
Setelah meninggalkan Rabarus dalam kebingungan, sendirian. Sang Kaisarpun tiba di Istana Langit. Jura yang tidak pernah menjejakkan kakinya di tempat tersebut, langsung mengutarakan apa yang terlintas di dalam pikirannya.
"Tempat apa ini Paduka..?" Tanya Jura, yang baru pertama kali melihatnya.
"Sang Kaisar sudah berubah kedalam wujud manusia, ia duduk di atas singgasananya. Sementara Jura, berdiri disamping kursi kebesarannya.
"Istana Langit." Jawab Sang Paduka, singkat.
Jura yang baru pertama kali datang merasa takjub, akan kemegahan tempat itu.
"La..lalu.. Mengapa anda membawa hamba kemari Paduka??"
"Karena kau sudah menjadi Pilar Ketujuhku, jadi sudah sepantasnya kau ada disini."
Jura, terdiam seketika Lalu.. Muncul pertanyaan lain dibenaknya.
"Paduka.. Jika di izinkan, bolehkah saya bertanya?"
"Katakan."
"Mengapa Anda menolak tawaran Si Rubah tersebut..?? jika dibandingkan dengan hamba, beliau berada jauh diatas level Hamba??? Bukankah sangat berguna jika menerima Sumpah Beliau!!"
"Hem.., tidak perlu menerima Sumpah pun, Dia memang sudah menjadi milikku."
Jura terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Kaisar, untuk memastikan apa yang ia dengar.. Ia mencoba bertanya sekali lagi.
"A..apa maksud Paduka.. dengan milikku..??"
Tampak muncul seringai dibibirnya..
"Entahlah, Aku hanya ingin mengerjai anak itu saja." Jawabnya santai.
'Pikiran Paduka benar-benar tidak bisa di tebak, apa yang sebenarnya Paduka rencanakan!!'
Jura yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, langsung tersadarkan dengan pertanyaan dari Sang Paduka.
"Jura, bagaimana dengan perubahan bentuk barumu? Ini baru pertama kali kau menggunakannya setelah berevolusi. Apa kau sudah bisa menguasainya!!"
"Masih belum Paduka.. Saya masih belum terbiasa menggunakannya."
__ADS_1
"Teruslah berlatih agar terbiasa."
"Baik Paduka."
"Hmm sudah waktunya..! Ayo kita KeZona Mana, Yang lain sudah menunggu."
Jura mengangguk, dan mengikuti dengan patuh. Dalam sekelip mata, keduanya sudah berada di Zona Mana.. Sang Kaisarpun telah kembali kewujud Naga Emasnya. Tampak kelima Spirit, sudah berdiri menyambut kedatangan Sang Kaisar, kelimanya menunduk hormat kepadanya.
***
Di Kekaisaran Benua Barat, Raffael tengah duduk di ruang kerjanya. Di temani Daskal, Sang Menteri. Di tengah keheningan, tiba-tiba muncul Razak membawa kabar.
'Saya menghadap Baginda..'
Daskal tidak bisa melihat kehadiran Spirit tersebut, karena Razak menyembunyikan kehadirannya. Daskal tampak tengah fokus mengerjakan tugasnya yang menggunung.
'Katakan, kabar apa yang kau bawa untukku!!' Ujar Raffael, sambil membaca dokumen.
'Setelah menyelidiki apa yang Baginda Perintahkan, tampaknya.. Memang benar ada sejenis tempat tersembunyi, terletak di sebuah pulau kecil, Yang letaknya jauh dari daratan.'
Raffael berhenti dan meletakkan lembaran kertas dokumen yang ada didalam tangannya, keatas meja. Matanya menatap tajam kedepan, Daskal yang secara tidak sengaja melihat tatapan tajam dan dingin Sang Kaisar.. Segera menundukkan pandangannya.
'Bagus, selamatkan anak-anak dan hancurkan pulau itu.'
'Baik Baginda.' Baru Razak ingin pergi, ia dihentikan dengan perkataan Kaisar.
'Ah satu lagi.. Razak.'
'Apa itu Baginda!!'
'Apakah dia juga terlibat dalam masalah ini?'
'Sepertinya tidak Baginda.. Kelihatannya, ada yang memanfaatkan keadaan Ini dengan menggunakan Namanya!'
'Baiklah kalau begitu, segera cari tahu pelakunya.. Dan bawa kehadapanku segera.'
'Hehe.. Dengan senang hati, Saya pamit dulu Baginda.' Setelah itu, Razak menghilang.
'Untuk sementara.. Aku akan menunda kedatanganku, Dan, harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya.
__ADS_1
***
Di tempat lain, di kerajaan Elf. Setelah kebangkitan Argus, berjalan lancar. kedua Dewa, Dewi, pun akhirnya telah kembali pulang ketempatnya. Dan, orang yang paling bahagia. Atas kepulangan mereka.. Adalah Raja Faran.
Ia benar-benar senang, karena tidak ada lagi yang memarahinya, atau memperlakukannya seperti anak kecil. Sedangkan Argus, menjalani rutinitasnya sehari-hari seperti biasa sebagai seorang pangeran. Untuk menghilangkan rasa bosannya selama berada di istana, Argus pergi keluar istana untuk melihat festifal rakyat.
Seperti biasa, Argus tidak suka menggunakan kereta kerajaan, ia lebih suka pergi dengan penyamaran seorang diri, tanpa adanya pengawalan. Di kota.. Banyak lentera bertebaran menerangi seluruh jalan kota.
Pesta rakyat begitu meriah, dan ramai dikunjungi semua kalangan masyarakat. Saat sedang menikmati suasana yang merakyat, tiba-tiba Argus teringat sosok Pria yang ada didalam mimpinya. Duke, si sang Master. Terbesit ide di dalam benaknya.. Ia menyeringai.
'Hmm.. Benar, sebaiknya aku ketempat beliau. Jika menunggu Master yang memanggilku duluan, Cih.. itu sangat tidak mungkin terjadi. Beliau selalu memanggilku, hanya disaat kondisi sedang terdesak saja. Jika menunggunya.. Aku bisa berkarat disini.
Tapi sebelum itu, sebaiknya aku meminta izin dulu kepada ibunda. Aku tidak ingin seperti kejadian terakhir kali, beliau sampai datang sendiri hanya untuk menjemputku.'
Tak lama setelah memikirkannya dengan matang, Argus kembali keistana. Jiwa pertualangannya, berontak ingin meninggalkan kerajaan.
......................
Seminggu telah berlalu, Ravella yang sedang bosan, duduk dibawah pohon Maple kesukaannya.. Di temani oleh kedua dayang pribadi, dan sepuluh pengawal yang sedang berjaga disekitarnya. Daun-daun berguguran tertiup angin, membuat suasana disekitar tampak indah dan menenangkan.
Ravella duduk bersandar pada batang pohon Maple, Yang Mulia kecil mengambil salah satu daun yang jatuh disampingnya. Ia memutar daun tersebut, diperhatikan dengan kedua dayangnya.
Marri, melirik kearah Reni.. Yang di balas senyum oleh Reni, sambil menggelengkan kepalanya. Seolah memberitahu, biarkan saja jangan diganggu. Mengerti akan maksud Reni, ia pun mengurungkan niatnya untuk menyapa Yang Mulia kecil.
'Bukankah hari ini.. Kakek bilang akan datang!! Tapi kenapa hingga saat ini Para Kakek Spirit belum juga muncul? Apa yang sedang mereka lakukan?? Padahal banyak yang ingin aku tanyakan, aku juga punya janji untuk menemui kedua anak adopsiku.
Bagaimana kabar anak-anak itu ya?? Dan dimana Gapi berada, sudah seminggu berlalu setelah aku bangun dari tidur panjang. Tapi bayi kecilku, masih belum juga muncul menampakkan wajah imutnya, Apa dia tidak merindukanku!!'
Putri cantik berambut perak keunguan, kini melamun tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tanpa ia sadari, ada sesosok tampan sedang berada di atas pohon tempat ia bersandar. Pria itu menyamarkan diri dari penglihatan manusia, dan sedang memperhatikannya di dalam diam.
Tatapannya tidak pernah berkedip sedikitpun, saat ia menatap sosok gadis kecil yang baru pertama kali ia lihat itu. Ia sejak tadi memperhatikan sosok gadis kecil berparas cantik, lucu, dan menggemaskan, datang menghampiri tempat favoritnya yang biasa ia datangi saat berada di mansion.
Bak Dewi yang turun dari langit, ia mempunyai rambut perak panjang terurai, mirip dengan rambut seseorang yang sangat ia kenal. ada denyut yang berpacu kencang saat ia melihat kehadiran sosok kecil itu saat mendekati pohon, Ia juga tidak mengerti perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini..!!
'Siapa anak itu? Selama ini aku belum pernah melihat anak secantik itu ada di mansion..! Rambut perak yang terkadang berubah-ubah warna itu sangat indah, wajah cantiknya yang bercahaya namun tampak sangat keibuan dan anggun. Padahal dia masih kecil, akan tetapi.. Ia sudah memancarkan aura seorang Dewi, yang sangat berbeda dari manusia lain yang pernah aku temui.
Dan perasaan aneh apa ini? Kenapa jantungku sejak tadi, berdetak sangat kencang. Apa yang salah denganku?? aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Bahkan didepan wanita cantik sekalipun, haah..., bukannya aku tidak normal!! Hanya saja.. Aku memang belum menemukan sosok yang aku sukai. Tapi.. Anak ini berbeda. Entah kenapa saat melihatnya!!
Ada perasaan ingin memiliki, yang tak bisa aku jelaskan.. Gawat, apa yang telah terjadi kepadaku!! Seperti ada tarikan kuat yang memaksaku untuk mendekatinya. Apa-apaan ini, aku harus menenangkan jatungku dulu, Aku akan mencari tahu siapa anak itu nanti. untuk Sekarang, sebaiknya aku pergi untuk menenangkan detang jantungku yang tidak karuan ini.'
__ADS_1
Tak lama Argus pun menghilang, Ravella sempat merasakan ada perasaan yang aneh, Tapi ia menepisnya.. Saat melihat tidak ada apapun di atas pohon.