
"Benar, akulah orangnya.. Maaf jika tidak sesuai dengan ekspektasi kalian." Ujar Ravella sambil tersenyum.
"Ti..tidak bu..bukan begitu, hanya saja.. Kami masih ti..tidak menyangka jika anda adalah seorang anak kecil."
'Hem.. Aku hanya tersenyum melihat reaksi keduanya.. Yang menurutku sangatlah lucu. Lalu, aku melihat kearah para kakek, yang tampak sedang menahan tawa mereka, lalu aku memberikan tatapan tajamku.'
Ravella memperlihatkan tatapannya kearah enam Spirit tersebut, sadar akan tatapan Ravella yang menusuk, keenam Pria tersebut berpura-pura melihat kearah lain.
"La..lalu.. Kami ha..harus memanggil anda apa??" Ujar Ron, yang tampak sangat gugup.
"Hmm terserah kalian saja.. Panggil senyaman kalian. Dan bersiaplah, kita akan segera berangkat sekarang."
"Maaf sebelumnya.. Anda mahu membawa kami kemana?" Tanya Rog bimbang.
"Hmm..Tentu saja mengajak kalian kerumah yang sesungguhnya."
Tampak kebimbangan hinggap di wajah keduanya, membuat Ravella mengerti rasa ketakutan yang mereka alami.
'Hmm.. Meskipun karakter mereka tidak pernah ada didalam novel, tapi aku sangat faham, mereka pasti merasa khawatir, karena takut akan dijual sebagai budak atau di jadikan mainan para bangsawan.
Novel ini benar-benar sudah berubah dari plot aslinya, entah bagaimana Genre yang tadinya hanya Drama Romansa, sejarah, tragedi, malah berubah menjadi Fantasi, aksi, seperti sekarang? Haah.. Apa alur ceritanya telah berubah karena kehadiranku?!!
Entahlah, yang jelas apapun rintangan yang menunggu didepan nanti.. aku harus menghadapinya. karena sekarang, semua yang ada dalam novel ini. telah menjadi bagian dari duniaku, dan kehidupanku yang baru.'
"hmm kalian tenang saja.. Aku tidak akan menjual ataupun memperbudak kalian berdua. Kalian ikut saja dulu, setelah itu.. kalian bebas memilih ingin pergi, atau tinggal, aku tidak akan menghalanginya."
Mendengar ketulusan dari Putri Ravella, membuat keduanya merasa lega.
"Baiklah, kalau begitu kami akan berkemas, mohon tunggu sebentar."
Setelah beberapa menit kemudian, Rog dan Ron membawa pakaian seadanya, dan beberapa belati tua miliknya. Melihat barang yang dibawa oleh keduanya, membuat Ravella merasa sedih.
'Sangat memprihatinkan sekali.. Sekeras apa kehidupan yang telah mereka berdua jalani? Sampai-sampai pakaian yang mereka kenakan sudah tidak layak dipakai, begitupun dengan pakaian lainnya yang akan mereka bawa.
juga tidak layak untuk dipakai sehari-hari.' Pikir Ravella lalu mendekati keduanya. "Tunggu dulu, apa hanya ini barang yang akan kalian bawa?" tanya Ravella, tanpa maksud menyinggung.
"Benar, karena cuma ini barang yang kami punya."
"Sebelum itu.. Izinkan aku bertanya, apakah barang yang kalian bawa adalah barang penting? Atau memiliki sebuah kenangan yang berharga dengan barang-barang ini??"
__ADS_1
"Mmm.. tidak , kami tidak memiliki kenangan seperti itu." Jawab Rog, jujur.
"Baiklah, aku mengerti." Ucap Ravella tersenyum. "apa kalian sudah siap!!" tanya Ravella kepada keduanya, yang tampak bingung.
"Ya.. Kami sudah siap." Ujar Rog dan Ron bersamaan.
"Mata ketiga, Terbukalah."
'Bagaimana bisa anak kecil sepertinya.. bisa melakukan hal yang menakjubkan seperti ini?' Rog yang tampak terkejut.
'Wuaahhh.. dia benar-benar hebat, padahal kelihatannya dia lebih muda dariku, tapi bagaimana bisa dia melakukan jurus seperti itu!! Siapa sebenarnya anak ini??' Ujar Ron terpana.
Setelah Ravella membuka mata ketiganya, muncul gerbang cahaya yang sangat terang di hadapan mereka. Duke yang melihat kilauan cahaya muncul di ruangan kamar Putrinya, hanya menyeringai menunggu sosok yang ia nantikan keluar dari balik pintu cahaya tersebut.
Ravella memasukinya lebih dulu, dan di susul dengan Rog, Dan Ron, lalu keenam Spirit lainnya dibelakang. Saat Ravella masuk dengan membawa Gapi, dalam pelukannya.. Ia tiba-tiba dikejutkan dengan sosok tampan, dan dingin. Sedang duduk bersandar disofa, ia sedang bersedekap tangan, dengan kedua kaki yang disilang.
Ia menyeringai saat melihat Putrinya muncul dari balik cahaya tersebut.. Dan apalagi saat melihat mahluk merah kecil, sedang bergelut manja, dalam pelukan hangat Putri kecil kesayangannya. Menyadari tatapan tajam yang mengarah kepadanya, Gapi dengan cepat menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan Ravella.
Menyadari ketakutan Gapi, Ravella memeluk erat bayi kecilnya.
'Bocah sialan itu tampaknya sangat menikmatinya haa..!' Pikirnya kesal.
'Ayah.. Sejak kapan Pak Tua itu ada disini?? Bukannya dia sedang sibuk bekerja..! Astaga, wajah dingin itu.. Bagaimana caraku menjelaskannya! Apa lagi aku pergi tanpa izin, belum lagi aku membawa hal yang paling ia benci. Oh Dewa.. Bagaimana ini.' Pikirnya Panik.
Duke yang tampak tersenyum, membuat Ravella semakin takut dan mencurigainya. Sementara kedua kakak beradik yang tidak tahu apapun hanya diam menyaksikan keterkejutan Putri kecil, dan orang yang tampak tersenyum.
namun dipenuhi dengan hawa dingin yang membunuh disekitarnya, dan Rog bisa merasakan ancaman dari Aura tersebut, Ia langsung berdiri didepan adiknya.
"Putriku.. Apa kau sudah puas jalan-jalannya, sampai melupakan jadwal makan siangmu hem..!!"
'Aura ini, aku harus segera mendinginkan Pak Tua itu, jika tidak tempat ini akan hancur.' Ravella menitipkan Gapi kepada Rog, untuk dipegang.
"Aku titip Gapi sebentar" Ia menyerahkan Gapi kepada Rog. "Ayaaah.. Maafkan aku, karena pergi tanpa izin, muaaahh.. muaaahh.."
Setelah menyerahkan Gapi, Ravella langsung berlari dan memeluk sang Ayah, ia mengecup lembut kedua pipi sang Ayah, Lalu segera mengalungkan kedua tangannya.
"Ayah jangan marah ya..! Ravel janji tidak akan melakukannya lagi."
Melihat inisiatif Putri manjanya yang tiba-tiba langsung memeluknya.. Es yang tadinya membeku, kini mencair karena kehangatan dari pelukan Putri kecilnya. Duke pun membalas pelukan Putrinya dan membelai rambutnya
__ADS_1
"Haah.. Baiklah, Ayah akan memaafkanmu untuk kali ini. Tapi lain kali.. setiap kau akan pergi.. Kau harus izin dulu dengan Ayah. Jika tidak, jangan salahkan Ayahmu ini, karena menyegel Mata ketigamu, agar tidak bisa kau gunakan lagi kedepannya. Apa kau mengerti Putriku..!!" Ujarnya tersenyum dengan nada yang mengancam, sambil melihat kekening Putrinya.
'Apaa.. Gawat, jika mata ketigaku sampai disegel, aku tidak akan bisa pergi kemanapun. Pak Tua sialan ini, haruskah menghukumku sampai seperti ini. Haah.. untung saja wajahmu tampan Pak Tua. jika tidak, sudah kucolok kedua matamu itu.' Uneg-uneg dalam hati Ravella, yang tidak bisa ia keluarkan.
"Ba.. baiklah Ayah, Ravel janji lain kali akan meminta izin terlebih dahulu."
Duke langsung memeluk Putri kesayangannya, tampak ekspresi yang dipenuhi hawa membunuh, kini menghangat hanya dengan pelukan Putrinya. Duke bangun berdiri sambil menggendong Putrinya.. Lalu memperhatikan kedua anak lelaki yang tidak bergeming dari tempatnya.
"Lalu.. Siapa mereka?" Tanyanya kepada Ravella.
"Mmm.. Mereka adalah anak Adopsiku Ayah!"
Mendengar kata anak Adopsi, tampak perubahan dari kedua kakak beradik itu.. Begitupun Duke, kedua alisnya tampak mengkerut menahan emosi.
'Berarti dia tidak berbohong, ternyata dia benar-benar orang tua angkat kami. Heemm rasanya aku tidak habis pikir, bagaimana bisa aku di adopsi dengan lady kecil sepertinya.. aku jadi bingung antara harus bahagia, atau tertawa.. Sangat aneh rasanya diadopsi oleh anak kecil.
Kenapa aku merasa seperti telah dibodohi dengan keenam Paman tersebut..' Keluhnya dalam hati sambil melirik sekilas kearah keenam Spirit. 'Dan lagi, mereka terlihat berbeda dengan kaum bangsawan pada umumnya! Yang pernah aku temui. Apa lagi Sosok Putri kecil itu.. Auranya sangat mencolok ia tidak terlihat seperti manusia.
Awalnya aku sempat mengira jika dia adalah seorang Dewi, yang turun dari langit, tepatnya.. Aku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Dan adikku juga sejak tadi tidak berkedip memandangnya..!
Karena dia masih kecil, jadi aku tidak merasakan gejala yang sama seperti Ron, namun berbeda ceritanya jika ia Dewasa, mungkin akupun akan merasakan hal yang sama seperti adikku. Haah.. Tiba-tiba aku jadi ingin menunggu saat itu tiba, apakah hatiku akan berubah, atau tetap sama seperti sekarang.
Aku akan menantikan saat itu.. Aku juga ingin lebih mengenalnya. Tapi, yang jadi masalahnya.. Aku harus memanggil nona kecil ini apa??? Tidak mungkin ibu.. Itu terdengar sangat aneh. Yang ada orang-orang akan menganggapku tidak normal, tidak.. tidak.. Aku akan memikirkan masalah ini nanti.'
"Apa kau yakin dengan yang kau katakan nak!!"
"Tentu saja, dan Ayah harus ingat janji Ayah kepadaku! Bukankah Ayah akan menepatinya..!!?" Ujar Ravella menatap sang Ayah dengan tatapan dingin miliknya.."
'Lihat tatapan itu.. dia seperti duplikat Ayahnya, namun versi kecilnya.' Ujar Rog dalam hati.
'Ia seperti anak kucing yang terlihat galak, sangat lucu hem.. hem..!' Pikir Ron, yang sudah terpesona oleh keimutan Ravella.
Duke melihat kedua anak lelaki tersebut.. Ia sangat tidak suka dengan tatapan Ron, kepada Putrinya. yang kelihatan jarak usia diantara mereka tidak jauh.
'Aku benci melihat pandangannya yang seperti ngengat.. Rasanya aku ingin sekali mencabut kedua mata yang kurang ajar itu. Jika bukan karena janjiku kepada Putriku, dan aku juga tidak ingin kejadian terakhir kali terulang lagi.
Maka, aku akan menyetujuinya. Tapi, tentu saja.. Aku harus mengawasi kedua anak-anak ini. Jika mereka sampai menghianati Putriku, aku akan melenyapkan mereka secara diam-diam dengan tanganku sendiri, tanpa sepengetahuan Putriku.'
Melihat tidak adanya respon dari sang Ayah, Ravella memanggil Ayahnya..
__ADS_1
"Ayah....!!"