AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
HENTIKAN PENCARIAN


__ADS_3

Sekembalinya Zion kemansion, setelah merawat Gapi yang terluka, Zion kembali kekamar Lannox, tempat para spirit berada.


(Jura) "kau sudah kembali bocah!"


(Zion) "cih, apa maksud kakek? aku akan menemukan hal menarik disana! apa kakek mau menjebakku?!!"


Jura tersenyum simpul, melihat zion datang-datang langsung mengomelinya.


(Jura) "bukankah kau lebih tau jawabannya?" gumam Jura menyelidik.


melihat tatapan Jura.. yang seakan mengetahui sesuatu, membuat Zion memerah dan melirik kesamping, sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


(Zion) "cih, i..i..itu.. sudahlah, sebaiknya aku pergi melihat bocah tengil dulu, aku sudah beberapa hari belum melihatnya."


takut dilontar berbagai pertanyaan yang akan membuatnya malu.. Zion dengan cepat pergi menghilang.


(Jura) "hmm.. sepertinya, tidak lama lagi, kita akan segera mendapatkan cucu menantu!"


(Zaku) "cucu menantu.. apa maksudmu?" tanya Zaku tak mengerti.


Sedangkan pirit lain tertawa, karena sudah tahu maksud Jura, sementara Zaku masih belum faham, dengan maksud Jura.


......................


diruang kerja Lannox, Zion, langsung muncul dan melihat kehadiran Argus, sedang duduk santai disofa. melihat keberadaan Argus, Zion tampak tidak senang dan dengan sinis berkata.


"Cih, sedang apa kau disini? keberadaanmu hanya mengotori pemandangan." gumam Zion sarkasme.


"oh, kau masih ingat untuk pulang rupanya? bukankah kau terlalu sibuk, sampai mengabaikan panggilanku!" ujar Lannox sinis, sambil menulis dan mengabaikan keberadaan Zion.


sadar akan ekspresi Lannox, yang kelihatan sedang kesal. zion berpura-pura batuk, Sedangkan Argus, hanya menyeringai dalam diam memperhatikan tingkah Zion, yang tampak malu-malu dan terlihat lucu baginya.


"ada apa dengan wajah buasmu? biasanya kau tampak jelek, dan sekarang malah memerah. tidak mungkinkan.. spirit sepertimu sampai merasakan demam seperti manusia." ejek Argus menyeringai.


"cih, Kau lebih baik duduk diam saja disana.. jangan ikut campur urusanku." ucap Zion kesal.


"jika kau saja bisa, kenapa aku tidak?" jawab Argus menantang.


"braaakkk.. bisakah kalian berdua diam."


hentakan diatas meja dan bentakan Lannox, membuat Zion, dan Argus terdiam.


"Argus, lanjutkan interogasimu, jangan membuang waktu. aku sudah cukup bersabar membiarkanmu berkeliaran bebas dimansionku."


"hihi.. ternyata anda mengetahuinya Yang Mulia! hehehe baiklah, Saya juga tidak suka berlama-lama ada diantara kucing buas sepertinya. kalau begitu saya pergi dulu." jawabnya acuh melihat kearah Zion, dan dengan cepat pergi meninggalkan ruangan.


"cih, sialan.. dia pikir aku suka apa melihatnya berkeliaran disekitarku."

__ADS_1


setelah kepergian Argus, Lannox melirik Zion, sadar akan tatapan Lannox yang menyelidik. Zion dengan cepat berdalih.


"Maaf.. a..aku benar-benar sibuk, makanya aku mengabaikan panggilanmu."


seolah tidak puas dengan jawaban Zion, Mata Lannox menyipit membuat Zion semakin gugup tidak karuan.


"apa yang kau lihat? apa kau sudah bosan hidup haa..." tanyanya tiba-tiba kesal.


"tumben sekali, pak tua sepertimu kelihatan gugup, dan malu-malu, kesalahan apa yang telah kau lakukan pak tua? kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku bukan! atau jangan-jangan.."


"ja..jangan sembarangan menuduh, aku tidak seperti itu!"


"hmm.. sebaiknya memang begitu, karena aku tidak ingin mendengarnya dari mulut orang lain."


mendengar Lannox bicara seoalah memberi ancaman, akhirnya Zion, mengaku walaupun tidak semua ia katakan.


'haah.. bocah sialan, aku benar-benar tidak bisa berbohong dengannya.' keluhnya dalam hati. "baiklah-baiklah aku akan berkata jujur! sebenarnya aku pergi kehutan terlarang. dan ada sedikit masalah disana, makanya aku mengabaikan panggilanmu."


"hutan terlarang, bukankah itu tempat para pengkhianat di hukum. untuk apa kau kesana?"


"ya.. sibocah naga meminta tolong padaku, jika ia melihat cahaya aneh di dalam gua. karena merasa curiga, dengan kilatan cahaya tersebut. ia datang meminta bantuan, untuk menemaninya dan memastikan benda apa yang telah di lihatnya."


"lalu.. apa yang kau temukan? setelah melihatnya!"


"ada monster asing, yang bersembunyi di wilayahku, mana mungkin aku membiarkannya begitu saja. dan kau membuat panggilan, di saat yang tidak tepat."


"memangnya.. ada apa dengan kedua anak itu! apa mereka membuat masalah?"


"tidak, mereka berdua telah lolos dalam misi yang aku berikan. dan, keduanya telah mengucap sumpah. tapi, masih belum resmi menjadi kesatriaku, dan untuk sementara.. aku ingin anak dua itu, ditempatkan dibawah pengawasanmu."


"hem.. baiklah, kapan kau ingin aku melakukannya!"


"tiga hari lagi, karena untuk dua hari ini..Aku telah memberikan mereka libur."


"baiklah, katakan saja kapanpun kau inginkan."


...----------------...


dibenua timur, negara thioran. kedua pria berjubah abu-abu, sedang duduk ditepi tebing.


"Julius, hingga saat ini.. kita sudah berada cukup jauh dari pihak musuh. apa menurutmu, mereka masih akan mengejar kita?"


"entahlah, saya masih belum pasti baginda. melihat bagaimana sifat kaisar penyihir, dia pasti tidak akan melepaskan kita begitu saja." Julius diam sesaat. 'dan celakanya lagi.. aku ada dalam daftar buruannya! bahkan aku meninggalkan spiritku begitu saja, apakah dia baik-baik saja? hah.. lupakan, karena menurutku tidak ada gunanya juga aku membawanya. melihat bagaimana serakah dan tidak patuhnya dia, sekali panggil saja.. sampai harus menelan begitu banyak korban. hah.. bagaimana bisa aku memilih spirit gila seperti itu.'


"lantas, kemana tujuan kita Sekarang Julius?"


"hmm.. saya juga masih memikirkannya baginda, rencananya.. saya ingin mengajak anda menemui seseorang.."

__ADS_1


"siapa itu?"


"seseorang yang sangat istimewa dihati saya, untuk sementara.. baginda akan tinggal disitu! dan saya akan mencari cara, untuk terhubung dengan murid saya."


"hmm.. maafkan aku telah banyak menyusahkanmu, Julius. jika bukan karena kesombonganku, kita mungkin tidak akan seperti ini sekarang."


Sang Raja hanya bisa tertunduk malu, dan menyesali semua perbuatannya. sedangkan Julius, hanya terdiam tersenyum pahit, dan tidak tau harus berkata apa.


"jangan dipikirkan Baginda, semuanya sudah berlalu.. percuma menyesalinya. kita terpaksa memulainya dari awal lagi, itupun jika Baginda sanggup bertahan dalam badai kesulitan."


"aku mengerti, semua terjadi atas keslahanku. apapun resikonya, akan aku hadapi."


"hem.."


kedua sudut bibir Julius, terangkat keatas. ia tidak menyangka, seorang Raja yang manja.. akhirnya bisa bersikap dewasa layaknya seorang Raja.


'seharusnya Beliau bersikap seperti ini sejak dulu. jadi Beliau tidak perlu sampai harus melewati kesulitan, yang tidak pernah ia lalui.'


...****************...


benua barat negara Ergben, sang kaisar tengah berdiri dipuncak menara miliknya. ia memandang sayu kelautan, rambut hitam pendek sebahu, dengan poni yang berterbangan tertiup angin. kedua tangannya, ia selipkan dalam saku celananya.


"apa yang sedang anda pikirkan baginda?" tanya Razak, memecah keheningan.


"apa kau sudah menemukan mereka!"


"masih belum Baginda, tapi jejak terakhir mereka ditemukan di dekat kota bovil, benua timur."


"hmm.. baiklah, biarkan mereka bermain sepuasnya. kali ini abaikan saja, dan hentikan pencarian mereka."


"seperti yang Baginda perintahkan, tik."


Razak menjentikkan jari, dalam sekejap pesanpun sampai kepada anak buahnya, yang sudah menyebar keseluruh benua timur dan barat. keputusan tuannya, membuat hatinya merasa tergelitik untuk bertanya.


"kalau boleh saya tahu, kenapa yang mulia ingin menghentikan pencarian?"


"hem.. Aku punya rencana lain, Aku ingin lihat! sejauh mana mereka bisa berlari dariku. dan Aku masih ingin menikmati melihat kedua Tikus itu, bermain petak umpat." gumamnya dengan seringai menakutkan.


'hmm.. jika Baginda benar-benar serius dengan pencarian ini, dia tidak akan mengulur waktu, hanya untuk bermain-main seperti ini. dia pasti akan langsung mendatangi buruan tersebut, tanpa perantara dan langsung menghukumnya, seperti saat dia mengambil negara musuh. apa sebenarnya.. yang Beliau rencanakan?'


Rafael masih membisu menghadirkan tanya pada Razak, yang sejak tadi mendampinginya dan menyelidik pikiran tuannya. ia memandang lautan luas, langit terang sudah berganti petang, ia pun kembali kedalam kastil miliknya. tampak rasa bosan, singgah di wajah tampannya.


'Apa yang sedang pengantinku lakukan sekarang? aku benar-benar tidak sabar ingin melihatnya!' gumamnya dalam hati,


Rafael berjalan menyusuri lorong demi lorong kastil, untuk menghilangkan kegelisahan di hatinya. keinginan kuat terus menghasut pikirannya, untuk bertindak cepat menemui sang pujaan. namun, akal sehat kembali menguasai dirinya. ia masih menahan diri, karena janji yang telah ia buat. jika menurut hasrat keegoisannya.. mungkin ia sudah pergi dan menculiknya, lalu menjadikan ia miliknya.


"hah.." 'entah kenapa! semakin hari, hasratku semakin menggebu ingin menemuinya. dan perasaan gelisah apa ini, seolah hatiku merasa tidak tenang.'

__ADS_1


rafael memegang dadanya, yang terus merasa gelisah. ia hanya bisa menatap kelangit malam dengan sayu, berharap waktu cepat berlalu.. mengantarkannya kepada sang pujaan.


__ADS_2