
pukul tujuh belas lewat tiga puluh sore, sebelum penyerangan.
(zora) "bagaimana lukas, apa kau sudah mendapatkan kabar dari Baron aisher?"
lukas yang masih duduk dibibir jendela, terus melihat jauh keluar kastil, matahari sudah diujung peraduan. dan sebentar lagi akan terlelap dalam pelukan malam. jauh didalam hatinya, lukas sangatlah gelisah, karena semua keputusan bergantung kepadanya, namun ia menutupinya dengan sikap yang tenang.
(lukas) "hingga sekarang, aku masih belum mendapat kabar apapun darinya..!"
(arlo) "jika begitu.. kita terpaksa menggunakan cara pertama, ya.. meski resikonya akan banyak memakan korban."
lukas hanya diam tidak memberi tanggapan, arlo dan zora saling melirik. mereka mengerti apa yang dipikirkan lukas, rencana yang telah tersusun rapi jauh-jauh hari, malah tidak berjalan sesuai yang diinginkan. sementara disuatu tempat, kedua penyihir yang kabur dari incaran lannox dan damu, telah bersembunyi disuatu tempat yang tak terjangkau oleh manusia.
(ban) " hei doja.. dimana kita sekarang..! dan tempat apa ini..?"
doja yang sudah memimpin jalan lebih dulu, seolah telah akrab dengan tempat tersebut.
(doja) "sudah kau diam dan ikut saja, jangan bertanya yang macam-macam."
ban melihat kesekitar.. tiba-tiba bulu kuduknya merasa merinding, seolah-olah temannya itu telah berubah menjadi orang lain.
(ban) 'ini aneh.. cara bicaranya tiba-tiba saja berubah seperti orang yang tidak kukenal.' ia masih meragukan pikirannya, namun ia mencoba memberanikan diri untuk berbicara. "doja, siapa sebenarnya orang itu..? dan, mengapa kau kelihatan ketakutan sekali saat menghadapinya!"
doja hanya diam dan tidak menjawab, suasana jalan yang penuh dengan kabut dan sangat mencengkam, membuat bulu kuduknya semakin merinding, apalagi doja tidak merespon sama sekali apa yang dia tanyakan.
(ban) 'sebenarnya ada apa dengannya?'
raja yang tengah gelisah sendirian dikamarnya, duduk dibibir ranjang miliknya. sambil memegang kepalanya yang tidak sakit dengan kedua tangannya. dan tak lama, muncul seseorang pria yang tinggi, mengenakan jubah hitam dihadapannya, wajahnya tertutup dengan tudung jubah miliknya.
"apa yang membuat anda sangat gelisah, wahai baginda raja..?"
raja terkejut, lalu melihat sosok yang ada dihadapannya dengan tatapan sangat senang.
"akhirnya kau, sudah kembali..?"
dikota vala, lannox yang masih tidak puas dan masih menatap curiga kepada jura, yang sedang duduk santai diatas meja miliknya.
"kau berhutang banyak penjelasan kepadaku jura, cepat katakan yang sebenarnya.. apa saja yang telah kau tau."
jura tidak menanggapi kata-kata yang telah lannox lontarkan padanya, dan ia hanya duduk diam sambil memejamkan matanya yang tidak mengantuk.
"kenapa kau malah diam saja, bukankah tadi waktu ada orang itu, kau begitu lancar berbicara denganku."
"ketemu, arah utara.. dan ada dua orang."
lannox mengernyit heran.
"apa maksudmu..?"
jura bangun dari duduknya, lalu berdiri melipat kedua tangannya kebelakang.
"bukankah kau bilang ingin menangkap penyihir? dan aku sudah menemukan lokasi mereka untukmu."
'apa...! bagaimana bisa?' lannox merasa kesal, dan masih belum percaya dengan apa yang dikatakan jura kepadanya. "cih.. jangan bercanda brengsek, jangan mengalihkan pembicaraan."
"sebaiknya kau tenangkan dulu amarahmu yang bergejolak tidak menentu bocah, sifatmu yang seperti itu.. akan sangat mudah diprovokasi oleh musuh. baiklah, aku akan keluar dulu untuk berjalan-jalan sebentar, aku akan kembali ketika kau sudah tenang. sebaiknya kau bersiap-siaplah, saat aku kembali nanti, karena aku berbeda dengannya."
jurapun menghilang dari hadapan lannox, dan meninggalkan lannox sendirian, dengan beribu tanya, yang masih mengganjal dipikirannya.
"sialan spirit satu itu, sifatnya sangat susah ditebak, seketika dia bisa menjadi sangat ramah, namun dalam sekejap juga bisa menjadi sangat ketus. dasar pria misterius. sampai saat ini, aku masih belum bisa mengerti pola pikirnya."
jura mencoba berkeliling kota, dengan memakai wujud transparan, hingga tak satupun mengetahui keberadaannya, kecuali lannox.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
pukul delapan belas lewat empat puluh, menjelang malam.
"tok.. tok.. tok.. yang mulia, count arnold datang untuk menghadap."
suara pengawal didepan pintu memecah keheningan.
"suruh masuk."
"baik yang mulia. count arnold. silahkan, yang mulia sudah menunggu didalam."
"terimakasih, ceklik tap." count arnold masuk dan menunduk hormat kepada zion. "yang mulia.. saya datang menghadap, adakah yang bisa saya bantu?"
zion sedang duduk tegak seperti kucing sambil melihat keluar jendela, arnold tidak berani menatapnya samasekali, dan hanya berbicara sambil menundukkan pandangannya kebawah.
"angkat kepalamu bocah, kau tidak perlu khawatir.. aku tidak akan memakanmu, kecuali saat sedang lapar."
keringat dingin mengucur dari wajahnya yang terlihat tenang sesaat, dan kini berubah menjadi pucat pasi.
"hahahaha.. aku hanya bercanda, kau tidak perlu sampai seserius itu memikirkannya."
tawa zion pecah memenuhi seluruh ruangan, count arnold yang sudah benar-benar ketakutan, tidak menyangka kalau spirit yang ada dihadapannya kini, bisa bercanda dan tertawa lepas seperti sekarang.
'gulp, jantungku rasanya hampir saja berhenti, aku kira dia benar-benar serius dengan ucapannya barusan. tapi tidak disangka, dia juga bisa bercanda dan tertawa tanpa beban seperti itu. namun, dilihat dari sudut manapun, wajahnya yang buas dan nampak ganas, tetap saja terlihat mengerikan bagiku.'
"baiklah, kita langsung keinti pembicaraan. apa kau tau kenapa aku memanggilmu kesini?"
"maaf, saya tidak mengetahuinya yang mulia."
"aku tau keinginanmu untuk segera menemui keluargamu, sangatlah besar. akan tetapi.. untuk keadaan sekarang, masih belum aman bagimu untuk pulang."
"kau tidak perlu mengkhawatirkan keluargamu, karena mereka sekarang sudah berada di tempat yang sangat aman."
"apa benarkah begitu..! keluarga saya semuanya selamat?" 'haah syukurlah.. aku sempat cemas dan mulai pasrah, jika terjadi sesuatu. karena misiku yang beresiko.' "lantas kalau boleh saya tau, dimanakah yang mulia duke mengirim mereka yang mulia..?"
"diwilayah armouth, yah memang kota itu terkenal sangat dingin, tapi kau tidak perlu khawatir nak, karena segala kebutuhan fasilitas telah dilengkapi untuk ditinggali oleh keluargamu."
"bukankah itu adalah wilayah kekuasaan yang sangat rahasia, bahkan kaisar saja tidak berani menyentuhnya?"
"ya benar sekali, jika disana mereka akan tetap aman, karena tidak ada yang bisa menyentuh kawasan itu, kecuali para prajurit militer dan duke sendiri."
count arnold merasa sangat lega, karena kekhawatirannya selama ini hilang begitu saja, seperti tertiup angin dimusim semi.
"terimakasih yang mulia, karena telah menyelamatkan saya dan keluarga saya."
"itu hal yang wajar, mengingat keluargamu sudah bekerja lama untuk keluarga ini, dan aku memanggilmu bukan hanya sekedar memberitahukan kabar baik itu saja, tapi ada seseorang yang ingin berbicara denganmu sekarang."
"saya.. si..siapakah itu yang mulia. lup.."
tak lama tampak layar biru, muncul dari batu kristal yang berada diatas meja.
"halo arnold, lama tidak melihatmu."
"ah senang sekali melihat yang mulia duke..!"
"ya . ini aku, maaf baru bisa menghubungimu sekarang. arnold.. maaf sebelumnya, tapi aku dengan terpaksa harus menangkapmu sekarang."
"apa.. yang mulia.. ada apa ini..?"
"brag.. brag.. brag.. plak."
__ADS_1
"euh sebenarnya ada apa ini yang mulia, ke..kenapa tiba-tiba saya ditangkap. kesalahan apa yang telah saya perbuat..?"
kedua pengawal yang sedang berjaga tadi langsung menggebrak pintu, seolah-olah semua memang telah direncanakan hanya untuk menjebaknya. dan kedua pengawal tersebutpun masuk dan menangkap count arlnod secara paksa. serta menutupi mulutnya dengan kain putih, lalu menutupi kepalanya.
"blep.. blep.. eh.. eh.."
lannox memerintahkan kedua pengawal tersebut, untuk segera membawa count arnold.
"buat dia pingsan."
"baik yang mulia, bug gedebug."
salah satu dari pengawal tersebut memukul punggung count arnold, dan count arnoldpun langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri.
"segera bawa dia, dan awasi baik-baik jangan sampai ia kabur, dan bawa sepuluh prajurit terbaik, untuk berjaga-jaga."
"siap yang mulia."
kedua pengawal itupun pergi dan membawa count arnold, yang sedang dalam kondisi terikat dan pingsan. "ceklik tap"
pintupun kembali tertutup, dan hanya tinggal zion yang masih berkomunikasi dengan lannox didalam ruangan.
"kau tidak perlu sampai bertindak sekasar itu, dasar bocah tengik."
"haah apa sekarang kau mau protes kepadaku, dengan semua yang telah aku lakukan? dasar pak tua jelek."
"haah terserah kau saja bocah licik, lalu bagaimana kondisi disana? apa pekerjaanmu sudah selesai..?"
"kenapa kau bertanya, apa kau begitu merindukan aku pak tua..?"
"cih dasar bocah besar kepala, aku bertanya karena ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu?"
"hem.. apa itu, kelihatannya serius sekali..! apa mungkin mantion sedang diserang?"
"kau anggap apa aku ini..? dasar bocah sok tau."
"lalu masalah apa, yang ingin kau sampaikan kepadaku pak tua?"
"apa kau sudah dengar, jika negara tetangga ingin berperang?"
"haah... perang..! tidak, aku masih belum mendengarnya sama sekali, kecuali darimu.."
"tab..tab..yang mulia..!"
tak lama seseorangpun datang melapor.
"zion, kita sambung lagi nanti."
koneksipun langsung terputus.
"dasar bocah nakal, seenaknya saja ia mematikan panggilan, padahal aku masih belum selesai berbicara. sepertinya ada masalah disana, hem.. kuharap dia baik-baik saja. sebaiknya sekarang aku harus pergi melihat keadaan dewi, dan gapi."
kembali ketempat lannox berada, didalam kamp miliknya, seorang prajurit berlari tergesa-gesa datang untuk melapor.
"katakan ada apa?"
"yang mulia argus mencium pergerakan aneh, dari arah selatan. dan beliau langsung pergi kesana sendirian, serta memerintahkan untuk segera melaporkannya kepada yang mulia duke."
'hem mungkinkah sinpenyihir sudah mulai bergerak..!' lannox berpikir sejenak. "baiklah, tetap awasi keadaan sekitar, jika ada yang mencurigakan, segera laporkan kepadaku."
"baik yang mulia."
__ADS_1