
saat sang raja sedang sendirian, ia teringat kembali saat ia membaca surat dari rafael
(kepada yang terhormat raja kerajaan valthoz, saya dengan senang hati menyambut deklarasi yang anda ajukan, sebagai gantinya.. jika saya memenangi perang ini, serahkan negara anda. ah, satu lagi.. saya memberikan sedikit hadiah kecil untuk anda, dan terimakasih atas holy stone. semoga anda menikmatinya. "Rafael")
"bag.." raja memukul meja. "berani-beraninya, dia mengambil holy stone milik kerajaan ini, tanpa adanya holy stone dikeranjaan ini, akan sangat berdampak bagi negara. tepatnya, holy stone adalah jantung negara ini, tanpa itu, negara dan lahan subur yang terberkati malah akan menjadi lahan mati. dan tanah yang subur akan menjadi gersang, sialan kau Rafael dasar bedebah, pria licik itu memakai cara yang sangat kotor untuk menjatuhkanku."
didalam hutan yang sunyi, gagak merah dan tim siluman telah berkumpul.
(muri) "apa kalian sudah siap"
"tentu saja." jawab mereka serentak.
portal menyala, dalam sekejap mereka menghilang.
"hei.. dimana tuan lukas? ada apa! kenapa kau sampai berlari."
"cepat katakan dimana tuan lukas, baginda raja mencari beliau."
"tuan lukas bersama tim pencari, kudengar, musuh telah memanipulasi jejak mereka, sampai para tim terkecoh kehilangan jejak mereka."
"benarkah? ini aneh, bahkan di kerajaan terjadi kebakaran."
"apa kebakaran..! jangan.. jangan.. mereka memanfaatkan keadaan ini, untuk menyusup keistana. kalau begitu.. ayo kita temui tuan lukas."
kedua kesatria itu.. bergegas mencari lukas,
sementara di area hutan sebelah timur.
"tuan lukas bagaimana ini..! apa yang harus kita lakukan?"
"ayo kita kembali mike, firasatku tidak enak." lukas agak kesal, tidak biasanya, ia tertipu semudah ini. 'mungkin ini adalah jebakan, sejak awal mereka memang sengaja membuat kehebohan. dan memanfaatkan keadaan ini, agar perhatian lebih teralihkan pada pengejaran musuh. pantas saja.. aku merasa janggal, dengan pencarian ini.'
"ah itu tuan lukas dan sir mike, ayo."
mereka berlari menghampiri, mike dan lukas, yang baru saja tiba.
"tuan lukas... tuan lukas.. anda darimana saja, baginda mencari anda."
"hmm mencariku.." 'biasanya! jika baginda mencariku, pasti ada masalah yang telah terjadi.' "katakan ada apa?"
"tiba-tiba aula rahasia, dimasuki penyusup. dan, telah terjadi kebakaran hebat."
"aula rahasia.. tempat pemujaan! bahaya ini benar-benar petaka. ayo kita kembali keistana Sekarang."
"baik tuan."
portal dinyalakan kembali oleh lukas, mereka berempat, menghilang ditelan cahaya merah.
(baron aisher) "cepat matikan api yang disebelah sini."
"baik tuan baron."
beberapa water mage dibuat kelabakan, api yang seolah tak ingin padam, ketika disiram air. tempat lain yang sudah terkena curahan air akan menyala lagi, begitupun seterusnya.
"tuan baron, percuma saja..! biarpun kami mematikan api ini, api yang lain akan menyala lagi.. ini sama saja membuang-buang tenaga dengan sia-sia."
__ADS_1
(baron aisher) "ini aneh, kalau begitu.. panggilkan wizard lukas, atau yang lainnya.. untuk segera menyelidiki api ini.. sekarang juga, cepat..!"
"ba..baik tuan baron." prajurid yang membantu memadamkan apipun, segera berlari.. mencari bantuan. dan para water mage telah kelelahan, karena kehabisan tenaga.
raja yang gelisah sedang putar balik diruangan kerjanya, sambil melipat tangan kebelakang, dengan wajah yang kusut dan rambut urak-urakan. saat baginda sedang dalam pikiran kalut, tak lama lukas dan yang lainnyapun tiba diaula istana, begitupun arlo dan zora yang baru saja datang.
"tok.. tok.. tok.. baginda, tuan lukas dan yang lainnya datang menghadap."
"suruh mereka masuk."
suasana dikota vala, saat dimalam hari. para pasien, yang sedang menahan rasa sakit. tidak bisa tidur tenang. karena tidak adanya penjagaan, argus terpaksa memanggil Rudolf.
"pangeran saya hanya bisa membawa sepuluh prajurit, untuk membantu anda berjaga disini."
"itu sudah lebih dari cukup Rudolf, kembalilah.. jangan sampai ada yang mencurigaimu."
Rudolf merasa kecewa, atas permintaan argus yang menyuruhnya segera kembali.
"tidak bisakah, saya menemani anda disini pangeran..!"
"tidak, justru keberadaanmu hanya mengganggu ketenangan."
"hahaha bukankah anda justru kesepian, jika tidak ada saya disisi anda pangeran."
"kriesshh.. kriesshh.. kriesshh.."
keluar bebola hitam dikelilingi elektrik berwarna kuning yang menyala-nyala ditangan argus, rudolf yang melihat bahaya merasa terancam, dalam sekejap menghilang, tanpa sempat pamit dengan argus.
'dasar pangeran gila, tidak bisa diajak bercanda sedikit, hampir saja aku mati sia-sia.'
"euh tuan.. apakah kami masih bisa diselamatkan? sementara utusan dari kaisar saja telah menyerah dengan penyakit kami ini. tuan...! bisakah saya meminta tolong satu hal..?"
pria yang sejak tadi diam saja, mahu tidak mahu terpaksa merespon wanita yang sedang berbicara kepadanya.
"saya juga tidak tahu soal itu, bantuan apa yang anda minta? jika saya bisa, akan saya usahakan sebisanya."
"bisakah anda membunuh saya dengan cepat tuan? karena saya sudah tidak tahan lagi. seperti ada sesuatu didalam tubuh saya, yang sedang menggerogoti dari dalam. semakin lama semakin menyiksa, saya benar-benar tidak kuat lagi.. mohon kabulkan permohonan saya ini tuan."
"jangan gila, permohonan bodoh macam apa itu, tolong jangan berpikir macam-macam. anda bertahanlah sebentar, anda tidak boleh menyerah begitu saja. bantuan akan segera datang, jika anda mengatakan yang aneh-aneh lagi, saya akan pergi."
wanita itu hanya bisa terdiam, dan tak bisa berbicara apa-apa lagi.. dengan raut wajah yang kecewa.
"katakan, siapa kau..?"
lelaki yang tiba-tiba keluar dari arah semak-semak, tidak menyadari kehadiran lannox yang sudah mengarahkan pedang dilehernya.
'dia benar-benar cepat, bahkan aku saja tidak bisa melihat pergerakannya barusan.'
"jika kau tidak menjawab, maka aku akan membunuhmu."
saat lannox ingin menusuk lehernya dengan ujung pedangnya yang runcing dan tajam, pria itu langsung berubah pucat, dan dengan cepat menjawab.
"yang mulia.. i..ini, saya robi."
"bukankah kau prajurit dari kekaisaran."
__ADS_1
"be..benar baginda, saya datang kesini membawa informasi penting untuk anda, dan.."
robi berlutut dengan satu kaki, dihadapan lannox, dan mengucap sumpah.
"apa yang sedang kau lakukan?"
"yang mulia.. saya mohon, saya datang kemari dengan nyawa saya sebagai taruhannya."
"apa maksudmu?"
"sebelum itu.. berjanjilah jika anda akan menerima sumpah saya terlebih dahulu yang mulia."
lannox menyeringai licik, dia merasa geli.. dan menutup matanya dengan tangannya, lalu menertawakan robi yang berani mengajukan persyaratan kepadanya.
"heh.. hahahaha... kau, berani-beraninya menantangku? bocah, apa kau sudah bosan hidup hah."
Robi yang melihat tawa lannox dengan dikelilingi aura membunuh yang pekat, menjadi semakin ketakutan dan menelan ludahnya. tawa lannox semakin mendominasi keadaan, baginya.. lannox semakin tampak mengerikan dengan tawanya yang tiba-tiba. robi dengan cepat bersujud memmohon pengampunan lannox.
"maafkan saya yang bodoh ini.. yang mulia, saya janji, akan menceritakan segalanya kepada yang mulia, saya mohon dengan sangat."
lannox kembali diam dan memandang dingin, kepada robi yang bersujud dihadapannya.
"hem.. baiklah, aku akan coba memberikan kesempatan kepadamu, lalu keuntungan apa yang aku dapatkan? jika aku menerima sumpahmu..! apa kau yakin tidak akan berkhianat kepadaku? atau jangan-jangan.. kau adalah mata-mata yang disuruh kaisar untuk memata-mataiku..!"
"tidak yang mulia, saya bukan mata-mata, justru sebaliknya. dan saya akan mengabdikan hidup saya sepenuhnya kepada yang mulia. bahkan saya siap menjadi mata yang mulia, sebelum itu izinkan saya mengucap sumpah setia kepada anda."
lannox terdiam dan menyeka rambutnya yang indah, dengan wajahnya yang datar. setelah kediamannya beberapa saat, ia kembali bersuara.
"baiklah, aku akan mendengarkan sumpahmu."
robi kembali bangun dengan berlutut satu lutut, dan meletakkan satu tangannya didada.
"saya Robi Alend bersumpah setia mengabdikan seluruh hidup saya hanya untuk yang mulia duke, jika saya melanggar sumpah saya, saya bersedia mati ditangan yang mulia duke."
lannox berdiri tegap, dan mengarahkan pedangnya kebahu robi.
"aku menerima sumpahmu."
setelah sumpah dilakukan, robi menceritakan segalanya, apa yang disuruh pangeran.
"kau melakukan sumpah hanya karena ini..? heh sangat konyol, dengan ini sama saja kau telah mengkhianati kaisar. apa kau tahu konsekuensinya..? kemungkinan kau juga bisa melakukan hal yang sama kepadaku..!"
robi menjadi pucat kembali
"saya telah memikirkannya matang-matang yang mulia, saya tidak sanggup mengikuti keinginan pangeran yang sudah melewati batas kewajaran. beliau menggunakan kedudukannya, hanya untuk kepentingan pribadi. dan, saya benar-benar tidak bisa melakukannya, saya mohon lindungi saya yang mulia."
"kau terlalu banyak maunya, aku sudah menerima sumpahmu hanya untuk melindungimu, dan sedikit informasi yang menurutku tidak berguna samasekali. kau telah membuang waktuku hanya demi sumpah konyolmu yang tak berdasar."
"ma..maafkan saya yang mulia."
"baiklah, aku akan melihat kegunaan dan potensimu nanti, manfaat apa yang aaku dapatkan, sekarang aku akan kembali kekamp namun..!"
laannox menghentikan langkah kakinya.
"jika kau berani mengkhianatiku..!"
__ADS_1