
Di Mansion, Setelah melewati proses latihan seperti biasa.. Rog dan Ron yang sedang duduk di kursi taman. Tiba-tiba di panggil oleh Argus. Dan tak lama.. muncul Kepala Pelayan, datang menghampiri Ron dan Ron.
"Anda Berdua, Yang Mulia Argus memanggil Kedua Tuan Muda, untuk segera menghadap beliau sekarang."
"Ada apa Ranov?" tanya Rog.
"Saya kurang tahu, Tuan Muda."
"Baiklah, kami akan segera kesana." ujar Rog.
"Kalau begitu.. saya pamit dulu Tuan Muda, karena masih ada urusan yang harus saya kerjakan."
"Hem baik Ranov, terima kasih." angguk keduanya.
"Sama-sama Tuan Muda." ujarnya.. lalu berlalu pergi meninggalkan keduanya.
"Kakak.. Kira-kira kenapa ya, Yang Mulia Argus sampai memanggil kita? Tidak biasanya bukan!!" ujar Ron, merasa janggal.
"Entahlah, sebaiknya ayo kita pergi sekarang!" ujar Rog, langsung bergerak lebih dulu, mengabaikan adiknya.
'sebenarnya apa yang terjadi ya..?' pikir Ron, bersedekap tangan sambil merenung, lalu.. Dengan cepat berlari mengejar Sang Kakak yang telah jauh di depan. "Kakak, tunggu aku!" teriaknya.
Sesampainya di depan ruangan kerja Duke, Rog dan Ron pun mengetuk pintu.
"Tok.. Tok.. Tok.."
"Masuk."
Keduanya pun membuka pintu.. Dan, nampak kepala Rog terjulur maju lebih dulu, lalu di ikuti oleh Ron dari belakang.
"Kami menghadap Yang Mulia.."
Tampak Argus sambil mengenakan kaca mata, tengah Fokus menulis.. Melihat keduanya masuk, Argus pun langsung menghentikan pekerjaannya.. Dan membuka kaca matanya, lalu meletekannya di atas meja.
Dan, ia pun bangun dari kursi kerjanya.. Menghampiri keduanya sambil mempersilahkan keduanya duduk di sofa.
"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan pada kalian berdua."
Keduanya pun duduk dengan Patuh.. Argus duduk bersandar pada sandaran sofa, lalu bersedekap tangan, dan melipat kedua kakinya. Ia melihat kearah keduanya! yang tampak gugup dengan tatapannya.
Suasana di dalam ruangan terasa mencengkam, karena Argus masih belum mengatakan apapun selain melihat mereka berdua dengan tatapan yang tajam.
"Apa kalian tahu, kenapa aku memanggil kalian kemari?" tanya Argus.
"Ti-tidak Yang Mulia." ujar Rog gugup, sedangkan Ron, hanya menggelengkan kepalanya.
"Karena kalian adalah Anak Yang Mulia Putri sekarang, sebelum aku memulai pembicaraan yang sebenarnya.. Aku akan mengingatkan kalian lebih dulu!
Hem.. Terutama adikmu!" ujarnya dengan tatapan penuh arti, sambil berseringai.
Ron jadi semakin gugup, dengan seringai Argus yang seolah penuh ancaman.
"Kau.. Sebaiknya jangan pernah menaruh perasaan apapun, pada Yang Mulia Putri."
'Hah.. Ba-bagaimana beliau tahu?' pikir Ron, gugup.
"Apa kau mendengarkan ku!!"
"Ya-ya Yang Mulia." jawab Ron cepat.
"Baiklah, aku akan langsung keintinya saja. Karena kalian sudah menjadi anak angkat Yang Mulia Putri sekarang, jadi sebaiknya.. kalian berdua juga harus belajar mengenai Etiket bangsawan! agar tidak mempermalukan Yang Mulia.
Untuk itu, aku telah mengatur jadwal kalian berdua. Dan mulai besok, kalian hanya boleh berlatih beladiri, pedang, busur, dan sebagainya.. Selama dua jam setiap hari.
__ADS_1
Di mulai dari jam lima pagi, sampai jam tujuh. Setelahnya.. mandi dan sarapan. Lalu dilanjutkan dengan pelajaran Etiket bangsawan.. Dansa, Table Manner, Tata Bahasa, dan lainnya.
Guru untuk kalian juga sudah di persiapkan.. Selain itu, kalian juga harus banyak membaca untuk menambah pengetahuan. Pokoknya mulai besok, jadwal kalian akan sangat padat. Jadi, manfaatkan hari ini, untuk beristirahat secukup mungkin.
Duke juga sudah menghubungiku kemarin, Meski beliau tidak turun tangan secara langsung, namun beliau selalu mengawasi perkembangan kalian berdua, setiap harinya.
Jadi, lakukan yang terbaik, karena kalian berdua sudah menjadi bagian dari keluarga Yang Mulia Duke. Jangan sampai mengecewakan Beliau, mengerti..!"
"Di mengerti Yang Mulia." ujar keduanya bersamaan.
"Apa ada yang ingin kalian tanyakan?"
"tidak Yang Mulia."
"Jika tidak ada, sekarang kalian berdua silahkan kembali."
"Baik Yang Mulia, jika begitu.. Kami pamit undur diri dulu."
"Hem."
Keduanya pun bangkit dari Sofa, setelah memberi hormat, lalu keduanya pun pergi meninggalkan Argus sendiri. Setelah Keduanya meninggalkan Ruangan, Argus bangkit berdiri menghampiri jendela.
Saat ia sedang memandang keluar, tak lama terdengar suara seruan dari seseorang yang sangat ia kenal. Argus tersentak kaget, lalu segera memutar balik badannya untuk melihat kebelakang.
"Apa yang sedang kau pikirkan Putraku?" ujar suara lembut, lalu duduk di sofa.
"I-ibunda..!! Sejak kapan Ibu di sini??"
...****************...
"A-apa!! Bagaimana bisa dia...??" ujar Damu heran.
Monster itu terlepas dari kurungan, kurungan yang mengurung dirinya.. Pecah menjadi kepingan.
"Hahahaha.. Kau kira aku tidak bisa lepas dari kurungan lemah seperti ini hah..? Kau terlalu meremehkan aku bocah.
"Oh, jadi, dari tadi kau masih bermain-main ya.. Pantas saja kau seperti ulat kepanasan. Baiklah! kalau begitu aku juga akan mulai serius melawanmu, Monster menjijikkan."
"Cih, bocah banyak omong sepertimu, lebih mengesalkan."
Monster itu pun bergerak cepat, menyerang Damu yang masih menyamar dengan tubuh kecil. Ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
"Bbooooommmm..." namun Damu, sudah tidak ada di tempat.
Tampak cahaya terang langsung mengarah pada Damu, Melihat itu.. Damu pun tak tinggal diam, ia dengan cepat menghindar dan melompat tinggi lalu mendarat diatas tubuh Monster itu.
Menyadari Damu ada di atas tubuhnya.. Mahluk itu marah, dan menguncang tubuhnya dengan keras, agar Damu terjatuh.
"Hehe.., kau liat juga ya..!" Damu berlari cepat.. Dan menendang kepalanya dengan sangat keras.. Hingga tubuh besar itu terlempar sangat jauh, menabrak pohon besar hingga tumbang.
"Wuuusssshh pang, kretek.. Kretek.. kreeekkkk... Braaaak."
Sedangkan Damu masih melayang di udara, mengamati Monster itu dari ketinggian udara.
Monster itu tampak masih belum menyerah, ia berusaha bangun dan berdiri menatap Damu, yang juga sedang memperhatikannnya sambil menyeringai, ia bersedekap tangan.
"Jangan sombong dulu kau bocah! Hyaaaa..... brak.. Brak.. Brak.. Syuuuuuttt..."
Monster itu berlari dengan cepat, lalu mengeluarkan sesuatu dari kedua tangannya, dan melempar kearah Damu. Gumpalan jaring terus mengarah kearah Damu, Damu mengelak dengan cepat.
"Sial, ini kan Jaring Laba-laba.. Bagaimana bisa dia melakukannya?! Jangan-jangan dia Monster setengah manusia!!
Tapi, tidak heran sih, melihat bagaimana wujudnya sekarang."
__ADS_1
"Beraninya kau mengabaikan aku dasar manusia kerdil, kemari kau jangan hanya menghindar."
"dari tadi aku juga menghadapimu bodoh, tapi kau saja yang terlalu lemah." ujar Damu meremehkan.
Saat ia sedang bicara, kaki Damu tiba-tiba terkena jaring Laba-Laba, Tubuh Damu langsung tertarik, dan dalam sekejap tubuhnya sudah berada di dalam cengkraman Tangan Monster itu.
"Hahahaha... Akhirnya aku mendapatkan tubuhmu manusia. Ternyata tubuh kecil ini mempunyai banyak energi alam ya.. Hehe.. Nampaknya aku sendang beruntung.
Dewa pasti sedang berpihak padaku sekarang, dengan begini.. Aku bisa kembali kewujud asalku."
"Heh.. Kau terlalu banyak bicara.. Aku mengerti kau bahagia Monster jelek. Tapi, jangan pernah membawa nama Dewa." ujarnya berseringai, dan menatap tajam.
Melihat Ekspresi Damu, yang seolah tidak mengenal kata takut, membuat Monster setengah manusia itu geram.
"Apa yang kau lihat, aku akan langsung menyantapmu. GHAAA...." cengkramannya semakin erat.
Saat Monster itu sedang membuka mulut, Damu pun menghilang dari cengkramannya. dan dalam hitungan detik, tangan kiri Monster itu sudah terpasang gelang.
"Heeh.. Dimana dia!!" Monster itu celingak-celinguk mencari Sosok Damu, yang telah hilang dari genggamannya.
Monster itu merasa ada yang aneh pada pergelangan tangannya...!
"Apa ini...??" Monster itu berusaha membukanya, tapi tidak bisa. Semakin keras ia berusaha, semakin panas pula suhu yang di hasilkan oleh gelang tersebut.
"TIDAKKK......!!!!! Lepaskan gelang ini sialan, AAGHHHHHH.... PAAANNNNAAAASSSSSS.....!!!!" pekiknya kesakitan.
Damu melayang di udara, memperhatikan dari ketinggian.
"Sebenarnya, gelang apa itu??" ujarnya heran.
Tak lama... Huruf di dalam gelang tersebut, mulai bergerak keluar dari gelang, dan menjalar ke tubuh Monster tersebut!
Huruf-huruf aneh tersebut, terus bergerak menyebar keseluruh tubuh Sang Monster. Seiring berjalannya huruf tersebut di tubuhnya.. Ia pun merasa kesakitan dan berteriak sekuat-kuatnya sehingga teriakkannya terdengar hingga sampai ke kota Para Roh.
"UAAAAGGGHHHHHHH...... AMPUNI AKU...... AMPUNI AKU...." Pekiknya melengking, hingga suaranya bergema di malam hari.
Hingga para kelelawar dan burung-burung yang ada di hutan, pada berterbangan karena merasa ketakutan di akibatkan teriakan kerasnya.
"Aghhh.. Sial, suaranya berisik sekali." ujar Damu menutupi kedua telinganya.
Tak lama, setelah mengalami kesakitan yang panjang. Huruf-huruf yang telah menyebar keseluruh tubuhnya. Melayang keluar dari tubuhnya, dan membentuk pola aneh..!!
Huruf-huruf itu seperti hidup, huruf tersebut mengelilingi tubuh Sang Monster yang telah lemas tidak berdaya. Lalu, huruf aneh berputar mengelilinginya.. Dan hinggap kembali menyelimuti seluruh tubuh Monster tersebut.
Dan beberapa saat kemudian.. Huruf-huruf yang menyelimuti tubuh Sang Monster, berubah menyilaukan. Tubuh yang tadinya jelek, kini telah berubah utuh menjadi wujud seorang Anak kecil.
"Haah... Bagaimana bisa Monster itu berubah seperti itu? Mungkinkah ia sedang menyamar untuk mengelabuiku!!" pikir Damu curiga.
Lalu.. Tak lama terdengar seruan Sang Dewa, berbicara kepada Damu.
"Tenanglah, sekarang ia telah murni menjadi manusia seutuhnya, Bawa dia padaku sekarang." perintahnya.
"Baik Paduka." jawabnya patuh.
Setelah ia berbicara dengan Damu, Tak lama suara Sang Dewa pun menghilang. Damu melayang turun pelan, tubub kecil Damu, tiba-tiba berubah menjadi Tubuh Pria Dewasa yang sangat tampan.
Dengan kedua sayap Putih yang bersinar terang, kedua sayap indah itu mengibas pelan di kedua punggungnya.. Rambut putih sebahu yang menyala, berkibar karena sentuhan angin.
Ia mengenakan pakaian serba putih, lalu melapisi seluruh tubuhnya dengan Jubah keemasan, sosoknya yang tinggi besar, tampak gagah.
Ia mendarat pelan ketanah, melangkah lambat mendekati sosok Pria kecil, yang sedang terbaring tidak sadarkan diri, Di atas permukaan tanah.
"Siapa sebenarnya anak ini..?!" ujarnya mengernyit.
__ADS_1
Ia langsung meraih tubuh kecil itu.. Lalu kedua sayapnya mengibas cepat dan dalam sekejap, tubuh Damu.. sudah berada di udara dengan kecepatan penuh.
ia pergi mengarungi angkasa untuk menuju istana langit.