AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
MENEMUKAN JAWABAN


__ADS_3

"ayah bisakah aku keluar sebentar!"


"kau mau kemana ravel!"


"aku ingin keperpustakaan, mengantarkan buku ini!"


"tidak perlu, biarkan pengawal yang mengembalikannya."


"tapi yah! aku ingin mengganti buku baru, Karena buku ini, aku sudah selesai membacanya."


"biarkan aku mengantarmu nak! percayakan dia padaku bocah."


Lannox agak keberatan, dilihatnya Zion dengan ragu namun diapun mengizinkannya.


"baiklah, cepat kembali. jika tidak ayah yang akan menyusulmu kesana!"


"ya.. ya.. baik!"


'huh, mulai lagi.'


"silahkan Dewi, naik ke punggungku, kita akan melewati jalur yang lebih cepat."


ravellapun menaiki punggung zion, dan mereka tenggelam dalam bayangan.


"wow.. jadi beginikah dunia bayangan itu?"


"tentu saja dewi, kita sudah sampai."


"sebentar kek"


'untuk membuatnya percaya! aku harus membawa buku lain, dengan begini dia tidak akan curiga.'


"ah aku lupa mengatakannya, sebenarnya tujuanku bukan kesini kek!"


"lalu! kemana dewi?"


"ayo kita kezona mana, seseorang sudah menunggu kita disana!"


"ah pantas saja alasan Dewi terlihat sangat mencurigakan! makanya untuk mempermudah alasanmu! aku membantu dewi, dengan menawarkan diriku pergi bersamamu."


"terimakasih! kakek benar-benar peka."


ravellapun memasuki zona mana, terlihat roya yang sudah menunggu kedatangannya. saat roya melihat kedatangan ravella, diapun langsung menghampirinya.


"nak aku datang ingin memberi laporan padamu!"


"bagaimana kabar kalian berdua kek!"


"kami sangat baik sayang, dan sangat menyenangkan menjadi mata-mata."


"syukurlah! lantas apa kakek sudah menemukan pemimpin orsi?"


"masih belum! dia tidak datang, hanya wakilnya yang terlihat. sepertinya dia tipe yang sangat berhati-hati dan selalu memberi perintah dan tempat, dengan menggunakan kode rahasia."


"kode rahasia?"


"ya.. dia tipe orang yang sulit ditebak! pintar dan juga cerdas, dia selalu memakai kode teka-teki jika ingin memberi tugas ataupun mengadakan pertemuan rahasia."


"hmm begitu ya..! berarti dia bukan orang sembarangan. karena dia tahu, disetiap tempat! pasti akan selalu ada musuh yang mengintai. untuk menipu, dan mengecoh musuhnya! dia membuat musuh kebingungan jadi, dia menggunakan teka-teki. hmm pantas saja! keberadaannya sulit dilacak! kek, kali ini mohon berhati-hatilah."


"ya sayang. ah! aku juga mendengar, kalau mereka mempunyai sistem nomor atau kelas."


"maksud kakek?"


"ya.. orang-orang yang kami selidiki adalah dengan urutan tingkat tujuh, dan yang paling terendah adalah tingkat sepuluh, bisa dipastikan. masih ada tingkat lainnya yang lebih berbahaya daripada yang sekarang kami incar."


"kek kumohon jika berbahaya kalian kembalilah , jangan memaksakan diri."


roya maju lalu berlutut dihadapan ravella dan membelai kepala ravella.


"kau tenang saja nak, aku telah bersumpah! akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku! jadi, resiko apapun itu akan aku tempuh untukmu Dewi."


"tapi kek!"


"tolong percayalah pada kami nak! aku janji akan memecahkan masalah ini untukmu"


"huh, baiklah. tapi kek, mulai sekarang! kau bisa mengirim kabar melalui merpati pos saja kek! aku tidak ingin membuat kakek kerepotan."


"tidak, aku lebih percaya dan nyaman! mengerjakannya sendiri. oh iya! aku sudah terlalu lama membiarkan anak itu sendirian bermalas-malasan. kalau begitu, aku akan segera kembali sekarang. karena aku tidak percaya dengan, si rubah pemalas itu!"


"baiklah kek, terimakasih kerja kerasnya, tunggu kek! agar kalian tidak repot gunakan sihir pos saja. karena itu lebih cepat sampai kepadaku! ini bawalah kertas sihir setelah kakek menulisnya, lalu bakar kertas ini, secara otomatis suratnya akan sampai kepadaku."


"baiklah terimakasih sayang! jika begini, sangat gampang dan sangat mempermudah! kalau begitu aku pergi dulu."


"baik kek berhati-hatilah! ingat kembalilah jika itu membahayakan."


"ya sayang, aku pergi dulu."


royapun menghilang dalam sekejap. zion yang sejak tadi terus memperhatikan ravella.


"nak! kenapa kau tidak menceritakan saja, tentang kejadian yang kau alami!"


"tidak perlu kek! aku tidak ingin membuat mereka khawatir. lagipula itukan sudah berlalu, jadi tidak perlu dibahas lagi. ayo kita pergi kek, sebelum ayah mencurigai kita."


"baiklah nak." ravellapun menaiki punggung zion, dan merekapun menghilang! Lannox hampir menyusul mereka kepustakaan. untung saja, ravella dan zion cepat kembali.


"kenapa kau lama sekali ravel!"


"ravel mencari buku yang bagus untuk dibaca , makanya agak lama."


"lalu, apa kau menemukannya?"


"ya sudah ini. ravel mengambil tiga buku!"


Lannox baru percaya, setelah melihat buku yang dibawa putrinya.


"ya sudah, lanjutkan membacanya. ayah juga akan menyelesaikan laporan yang menumpuk!"


ravella mengangguk lalu bersandar ditubuhnya zion. sambil membuka buku, sementara zion kembali melanjutkan tidurnya.


****************

__ADS_1


"huh, siapa kau..!"


"apa kau tidak mengenaliku daskal?"


"jangan bercanda, tunjukan siapa dirimu"


"hahaha bagus, berarti penyamaranku berhasil."


"pria itu merubah kembali dirinya."


"b..Baginda maafkan saya, karena tidak mengenali baginda."


"tidak! justru itu malah bagus. karena aku akan menggunakan penyamaran ini, untuk menemui pengantinku. jika aku tidak bisa merebutnya dengan cara kasar, maka akan aku lakukan dengan cara yang halus."


"itu adalah ide bagus Baginda."


'tapi anak itukan masih terlalu kecil untuk dijadikan pengantin Baginda, aku heran! mengapa dia tidak menunggunya dewasa saja, itukan tidak lama hanya menunggu beberapa tahun saja, huh entahlah.'


"khakkk.. khakkk.."


"kau telah berhasil melakukannya. itu cukup bagus gapi."


jura dengan wujud naga hitamnya berjalan menuju pohon rindang untuk berteduh, dan diikuti si naga kecil di belakangnya.


"khaakks.. khakkks.."


"kau ingin menemui Dewi..!"


"khaakks.. khakkks.."


naga itu melompat kegirangan Karena senang ingin bertemu ravella.


"hmm baiklah, tapi sekarang, kau makanlah dulu. kita akan kembali nanti, tapi setelah kau menyelesaikan latihanmu."


"hmmmm.."


"jangan memasang wajah cemberut begitu, cepat selesaikan makanmu."


naga kecil itupun kembali memakan buruannya, sang kelinci adalah korban pertama yang berhasil ditangkapnya.


"tuk..tuk..tuk..!"


si kelelawar mengetuk jendela dan Tama membukanya.


sikelelawar merubah dirinya menjadi kucing.


"tuan sebagian dari mereka masih belum menemukan jawaban, namun ada satu orang lainnya, yang telah bergerak lebih dulu secara sembunyi-sembunyi."


"apa maksudmu?"


tanya Tama berpura-pura tidak tahu.


"salah satu dari mereka pria bernama rog telah bergerak, dia telah menemukan jawabannya, dan langsung bergerak menjalankan misi."


"hmm, sudah kuduga anak itu berbakat. baiklah lanjutkan penyelidikanmu, biar aku yang urus anak itu."


"baik tuan saya mohon undur diri."


"hei rubah, bagaimana! apa semuanya lancar?"


"aha... kebetulan kau sudah sampai burung."


"apa maksudmu?"


"aku ada sedikit urusan sekarang! nanti akan aku jelaskan, aku pergi dulu."


"h..hei tunggu du..! ah dasar rubah jelek, kemana dia akan pergi..?"


hari penyambutan telah tiba, Lannox telah bersiap-siap dengan pakaian resminya sebagai seorang duke. sementara ravella dengan berdebar mengenakan gaun pilihan Reni dan marri.


"wuaah putri anda benar-benar sangat cantik gaun ini sangat cocok dikenakan oleh anda."


"Reni, apa ini tidak terlaalu mencolok aku tidak suka hal yang mencolok, diriku saja sudah sudah sangat mencolok untuk hadir disana! apalagi mengenakan gaun ini?"


ravella mengenakan gaun berwarna pink rose, disetiap sudut gaun terdapat sulaman emas murni, rambut panjang bagian bawahnya digeraikan, dan rambut bagian atas dikepang lalu pelayan menyelipkan jepit rambut berbentuk daun dan mawar. daunnya yang terbuat dari emas murni, sementara mawarnya terbuat dari berlian merah, yang dipesan langsung oleh lannox, dari kota para dwarf untuk putri kesayangannya.


"wuah, cocok sekali dengan putri, berlian merah mirip seperti mata putri, sementara daun emasnya sangat cocok dengan sulaman emas di gaunnya."


"huh marri apakah sudah selesai?" sedikit lagi tinggal membenarkan poni saja putri."


setelah selesai, Ravella melihat ke cermin.


"ya ampun, apa benar ini aku!"


"tentu saja putri anda sangat cantik dan indah." benar-benar perpaduan yang mulia duchess dan yang mulia duke."


"tap..tap..tap.. oh tidak, apa kau benar-benar putriku!"


"huh tolong jangan mengolokku ayah!"


"kau sangat cantik sayang, persis seperti ibumu, dan aku. tapi kenapa rambutmu semakin hari semakin bercahaya saja! apa ini tidak apa-apa! huh sudahlah ayo kita berangkat."


lannox tidak menyadari aura sang Dewi semakin hidup didalam diri ravella, dan itu akan membuatnya kerepotan. sementara di istana kaisar semua bangsawan sudah pada berkumpul menantikan kehadirannya, hanya keluarga kaisar dan lannox yang masih belum muncul.


"putraku bisakah kau hentikan itu, mataku sakit melihatmu bolak balik seperti cacing kepanasan."


"ah! ayah, apa menurutmu Ravella akan datang? aku benar-benar takut Duke melarangnya."


"huh mana mungkin itu terjadi..! kalau sampai dia melakukannya, aku akan membatalkan hadiahnya."


"tapi, bukankah ayah tahu sendiri Duke sangat keras kepala, dia akan melakukan apa yang telah dia katakan."


"tenanglah Devin, aku tidak akan membiarkannya."


"ya putraku, tenanglah ibu juga akan membantumu untuk memilikinya, benarkan suamiku?"


"tentu saja istriku. aku juga ingin melihat seperti apa wujud putri kesayangannya. Yaang sangat dia banggakan itu!"


"aku dengar dari kabar yang beredar, kalau putrinya sangat cantik, dan karena sang Duke takut anaknya menjadi perhatian dia sampai mengurungnya di mansion."


"bukankah kau sudah melihatnya Devin! bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"tidak salah lagi ayah, kabar itu memang benar adanya, aku harus memilikinya kelak aku menginginkannya sebagai istriku."


ratu dan kaisar saling menatap dan melihat putranya.


"apa benar itu keinginanmu?"


"tentu saja ayah. bahkan kedua putra marquess Victor sempat ingin mendahuluiku, namun untunglah dihalangi Duke lannox. jadi aku tidak perlu turun tangan untuk menyingkirkan mereka berdua."


"tapi sangat aneh! kenapa lannox tidak pernah ingin memperkenalkan putrinya kepada kita."


"entahlah istriku, aku juga heran akan hal itu apa yang ingin disembunyikan anak itu pada kita."


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"sebentar lagi kita akan sampai sayang bersiaplah.!"


'huh, pesta penyambutan ini untuk ayah, tapi kenapa aku yang merasa gugup! perasaanku benar tidak enak kenapa ya.. seperti ada yang mengganjal di hatiku.'


"kau kenapa sayang! apa yang kau pikirkan dikepala kecilmu?"


"eh, tidak apa-apa ayah. aku hanya merasa tidak enak, dan sedikit gugup saja."


"kemarilah sayang."


lannox melatakkan putrinya dipangkuannya.


"kau tidak perlu khawatir, ayah akan selalu bersamamu. jika kau merasa tidak nyaman katakan pada ayah, kita akan langsung pulang."


'jika aku bilang tidak, dia pasti akan melakukannya karena dia juga sebenarnya memang tidak ingin hadir, pak tua inikan memang gila.'


"tidak ayah! ravel tidak apa-apa, karena ini Yang kedua kalinya ravel ke istana kaisar, jadi wajar hanya sedikit gugup saja. apalagi ini adalah pesta penyambutan ayah."


"huh, padahal, ayah ingin kau menjawab tidak."


'benarkan apa yang kupikirkan, untung saja aku tidak bilang tidak. kalau aku menjawab seperti yang dia inginkan, dia pasti akan langsung mengajak pulang'


"Duke lannox ravin rallex dan putri ravella nasya rallex telah tiba."


"akhirnya mereka datang juga aku jadi penasaran melihat kedua ayah dan anak itu."


"aku dengar-dengar tuan putri sudah semakin cantik saja, Bahkan sangking cantiknya sang Duke sampai mengurung putrinya di istananya. dan pangeranpun tidak diperbolehkan bertemu dengan sang putri"


"benarkah! masa sampai seperti itu, sombong sekali dia, tidak mungkin juga putrinya sampai secantik itu bisa jadi, karena putrinya jelek. dan Malu menunjukkannya, makanya dia melarang putrinya keluar"


"benar juga bisa jadi, mungkin karena itu dia melarang pangeran bertemu dengan putrinya."


"ya kau benar."


saat para bangsawan sibuk bergosip sementara orang yang digosipkan punmemasuki ruangan. dan semua mata yang melihat terkejut dan terpana apa lagi melihat siputri kecil yang berada dalam gendongan lannox.


"wuahh tampannya, tapi apa benar itu putrinya! dia sangat cantik mirip seperti mendiang duchess"


"ternyata dia tidak jelek, bahkan dia jauh lebih cantik dari pada sebelumnya."


"ya kau benar lihatlah mereka berdua, betapa protektif nya sang Duke sampai menggendong putrinya."


"tidak heran kalau dia protektif, jika aku menjadi sang dukepun aku juga akan melakukan hal yang sama, sayang aku tidak punya seorang putra."


"ayah, bisakah turunkan ravel! ini sangat omemalukan datang dengan digendong seperti ini!"


"tidak, aku tidak akan membiarkan para kumbang genit meendekatimu."


"huh apa maksud ayah."


"bukan apa-apa, kau tidak perlu memikirkannya.. "


"kaisar deonxall rolef dan ratu sandria Elisa rolef dan pangeran devinxall rolef telah memasuki ruangan."


semua hadirin menunduk memberi hormat pada kehadiran keluarga kaisar.


"semuanya silahkan angkat kepala kalian."


sang kaisar dan pangeran terus mencari kehadiran lannox dan Ravella, ditengah kerumunan para pengunjung.


"baiklah karena semuanya sudah hadir, persilakan tamu utama untuk maju ke depan."


lannox dan putrinya yang sejak tadi bersembunyi dibalik pilar akhirnya maju ke depan dengan menggendong putrinya. sang kaisar yang memperhatikan rambut sang putri merasa sedikit terkejut karena rambutnya tampak bercahaya namun ia tidak bisa melihat wajah Ravella karena lannox menggendong Ravella dengan membelakangi sang kaisar. dan lannox menurunkan putrinya, namun wajah Ravella dihadapkan pada tubuhnya yang besar seakan tak ingin menunjukkan pada kaisar.


"hormat pada matahari kekaisaran, semoga kemuliaan selalu menyertaimu"


"jadi inikah putrimu! bisakah kau memperlihatkan wajahnya kepadaku!"


dengan berat hati lannox mengizinkan ravella menunjukkan wajahnya pada sang kaisar. Ravella pun perlahan menoleh dan memberi hormat pada sang kaisar dan yang terjadi.


"hormat pada matahari kekaisaran."


sang kaisar dan ratu juga pangeran yang melihatnya terpana dengan wajah indah dan cantik milik Ravella, Devin terpesona dan tersenyum saat melihat Ravella.


kaisar yang melihat penuh minat menyeringai licik.


'pantas saja dia menyembunyikan putrinya, dia tidak tidak terlihat seperti manusia, tapi lebih pantas disebut Dewi yang turun dari langit, mungkinkah dia anak dalam ramalan itu?'


"hmm kau sangat cantik nak, persis seperti ibumu, siapa namamu?"


"r..ravella Baginda kaisar"


"namamu juga indah."


lannox yang melihat gelagat kaisar merasa ada yang aneh dengan tatapan kaisar pada putrinya. dan kaisar sedikit melempar senyum liciknya kepada lannox.


"t..terima kasih b..Baginda."


"baiklah sesuai, janjiku kepada singa kekaisaran, aku akan memberikan lima puluh persen wilayah kekuasaan yang dimenangkan oleh singa kekaisaran Duke lannox, dan memberikan tanah kepada para pasukan singa putih. sebagai hadiah kemenangan. dengan ini kunyatakan perayaan dipersilakan."


suara tepuk tangan bergema disetiap ruangan, riuh gemuruh suara para tamu memeriahkan suasana pesta. kaisar turun dari singgasananya lalu berlutut dihapan Ravella, dan memegang rambutnya yang bersinar terang dan kaisar melihat mata merahnya yang indah.


"hmm kau sangat mirip dengan ibumu! warna netra mata dan rambutmu juga persis seperti ayahmu. kau terlihat sangat berbeda dari manusia pada umumnya, lebih pantas disebut seorang titisan Dewi, pantas saja ayahmu menyembunyikanmu."


kaisar yang melihat lannox dengan tatapan tajam, dan menyeringai pada lannox. lannox cepat-cepat menarik putrinya kedalam pelukannya. Devin menarik dan menggenggam tangan Ravella, kemudian berlari meninggalkan lannox dengan kaisar dan ratu. saat Ravella melepaskan tangan lannox. lannox ingin pergi menahan putrinya akan tetapi keburu ditahan kaisar.


"tunggu lannox, kenapa kau ingin cepat-cepat pergi. bukankah masih ada yang harus kita bicarakan?"

__ADS_1


__ADS_2