
"Dari Guru! Memangnya.. Kapan kau menemui Guru?" tanya Arlo.
"Hem.. Aku tidak bisa mengatakannya kapan! Tapi yang jelas.. Guru berpesan padaku, beliau tidak bisa menemui kalian, karena statusnya sebagai buronan Kekaisaran. Beliau hanya menyampaikan salam untuk kalian!"
"Salam hidung Guru.. Seenaknya saja pergi tanpa pamit, lalu sekarang beliau tiba-tiba hanya menemuimu dan tanpa mengatakan apapun pada kami. Cih, memangnya dia anggap kami ini apa? Dasar pilih kasih! Ambil kau saja.. Aku tidak mau cincin ini." celetuk Zora, yang tampak kesal.
Zora meberikan Cincin itu pada Lukas, Lukas mengerti perasaan temannya itu.. Iapun tidak ingin mengguruinya atau menasehatinya seolah ia paling benar.
"Baiklah, aku akan menyimpan cincin ini untukmu, jika kepalamu sudah mendingin.. Datang padaku, dan ambil kembali cincinmu ini. Sepertinya ini sangat beharga, meskipun aku tidak tahu kegunaannya apa! Sebab Guru tidak menjelaskan fungsinya.. dan pergi begitu saja. Tapi yang jelas, cincin ini terbuat dari kuku Seekor Naga." ujar Lukas menjelaskan.
Zora hanya diam tidak merespon, melihat kekesalan temannya itu! Arlo menepuk pundak Zora, sambil tertawa ia bergumam menasehatinya.
"Hei.. Kau tidak boleh seperti itu kawan! Guru pasti mempunyai alasannya sendiri.. Mungkin beliau takut jika kita ketahuan oleh Kaisar, jika menemuinya diam-diam. Aku rasa kenapa beliau memilih Lukas! Pasti ada sebabnya. Menurutku sederhana saja.. Karena Di banding kita berdua, Lukas jauh lebih senior, dan lebih bisa di andalkan di banding kita berdua yang terkadang masih suka bersikap gegabah." ujar Arlo menenangkan temannya itu.
Sedangkan Lukas hanya diam mendengarkan, ia tidak menyela perbualan mereka. Karena tidak ada yang perlu di jelaskan, di sebabkan posisi mereka juga sedang dalam perhatian Sang Kaisar. Jika ia salah berbicara.. Bisa-bisa kedua temannya itu akan menjadi sasaran Kaisar.
'Aku tidak boleh sembarangan bertindak, karena di istana ini.. Terlalu banyak mata dan telinga. Apalagi musuh kami sekarang bertambah, dikarenakan anggota fraksi bangsawan telah terpecah belah menjadi dua kubu yang berbeda pendapat.
Sebagian masih ada yang berpihak pada orde lama.. Dan sebagian mengikuti orde baru yang telah di tetapkan oleh Kekaisaran baru. Dan setelah mendengar perkataan Guru, jika Banginda raja telah mengundurkan dirinya untuk tidak melibatkan diri lagi dengan pihak Istana.
Artinya.. Percuma jika aku tetap berjuang mempertahankan hak-hak milik Baginda Raja. Karena beliau juga sudah menyerah kalah, Mau tidak mau.. Aku harus bersikap Netral sekarang! tapi yang jadi masalahnya.. Bagaimana caranya aku menjelaskan masalah ini, dengan pihak Fraksi yang masih setia dengan Baginda..!!
Jika musyawarah tidak bisa ditemukan.. Malah hanya akan mendapat pertentangan yang bisa menimbulkan pemberontakan. Dan itu akan lebih berbahaya.. Dengan kewaspadaan Kaisar yang sekarang, ia masih belum bisa mempercayai loyalitas yang kami miliki..!
Apalagi jika terdapat bukti-bukti kuat kepenolakan atas kepemimpinannya.. Otomatis Kaisar bisa dengan mudah menjatuhi hukuman mati, kepada fraksi yang memberontak! Ini sungguh tidak baik. sejauh ini yang sangat berpengaruh dengan fraksi orde lama, hanyalah (Baron Aisher)
Meski dia hanya seorang Baron, tapi ia juga mempunyai usaha perdagangan yang meluas, bisnisnya juga banyak, kekayaannya melebihi milik Duke Rovel, ia juga banyak berinvestasi dengan usaha yang dijalankan Duke. Karena itu Duke Rovel tidak berani menyentuhnya! Hem.. Jika begitu aku hanya bisa meminta bantuan kepada Baron Aisher saja.
Hanya dia yang bisa kuandalkan saat ini.. Beliau juga sangat bijaksana dalam menyikapi setiap masalah. Selalu memikirkan jauh kedepan sebelum mengambil suatu tindakan. dan ia juga mempunyai banyak gagasan yang cemerlang, Setiap gagasan yang ia keluarkan selalu berhasil.
Kalau begitu aku akan membuat temu janji dengannya secara empat mata, namun tidak mudah bertemu dengannya untuk saat ini.. Karena kesibukannya yang sangat padat.'
......................
...****************...
__ADS_1
......................
Akhirnya setelah lama berjalan.. Duke dan yang lain tiba di tempat tujuan.
"Putriku, kita sudah sampai." ujar Duke membangunkan Putrinya, sambil tersenyum ia lalu mengecup kedua pipi Putrinya itu.
"Ayah.. Bukankah ini sebuah Kastil?" tanya Ravella yang baru saja terbangun.
"Benar."
"Wow.. Kastil ini sangat megah! Tapi.. Kastil siapa ini Ayah??"
"Ini milik kita."
"Oh begi.. Ah, Apa.....! Milik kita.. Hoho Ayah pasti sedang bercandakan..!" ujar Ravella tidak percaya.
"Apa Ayahmu ini terlihat sedang bercanda sekarang!!" ujar Duke serius.
"Wow benarkah..! Ini sungguh Kastil milik kita?" ujar Ravella sangat senang.
Kastil itu tampak sangat megah, bahkan lebih bagus dari pada mansion miliknya. Kastil tersebut dari luar tampak seperti Kristal, namun sebenarnya itu hanyalah sihir kuno.. Yang di gunakan untuk membentengi Kastil tersebut.
"Ayo kita masuk sayang.." Saat Duke tiba, Pagar yang menutupi Kastil terbuka dengan sendirinya.. Seolah sudah tahu dengan kedatangan Sang Duke.
Saat mereka melewati Pagar tersebut.. tampak kepala pelayan dan asisten, dan di ikuti oleh rombongan pelayan lain di belakangnya! Mereka lalu membuat dua barisan untuk menyambut Duke dan Yang lain.
"Selamat datang Yang Mulia Duke, Yang Mulia Zion." Kepala pelayan dan sang asisten, memberi hormat pada keduanya.. di ikuti dengan dua puluh pelayan lain. Di antaranya sepuluh pelayan wanita, Dan sepuluh pelayan Pria. Dan satu orang Kepala Pelayan beserta Asisten Kepala Pelayan.
"Lama tidak bertemu Emilio!" sapa Duke ramah.
"Benar Yang Mulia, terakhir kali kita bertemu saat anda datang bersama Duchess."
'Wow mereka tampak sangat menghormati Ayah dan Kakek Zion, tidak hanya itu.. Mereka juga tampak sangat kompeten.'
Dan saat melihat sosok kecil cantik yang menggemaskan.. Berada dalam gendongan Duke! Si pelayan langsung bertanya.
__ADS_1
"Kalau boleh Saya Tahu, siapa Nona cantik yang ada dalam pelukan Yang Mulia ini..!"
"Ini Putriku..!"
"Halo.. perkenalkan saya Ravella, senang berkenalan dengan anda." ujar Ravella ramah.
"Oh pantas saja beliau tampak sangat cantik, dan begitu mirip dengan Anda dan Yang Mulia Duchess! Saya Emilio, Senang berkenalan dengan anda Putri.. Semoga anda betah tinggal di sini." ujar Emilio sopan.
Emilio tampak celingak-celinguk mencari seseorang.. Melihat tidak ia temukan sosok yang di cari.. Iapun langsung menanyakan keberadaaan sosok tersebut kepada Duke.
"Tapi omong-omong Yang Mulia.. Dimana Yang Mulia Duchess? Mengapa beliau tidak ikut datang? Apakah beliau baik-baik saja??"
Mendengar perkataan Emilio.. Raut wajah Duke berubah mendung. Zion pun tampak sedih, jadi ia pun tidak menjawab dan hanya terdiam. Peka akan perubahan sikap sang Ayah dan Zion, Ravella dengan cepat menjawab mewakili Sang Ayah.
"Ibu sudah pergi, dan.." perkataan Ravella terhenti seketika, ia menunduk lalu ia melanjutkan lagi sambil menarik nafas. "Ibu Pergi Saat beliau melahirkanku! Dan.."
"Putriku hentikan Nak, itu bukanlah salahmu." tampak Duke mengusap Air mata yang keluar begitu saja dari mata indah Putri kecilnya.
"Benar Nak, itu bukan salahmu.. Semua terjadi atas kehendak takdir, Tidak ada yang bisa di salahkan dalam hal ini." sambung Zion, yang langsung menyenggol lembut wajah Ravella, denga hidung Singanya.
"Ayo sayang kita masuk." ujar Duke kepada Putrinya, dan pergi begitu saja tanpa mengatakan Apapun.
Belum sempat Ravella melanjutkan perkataannya, Duke langsung menghentikan Putrinya itu.. Dan ia langsung membawa Putrinya pergi. sedangkan Kepala pelayan tampak terkejut dan merasa bersalah, karena telah mengungkit Luka lama keluarga Kecil Duke.
'Ini salahku, karena telah mengungkit hal yang semestinya tidak perlu di bahas, aku akan meminta maaf secara langsung nanti.' Gumam Emilio dalam hati.. Sambil melihat Punggung Duke, yang sudah menjauh.
Setelah kepergian Duke, dan yang lainnya.. Kemudian kepala pelayan pun masuk kedalam bersama rombongan pelayan lainnya. Duke mengalihkan kesedihan Putrinya itu, dengan membawanya melihat-lihat kedalam Kastil..!
'Entah kenapa setiap kali membahas istriku, aku langsung sensitif. Tapi yang lebih menderita daripada aku, sebenarnya adalah Putriku! Karena kesalahanku dimasalalu.. Dia sampai menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ibunya. Jika aku tidak mengabaikannya dulu, dia pasti tidak akan berpikiran begitu. Ini semua salahku.. Aku terlalu telat menyadari penyesalanku.
Dan aku tidak akan membuatnya bersedih lagi.. Apalagi setelah melihat reaksinya saat ia ketakutan karena salah faham atas tindakanku. Yang ia kira akan memarahinya.. Dan tak lama setelah itu, Energi Dewi miliknya langsung muncul begitu saja sehingga membuatku sangat khawatir dan takut, jika ia akan direbut dengan Para Dewa dari tanganku.
Setelah menghadapi Dewa secara langsung, aku jadi mengerti.. Sekaligus takut atas Ketidak berdayaanku, jika sampai mereka datang merebutnya dariku. Dan aku benar-benar sangat takut saat itu! Setelah kepergian Arabella, itu kedua kalinya rasa takut menjalar kedalam pembuluh darahku.
Cukup sekali aku merasa kehilangan, dan kejadian itu tidak boleh terulang lagi. Kali ini.. Aku akan membuat Putriku bahagia, dan tidak akan membuatnya bersedih lagi karena kesalahanku, tidak akan pernah.' gumamnya dalam hati.. Lalu mengecup kepala putrinya dengan penuh sayang.
__ADS_1