AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
MUNCULNYA AURA SANG DEWI


__ADS_3

Dan lima hari kemudian, Mansion kedatangan tamu jauh dari negera tetangga. Melihat kereta mewah tersebut, dengan empat ekor kuda yang sedang berlari kecil menuju Mansion. sang Kesatria yang menjaga pagar Mansion tersebut, terkejut saat melihat Kereta Kuda mewah.


Biasanya yang sering datang berkunjung Dukedom, hanya Pangeran, atau rekan bisnis. Tapi kali ini berbeda.. Sebagian Kesatria yang melihat Kereta tersebut segera berlari menuju Ruang Kerja Duke, untuk melaporkan masalah ini.


Dari kejauhan tampak Kereta Kuda hitam berukiran daun emas, mirip seperti Kereta Kuda milik Duke.


"Hei.. Kira-kira siapa itu? Apa Yang Mulia ada memesan barang!!" tanya salah satu Kesatria penjaga, kepada temannya.


"Entahlah, Sekilas Kereta itu memang terlihat mirip, tapi lihat baik-baik lambang itu! Lambangnya berbeda dengan milik Yang Mulia Duke."


Temannya itu memperhatikan kembali dengan seksama, apa yang di katakan temannya itu.. Tampak lambang kedua Black Phanter seperti sedang melompat, dengan Mahkota bertengger di atas kepala kedua Phanter tersebut.


"Hei.. Bukannya lambang yang ada mahkota itu, biasanya adalah milik Kepala negara maksudku, seorang Kaisar. Apa mungkin itu Tamu dari kerajaan?" tanyanya curiga.


"Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab temannya.


"Tuk.. Tak.. Tuk.. Tak.." Kereta mewah tersebut berhenti tepat di depan Pagar Mansion, tempat keempat Satria sedang berjaga.


...****************...


Sementara di Ruang kerja Duke, bunyi suara ketukan keras seperti ingin Menghancurkan Pintu.


"Tok.. Tok.. Tok.. Tok.. "


Duke agak kesal mendengar ketukan tersebut, karena mengganggu.


'Orang bodoh mana yang mengetuk sekeras itu!! Apa dia sudah bosan hidup?' Pikirnya merasa kesal. "Masuk."


"Ceklik.. Ngiiik.." kedua pintu pun terbuka lebar, muncul sosok Jay, sambil terengah-engah sehabis berlari.


"Katakan, kau ingin mati seperti apa? Hingga mengetuk pintu sekeras itu!!"


'Haah.. Sial ini karena aku sedang terburu-buru, sampai tidak sadar telah mengetuk terlalu keras.' Jay mengusap kepalanya sambil nyengir.. Ia mengusap kepala. "Ma-maafkan kelancangan saya Yang Mulia.. Saya terlalu terburu-buru sampai tidak sengaja mengetuk pintu terlalu keras."


Duke diam sebentar mendengar penjelasan Jay. Lalu.. ia melanjutkan bertanya.


"Cepat katakan ada apa! Sampai kau berlari begitu??"


"Ah iya, Lapor Yang Mulia, di depan Mansion ada Kereta Kuda mewah, tapi sepertinya bukan milik Pangeran."


"Hem.. Apa kau sudah menyelidikinya?"


"I-itu.. Tidak Yang Mulia, karena buru-buru jadi saya lupa mencari tahu."


Tak lama.. Datang Kesatria penjaga pintu Gerbang, melapor.


"Tok.. Tok.. Tok.." karena pintu terbuka, ia pun langsung masuk setelah mengetuk pintu.

__ADS_1


Tampak di dalam Ada Jay, yang juga kaget melihat kedatangannya.


"Hei.. Bukankah aku sedang melapor, kenapa kau juga datang kesini, bukannya malah menunggu di depan."


"Ah, itu.. mohon maaf Sir Jay, kami juga dihadapkan dengan kesulitan di depan."


Melihat kekhawatiran Kesatria tersebut, Duke langsung menyela keduanya dan bertanya.


"Cepat katakan apa yang terjadi, sampai harus dua orang yang datang untuk melapor!"


"Yang Mulia, di luar Mansion ada Tamu dari negara tetangga. Saya sudah bilang tidak boleh masuk sebelum mendapat perintah dari Anda, akan tetapi.. tamu tersebut tetap memaksa ingin masuk, karena sudah membuat Janji Dengan Yang Mulia Putri."


Duke di buat terkejut dengan laporan dari Kesatria itu, ia lantas menyuruh Jay memanggil Putrinya.


"Jay, cepat panggil Putriku."


"Baik Yang Mulia." ujar Jay patuh, lalu pergi meninggalkan keduanya.


"Dan kau, persilahkan tamu itu masuk, namun suruh mereka menunggu di ruang Tamu."


"Baik Yang Mulia." ujar Kesatria itu, setelah pamit ia pun pergi menyampaikan pesan Duke.


Sementara Duke, sedang merenung dengan semua yang terjadi.


'Membuat Janji dengan Putriku..! Apa maksudnya?! apa mungkin aku telah melewatkan sesuatu? Setahuku, aku sudah memblokir semua surat yang datang untuk Putriku.'


"Tuk.. Tuk.. Tuk.. Hem.." 'Apa mungkin, Putriku telah menyembunyikan sesuatu dariku?' Pikirnya sambil mengetuk meja, dengan Jarinya.. Membuat kebisingan di ruangan tersebut.


"Tok.. Tok.. Tok.. Ayah, apakah Ayah memanggil ku?" Tanya suara imut itu.


Ravella masuk di temani Jay, dan ketiga Spirit miliknya.


"Kemari Putriku, duduklah. Ada yang ingin Ayah tanyakan Padamu..!" ujar Duke tersenyum Lembut.


'Ada apa ini, Ayah terlihat aneh..! Apakah aku telah melakukan kesalahan, yang membuatnya kesal??' Ravella berusaha memutar otaknya, Mengingat apa kesalahannya.


Jay mengambil kursi, dan meletakkan di samping meja kerja Duke. Ravella pun naik kerkursi tersebut, dan duduk dengan patuh. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangan mungilnya.


"Ada Apa Ayah?" tanya Ravella berhati-hati, dengan wajah polosnya.


Duke diam sejenak, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Putrinya itu, tapi ia menatap Kedalam Mata merah indah, yang mirip dengan miliknya. Melihat reaksi Sang Ayah, Ravella jadi semakin gugup. Namun ia tidak menunjukkan kegugupannya itu.


Sedangkan Jay.. Tubuhnya Gemetaran saat ia mencuri pandang, melirik kearah Ketiga Spirit yang sedang duduk santai di sofa milik Duke. Ketiganya tampak tidak terpengaruh sedikitpun, dengan Amarah Duke yang tampak tenang dan dingin.


'Mereka memang mempunyai wajah tampan yang khas, dengan tinggi badan seratus sembilan puluhan, di atas rata-rata.. tapi entah kenapa! Meski mereka terlihat tampan.. Tapi, mereka mempunyai aura yang menakutkan.


Mereka bahkan tidak ramah dengan para prajurit, Kecuali Dengan Yang Mulia Kecil, dan orang terdekat beliau.' Jay kembali melihat kearah Duke dan Putrinya. 'Tidak seperti Spirit Yang Mulia, keduanya lebih Ramah dan terbuka. Meski terkadang Yang Mulia Zion sangat buruk kalau sedang marah! bahkan tegurannya saja.. sudah membuat kami kocar-kacir ketakutan.'

__ADS_1


Setelah lama dalam kediammannya.. Duke akhirnya mengeluarkan suara.


"Putriku.. Apa kau menyembunyikan sesuatu dari Ayah?"


"Eum.. Ti-tidak Ayah. Memangnya apa yang terjadi?"


Duke diam menyelidiki kejujuran Putrinya itu.. Fokusnya beralih kearah kedua tangan Putrinya, yang tampak gemetar.


"Ravel.. Jujurlah pada Ayah, apa akhir-akhir ini kau menerima surat dari seseorang?" tanyanya dengan nada tenang dan lembut.


Mendengar kata Surat, Ravella berusaha memaksa pikirannya mengingat kembali kejadian Yang hampir ia lupakan.


"Surat.. Surat.." 'Ah, ia aku hampir saja lupa.' "Ravel memang ada menerima sepucuk Surat aneh, yang datang melalui jalur sihir. Saat kita berempat sedang mengobrol, tiba-tiba ada Sepucuk Surat jatuh di depan kita, Surat itu muncul begitu saja. Memangnya kenapa dengan Surat itu Ayah?"


Untuk memastikan kejujuran Putrinya, Lannox melihat kearah ketiga Spirit yang sedang Duduk santai Disofa, untuk meminta jawaban ketiga Spirit milik Putrinya..!


Mengerti akan tatapan Duke, ketiga Spirit mengangguk. Lalu Gira mewakili keduanya.. Membenarkan Jawaban Sang Putri.


"Apa yang telah dikatakan Putrimu, seperti itulah yang terjadi. Tidak di lebihkan atau pun dikurangi ."


Mendengar jawaban Gira, Duke menarik nafas lega. Namun dalam waktu yang bersamaan dia juga merasa khawatir. Selain merasa Khawatir dengan siapa pengirim surat tersebut, ia juga jadi merasa menyesal tidak percaya dengan perkataan Putrinya.


karena Putrinya sudah sering membuat kenakalan. melihat bagaimana ekspresi cerianya yang tiba-tiba berubah cemberut, ia jadi lebih takut lagi, jika Putrinya akan berbuat nekat dan meninggalkannya. Duke dengan cepat mengangkat putrinya, lalu meletakkan Tubuh kecil itu.. di Atas Pangkuannya. Ia membelai kepala Putrinya dengan Lembut, sembari berujar.


"Putriku.. Maafkan Ayah, karena tidak mempercayai kata-katamu. Tapi Ayah tidak bermaksud menyakiti perasaanmu Nak!" ujarnya membujuk Ravella, agar tidak marah kepadanya.


Ravella mengangkat kepalanya, ia menatap Sang Ayah, yang Tampak menyesal. Tanpa ia sadari, tiba-tiba netra Mata Ravella berubah menjadi merah oranye, matanya menyala terang seperti Bara Api. Duke tampak terkejut dengan perubahan warna matanya yang tiba-tiba itu. Ia dengan cepat memanggil nama Putrinya..!


'Mata itu..! Sudah lama aku tidak melihat perubahan Matanya.. Aku pernah melihatnya sekali, waktu ia sembuh dari Racun.' Lannox bergumam dalam hati. "Ravella.. Ravella.. Apa kau mendengar Ayah??"


"Ya Ayah.. Kenapa Ayah kelihatan Panik? Apa yang terjadi..!!" tanyanya yang tidak sadar, dengan perubahan matanya tersebut.


"Haah.. Syukurlah kau tidak kenapa-napa Nak." Lannox merasa lega, ia langsung memeluk Putri kesayangannya itu.


Sedangkan Ketiga Spirit lain juga merasakan Aura Dewi.. Yang sangat kuat. Ketiganya saling berbicara tanpa ada yang mendengarnya, karena mereka berbicara melalui pikiran.


"Apa kalian juga merasakannya?" tanya Saga.


"Ya.. Ini Aura Dewi." Ucap Gira.


"......... " Sedangkan Jura hanya mengangguk, Ia justru merasa khawatir dengan perubahan tersebut.


***


Di waktu yang sama.. Di ruang Tunggu. Raffael yang sedang menyamar sebagai Marquess yang berusia lima belas tahun, juga merasakan Aura Dewi. Ia menyeringai dalam diam.. Lalu ia berujar kepada Razak, Yang selalu setia mengikutinya.


'Hehe.. Razak, apa kau juga merasakannya?'

__ADS_1


'Ya, Baginda.. Saya juga merasakannya. Bau harum semerbak ini, ini adalah Aura milik seorang Dewi. Lantas, apa yang harus saya lakukan Baginda? Hehehehe.. Perlukan saya musnahkan tempat ini sekarang, dan membawanya untuk Baginda??' Ujarnya bersemangat.


Raffael yang tengah duduk santai melipat kedua kakinya, sambil bersedekap tangan dan bersandar pada Sofa. Lalu Ia menyeringai membuat Razak, tidak sabar menunggu jawaban Sang Baginda.


__ADS_2