AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
JIKA KAU TIDAK SERIUS MENGHADAPIKU, KAU HANYA AKAN MENGGALI KUBURANMU SENDIRI.


__ADS_3

Didalam ruang dimensi lain, musuh kuat yang tak terduga..muncul. meskipun ia terlihat santai, dan bersahaja.. namun, dia sangatlah Sadis dan Kejam.


'cih, aku tidak yakin, apa aku bisa melawannya! tanpa sihir dan mantraku, Syarat yang ia berikan hanyalah menguntungkan dirinya sendiri. namun, tidak denganku! apalagi.. sebagian tenagaku, sudah aku gunakan untuk melawan pria tadi. tapi setidaknya, aku sudah mengulur waktu, untuk mengisi staminaku kembali, dengan mengajaknya bicara.'


Tama, terus memperhatikan gerak siburung Hantu, tersebut. Siburung Hantu, masih bersikap santai, dan tersenyum ramah. mata Tama menyipit, dan tampak ada kebimbangan terpancar dari matanya.


'aku sangat yakin, sigemuk ini cukup kuat. Bahkan untuk pria tadi saja.. yang masih belum mengeluarkan serangan apapun kepadaku, sudah cukup merepotkan. aku hanya beruntung, karena otakku bekerja dengan cepat. itupun aku sudah memakai sihir mantra, dan cukup menguras tenagaku. heh.. Untuk itu saja.. aku sudah menggunakan banyak staminaku. dan sekarang, aku tidak bisa bertarung tanpa menggunakan sihir dan mantraku. Ini cukup merepotkan, buat orang sepertiku yang suka bermalas-malasan. sementara waktuku tinggal sedikit lagi..! aku juga tidak tau, sudah berapa lama.. waktu yang telah kuhabiskan terbuang sia-sia disini. Sial, mau tidak mau, aku harus melawannya.'


"hmm.. apa yang kau pikirkan?" tanya burung Hantu, sambil tersenyum ramah.


"yah, mau bagaimana lagi.. meskipun aku berusaha mati-matian untuk keluar dari sini, tetap saja tidak bisa bukan? Jadi, mulai sekarang, aku akan serius melawanmu. apa boleh buat, Sepertinya kau juga.. bukan lawan yang mudah. Jadi, aku, akan bertarung serius denganmu." ujar Tama, sedikit malas.


Tama, menarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Ia mengusap kepalanya sambil seringai tidak senang. kali ini.. Tama, akan bertarung dengan serius. Karena ia, sudah mengakui kekuatan musuhnya.


"hmm.. akhirnya aku bisa melihatmu, bertarung dengan serius juga. hehe.. sepertinya, rumor tentang kesatria legenda itu, bisa kulihat disini. Baiklah, aku juga tidak akan berbuat curang padamu. Agar menjadi adil, akupun akan melawanmu, dengan wujud manusiaku. wush..."


Dalam sekejap, Burung Hantu itu.. telah berubah menjadi seorang pria tegap, tinggi, dan kekar. dengan zirah baja yang sudah menempel ditubuhnya. Rambut panjangnya terikat tinggi, membuat wajahnya tampak tegas, dengan rahang tajam, semakin membuatnya terlihat garang.


"hmm.. Kau cukup bijaksana, untuk musuh yang tampak bodoh sepertimu!" seringai Tama lagi, seolah memancing emosi lawannya. "hah.. Sudah lama.. Aku tidak menggunakannya.. Aku tidak menyangka, akan menggunakannya dalam keadaan seperti ini. (Galiyamush..)"


Tiba-tiba.. Ada serpihan aneh, yang entah muncul darimana! Serpihan kilaun merah keemasan, menempel menyelimuti seluruh tubuhnya, dan berubah menjadi seragam perang miliknya. dengan helm kepala jenis PLYTOWY bersayap, yang menutupi seluruh wajahnya. Dan hanya tampak sorot tajam matanya saja, sedang menatap dingin kepada lawannya.


"hehehe.. akhirnya, aku bisa melihat Sang Kesatria Legenda itu disini."


Tampak seringai senang, dari wajah Pria tersebut. Tak lama.. iapun mengenakan helm jenis KORINTUS miliknya. Tampak keluar cahaya dari genggaman Pria itu, dan Tama. Cahaya itu semakin lama berubah wujud menjadi benda panjang dan padat, juga tajam. Keduanya, mempunyai warna yang berbeda, pedang aura milik Pria tersebut, bewarna ungu gelap kehitaman, sedangkan pedang milik Tama, bewarna oranye gelap.


Keduanyapun akhirnya.. saling menyerang, kedua Pedang saling beradu menghantam, menimbulkan gesekan yang menghasilkan percikan Api, disekitar pedang tersebut. Merekapun tidak hanya menggunakan Pedang Aura, tapi juga, baku hantam, dengan saling membenturkan Energi besar. yang disertai dengan tenaga dalam yang sangat kuat. Alhasil.. Keduanya sama-sama terpental jauh, menghantam tanah. Pria itupun bangkit kembali, ia menyeringai, tampak kedua sudut bibirnya melengkung tinggi, karena rasa senang yang menggebu-gebu, dalam darahnya.


"hmm.. Ini menarik, kau bisa menahan seranganku. Apa lagi kita seimbang, Kalau begitu, terimalah ini..."


Tama, diam mendengarkan Pria itu berbicara, dan hanya memperhatikan sosok Pria tersebut, dengan tatapan dinginnya. Kali ini.. Tama, nampak lebih serius, dari pertarungan sebelumnya. Pria itu.. menyerang Tama, dengan cara Pedangnya.. ia tancapkan ketanah. Tama, masih dalam posisi diam, tak bergeming daripada tempatnya. ia memegang gagang pedangnya yang tajam, dengan erat tegak lurus, menghadap wajahnya. Ia memperhatikan pria itu, dari balik pedangnya yang menyala terang, Tampak kedua kelopak mata itu tertutup. Dari balik Pedang yang menempel diwajahnya yang tertutup.


Saat Pria itu menancapkan pedangnya ketanah, alampun menjadi berubah. Angin bertiup kencang seolah sedang mengamuk, langit menjadi gelap. Oleh pusaran besar yang berputar diatas kepala mereka berdua, Pria itu menyeringai sinis memperhatikan Tama, dengan tatapan membunuh miliknya. Tama, yang sejak tadi.. hanya diam menutup mata. kini.. Kedua kelopak mata indah itu, terbuka seperti sedang menyeringai.


'kita lihat, tindakan apa? yang akan kau lakukan Rubah. Apa benar kau seorang Legenda yang terkenal, atau hanya sekadar kabar burung belaka! Yang digembar-gemborkan oleh pelaku, yang tidak bertanggung jawab.'


"DUNTAM DUAARRR......."


Dalam sekejap langit menjadi terang, karena pantulan hebat, dari hantaman yang jatuh dari langit, serangan tersebut, langsung jatuh menimpa Tama. tempat itupun meladak, dan jadi menimbulkan kabut disekitarnya, karena hantaman keras tersebut.


"heheheh.. jadi hanya begitu saja!! Cih, Sangat membosankan. Ternyata ia tak seperti gelarnya! Padahal aku sudah meninggikanmu Rubah."

__ADS_1


Pria itupun jadi tidak bersemangat lagi, karena tidak adanya perlawanan. Sudah merasa selesai, Iapun langsung membalikkan badannya, untuk pergi.. meninggalkan tempat itu. Namun, saat ia akan melangkahkan kaki, untuk beranjak pergi.. Tiba-tiba saja, terdengar seringai mengerikan, dari tempat Tama, diserang.


"hihihihi...."


Pria itu terkejut, dan segera membalikkan tubuhnya. Saat ia berputar mencari arah suara tersebut, mata Pria itu dikejutkan dengan kemunculan Tama, yang tidak terluka sama sekali, dibalik kabut.


"kau.. ba.. bagaimana bisa!!!" ia terpegun sejenak. 'orang ini.. bagaimana bisa! Setelah terkena benturan keras, dari langit, ia masih baik-baik saja.'


Tampak bayangan Tama, sedang berjalan.. semakin jelas diantara pekatnya kabut. tubuhnya menyala-nyala.. tampak aliran petir tadi, melekat pada tubuhnya. Rambut ikal mayang merah jingga, terikat setengah kepala, dengan poni belah yang tampak sudah sedikit memanjang, berkibar bebas tertiup angin. Ia melangkahkan kakinya pelan, dengan tawa sayu, yang menakutkan. seringainya menunjukkan keempat taring yang runcing. Kelopak matanya, menjadi hitam pekat sepekat langit malam, membuat siapapun yang melihat matanya, akan tertegun tunduk, karena ketakutan.


"hehehe.. apa kau sudah puas, dengan main-mainmu bocah? Jika kau tidak serius menghadapiku, kau hanya akan menggali kuburanmu sendiri. Aku tau kau cukup kuat, untuk menjadi lawanku. untuk itu.. Aku menghargaimu dan menggunakan wujud ini. bahkan saudara-saudarakupun, tidak pernah melihatku, dalam wujud yang seperti ini. Kau adalah yang kedua melihatku, setelahnya.


'setelahnya.. siapa yang Dia maksud?'


"untuk itu.. berbanggalah, karena aku tidak memandangmu remeh."


"cih, hanya karena Kau tidak kenapa-napa setelah seranganku, bukan berarti aku takut padamu. Meskipun kau berubah jelek sekalipun, aku tidak akan mundur selangkahpun."


"hmm.. hihihihi.. kalau begitu, lawan aku dengan serius." Tama, memegang dagunya, menatap rendah kepada lawannya.


Tama, merentangkan telapak tangannya, Bola angin berlapis petir, terus berputar disekitar telapak tangannya. Melihat pergerakan Tama, Pria itupun tak tinggal diam begitu saja. Ia melihat keseriusan Tama, kali ini.. saat berhadapan dengannya, membuat semangatnya berkobar lagi.


"baiklah Pak tua, jika itu yang kau inginkan. Aku sangat tersanjung, dan sangat berterima kasih padamu. karena telah menunjukkan rahasia besar, yang selama ini kau sembunyikan, dan hanya menunjukkannya kepadaku. Ternyata kabar itu bukan hanya rumor belaka, namun fakta adanya! Tidak sia-sia.. aku mengamatimu selama ini."


"gheee...haauuup" Tama, menghirup udara tersebut, dan melahap lalu menelannya.


"a..a..apa-apaan itu?? Bagaimana bisa, ia menelan udara beracunku, tenpa terjadi apa-apa kepadanya!!"


Tiba-tiba wajah Tama, memucat Ada sesuatu telah bereaksi dalam perutnya. Bola angin, yang ia keluarkanpun langsung menghilang dari tangannya begitu saja.


"eugh.. eugh.. apa yang terjadi, seperti ada sesuatu yang akan meledak dalam perutku."


"hahahahaha... Itu baru permulaan pak tua, setelah ini.. kau akan merasakan sakit yang menyakitkan. seakan kau lebih baik memilih mati, daripada harus tersiksa karenanya."


"Hehehe.. Ternyata kau benar-benar BODOH Bocah! Kau percaya begitu saja.. dengan apa yang aku tunjukkan padamu."


"apa... Jadi kau.. Kau.. menipuku??? Bedebah, dari tadi kau sepertinya.. Hanya mempermainkanku.. Dasar Rubah munafik, kau yang menyuruhku serius, tapi kau sendiri hanya bermain-main." Tama, bangun berdiri dengan GAGAH.


"karena aku tidak bisa menyentuhmu, maka aku akan menggunakan cara lain. Siapa suruh kau bertindak curang lebih dulu!"


Bola Angin berlapis petir, muncul lagi ditangan Tama. Tama, menekan bola angin berlapis petir, kedalam tanah. Ia lalu.. Menyeringai melihat kearah lawannya. Tampak perubahan pada tanah tersebut, tanah itu menjadi retak seperti terkena gempa. Retakan lurus menjalar memanjang, mengarah pada Pria tersebut.

__ADS_1


Sadar akan bahaya.. Pria itupun terbang melayang keudara. Iapun tertawa senang, karena telah berhasil menghindar, dari serangan berbahaya tersebut."


"hahahah.. apa itu saja yang bisa Kau keluarkan? Apa ada lagi yang lain..!" ia tertawa lepas sambil menutup matanya.


"hmm.. Kau masih saja BODOH.. lihat baik-baik bocah."


"dereret.. dereret.."


"eugh.. apa ini?" ia terkejut tak percaya, dengan apa dilihatnya.


Tama masih tak beranjak dari tempatnya, ia berdiri dengan santai sambil menopang pada Gagang Pedangnya yang tertancap ketanah, tampak kedua sudut bibir itu melengkung senang.


Udara disekitar tampak biasa saja, akan tetapi.. yang anehnya! Kilat petir bewarna jingga kecoklatan, menyebar menyala diudara. Berbentuk pusaran kecil, yang siap menyerang pria itu kapan saja.


"heh.. Kau pikir dapat membodohiku!" Pria itu langsung bergerak, dan membelah petir itu dengan Pedang Aura miliknya.


Namun, saat ia akan memotong petir tersebut, tiba-tiba saja tubuhnya disambar dengan petir. seolah tak cukup dengan petir, angin kecil itupun mulai berputar semakin kencang disekitar Pria itu. Seperti badai kecil, yang mengurung Pria tersebut. Semakin kencang badai kecil itu, semakin banyak pula luka sayatan pada tubuhnya. "TI.. TIDAAAKK.. AAAGGGGHHHH... HENTIKANNN..." tubuhnya, kesakitan bagai terkena goresan Pedang tajam. Darah segarpun mengucur, membasahi zirah perang miliknya.


'eugh.. ba.. bagaimana mana caranya, aku kabur dari sini? tubuhku mulai melemah, karena banyak darah yang keluar.'


"bagaimana? Apa kau masih ingin lanjut kebabak selanjutnya?!! Karena ini baru saja permulaan."


"AAAGGGHHHH... ti.. dak, HENTIKAN.. a..a.. aku MENYERAH.. aku MENYERAH.. ja..jadi to.. tolong, jangan siksa aku lagi..!"


"hmm.. sayang sekali, padahal aku baru saja menikmati permainan ini, dan kau sudah menyerah duluan."


'cih, sial.. Nasibku benar-benar sial, padahal aku sudah melatih diriku hanya untuk merebut gelarnya. Tapi ternyata.. Semua itu hanya sia-sia.. bahkan perbedaan kekuatan kami sangat jauh. Percuma saja aku mengamatinya selama ini..!'


Pria itu kelihatan pucat sekali, dan perlahan ia menoleh kearah Tama, Yang sudah kembali kewujud semula. Dan kini.. sedang berdiri dihadapannya, yang terbaring kaku tak berdaya.


"heh.. Aku tidak menyangka! Kau melihat sosokku yang seperti ini. Hehe.. Kemarilah.. Ambillah ini."


Tama menerima pemberian Pria itu.. Tampak bola kecil seperti miliknya, saat mengalahkan musuh pertamanya.


"waktuku sudah tidak banyak lagi, Seperti janjiku diawal, kau bebas menggunakan tubuhku sesukamu hehe. Setidaknya.. Aku puas, karena telah mendapat kehormatan bertarung denganmu, secara langsung. Dengan begini, aku bisa pergi dengan tenang sekarang."


"Melihat keadaanmu sekarang.. Rasanya aku jadi tidak tertarik lagi untuk menghancurkan tubuhmu."


Mendengar ocehan Tama, Pria itu hanya tertawa kecil, tanpa suara. ia memejamkan matanya dalam damai. Tak lama.. Tubuh itupun berubah kembali kewujud semula, cahaya hijau dari tubuhnya keluar melayang dan menghilang bersama udara.


"hmm.." Tama melihat tubuh Burung Hantu masih terbujur kaku, dan masih banyak aura gelap menyelubungi tubuhnya. "hihihihi.. rasanya aku menarik kata-kataku barusan, meskipun dia sudah mati, tapi tubuhnya masih menyisakan banyak energi sihir. Hmm.. tubuh ini akan menjadi santapan dari sihirku."

__ADS_1


Tak lama.. Sekelebat cahaya oranye dari tubuh Tama, keluar, dan langsung menyambar tubuh tersebut. Dan, apa yang akan terjadi pada raga Siburung Hantu?


Dan Setelah ini.. Tama, akan melewati ujian tahap akhir, musuh seperti apakah? yang sedang menunggunya..!!


__ADS_2