AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
SUDAH SAATNYA KAU BANGUN DARI TIDUR PANJANGMU, PERMAISURIKU.


__ADS_3

"Tutuplah Mata kalian, aku akan membawa kalian kepadanya..!" Perintah Kabut hitam, kepada keenam Spirit.


Dalam sekejap, semuanya menghilang meninggalkan HUTAN LARANGAN. Ditempat lain.. Rabarus yang sedang sekarat, hampir meregang nyawa tanpa adanya perlawanan sedikitpun.


Tubuh Rabarus, melayang Mendekati Dewa, saat tubuhnya hampir ditarik mendekat kearah Dewa, dan Dewa pun sudah siap ingin Menghancurkan Tubuh Rabarus seperti Debu. Akan tetapi.. tiba-tiba saja sesuatu yang mengejutkan pun terjadi...!


Keenam Spirit, pun muncul. Melihat apa yang terjadi kepada Ayahnya. Tama, langsung meneriaki Sang Ayah.


"Tidaaakk, Ayahandaaaaaa...!!!!" Tama, tanpa berpikir panjang, Tama sudah terbakar oleh emosi yang membara, ia langsung berlari dan merubah diri kedalam bentuk Rubah Api. Tama, mengeluarkan Laser dari mulutnya.. Dan, menyerang Dewa, yang hampir membunuh Ayahnya.


Seranganpun, diarahkan kepada Dewa.. Menyadari kehadiran serangan lain, Dewa langsung melempar keras, Tubuh Rabarus yang sudah lemah tak berdaya.


'Pantas saja aku merasakan perasaan yang tidak enak sejak tadi, ternyata.. inilah penyebabnya. Kami harus cepat, jika tidak.. Pak Tua itu, akan menghilang selamanya.' Pikir Jura khawatir.


Jura, dengan cepat langsung bertindak, dan memberi aba-aba kepada yang lainnya.


"Kawan-Kawan, ayo cepat selamatkan Rubah Tua itu.. Aku, akan membantu Tama, Untuk mengalihkan fokusnya." Ujar Jura, kepada yang lain.


"Baik." Ujar mereka serentak.


Jura, terbang melaju tinggi dan dan dalam sekejap, bertransformasi kebentuk Naga hitam Putih, dengan kedua tanduk runcing, bertengger di atas kepalanya!! Setengah Tubuh Jura, bewarna Putih dari ujung kepala, hingga kesayap, bahkan sampai keujung ekornya. begitupun setengah tubuh lainya, yang bewarna hitam. Dengan perpaduan warna yang seimbang, di tubuhnya.. Ia tampak berbeda dari biasanya.


'Sejak kapan bocah itu mempunyai tanduk, dan belang seperti itu..?' Tanya Zaku, kepada yang lainnya.


'Entahlah, aku pun baru kali ini melihatnya..?' Ujar Saga, mewakili pertanyaan yang lainnya.. Dengan reaksi yang tidak di mengerti


'Benar, aku belum pernah melihat sosoknya yang seperti ini..!' Timpal Gira.


"............" Roya hanya diam memandang takjub.


Melihat serangan datang dari Si Rubah Api Lainnya, Sang Dewa menyeringai, seolah ia tidak merasa gentar sedikitpun, Terhadap serangan yang datang kepadanya.


Dalam beberapa detik, serangan Tama, di balikkan lagi oleh Dewa, kepadanya. Milihat itu, Tama dengan cepat langsung menghindarinya.. Dan ledakan besarpun terjadi.


"Boooommmmm....!!!"


Berbeda dengan Tama, Jura, yang baru saja muncul. langsung menyemburkan Api dari mulutnya.. Kearah Sang Dewa, menyadari serangan lain..! Dewa mengarahkan tangannya kepada Jura. menyadari akan bahaya, Jura menyeru Tama.


'Hei Tama, gunakan sihirmu sekarang, cepat..!' Mendengar desakan, seruan dari temannya itu.. Tama, dengan cepat langsung mengerti.


'Baik, bertahanlah sebentar.' Ujar Tama, lalu si Rubah Api menyatukan kedua tangannya, di depan dada, Ia merapalkan mantranya. 'Sial, aku benar-benar tidak tahu, harus melakukan apa!! Karena Fokusku, kini hanya ingin cepat melihat keadaan Ayahanda.'


Jura, yang sudah menjadi target Dewa, dengan cepat menghilang. Ia menyamarkan tubuhnya.. Namun, Ia tidak bisa menipu penglihatan Dewa. Dewa mengarahkan tangannya, kearah Jura. Lalu tangannya mencengkram leher Jura, seperti yang telah ia lakukan kepada Rabarus.


'Apa!! Bagaimana Bisa..?' Ujarnya menahan sakit, dari cengkraman tersebut. Meskipun Dewa tidak menyentuhnya secara langsung. "Egh.." 'Aku harus Fokus.'


Jura memejamkan matanya.. Tampak kedua tanduk seperti mengeluarkan Energi getaran.


"Dertt... Dertt.. Dertt.." seperti ada aliran kuat, yang keluar dari tanduk Jura.


Kepalan tangan Dewa, serasa tergelitik, dan.. "pyyuuuurrr.." tiba-tiba menjadi hancur lebur.


"Apa.. Bocah ini??" Dewa, memperhatikan kepalan tangannya, yang sudah hancur lebur. Dan, cengkraman kuat pada leher Jura, pun langsung terlepas.


Sementara dari arah lain.. Tama, mulai fokus merapalkan mantranya.

__ADS_1


"(GAYUM-GAYUM.. HARAMARA EIKSAHSA GALAM-GALAM.. HUM ARARUM RUM. AKU MEMBUAT KETERBATASAN MENJADI TIDAK TERBATAS. MENYATULAH KETUJUH JIWA, DALAM PEMBEKUAN, DAN JADIKAN YANG TERLIHAT, MENJADI TAK TERLIHAT, DAN MENYATULAH DALAM KETIADAAN .)"


Dalam sekejap.. ada benang merah, yang menyebar menyentuh keenam jiwa lainnya. Benang merah saling terhubung satu sama lain. Dewa baru saja.. Mengembalikan tangannya yang telah hancur, menjadi utuh kembali. Setelah ia merasakan keberadaan tangannya kembali.. Ia bergumam.


'Hmm.. Bocah itu boleh juga. Walau dia tidak berhasil menyentuhku.. tapi, ia bisa menghancurkan tanganku, tanpa menyentuh sedikitpun. Aku harus cepat, mengakhiri semua ini, dalam sekejap.'


Baru saja Dewa ingin memusnahkan keduanya.. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan hal yang tidak terduga.


'Apa... Dimana mereka??' Para Spirit telah menghilang dari pandangan Dewa. Bahkan, aura keberadaan merekapun hilang begitu saja.. Tanpa menyisakan jejak apapun. 'Sepertinya.. Aku sudah terlambat. Aku harus segera kembali sekarang. Hmm.. Aku akan melepaskan mereka kali ini.. Tapi tidak untuk lain kali.' tak lama.. Dewa berkulit eksotis itu pun, melipat kedua tangannya kebelakang, lalu menghilang.


...****************...


Ditempat lain.. Didekat danau. Zion, dan Lannox, muncul digazebo.


"Bagaimana bisa kita ada disini..! Dimana Putriku..?" Ujarnya panik.


"Tunggu sebentar nak, coba kau lihat kedalam danau..!" Ujar Zion, menenangkan Lannox.


Nampak cahaya terang muncul dari dalam danau, ada gelembung keluar dari dalam danau, dan di dalamnya.. tampak tubuh sang putri kecil yang bercahaya terang. Gelembung tersebut terangkat tinggi keudara.. Mengambang di atas permukaan danau.


"Zion, ayo kita ambil Putriku." Ujar Lannox, yang tampak tidak sabaran.


"Tahan sebentar nak, coba kau lihat kelangit. Sepertinya.. Sudah saatnya, bagi Putrimu, untuk bangun." Ujar Zion, menatap Bulan Merah.


Lannoxpun, menatap kelangit malam, Kedua Orbit telah menyatu penuh. Purnama.. yang tadinya terang, kini menjadi semerah darah. Dan tak lama.. Muncul sosok Emas, di detangah danau, ia berjalan menghampiri sosok Putri Ravella.


"Bukankah itu Kakek Kaisar!! Sedang apa dia disana??" Tanya Zion, yang tampak terkejut, tak percaya dengan apa dilihatnya.


"Zion, bagaimana bisa, dia bisa ada disini??" Tanya Lannox, heran.


"Entahlah, kita lihat saja. Jika ada beliau.. Kita tidak perlu mengkhawatirkan apapun." Ujar Zion lega.


Kaisar Zando, berjalan diatas permukaan air, ia mendekati sosok bercahaya yang tengah mengambang didalam gelembung.


"Crik.. Crik.. Crik.. Crik.." Sang Kaisar berhenti didepan gelembung, Dan melihat sosok kecil yang tengah tertidur pulas di dalamnya. "Sudah saatnya kau bangun dari tidur panjangmu, permaisuriku."


Kaisar Zando, meniup pelan kearah gelembung.. "Pluk.." gelembung tersebut pun pecah. lalu tubuh Putri kecil, yang sedang dalam posisi terbaring, kini berubah dalam posisi berdiri tegak. Lannox, dan Zion, menyaksikan pemandangan yang tidak biasa, dengan tatapan takjub.


Rambut Perak yang terkadang bisa berubah-ubah, berkibar dengan indahnya di udara. Gaun putih polos yang dikenakannya.. Tampak bergelombang, seperti didalam air.


Cahaya yang dihasilkan dari gerhana, menyatu dengan tubuh kecilnya.. Sang Kaisar, Mendekati tubuh Ravella, lalu bergumam.


"Dan sekarang, saatnya aku mengembalikan sukmamu."


Sang Kaisar, mengecup lembut kening putri Ravella. Dan, tak lama setelah sentuhan lembut mendarat di keningnya. Mata indah yang selama ini terbenam, dibalik kedua kelopak matanya. Kini, terbuka perlahan-lahan.


Tampak kedua mata merah indah miliknya terbuka, sesekali kelopak matanya berkedip secara pelan, untuk menatap jelas, apa yang ada didepan matanya. saat kedua kelopak itu terbuka penuh, Kata pertama yang ia ucapkan adalah..!


"KAKEK....!" Ujarnya lembut, menatap kearah kedua netra EMAS, milik Sang Kaisar.


Dikejauhan, Duke tampak sangat kesal.


"Cih, seharunya itu adalah tempatku. Momen penting yang selalu aku tunggu, adalah saat ia menatapku, dan memanggilku Ayah. Dan sekarang, malah direbut olehnya." Keluh Duke kesal.


Zion, terlihat malas meladeninya. karena ia tengah fokus melihat kedua sosok mengagumkan, berada dipermukaan danau.

__ADS_1


"Hem.. Selamat datang kembali nak." Ujar sang Kaisar, sambil tersenyum.


Ravella menyentuh wajah sang Kaisar, dengan kedua tangan mungil miliknya. Lalu ia menempelkan kening mereka.. Sambil memejamkan mata, Ravella pun berujar.


"Entah kenapa, kakek, selalu ada di dalam mimpiku." Ravella, diam sesaat lalu bergumam dalam pikirannya. 'Tapi apapun yang telah terjadi padaku.. Terimakasih karena telah menjagaku.' Lalu.. Ravella menarik kembali wajahnya. Ia tersenyum lembut kepada sosok Naga EMAS, dihadapannya. yang juga dibalas senyum, oleh Kaisar Zando.


"Ayo naik kepunggungku nak, lihatlah.. Wajah seseorang yang sangat mengkhawatirkanmu." Ujar Kaisar Zando, menatap kearah Duke.


Tubuh Ravella, melayang duduk diatas punggung, Sang Kaisar. Tampak dari kejauhan, sosok sang ayah, dengan mata yang sudah basah, melihat Putri kesayangan telah sadar.


Sang kaisar, berjalan mendekati kedua sosok yang sudah menanti dengan perasaan bahagia, bercampur air mata. Ravella, tersenyum melihat keduanya.. Lalu memanggil keduanya dengan lembut.


"AYAH... KAKEK ZION.."


"Putriku Ravel.." Lannox yang tidak sabaran, langsung mengangkat tubuh kecil, yang berada diatas punggung Sang Kaisar.. Lalu memeluknya dengan erat. Ravella pun, balas mengalungkan kedua tangannya, keleher Sang Ayah. "Putriku Ravella.. Akhirnya kau bangun nak."


"Meskipun Ravel, tidak tahu apa yang terjadi.. Tapi, Ravel senang bisa melihat Ayah lagi."


"Ya sayang tentu saja.. Begitupun Ayahmu ini." Ujar Lannox bahagia.


Melihat itu.. Zion, pun datang menghampiri keduanya..


"Selamat datang kembali Putri kecilku." Ujar Zion tersenyum, dan menyentuh kepala Ravella, dengan keningnya. Yang dibalas Ravella, membelai bulu putihnya dengan lembut.


"Kau tambah besar saja Kek.. Haha.." Ujar Ravella ceria, tak lama.. ia menarik wajahnya dari pelukan sang ayah.


"Omong-Omong.. Dimana keenam kakek lainnya..?" Ujarnya celingak-celinguk memutar pandangannya, mencari sosok keberadaan Para Spirit.


Mendengar ucapan sang Putri.. Lannox, dan Zion. tidak tahu harus berkata apa!! Melihat reaksi keduanya, sang Kaisarpun berbicara.


"Kau tidak perlu khawatir, aku sedang menugaskan mereka untuk misi lain. Istirahatlah, seminggu lagi.. aku akan kembali bersama mereka."


"Oh syukurlah, Berarti mereka baik-baik saja." Ujar Ravella, yang tiba-tiba kembali tertidur dipelukan sang Ayah.


"Putriku.. Pu.." melihat Sang Putri tidur kembali.. Lannox menjadi panik. Dan, dipotong dengan Sang Kaisar.


"Tenanglah, dia sangat lelah.. karena terlalu banyak mengeluarkan energi. Dia akan pulih kembali setelah tidur. Dan besok, dia akan bisa menikmati hari-hari seperti biasanya."


"Lalu.. Bagaimana dengan keadaan, Spirit lainnya?" Tanya Lannox, tampak khawatir.


Belum dijawab sang kaisar, mereka sudah berada dikamar Duke, yang sudah selesai direnovasi. Sementara dikamar lainnya.. Masih hancur karena benturan tubuh Zaku.


"Kalian rawat saja Dia, dengan baik. Untuk urusan lain.. serahkan saja padaku, dan jangan ceritakan apapun yang telah terjadi, kepadanya..!"


"Lantas, jika kau merasa kalau kau Spirit miliknya..! Kenapa kau tidak datang di saat Dewa itu muncul, untuk mengambilnya.. Apa peranmu sebagai Spirit?? Jika kau tidak berguna samasekali untuk Putriku?" Ucap Lannox, yang tampak kesal.


"Sudah diamlah Bocah, jaga Ucapanmu dihadapan beliau." Ujar Zion, menegur Lannox. Namun, diabaikan Olehnya.


Mendengar ucapan kasar Duke, sang Kaisar, menyeringai.. Lalu berujar.


"Hmm.. Aku akan mengembalikan semua kehancuran di mansion ini, seperti semula. Dan, perlu kau tahu.. segala sesuatu yang terjadi, memang sudah seharusnya terjadi." Setelah Sang Kaisar berujar, puing kamar yang telah hancur pun, kembali utuh seperti sediakala."


Tak lama.. Kaisar Zando pun menghilang. Meninggalkan seribu tanya, dipikiran Duke.


***

__ADS_1


Sementara itu.. Di suatu tempat, dimensi kegelapan. yang hanya diketahui oleh Kaisar Zando. Di dalam dimensi itu.. Waktu tidak berjalan sepertimana semestinya di alam dunia.


Kaisar Zando, berjalan dan berhenti tepat di didepan tubuh Rabarus, tampak Raga sang Pertapa suci, sedang terkapar dan membeku. Begitupun dengan Spirit Lainnya.


__ADS_2