
"Tunjukkan siapa dirimu? Jangan jadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi."
"Cih, aku bukan pengecut dasar Rubah asing..! Hanya karena Dewa menerimamu, jangan sombong dulu."
Rabarus merasa aneh dengan suara tersebut, karena suara itu juga tahu dia Seekor Rubah, Rabarus mulai mencurigai suara tersebut.
'Bagaimana dia tahu jika aku Seekor Rubah!! apa Jangan-jangan sejak tadi dia mengikutiku?' Pikirnya curiga.
"Cih, jangan besar kepala kau Rubah, konyol sekali.. Untuk apa juga aku mengikutimu!!"
'Sialan, bahkan dia bisa mendengar pikiranku!' kesalnya dalam hati. "Cepat katakan, siapa kau?"
"Hahahaha.. Tidak perlu panik begitu Rubah, sebenarnya.. Aku memanggilmu, karena butuh pertolonganmu!"
"Cih.. Siapa kau sampai aku harus menolongmu?"
"Hem.. Baiklah aku akan menunjukkan diri, walau sebenarnya sejak tadi aku sudah ada disini. Hanya saja, kau yang tidak menydarinya."
'Hem.. Apa maksudnya? Jika sejak tadi.. lalu dimana dia?'
"Coba kau lihat kekolam, dan aku memang sudah ada disini.."
Rabarus melihat kearah kolam yang di maksud suara tersebut, Ada kolam yang besarnya tidak normal.
"Cepat Tunjukkan siapa dirimu? Jangan jadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi."
"Cih, aku bukan pengecut dasar Rubah asing..! Hanya karena Paduka Dewa menerimamu, kau menjadi sombong!!"
Rabarus merasa aneh dengan suara tersebut, karena suara itu juga tahu dia Seekor Rubah, Rabarus mulai mencurigai suara tersebut.
'Bagaimana dia tahu jika aku Seekor Rubah!! apa Jangan-jangan sejak tadi dia mengikutiku?' Pikirnya curiga.
"Cih, jangan besar kepala kau Rubah, konyol sekali.. Untuk apa juga aku mengikutimu!!"
'Sialan, bahkan dia bisa mendengar pikiranku!' kesalnya dalam hati. "Cepat katakan, siapa kau?"
"Hahahaha.. Tidak perlu panik begitu Rubah, sebenarnya.. Aku memanggilmu, karena butuh bantuanmu!"
"Cih.. Siapa kau sampai aku harus menolongmu?"
"Hem.. Baiklah aku akan menunjukkan diri, walau sebenarnya sejak tadi aku sudah ada disini. Hanya saja, kau yang tidak menyadari keberadaanku."
'Hem.. Apa maksudnya? Jika sejak tadi.. lalu dimana dia?'
"Coba kau lihat kekolam, dan aku ada disini.."
Rabarus melihat kearah kolam yang di maksud suara tersebut, Ada kolam yang besarnya tidak normal.
"Kolam apa yang besarnya seperti sebuah negara??"
"Bukankah kau ingin tahu Siapa aku!! Kalau begitu cepat lihat kamari."
Rabarus mendekati kolam besar yang ada di bawah jembatan hitam beratap putih.. Ia mendekati kolam tersebut. dan tak lama.. Ikan besar dan indah melompat tinggi melewati jembatan tempat Rabarus berdiri.
"Apa-apaan ini dimana kau sialan? Jika kau hanya ingin menunjukkan ikan Monster ini, lebih baik aku pergi." kesalnya.
"Cih dasar Rubah Bodoh, apanya yang Rubah suci.. Jika kau tidak bisa melihatku, dan merasakan kehadiranku.. Ikan besar yang kau panggil Monster itu, adalah aku yang sedang berbicara denganmu sekarang!"
"Hah.. Jadi yang berbicara denganku, adalah seekor ikan Monster!!"
"Jaga bicaramu Rubah, siapa di sini yang Monster..! Aku ini ikan Suci Kesayangan Paduka Dewa.. Jadi jangan menghinaku."
__ADS_1
"Hah.. Benarkah?? Ternyata kau adalah peliharaan Paduka!!"
"Heh.. Tentu saja, walau sebenarnya pemilikku bukanlah Paduka. Tapi karena pemilikku sedang tidak ada disini.. Jadi Paduka Dewa yang menggantikan beliau untuk merawatku, hingga aku bisa menjadi sebesar ini."
"Lalu dimana Tuanmu?" Tanya Rabarus sambil meletakkan kedua sikunya di pagar jembatan, ia melihat kearah Ikan Besar tersebut, Yang sesekali melompat melewati jembatan.
Ikan itu terdiam sejenak menenggelamkan diri dalam air, lalu berujar dengan nada sedih.
"Entahlah, aku tidak bisa menceritakannya pada orang Asing. Karena Paduka Dewa bisa mendengarkan apa yang kita bicarakan."
Mendengar ucapan ikan tersebut, Rabarus baru tersadar, lalu berpura-pura batuk.
'Benar juga.. Jika beliau mendengar, aku harus menunjukkan sikap yang baik bukan.' pikir Rabarus. "Ehem.. Ehem.. Baiklah aku tidak akan menanyakan siapa pemilikmu. Lalu, kenapa kau memanggilku? Dan apa yang kau inginkan dariku??"
"Sebenarnya aku sangat senang, akhirnya ada yang bisa mengerti perkataanku dan berbicara langsung denganku, selema ini aku hanya bisa berbicara sendiri.. Karena tidak ada yang bisa mendengar suaraku, atau mengerti perkataanku."
"kenapa?"
"Entahlah, mungkin karena mereka bukan Ras Hewan, Jadi tidak bisa mendengar suaraku. Karena kau seekor Monster Rubah, jadi kau bisa mengerti apa yang aku bicarakan. Hahaha akau sangat senang akhirnya ada yang bisa kuajak bicara!! Oh iya.. Maafkan aku yang kurang sopan, namaku Piyomi.. Siapa namamu?"
"Piyomi.. Terdengar seperti nama wanita saja! Namaku Rabarus."
"Cih, jangan menghina namaku.. Karena pemilikku yang memberikan nama berharga itu."
"Hah.. Baiklah-Baiklah maaf, lantas.. Kau ingin minta bantuan apa denganku?" ujar Rabarus membalikkan badannya, dan bersandar pada pagar tersebut."
"Ku dengar kau akan pergi kedunia manusia bukan..!"
"Haah.. Jadi kau menguping pembicaraan kami? Hei.. Itu tidak sopan, Kau bisa di hukum Paduka jika sampai Beliau tahu!"
"Tidak akan, karena Paduka Dewa sudah tahu, jika aku bisa mendengar pembicaraan kalian meski aku berada di luar istana sekalipun. dan bahkan, apa yang kita bicarakan sekarang beliau juga tahu, jadi beliau tidak akan MARAH selama kita berbicara yang baik-baik." Ujar Ikan tersebut.
"Benarkah..?" tanya Rabarus menyelidik.
'Wuah bisa gawat.. Kalau begitu Aku tidak boleh sembarangan berbicara, bisa-bisa aku berakhir di tiang hukuman.'
"Hahahah.. Kau baru menyadarinya!" tawanya pecah, Rabarus tampak kesal karena pikirannya bisa di dengar.
"Tapi, bagaimana kau juga bisa mendengar pembicaraan kami? Sedangkan kau berada di luar isatana?"
"Entahlah, mungkin karena aku ini istimewa.. Atau mungkin juga karena tidak ada yang bisa mendengar suaraku!!" ujarnya ambigu. "Ah benar, maaf telah menyita waktumu. Karena kau ingin kedunia manusia.. Aku ingin menitip pesan untuk seseorang!!"
"Katakan apa itu?"
...****************...
Sesampainya di Istana Kaisar.. Keduanya pun sudah di sambut oleh kepala pelayan kaisar. Lannox keluar sambil menggendong Ravella, Seolah ia takut kehilangan Putrinya.
"Selamat datang Tuan Duke, silahkan ikuti saya, Baginda sudah menunggu kedatangan anda di Taman Utama."
Sang pelayan pun berjalan lebih dulu, sesampainya di Taman Utama.. Tampak Baginda Kaisar, Ratu, dan Pangeran sudah duduk di depan meja besar. menunggu kehadiran Duke dan Putrinya.
Tampak berbagai hidangan kerajaan, sudah tersuguhkan di atas meja.. Bahkan yang di sediakan adalah menu terbaik, untuk menyambut kedua tamu istimewa tersebut.
'Hem.. Aku sudah menduganya sejak awal, maksud tersembunyi dari si Ular Tua itu.'
Pangeran yang melihat kedatangan Ravella dari kejauhan, tampak begitu senang sekali. Tatapannya hanya terfokus pada Ravella seorang, hingga ia tidak sadar seseorang memperhatikannya dengan tatapan mematikan.
'Vella.. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa melihatmu lagi.. Ia semakin cantik saja.'
"Ehem.. Putraku, jaga sikapmu. dan jangan terlalu menunjukkan ketertarikanmu terlalu berlebihan.. Apa kau tidak lihat tatapan Duke sedang mengawasimu seperti burung Elang yang ingin Menyambar mangsanya."
__ADS_1
Mendengar teguran Baginda Kaisar.. Pangeran dengan cepat mengalihkan pandangannya kemeja makan.
"Ah, maafkan Keteledoran saya Ayahanda."
***
"Akhirnya kau datang juga memenuhi undanganku Lannox, aku kira kau tidak akan hadir."
"Hem.. Mana mungkin saya tidak datang memenuhi undangan Baginda. Terlebih! Baginda sudah berkerja keras membuatnya." ujar Lannox menyindir.
Kaisar berpura-pura batuk mendengar sindiran Duke. "Uhuk..Uhuk.."
Duke duduk di samping Kaisar, berhadapan dengan Ratu, Sedangkan Ravella duduk berhadapan dengan Pangeran. Pangeran terus menatap Ravella, sampai Ravella merasa tidak nyaman.
Setelah beberapa menit dalam keheningan, akhirnya Kaisar membuka suara dan mengajak Duke berbicara, Begitupun Ratu yang seolah tidak memberi ruang untuk Duke menahan Putrinya.
Mereka mengalihkan pandangan Duke, agar Pangeran bisa berbicara leluasa dengan Ravella.
Saat Para Orang Tua sedang sibuk berbicara.. Pangeran pun mengambil kesempatan tersebut, dan menarik tangan Ravella agar mengikutinya. Sebelum itu Ravella meminta izin, kepada Ayahnya.
Awalnya Duke dengan berat hati, tapi karena di halangi Baginda dan Ratu, mau tidak mau dia mengizinkanya.
Setelah berada agak Jauh dari Taman Utama.. Pangeran baru mau berbicara terbuka kepada Ravella.
"Vella.. Bagaimana Kabarmu?"
"Saya baik-baik saja Pangeran, bagaimana dengan anda?"
"Yah.. Kau tahu sendiri, istana itu membosankan Vella. Maaf, jika akhir-akhir ini.. aku tidak bisa datang berkunjung ketempatmu.
'Hem.. Justru aku sangat senang jika kau tidak datang.' Pikirnya dalam hati. "tidak apa-apa pangeran, itu sangat wajar, melihat bagaimana padatnya kesibukan seorang Pangeran, sehingga membuat anda tidak bisa keluar bebas kemana-mana."
Keduanya berjalan.. Menyusuri jalan yang dipenuhi dengan banyaknya bunga-bunga mekar.
"Vella.. Sering-seringlah main kemari, aku sangat senang jika kau mahu datang mengunjungiku."
'Haah.. Aku sangat malas, tapi aku mengerti keadaan anak ini, untuk anak seusianya sudah dibebani dengan berbagai tugas kenegaraan itu pasti berat.' "saya tidak janji, tapi jika saya mempunyai waktu luang, akan saya usahakan untuk bermain keistana."
"Terima kasih Vella, aku akan menunggumu."
Saat keduanya sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan di istana, tiba-tiba terdengar suara memanggil.
"Pangeran, sepertinya anda di panggil oleh Baginda."
'Haah.. Padahal baru saja aku bisa berduaan dengan Vella.'
"Baiklah, apakah anda sudah mau Pulang Paman?"
"Ya.. Dan terima kasih atas surat anda tempo hari. Kedepannya, tolong lebih fokus saja dengan tugas anda sebagai Pangeran. Karena Putri Saya belum mengerti apapun, Kalau begitu saya pamit dulu." Ujar Duke, sambil tersenyum mengejek.
Sementara Ravella yang tampak bingung, hanya diam melihat reaksi keduanya.. Seperti sedang perang dingin.
"Ravella Putriku.. Sudah saatnya kita pulang. Ayo Nak.." Ujar Duke langsung menggendong Putrinya.
Ravella yang tidak mengerti apa yang dibicarakan keduanya, tidak terlalu ambil pusing, ia lalu melambaikan tangannya kepada Pangeran, sambil tersenyum ramah.
Hati Pangeran yang tadinya kesal, sedikit terobati dengan senyuman Ravella, yang tampak tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Dan setelah keduanya pergi, Pangeran mengepal erat kedua tangannya. Tampak seringai licik muncul di wajahnya.
'Hem.. Aku masih punya cara lain, kita lihat saja nanti, apa kau masih bisa tersenyum seperti itu Duke!'
__ADS_1
Tak lama Pangeran pun menemui Kaisar, tapi sayangnya.. Kaisar tidak memanggilnya. Itu hanya alasan Duke, untuk mengerjai dirinya.. Dan membawa Putrinya Pergi.
'Duke sialan, sempat-sempatnya dia mengerjaiku.' Pangeran kembali dengan hati yang kesal.