
Zion dan Argus yang di tinggal begitu saja oleh Master mereka, merasa tidak bisa berbuat apa-apa meskipun keduanya merasa penasaran.
Kemana Rubah tersebut akan membawa Kedua anak menusia tersebut pergi, sambil menaiki punggungnya yang besar itu.
Keduanya hanya bisa membuat wajah kesal dan lesu.. Zion yang merasa kesal, karena ia yang biasanya selalu ikut kemanapun Masternya pergi, kini terpaksa harus tinggal di sebabkan peritah,
Mutlak Sang Master.. Sedangkan Argus merasa lemas dan lesu. baru saja ia merasakan menghirup udara bebas.., dengan kehadiran dari sosok Rubah Putih tersebut yang menyelamatkannya dari kejenuhan.
Akan tetapi.. Ia sudah harus kembali berhadapan dengan tumpukan dokumen yang tiada habisnya itu.. Argus adalah tipe Pria yang menyukai kebebasan.
Ia paling benci jika harus duduk diam di satu tempat, apalagi harus di hadapkan dengan tumpukan kertas yang tiada habisnya. Selain berisikan nominal angka dari pemasukan dan pengeluaran keuangan...
Ia juga harus memeriksa semua laporan yang keluar masuk Dukedom, dan mengontrol keseluruhan hasil laporan dari seluruh cabang perusahaan milik Duke. Dan itu membuatnya sangat pusing.
Dalam keheningan tersebut, tiba-tiba Argus mengumpat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalankan perintah dengan patuh.
'Aku bisa kabur dari Istanaku dan melempar semua urusan istana pada Ayahanda dan Kakak.. Demi mendapatkan kebebasan yang aku impikan.
Akan tetapi sekarang..., yang terjadi malah sebaliknya! Haah.. Apa mungkin ini yang di namakan Karma!! Karena melarikan diri dari istana..
Dan memanfaatkan kasih sayang keluargaku demi kegoisanku sendiri, dan hasilnya.. Aku merasakannya sekarang. Bagaimana pusingnya Ayah dan Kakak selama ini..!
Mengurus negara dan mengatur istana.. Haah, Argus bodoh.. Jika saja waktu itu kau bisa bertahan sedikit lagi sampai Duke kembali, aku pasti sekarang sudah bebas dari hukuman membosankan ini.
"Haaah...., senior!!!!!" Tiba-tiba Argus memanggil Zion yang tengah terdiam merenung di samping kirinya.
"Apa...!" jawab Zion agak malas.
"Maukah kau menggantikan aku bekerja di ruangan...!" tanyanya dengan wajah tertunduk lesu.
Zion langsung mengangkat salah satu alisnya.. Dan memiringkan kepala kearah Argus.
"Tidak terima kasih, aku lebih baik menjaga keamanan Mansion, daripada harus terlibat dengan tugas merepotkan tersebut.
Hihi.. Selamat bekerja juniorku, kerja yang baik ya.. Agar aku bisa merekomendasikanmu menggantikan Ranov nanti. Ah satu lagi, jangan bolos dengan tugasmu!
Jika tidak, aku akan melaporkanmu pada Master.. hihi.." ujarnya tertawa menikmati kekesalan Argus, seolah ia senang dengan penderitaan Argus saat ini.
"Kau.... Lebih baik kita berke....!!!" mendengar kalimat terakhir Zion, Argus jadi kesal dan ingin melampiaskan emosinya dengan mengajak Zion berkelahi.
Tapi sayangnya.. Belum selesai ia bicara, Orang yang ingin ia marahi kini, sudah menghilang lebih dulu, dan hanya tinggal dia sendiri melihat sebagian arean taman bunga tersebut..,
Sudah pada layu dan mati.. Karena di tindih dengan sosok Rubah Putih besar tersebut.
'Lihat tempat ini, tampak berantakan sekali...!" Pikirnya lalu beranjak pergi meninggalkan taman itu.
*****
Di suatu tempat.. Di "KEKAISARAN THIORAN" yang terletak di Benua Timur. Di mana kota dan Rakyatnya terkenal sangat makmur.
__ADS_1
Namun, hanya satu kekurangan negara tersebut! Di mana Kaisar tidak bisa menyentuh sebuah daerah yang ada dalam negaranya sendiri.
Di negara THIORAN, terdapat seorang Kaisar yang sangat adil dan bijaksana. Dan, memiliki seorang Permaisuri, dengan lima Selir. Kaisar mempunyai sepasang Putra-Putri.
Dari hasil hubungannya dengan Permaisuri. Sedangkan dari Para Selir, Kaisar juga mempunyai Tujuh anak. Tiga orang Putri dan empat Putra.
Dan salah satu di antara lima Pangeran yaitu Pangeran pertama, adalah anak dari Permaisuri, yang sangat di kenal baik dan juga tampan. namanya selalu di puja di mana-mana.
Sehingga tidak ada satupun yang tahu sisi gelap dari sang Pangeran Tersebut!! Karena ia sangat pandai berkamuflase di depan Publik.
Di tengah Malam, Saat Pangeran sedang menghabiskan malamnya bersama wanita penghibur.. Tiba-tiba terdengar ketukan samar sebanyak tiga ketukan, datang dari luar jendela kamarnya.
"Tuk.. Tuk.. Tuk.."
Mendengar hal tersebut, Pangeran bangun dari ranjangnya dan melihat kearah jendela sekilas. Lalu.. Ia melihat kesamping, tampak wanita yang sedang tertidur antara setengah sadar,
karena merasakan pergerakan dari Pangeran. Ia pun membangunkan wanita tersebut, lalu mengusirnya keluar dari kamarnya. "Setelah melihat wanita tersebut pergi.. Ia pun langsung menghampiri jendela, dan membukanya.
Tampak di luar balkon, tidak ada siapapun. Dan hanya terdapat sepucuk surat yang tergeletak di atas lantai, dengan setangkai Mawar hitam. 'surat dan mawar ini, simbol dari (ORSI)' gumamnya dalam hati.
Ia melihat itu.. Dan bergegas mengambilnya. Ia menutup kembali jendela, menguncinya dengan rapat, sambil melihat kekiri dan kekanan. Untuk memastikan, tidak ada satupun yang melihat hal tersebut.
Ia membukannya dan isi Tersebut berbunyi..,
"(SAAT MALAM MEMBENTANG, DIMANA HANYA TAMPAK SETENGAH PURNAMA.. BAWALAH SETANGKAI BUNGA INI, SEBAGAI BUKTI ANGGOTA.
PERTEMUAN AKAN DI ADAKAN DI TENGAH LEMBAH BIRU, DI BAWAH KOLONG LANGIT HITAM, BERDINDING HIJAU.
MAWAR HITAM.)"
Setelah membaca surat tersebut, Sang Pangeran pun langsung membakarnya Dan hanya tersisa satu mawar yang harus di bawa sebagai bukti.
Mawar tersebut telah di berikan mantra sihir, sehingga mawar hitam itu akan terus awet di tangan pemiliknya.
'Hem.. Jika Pemimpin sudah mengumumkan pertemuan Rahasia..! Berarti, telah terjadi sesuatu!?'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rabarus dan yang lain pun muncul di perpustakaan, tampak Jura yang tengah sibuk menetralisir Aura negatif yang keluar dari tubuh kelima Spirit.
Ravella yang melihat hal tersebut, pun terkejut ekspresi cemas terlukis di wajah cantiknya yang imut. Ia pun segera berlari dan menyeru Jura.
Begitupun dengan Rabarus, Duke, dan Gapi. Merekapun terkejut melihat penampakan lima Pria sedang berguling-guling kesakitan sambil menahan rasa sakit.
"Kakek.." ujar Ravella berlari kearah Jura.
"Nak Dewi.. Kenpa Kau ada di sini?" ujar Jura terjkejut saat melihatnya langsung berlari kearahnya, dan beralih melihat kondisi Para Spirit yang sedang kesakitan.
Belum sempat Ravella menjawab, Rabarus langsung menyela.
__ADS_1
"Kita tidak punya banyak waktu lagi.. Kita harus segera membawa mereka ke area terbuka yang jauh lebih besar dan luas. Agar mereka bisa berubah sepenuhnya.
Jika tidak, tempat ini akan hancur." ujarnya langsung menyela pembicaraan di antara kedua orang tersebut.
"Berubah.. Apa maksudmu, Pak Tua??" tanya Jura tak mengerti.
"Mereka akan segera berevolusi, jadi.. Kelima anak-anak ini, harus berubah kewujud Mana Beast mereka. Jika tidak, Emosi dari Mana Beast akan memberontak dari dalam, dan memaksa untuk keluar dan mengamuk."
"Celaka, jika begitu.. Ayo kita bawa mereka ke Zona Mana." ujar Jura makin khawatir.
"Benar, itu usul yang bagus. Tapi masalahnya.. Aku tidak bisa membuka ruang tersebut. Karena tempat itu.. Di lindungi oleh Baginda Kaisar.
Jadi, hanya orang yang di izinkan, yang bisa memasuki alam Zona Mana Milikmu Nak..!" ujar Rabarus pada Ravella.
Mendengar itu.. Ravella pun langsung mengangguk kepada Jura, ia memberi izinnya. dan Jura pun langsung membuka pintu gerbang ke Zona Mana.
Dan setelah pintu gerbang terbuka, hingga mengeluarkan cahaya menyilaukan datang dari dalam gerbang. Rabarus tanpa menunggu, langsung membawa semuanya berteleport ketempat tersebut.
Sesampainya di Zona Mana.. Rabarus langsung memberi perintah kepada kelima Spirit agar segera kembali ke wujud Mana Beast mereka.
Kelima Spirit tersebut pun mematuhinya.. Mereka langsung kembali ke bentuk Mana Beast. Agar tidak membahayakan Sang Master, kelima Spirit langsung terbang mengudara.
Mereka pun langsung bertransformasi Kebentuh Mana Beast, tubuh mereka mulai membesar melebihi gunung..
Dan, Aura yang sejak tadi mengelilingi tubuh mereka, kini berubah menjadi bentuk cangkang lalu mengeras. Mengurung tubuh mereka yang sudah mulai tenang..
"Haah.. Syukurlah kita cepat, jika tidak.. Istanaku bisa hancur karena amukan dari kelima anak-anak itu!"
"Cih, di saat seperti ini.. Kau masih sempat-sempatnya memikirkan istana Anehmu itu!!" celetuk Duke.
Mendengar ucapan Duke, Rabarus tertawa sambil berujar. "Hehehe.. Meskipun terlihat aneh dari luar, tapi Istanaku memiliki banyak misteri dimana cuma aku yang tahu.
Dan tempat itu akan segera kuwariskan pada Putraku." ujarnya menyeringai, sambil melihat cangkang besar yang menyelimuti Putranya.
"Ya.. Ya.. Ya.. Terserah kau saja Pak Tua! Akupun tidak ingin tahu urusanmu." sambungnya tidak peduli.
Dan saat mereka sadar Duke langsung panik mencari Keberadaan Putrinya yang telah menghilang, Ravella dan Jura, serta Gapi telah pergi secara diam-diam, dan hanya tinggal mereka berdua saja.
"Dimana Putriku??" tanya Duke celingak-celinguk mencari keberadaannya.
"Cih, tenang saja. Saat kita berbicara tadi.. Putrimu langsung berlari menaiki punggung Jura. Entah kemana..!
Kita tunggu saja.. Pasti ada yang ingin mereka bicarakan! Dimana mereka tidak ingin kita berdua mendengarnya.
Ingatlah, Putrimu dan Para Spirit juga mempunyai urusan yang tidak bisa kau campuri. Karena ini menyangkut antara Sang Master dan Spirit miliknya.
Jadi, kau harus memberi mereka Ruang untuk berbicara.. Sama sepertimu, yang juga tidak ingin ada orang lain ikut campur antara urusanmu, dan Spirit milikmu bukan..!
Jadi tenanglah, dan duduk saja di sini diam-diam." ujar Rabarus, sambil membaringkan diri, di atas luasnya rumput hijau yang terbentang.
__ADS_1
Mendengar nasehat Rabarus, Lannox hanya bisa bungkam dan tidak menyela sedikitpun. Karena apa yang dikatakan Rabarus, adalah kebenaran.