
Keesokan harinya dimantion, duke yang sedang sarapan pagi.. Menikmati makanannya dengan santai. Setelah selesai sarapan, ia kembali sebentar kekamar untuk melihat keadaan putrinya. Setelah memastikan kalau putrinya baik-baik saja, iapun langsung pergi keruangan kerjanya. Untuk menyelesaikan, pekerjaan yang sudah menumpuk! karena telah lama ia tinggalkan semenjak pergi menjalankan misi.
"tok.. tok.. tok.. Ceklik, tab.. tab.. tab.. Yang mulia, ini surat kabar hari ini."
"hmm, taruh saja disitu."
"baik, yang mulia." ranov melihat sang duke yang tampak serius, menulis. Ia tersenyum, Lalu ia meletakkan surat kabar, diatas meja sang duke. "jika tidak ada lagi yang anda inginkan! kalau begitu.. saya undur diri dulu yang mulia."
"hmm."
"ceklik tab." ruangan menjadi sepi kembali, kecuali.. hanya suara goresan pena diatas kertas, yang mengiringi . Tak lama setelah kepergian kepala pelayan, zionpun keluar dari bayangan sofa, dan datang menghampiri lannox yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Ia duduk seperti kucing, disebrang meja.. Menatap lannox.
"apa yang kau lakukan? Melihatku seperti itu!"
"apa kau yakin? tidak dengar apa-apa hari ini?"
"tidak! Ada berita apa memangnya? Sampai kau bertanya seserius itu!"
Zion kemudian bangun dan berpindah tempat, lalu tidur tengkurap disamping lannox. Sambil menopang dagunya, dengan kedua tangan yang terlipat. "haah.. kau baca saja surat kabarnya, nanti kau juga akan tausendiri. berita apa yang sedang gempar."
Lannox hanya diam tidak menanggapi, dan masih serius dengan pekerjaannya. Dokumen yang telah lama menumpuk, membuatnya tidak bisa santai sedikitpun. "biarkan saja dulu, akan kubaca nanti. omong-omong! Apa kau sudah mendapat kabar dari perbatasan?"
"sudah, Dan ini sedikit mengejutkan!"
"benarkah! apa itu? Apa mungkin prajurit yang kau kirim, telah membuat ulah?"
"tidak, Ini.. lebih dari itu?"
"sreek tek, hmm apa itu?" lannox langsung menghentikan fokusnya dalam menulis, dan mulai serius menyimak perkataan zion."
__ADS_1
"akhirnya, kau tertarik juga! Untuk berbicara serius denganku."
"apa maksudmu? Katakan yang jelas zion."
Dikota valthoz, kerena telah menjadi bagian dari kekaisaran ergben! kini negara valthoz, telah berubah menjadi sebuah kota besar. Dan dianggap menjadi kota kedua, setelah kota ergben. 'Tidak terasa.. kerajaan valthoz telah menjadi milikku seutuhnya dengan bevitu mudah. Bahkan, roh spirit milik juliuspun! telah menjalin kontraknya denganku. (flashback: dipuncak menara kastil! razak yang selalu setia mendampingi rafael, Kini tengah berada didalam ruangan terlarang miliknya. "baiklah, aku mengaku kalah. Jadi bisakah kau biarkan aku pergi? Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku akan menepati janjiku kepadamu! dan tidak akan mengganggu kalian lagi."
"aku tidak menerima perjanjian secara sepihak, jika kau ingin hidup! Kau harus membuat kontrak dengan ku. jika tidak! Aku terpaksa menjadikanmu, sebagai santapan spirit milikku"
"hoho.. Kebetulan sekali.. Aku memang sedang lapar baginda." ujar razak semangat.
'sialan, jadi kalian mau menjebakku!' "Heh, jangan bermimpi, tidak mudah menjadikanku sebagai spirit milikmu."
"Benarkah! tapi sayangnya aku tidak sebaik julius."
"apa maksudmu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"cih! Percuma saja kalian memaksaku, karena aku tidak mempunyai darah seperti kalian. Jadi, kau tidak akan bisa menjalin kontrak denganku."
"tidak masalah! Aku masih punya cara lain, untuk membuatmu patuh."
'hmm.. apa maksudnya? Jangan bilang dia mau menggunakan cara itu..!' perubahan jelas, pada wajah badai hitam! membuat rafael dan razak menyeringai kegirangan.
"tepat kekali..! seperti yang kau pikirkan, aku akan menggunakan cara itu, untuk membuat kontrak denganmu."
"haah.. apa kau sudah gila?"
"ya.. Sedikit! Hem.." rafael tersenyum tenang.
__ADS_1
"tidak bisa, cepat lepaskan aku.. Kubilang cepat lepaskan aku sialan.....!" teriaknya kesal.
"kau ini sudah kecil, tapi masih saja galak...?"
"diam kau, dasar spirit tidak jelas."
Razak menyerahkan badai hitam kecil, ketangan rafael. Rafael menerimanya, kemudian menjentikkan jarinya. "tik."
"apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan a.. mmm.. mmm.." mulut sang badai hitam, dibelenggu dengan sihir, pembungkam. 'dasar manusia bedebah, dia benar-benar gila! beraninya dia merendahkan spirit kelas elit sepertiku! Awas saja kau bocah sialan. Haah.. Disaat seperti ini, aku jadi merindukan keberadaan julius. Dasar bocah sialan.. Kemana kau pergi..? Beraninya kau kabur, lalu meninggalkanku sendiri dengan bocah gila sepertinya? Kalau tau akan begini jadinya, Lebih baik aku tidak menerima tawaran bocah itu. Pantas saja seorang julius yang tidak pernah ingin mengorbankan nyawa manusia, malah melakukanya dengan senang hati. Dasar bocah terkutuk, beraninya kau menipuku. Awas saja jika bertemu, akan kuberi dia pelajaran.'
mulut dan tubuhnya, disegel dengan belenggu sihir. Lantas rafael meletakkan badai hitam yang telah terkekang kelantai, yang sudah dilingkari dengan pola sihir. Kemudian ia menggores telapak tangannya, dan menggenggamnya erat, dan darah itupun jatuh menetes ketubuh badai hitam. "tik" terdengar petikan jari dari tangan kirinya. "sebutkan namamu sekarang! Jika tidak, aku akan memotong lidahmu." seru rafael tegas, dengan tekanan suara yang dingin, tanpa emosi. 'ah.... Nasibku benar-benar sial!' rafael menatap tajam kepada badai hitam, dengan tatapan yang mematikan. "heeh namaku... Bagzul" rafael yang telah berdiri dalam lingkaran sihir, langsung mengucapkan mantra.
(dengan darah ini, aku rafael zantino eyden. Membuat sumpah kontrak, dengan darah yang mengikat jiwamu. Bagzul, jadilah spiritku, dan bersumpah setialah kepadaku. Jika kau melanggar sumpahmu! Maka, kau selamanya akan tersegel dalam ruang kehampaan. Dengan jiwamu sebagai imbalan, dan tersiksa dalam kesunyian yang abadi." badai hitam menghelah nafas oanjang, dan dengan berat hati.. Iapun terpaksa mengucapkan sumpah. "aku bagzul, menerima sumpah kontrak. Dan berjanji untuk bersumpah setia melindungi dan mengabdi kepada tuanku. rafael zantino eyden, dengan seluruh jiwaku. Jika aku mengingkarinya! maka, aku akan menebusnya dengan imbalan dari jiwaku. Dan selamanya akan tersegel didalam ruang kehampaan, serta tersiksa dalam kesunyian yang abadi.) kontrakpu telah sekesai dibuat.
(kembali kemasa sekarang.) 'Hmm..Karena kekalahannya. Ya, ini sebuah keberuntungan buatku. Satu tembakan, bisa mengenai kedua target sekaligus. Selanjutnya, setelah menyelesaikan semua urusan dikota ini. Waktunya untukku, menemui pengantin kecilku. Hmm.. Hmm.. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu denganya. Tunggulah, sebentar lagi.. Aku akan datang menjemputmu pengantinku.'
"apa yang tengah anda, pikirkan baginda? Anda terlihat begitu senang! hingga senyum-senyum sendiri?!"
"hmm bukan urusanmu! bagaimana bisa, kau kehilangan mereka razak?!"
"maafkan saya yang penuh kekurangan ini, baginda. Ini sebab saya.. terlalu lengah. sampai tidak sadar, telah membuat musuh yang ada didepan mata kabur begitu saja. Rasa sombong telah membuat saya lupa sesaat, dan meremehkan lawan, hingga membuat mangsa yang harusnya diburu! Malah lepas dari pandangan. Karena keteledoran saya sendiri."
Rafael yang sedang berdiri, menghadap keluar jendela. dengan tatapan dinginnya, seakan ingin membekukan apapun yang ada dihadapannya.
"hmm.. Karena moodku sedang baik hari ini, aku akan memaafkan kesalahanmu. Tapi, untuk lainkali. Kau harus dihukum atas kesalahanmu."
"terimakasih baginda, saya berjanji tidak akan mengecewakan anda. Tik.."
Rafael langsung menghilang, meninggalkan razak sendirian dengan perasaan bersalahnya.
__ADS_1
'hmm.. Tatapannya memang dingin, tapi.. Tumben sekali..! Beliau memaafkan semudah itu? Sebenarnya.. Hal apa yang telah terjadi? Hingga membuat beliau merasa senang? Apa mungkin, karena telah menang, atau! haah.. entahlah. Apapun itu..! Sekarang aku merasa lega. Karena setidaknya, untuk hari ini aku selamat.'
Jangan lupa vote, like n komen.