AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
JIKA AKU TIDAK MELAKUKANNYA, APA KALIAN AKAN BERHENTI?


__ADS_3

Setelah melihat gapi baik-baik saja.. Merekapun kembali kemansion. Dan sesampainya dimansion, tampak ketiga spirit sedang menunggu keduanyavdidepan tangga, untuk bertanya keadaan roya. Jura dan tama saling melirik karena keduanya sudah tau, jawaban apa yang mereka inginkan.


"akan aku jelaskan setelah aku mengantar anak ini." jurapun langsung menghilang.


"ada apa dengan roya? Kenapa aku melihat banyak bercak darahnya dilantai." desak zaku tidak sabaran.


"tenanglah, jura pasti lebih tau keadaannya, melihat bagaimana dia bicara." ucap tama menjelaskan.


Setelah mengantarkan gapi kekamarnya, jurapun turun menemui saudaranya, seperti yang ia janjikan. "ayo kita kezona mana." setelah jura berkata seperti itu, mereka semua menghilang. Namun saat kepergian mereka, tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.


'siapa orang-orang itu? Aku baru melihat sosok mereka!' ujar argus bingung, karena dia tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Mengabaikan rasa penasarannya, iapun kembali melanjutkan perjalanannya untuk mengelilingi mantion.


Tak terasa haripun sudah berganti malam, keringat dingin terus mengucur keluar ditubuh gapi, zion yang sejak tadi mengawasi keadaan gapi merasa khawatir. 'ada apa dengan anak ini? Kenapa sejak sore tadi, saat aku datang menjenguknya, dia belum juga terbangun hingg asekarang. Apa dia sedang sakit!'


"euh.. Ibu.. Ibu.. Jangan tinggalkan aku bu.. Aku takut disini sendiri..!"


"tumben sekali dia mengigau..! Tidak biasanya." zion mengarahkan telapak tangannya, dikening gapi. Cahaya putih keluar menyerap kedalam tubuh gapi. Setelah menerima cahaya tersebut, gapi mulai merasa tenang kembali. "tubuhnya sangat panas, apa yang terjadi pada anak ini..! Melihat keseluruhan tubuhnya, ia sudah membaik. Lantas apa yang membuatnya demam panas, apa karena efek penyembuhan, jadi tubuhnya mulai menunjukkan reaksi yang berlebihan?"


Dizona mana, kelima spirit berkumpul dimeja bundar, setelah jura mejelaskan keadaan roya! Yang lainnya baru bisa merasa tenang. Karena mereka berpikir, jika roya telah diserang oleh musuh. dan itu membuat mereka sangat khawatir. Roya sedang berada diatas gunung, ia sedang bersemayam mengontrol energi yang terpecah belah. Tubuhnya sedang dikelilingi mana dan aura. Energi alam secara perlahan, menghampirinya dan berpusat pada satu titik mengelilingi tubuhnya.


"karena kita telah disini, ayo kita menjenguk anak angkat dewi, Setidaknya kita mewakili dewi."ujar jura lagi.


"aku setuju, sebagai spirit dewi.. Kita juga ikut bertanggung jawab dengan anak-anak itu!" kata zaku lagi.


"hehe.. Tumben sekali kau bersikap seperti pak tua bijak heh.." ejek tama


"cih, aku memang sudah bijak dari lahir, tapi kau saja yang tidak tau." ujar zaku tidak terima.


"bagaimana aku bisa tau, jika sejak kau lahir aku saja tidak ada." balas tama lagi.


"bagus juga kau tidak ada, jadi aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan nasehat bijakku ini, secara sia-sia hanya untuk menasehatimu." balas zaku lagi sambil mengejek.


"jika kalian terus seperti ini, kami akan pergi tanpa kalian berdua, dan meninggalkan kalian berdebat sampai puas hingga kaisar datang untuk menghukum kalian menjadi batu." ujar jura kesal.


"cih, kau tidak perlu sampai mengingatkan kalimat terkhir." ujar tama memalingkan wajahnya, sambil bersedekap tangan.


"jika aku tidak melakukannya, apa kalian akan berhenti??" tanya jura lagi.. sambil tersenyum seringai.


"heh.. Sebenarnya aku juga tidak sudi meladeni rubah sombong, tapi karena kasihan melihatnya merasa kesepian karena tidak ada yang mengajaknya bicara.. Jadi aku terpaksa meladeninya." ceplos zaku mengejek, tama yang mulai kesal karena merasa terpancing emosi, tanpa sadar sudah mengeluarkan tekanan aura yang sangat kuat. Zaku yang merasakan aura permusuhan, langsung merespon dan mengeluarkan auranya, untuk menyerang tama.


"haah.. Mereka berdua sangat keras kepala sekali, benar-benar tidak ada habisnya. Gira dan saga hanya geleng-geleng kepala, melihat sifat kekanak-kanakan zaku dan tama. Jura yang sudah mulai terlihat kesal dengan kebandelan keduanya, langsung mengunci mulut keduanya. "Jika kalian tidak ada niat berbaikan, mulut kalian akan terkunci selamanya." ujar jura, dan kemudian langsung pergi meninggalkan keduanya, dan diikuti oleh saga dan gira dari belakang.


'sialan kau jura, cepat lepaskan kuncinya..' mendengar suara zaku berteriak dipikirannya, jura memblok pikirannya, agar tidak mendengar telepati dari keduanya. Tama yang berusaha mengalah, melepaskan egonya lebih dulu, ia menarik nafas panjang, Lalu bersikap lapang dada untuk meminta maaf.


'haaah... Aku mengaku salah telah memancingmu lebih dulu, jadi maafkan aku zaku.' zaku melihat ketulusan tama, akhirnya menerima permintaan maafnya.

__ADS_1


'cih.. tumben sekali kau mau menurunkan egomu lebih dulu.' ucap zaku ketus.


'tentu saja.. Karena aku tidak ingin mulut kita, terkunci selamanya seperti ini..! Apa kau mau seperti itu terus?' setelah tama berbicara, merekapun bersalaman, dan berbaikan lagi. Saga, dan gira yang tidak memblok pikiran merekapun.. Telah mendengar pembicaraan keduanya, dan mereka tersenyum lega. Tak lama setelah berbaikan, keduanyapun segera menyusul yang lainnya.


Setelah berhasil menyusul ketiganya, tama mengeluh pada jura. "cih.. Kau kejam sekali jura, membuat kami terlihat bodoh seperti tadi." ujar tama kesal.


"jika aku tidak melakukan itu, kalian akan terus berdebat. Aku tidak suka perdebatan, bagiku perdebatan hanya membuang waktu. Jika kalian gunakan waktu berdebat kalian untuk latihan atau hal berguna lainnya, Itu jauh lebih berguna bukan? Pantas saja kalian tidak bisa berkembang, disaat yang lainnya sudah menaiki level tapi kalian masih tetap disitu saja.. tidak berkembang sama sekali. Apa kalian mau seperti itu terus? Ingat misi kita yang sebenarnya, kita menjadi spirit dewi bukan untuk bersantai ataupun bermain! Tapi untuk melindungi dewi, dan membimbingnya agar ia tidak salah jalan. Maaf jika aku bersikap terlalu tegas dengan kalian berdua, tapi aku berniat baik ini demi kalian."


Mendengar orang yang tidak biasanya bicara banyak, sekali bicara kata-katanya mengena dihati mereka semua. termasuk gira dan saga sementara tama dan zaku, hanya diam tidak bicara sedikitpun. Tapi zaku masih sedikit bandel dan ngeyel, sempat-sempatnya ia membalas perkataan jura.


"tumben sekali kau banyak bicara, biasanya kau sangat irit bicara! Bahkan mengabaikan kami, dan pergi begitu saja." ucap zaku ketus.


"cih, terserah kalian mau dengar atau tidak! Selama aku masih peduli.. Aku akan menegur kesalahan kalian, namun jika aku sudah bersifat tidak peduli, aku akan masa bodoh dengan apa yang kalian lakukan. Karena aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi."


Mendengar perkataan jura yang sedikit dingin dan penuh tekanan, membuat ketiga spirit lainnya menepuk kepala zaku.


"auw sakit, apa yang kalian lakukan padaku?" ujarnya kesal.


"dasar bocah bodoh, apa kau tidak bisa membaca situasi saat berbicara?" ucap saga kepada zaku.


"mulutmu memang seharusnya disumpal, biar bisa diam." ujar gira kesal.


"ya.. Aku setuju denganmu gira." ucap tama tertawa.


Semuanya bungkam, malas meladeni zaku yang seakan meminta pembenaran, dan mempunyai banyak stamina untuk berbicara. Setelah lama menyusuri jalan. Mereka akhirnya tiba dirumah kecil, tempat rog dan ron tinggal.


"hem.. Sepertinya mereka sudah tidur.." mereka telah tiba didepan rumah rog, namun dari luar tampak kondisi rumah sangat gelap. Setelah masuk kedalam dan melihat hanya ron sendiri yang sedang tertidur pulas, tak lama terdengar sesuatu memecah keheningan, mereka pergi keluar.


"Tab.. Tab.. Tab.." terdengar suara lemparan pisau belati dari kejauhan.


"apa itu...!" celetuk zaku, merekapun menghampiri suara tersebut. Saat mereka mendekat ketempat suara itu, tampak rog sedang latihan dengan keringat sudah mengucur penuh membasahi bajunya. Rog yang tidak menyadari kehadiran mereka, mulai berhenti untuk beristirahat karena kelelahan, ia mengelap keringat dikeningnya, yang terus jatuh mengenai matanya. Iapun duduk istirahat namun, ia masih belum sadar akan kehadiran kelima spirit disekitarnya. Dan saat jura berbicara kepadanya..! Ia terkejut dan memasang kuda-kuda, serta memegang belati ditangannya, ia bersiap untuk menyerang lawan, karena malam jadi wajah kelimanya tidak begitu terlihat jelas.


"siapa kalian?" ujarnya kaget.


"ini aku jura, kepekaanmu terhadap musuh sangat lemah nak. Jika seperti ini, kau akan mati lebih dulu! diserang secara diam-diam."


"Kau.. Paman yang waktu itu?"


"ya.. Ini aku!"


"apa yang membuatmu, datang kemari malam-malam begini?"


"tentu saja.. Untuk melihatmu. Dan lagi.. aku datang berkunjung tidak hanya karena itu, aku datang membawa teman-temanku, untuk memperkenalkannya padamu!" ujar jura santai.. Dan tak lama.. Yang lainnya keluar menampakan diri mereka kepada Rog. Rog nampak terkejut, melihat sosok kelima pria gagah dan tampan, serta bepostur tinggi, melebihi ukuran normal pria dewasa Mereka mendekat berdiri mengelilinginya rog.


"hmm.. kau juga datang paman..!" rog sudah mulai membiasakan dirinya, untuk memanggil tama dengan sebutan paman.

__ADS_1


"cih tentu saja aku datang, apa kau tidak senang nak.. Denan kehadiranku..?" ucap tama senang! karena tidak biasanya rog berucap dengan lancar menyebutnya paman.


"bu.. bukan begitu! Setelah merenungkan perkataanmu kembali disaat terakhir kita bertemu. aku jadi sadar! jika aku telah salah mengatai orang tua angkatku dengan kasar. Seharusnya aku berterima kasih kepadamu, dan orang itu! karena telah bersedia mengangkat kami berdua, dan menyelamatkan kami dari jalan yang berlumpur. Aku sadar terkadang kewaspadaanku yang berlebihan, tanpa sadar telah menyinggungmu. Mungkin aku bersikap seperti ini.. karena rasa traumaku dimasalalu, telah membuat aku lupa membedakan mana orang baik, dan mana orang jahat. Kecuali ibu asuhku, yang selalu mengasuh kami tanpa pamrih. Tapi selebihnya.. Setiap orang yang kutemui mereka hanya bersifat memanfatkan kami, yang tidak berpunya ini. Kami diperlakukan secara kasar layaknya budak yang mengotori pemandangan mereka. Untuk itu.. aku benar-benar menyesal dengan sikapku, yang terkadang berlebihan mengartikan kebaikan yang sudah kalian tunjukan. Karena keraguan sering datang, disaat aku sudah mulai mempercayai seseorang! Ya.. Mungkin ini disebabkan trauma masalalu yang kami alami."


Rog mengusap kepalanya yang tidak gatal dan sedikit tertawa sambil menahan air matanya, yang sedikit lagi akan keluar, lalu ia menunduk hormat kepada semuanya. "sekali lagi saya benar-benar meminta maaf paman, juga kepada kalian semua, Maafkan atas sikapku, saya memang bodoh meski sa.." semuanya merasa terharu dengan kata-kata seorang rog, yang menurut mereka tampak seperti anak-anak."


"sudahlah nak! jangan dipikikan lagi. Kami datang bukan untuk mendengar permintaan maafmu!" ujar tama, ia langsung memeluk rog untuk menenangkannya. Yang lainpun mendekat dan tersenyum lega, mereka jarang melihat tama bersikap lembut seperti hari ini.


"kau tidak perlu bersedih, kami datang ingin mengakrabkan diri, begitupun yang lainnya. Karena kelak kau akan sering melihat wajah kami, jadi kau harus terbiasa dengan keberadaan kami mulai dari sekarang." ujar jura mengusap kepala rog.


"benar bocah, kau tidak salah memilih tuan kami.. sebagai orang tua angkatmu! Karena kami akan memprlakukan dengan baik, siapapun orang terdekat tuan kami. Jadi kau harus berbakti kepadanya. Dan juga.. jangan kaget saat melihatnya nanti, Hahahaha...!" ujar zaku tertawa. Namun rog tidak bisa mendengar kalimat terakhir.. karena ia menangis sejadi-jadinya.


Rog merasa terharu, ia jadi merasa seperti bocah yang dibanjiri banyak kasih sayang. dalam waktu singkat. Membuat air mata yang ia tahan sejak tadi.. meluap keluar tak terbendung lagi.. Dan iapun menangis layaknya anak kecil. 'aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya.. Kenapa aku jadi menangis..! Mungkinkan perasaan yang telah lama aku rindukan dari kedua orang tuaku..! Atau, aku yang terlalu lelah, karena terlalu lama memikul beban sendirian sedari kecil.' "Hiks.. Hiks.. Hiks.. Ka..kalian ja.. jangan se.. seperti i.. ini paman.. Aku jadi ingin bergantung pada kalian semua. Kumohon.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Ja.. jangan memberiku harapan yang nantinya akan kalian ingkari."


"kami adalah orang yang memegang janji.. Jadi kau bisa bersikap layaknya anak kepada orang tuanya. Kami akan selalu ada saat kau membutuhkan." ujar gira meyakinkan, iapun membelai kepala rog layaknya anak sendiri.


"benar nak, perlakukanlah orangtua angkatmu dengan baik, karena kami juga akan bertindak sama seperti apa yang kau lakukan. Dan jangan pernah mengecewakanya, apalagi.. Banyak hal yang telah ia lalui hanya untuk mengasuh kalian berdua. Tuan kami adalah orang yang lemah lembut dan berbelas kasih, terhadap apa yang disayanginya. dia tidak pernah membedakan ras atau apapun itu, bahkan saat dengan kami saja.. dia bersikap sangat lembut dan penyayang layaknya seorang ibu.. kepada anaknya." ujar saga menjelaskan.


Rog yang mendengarnya.. Jadi semakin penasaran dan ingin segera bertemu orang tua angkatnya itu. 'dia begitu disanjung, dan dipuja.. Serta dianggap seperti layaknya seorang dewa, oleh kelima orang-orang ini. Siapa sebenarnya dia..? Jika apa yang paman ini katakan adalah benar..! Aku akan berbakti dengan segenap jiwa ragaku kepadanya, dan membalas kebaikannya dengan nyawa yang kumiliki.' Setelah ia berhenti menangis, dan mengusap airmatanya.. iapun memberanikan diri bertanya, tentang keberadaan orangtua angkatnya. "paman.. Lalu kapan kau akan mempertemukan kami, dengan orangtua agkat?" tanya rog penasaran.


Semuanya tersenyum mendengarnya, dan tama mewakili yang lain menjawab pertanyaan rog. "untuk sekarang kau masih belum bisa bertemu dengannya..! Karena kondisi beliau yang tidak memungkinkan saat ini."


"apakah beliau sedang sakit paman?" tanya rog khawatir. Tama melihat keempat saudaranya, dan mereka hanya menggangguk menyerahkan semua jawaban kepada tama. Tama yang mengerti langsung menepuk pundak kanan rog. "ya.. Kondisi beliau sedang tidak baik sekarang, ketika kondisinya sudah mulai pulih.. Dia akan datang menemui kalian berdua. Dan ketika saat itu tiba, bersikap sopanlah kepadanya, meskipun kau akan terkejut dengan apa yang kau lihat nanti." ucap tama lagi.. sambil tersenyum layaknya seorang ayah kepada anaknya.


"apa maksud paman?"


"kau akan segera tau nanti" ujar jura santai.


"ah benar.. Sepertinya kami terlalu banyak mengobrol, sampai lupa memperkenalkan diri kami. Kenalkan, namaku saga."


"dan aku zaku."


"aku gira."


"saya rog, adik saya ron. Namun dia sedang tidur sekarang! Jadi kalian.."


"kami sudah melihatnya, sebelum datang menemuimu."


"oh begitukah, omong-omong dimana paman yang satunya? sudah lama aku tidak melihatnya..! terakhir kali melihatnya, saat ia mengantarkan kami kesini."


"dia sedang bersemadi, setelah selesai dia akan datang mengunjungimu." ceplos zaku.


"baiklah, pantas saja dia tidak pernah kelihatan."


"sebaiknya kau istirahat sekarang, kami akan kembali lagi nanti." setelah berpamitan, kelima spiritpun pergi. Dan rog kembali kerumah kecilnya.. Dengan perasaan senang.

__ADS_1


__ADS_2