
Waktu telah membeku, termasuk garda dan juga zion. Dan semua ingatan para prajurit yang melihat kejadian tersebutpun, telah dihapus ingatan mereka oleh kaisar zando. Karena akan sangat berbahaya jika keberadaan raja spirit, diketahui apalagi jika berita ini sampai tersebar kepihak luar! karena mereka bukanlah spirit biasa.
"t..tapi kaisar.." ucapan zaku langsung dipotong, keempat spirit lain menoleh heran! dengan jawaban cepat dari sang kaisar. sementara jura sudah tidak merasa aneh lagi, karena ia telah mengetahui siapa sosok yang ada didepannya itu.
"kau bukanlah tandingannya, mungkin kau memang bisa melawan bocah penyihir, tapi tidak dengan mahluk itu!" zaku dan yang lainnya.. jadi makin bingung dengan jawaban sang kaisar.
"apa maksud kaisar? Apakah anda telah mengetahui tentang kekuatan misterius itu?" tanya roya.
"tentu saja aku tau, bahkan aku sangat mengenalinya." ujarnya membuat semuanya terkejut. "dia juga spirit seperti kalian."
"apa....!" ujar yang lainya serentak, seperti tidak percaya apa yang dikatakan sang kaisar.
"jadi kekuatan yang sangat mengerikan itu berasal dari seorang spirit?" tama tertegun sejanak. 'tapi mengapa aku sampai merasa ketakutan, padahal aku belum pernah seperti ini sebelumnya?'
"tapi kaisar.. Jika benar dia adalah spirit seperti yang kaisar katakan! Lalu bagaiman bisa ia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa? Dan bahkan melebihi level kami para raja spirit." ujar saga penasaran
"itu karena dia telah mewarisi kekuatan dewa kehancuran."
"dewa kehancuran.. !" ucap zaku dan jura serentak.
"apa maksud anda kaisar? Saya masih belum mengerti apa hubungannya, spirit itu dengan dewa kehancuran?? Dan, bagaimana bisa dia mewarisi kekuatan seorang dewa." keluh zaku bingung.
"spirit seperti apakah dia?" tanya gira.
Ditempat para elf, argus yang telah sampai disana merasa gelisah, karena ia langsung pergi begitu saja meninggalkan dunia manusia, tanpa pamit pada tuannya lebih dulu. Dalam hati argus merasa tidak enak, namun dia juga penasaran tentang siapa identitas kedua orang disampingnya, Apalagi setelah mereka memanggilnya dengan sebutan cucuku.
"sebenarnya apa yang kalian inginkan?"
"sudah kubilang, kami hanya ingin bertemu denganmu, dan melihat keadaan putri kami?" ucap pria itu.
"putri.. siapa? Jika begitu kenapa kalian masih menahanku?!!" argus masih berpikir keras untuk pergi dari situ. 'bagaimanapun aku harus mencari cara.. Untuk kabur dari sini.' Dari kejauhan tampak sang raja, telah menyambut kedatangan putranya. Namun ada yang berbeda dengan perubahan wajah sang raja, ia terlihat seperti sedang gemetar.
__ADS_1
"lihatlah bocah itu! Dia tampaknya sangat senang sekali melihat kehadiran kita. Tapi dimana putri kita? kenapa dia tidak datang menyambut kedatangan orang tuanya!" tanya sang wanita kepada sipria.
'putri.. siapa? yang dia maksud dengan putri!' argus melihat wajah ayahnya yang kelihatan sangat marah. 'kenapa lagi dengan orantua itu? Kenapa tampangnya kelihatan sangat kesal sekali?!! Apa aku melakukan kesalahan! Atau dia marah.. karena aku sudah lama tidak pulang? Hmm apapun itu.. Aku harus segera mencari cara untuk pergi dari sini.' Sang putri yang berlari saat mendengarkan kepulangan pangeran, akhirnya tiba diistana utama.
"huh.. huh.. huh.. Tak.. Tak.. Tak.. Rudolf.. Rudolf.. Tunggu." tampak Rudolf baru tiba diaula istana, ia yang juga melihat sang putri berusaha untuk putar haluan, namun bajunya ditarik oleh sang putri.
"haa.. Itukan putri rowena, celaka aku salah jalan ternyata! a.. a.. ada apa putri?" namun saat ia akan pergi, bajunya ditarik oleh putri rowena yang sedang terengah-engah karena kelehan saat berlari. "Tarik nafas.. Anda perlahan putri.."
"huh.. huh.. Aku dengar, kakak sudah tiba diistana! Dimana dia rudolf? Cepat katakan?!!"
"sebentar putri.. Anda bilang pangeran telah tiba diistana? Saya saja tidak tau mengenai berita itu..! Wuaahh.. ternyata diistana ini banyak tukang gosip rupanya haha."
"aku sedang tidak bercanda rudolf, cepat katakan dimana kakak?"
"baiklah, tenang.. tenangkan diri anda putri. Anda tunggulah disini, saya akan pergi mencari keberadaan pangeran."
"tidak, biarkan aku ikut denganmu!"
"sudah kubilang biarkan aku ikut denganmu!"
"hah.. Baiklah jika anda memaksa." dalam hati rudolf 'sial.. kenapa juga aku harus melewati jalan ini dan bertemu dengannya, hmm pantas saja perasaanku merasa tidak enak saat melewati jalan ini. Tapi, jika benar pangeran sudah kembali bukankah itu bagus..! Lihat saja nanti.. akan kukerjai dia." akhirnya mereka berduapun, pergi meninggalkan aula istana.
"selamat datang ayahanda.. Ibunda. Sudah lama anda tidak datang berkunjung kemari?!!" sapa raja pada keduanya
"hmm kau terlihat sama saja seperti dulu faran, tidak berubah sedikitpun." sang pria menepuk bahu raja.
"anda terlalu memuji ayahanda."
"dimana helmina? Mengapa aku tidak melihat dia menyambut kami.."
"i.. istriku sedang tidak berada disini ibunda..!"
__ADS_1
"apa.. Tidak ada disini, Lalu dimana dia?"
"euh itu.. Dia bilang untuk sebulan ini, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk saya suaminya." raja faran menggaruk pipinya yang tidak gatal, sambil menatap argus. 'dasar putra kurang ajar, sudah tidak pulang! Sekali pulang kau malah membuat kekacauan.' umpatnya dalam hati.
'untuk apa mereka mencari ibunda? Apa Jangan-jangan yang mereka maksud sejak tadi ingin melihat putri mereka.. adalah ibu?!! Lalu.. Siapa mereka sebenarnya?' walau argus penasaran, tapi rasa tanggung jawabnya kepada misi yang dijalaninya.. membuatnya tidak bisa tenang sedikitpun. "haah ayahanda, saya sangat senang anda menyambut kami. tapi, saya sangat lelah sekarang! bisakah saya pergi kekamarku? Hehe." tawanya sambil mengusap belakang kepalanya. Raja yang tidak enak karena sedang berada didepan mertuanya, mau tidak mau terpaksa mengabulkan keinginan putranya.
'dasar bocah tengil, setelah membuat kekacauan sekarang kau malah ingin kabur begitu saja.. Cih, licik sekali.'
"biarkan saja dia pergi.. Dia pasti sangat lelah saat dalam perjalanan."
"anda sangat perhatian sekali.. kalau begitu baiklah ibunda, seperti yang anda inginkan." raja melihat kearah putranya yang masih tertawa dengan wajah polos. "huh pergilah."
"saya pamit dulu ayah" argus melihat kedua suami istri yang tersenyum ramah kepadanya. "terima kasih tuan nyonya." setelah berpamitan iapun pergi meninggalkan tempat itu. 'hmm ini kesempatan bagus untukku, aku harus segara kabur dari sini.. Sebelum bertemu yang lainnya.' argus mempercepat langkahnya, dan setelah melewati lorong kecil yang mengarah kekamarnya, saat itu juga angin kecil berputar pelan disekelilingnya dan..
"apakah kau tidak pernah memberitaunya siapa kami sebenarnya?" raja menjadi gugup, dengan pertanyaan ayah mertuanya.
......................
"ah itu pangeran.." 'celaka, baru saja dia tiba dan memberi masalah kepadaku, dan sekarang dia malah ingin kabur begitu saja! Tidak bisa.. Aku harus cepat mengejarnya sebelum dia menghilang lagi.'
"Tunggu kakak...!" rowena berlari ingin meraihnya.
"pangeran.... Tunggu, jangan pergi.." rudolf dengan cepat berlari lebih dulu dari sang putri untuk meraihnya, namun ia terlambat. Argus menoleh dari jauh, saat melihat keduanya datang berlari menghampirinya.
"hihi.. Sampai jumpa." ia tersenyum melambaikan tangannya kepada keduanya, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Setelah melambaikan tangannya, tak lama arguspun menghilang.
"aahhh sial, aku harus segera melaporkannya kepada baginda raja." ujarnya kesal.
"hiks.. Hiks.. Kakak.. Kenapa kau pergi lagi, Hiks.. Hiks.. Padahal masih banyak yang ingin kubicarakan padamu!" rudolf yang melihat tangisan sang putri, merasa tidak tega dan mencoba menenangkannya.
"tuan putri.. Sebaiknya anda kembali dulu! Saya akan melaporkan masalah ini, kepada baginda raja. Pengawal.. Cepat antarkan putri kekamar beliau.
__ADS_1
"siap komandan." kedua pengawal itupun mengawal sang putri kembali, dengan keadaan masih menangis! Wanita cantik itupun, pergi dengan rasa kecewa.