ia tidak ingin melepaskannya.
"Apa yang terjadi Nak? Aku merasa...kan!" Zion terdiam, saat melihat sosok Ravella.. Ia mengurungkan kembali niatnya untuk bertanya.
Sedangkan Garda langsung meludahkan pertanyaan, kepada Ketiga Spirit tersebut. Di antara kedua Spirit, Hanya Jura yang Tampak Risau akan sesuatu, tidak seperti kedua temannya itu yang tampak tenang dan santai.
'Hei.. Katakan apa yang sedang terjadi? Tiba-tiba saja Aku merasakan Aura Dewi yang sangat Kental!' tanya Garda pada ketiganya.
Dan itu sangat mengagumkan, Aromanya semakin kental, tidak seperti dulu masih samar. Tapi sekarang, kehadiran dari Aura beliau sangat jelas dan terasa keberadaannya, tubuh beliau bahkan menyebarkan Aroma yang sangat harum sekali. Aroma ini.. bisa memikat siapapun yang menghirupnya.' ujar Saga, yang di angguki Gira.
Berbeda dengan Jura, ia justru mengingatkan temannya itu. Agar jangan bersikap terlalu santai, dan terlena dengan hal tersebut.
'Justru itu kita harus berhati-hati kawan, ini sangat berbahaya bagi Dewi. Aroma ini bisa mengundang banyak musuh, bahkan..' Jura melihat kelangit.
'Apa maksudmu?' tanya Gira, masih belum paham.
'Aroma ini bisa mendatangkan banyak musuh terkuat dari langit, jika para Dewa sampai tahu dan bisa menghirup Aroma ini..! Itu akan sangat berbahaya. Tidak hanya Bagi Dewi, tapi juga keberadaan kita.
Apa kalian sudah lupa! saat terakhir kali kita melawan Seorang Dewa, yang membuat banyak nyawa hampir melayang karenanya. Untungnya ada Baginda Kaisar.. Jika tidak, kita semua pasti tidak akan ada di sini sekarang.' ucap Jura dengan Wajah Serius, membuat ketiga lainnya.. Ikut merasakan kegelisahannya.
'Apa...! Jadi saat Dewi tertidur, kalian di hadapapkan lagi dengan musuh seorang Dewa? Apakah itu Dewa yang sama seperti saat kita menghadapinya waktu itu?!' Tanya Garda yang tidak tahu akan masalah tersebut.
__ADS_1
'beruntungnya tidak, meski begitu.. yang muncul tidak kalah hebatnya dengan Dewa Arthus. Aku juga tidak tahu namanya siapa! Tapi ia berkulit gelap, dengan warna rambut abu doff.' ujar Jura, menjelaskan ciri-cirinya.
Garda yang menyimak pembicaraan Jura, lalu mulai berpikir sambil memegang dagunya.. ia menggali kembali ingatannya yang sudah terkubur.
'Berkulit gelap.. Ah! Mungkinkah itu Dewa Petir Algudoff..!'
'Apa maksudmu? Apa kau mengenalnya?!' tanya Saga.
'Ya.. Beliau terkenal dengan kebijaksanaannya. meski terlihat Arogan, tapi sifatnya tidak seperti itu. Hanya saja.. Jika sedang marah, Beliau sangat menakutkan. Beliau pernah marah dengan Dewa Arthus, lalu bertarung melawanya. namun, Dewa Arthus berakhir dengan mengenaskan. tubuhnya terbakar hangus oleh petir Dewa. Semenjak itu.. ia tidak pernah lagi mengganggu Dewa Algudoff.'
'Cih, jika seperti itu pantas saja dia lebih tampak mengerikan, seperti yang kau katakan dulu.. Ia memang tidak sebrutal Dewa Arthus, karena saat menyerang ia tidak langsung membunuh. Bahkan para prajurit hanya di buat tertidur masal olehnya. Sedangkan kemarahannya baru tampak nyata, setelah Dewi menghilang dari Pandangannya.
Saat itu ia ingin meraih tubuh Dewi untuk membawanya pergi, tapi beruntungnya ada Ayah Tama.. Jadi Dewi bisa terselamatkan. Akan tetapi.. Setelah itu kemarahannya memuncak tanpa ampun, bahkan Tubuh Ayah Tama sampai remuk di buatnya, Tulangnya pada hancur semua.. sampai wujudnya tidak beraturan dan tidak bisa di kenali lagi. Itu sangat mengerikan.' ujar Jura menceritakan kejadian tersebut, yang di angguki kedua temannya.
Garda memperhatikan kedua Spirit lain, yang tampak ketakutan. Saga dan Gira tampak gemetar, saat mengingat kejadian tersebut.
'Aku tidak pernah melihat mereka sampai gemetar seperti ini..! Tapi, wajar saja jika mereka bersikap seperti itu, karena lawan mereka bukan musuh biasa. Tapi seorang Dewa, yang bahkan Dewa lain juga mengakui kehebatannya. Kecuali Paduka..! Saat Langit di hebohkan akan kejadian tersebut, beliau malah tampak tidak tertarik sedikit pun.
Dan saat aku menanyakan hal tersebut.. Jawaban beliau singkat dan padat. "(OH!)" hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Paduka, jawaban apa itu?? Bahkan Ekspresi Paduka juga tampak datar saja, dan tidak kelihatan kaget.'
Garda hanya tahu apa yang ia lihat di permukaan, jika ia menyelam lebih dalam lagi.. masih banyak sisi lain yang tersembunyi yang akan membuatnya terkejut.
Sementara itu.. Zion yang melihat ada kegelisahan di wajah Sang Master, karena ia tengah memeluk Putrinya dalam keadaan risau. ia takut jika kekuatan Putrinya muncul dan menguasai tubuh Putrinya.. Karena kekuatan itu akan mengundang banyak masalah untuknya dan Putrinya.
Sedangkan Ravella sendiri tampak sedang bingung dengan perubahan sikap Ayahnya itu! Begitupun para Spirit, tidak hanya itu.. Bahkan Argus, juga muncul karena telah mencium aroma harum. ia mengikuti arah aroma tersebut berada, hingga tanpa sadar ia sampai keruangan kerja Duke.
dan tampak seorang Putri cantik yang sedang berada dalam pelukan Duke. Argus muncul di belakang Duke, hingga ia bisa melihat wajah mungil nun cantik dan memggemaskan itu.. sedang kebingungan. Ravella tidak menyadari kehadiran Argus, Garda, dan Zion. karena ia terlalu sibuk memikirkan perubahan sikap Ayahnya.. Yang tampak sedang mengkhawatirkannya.
Argus sangat terkejut saat melihat perubahan mata Ravella, yang tidak seperti biasanya. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan yang lain, karena terlalu Fokus dengan Sang Putri Kecil yang tengah di peluk erat oleh Sang Master.
Masih lagi.. Dan lagi.. Kesukaan Argus semakin hari semakin bertambah besar, apalagi setelah melihat warna netranya yang tampak indah, dan Aroma tubuhnya yang Semerbak harum. yang belum pernah ia jumpai dimanapun. Argus semakin dibuat terpesona dengan Ravella! Tampak senyum simpul merekah menghiasi wajah tampannya itu.
dan pandangannya, hanya tertuju dan terkunci pada sosok Gadis Kecil yang ada di pelukan Sang Master. ia bahkan tidak sadar akan tatapan seseorang yang sejak tadi sedang menatapnya dengan penuh kebencian, dan rasa jijik.
__ADS_1
Sehingga ia berujar, membuat fokus yang lain tertuju hanya padanya seorang..
"Singkirkan tatapan menjijikanmu itu darinya sialan, sebaiknya kau cepat pergi.. Karena kehadiranmu tidak dibutuhkan samasekali di sini." Ujar Zion Marah.