
Sementara dilapangan luas dan hijau.. Kedua pria tengah terengah-engah berlari karena kelelahan, di perhatikan banyak prajurit yang merasa heran.
"Omong-omong siapa yang di samping Yang Mulia Argus? Aku belum pernah melihatnya..!" ujar prajurit yang memperhatikan dari jauh.
"Entahlah, aku juga belum pernah melihatnya. Bisa saja itu keponakan Yang Mulia, atau sepupu jauh Yang Mulia Putri." jawab yang lainnya.
"Bisa jadi, ia tampak muda sekali bukan!!"
"Benar.."
Argus yang mendengarnya dari jauh tertawa terbahak-bahak. Membuat Zion kesal karena ia juga mendengarnya dengan jelas, pembicaraan para prajurit tersebut.
"Apa yang kau tertawakan sialan!!" umpatnya kesal.
"Hahahah.. Hahahah.. Jadi tidak ada yang mengenalmu hah! dengan wujud ini. Bisa-bisa nanti kau akan di buli karena tidak ada yang tahu statusmu itu anak muda..!"
"Diam kau.. Oh tapi, bila dipikirkan lagi, mereka menyebutku anak muda bukan! Heh berarti aku lebih muda darimu, sedangkan usia kita tida berbeda jauh. Berarti kau terlihat lebih tua dariku hahahah.. hahahah.. Bocah tua.." panggilnya mengejek.
"Cih, berisik. Sebaiknya ayo kita tanding, siapa diantara kita yang selesai lebih dulu. Melihat bagaimana lemahnya fisik wujud manusiamu itu, aku rasa aku bisa menang darimu hehe."
"Cih, Siapa takut." jawab Zion tidak mahu kalah.
Sudah seratus putaran, keduanyapun terus berlari. Saat lelah mereka akan berlari pelan, Stamina Argus jauh lebih baik dibanding Zion, yang jarang menggunakan tubuh manusianya. Karena Ia tidak pernah berlari menggunakan tubuh manusianya, dan kali ini Duke benar-benar membuat Zion kualahan.
'Hah.. Hah.. Sial.. Ini lebih sulit dari yang aku bayangkan, aku yakin.. Setelah ini aku tidak bisa jalan. Kakiku serasa tidak kuat lagi berlari, bocah tengik sialan.. Dia menghukumku hanya karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Cih, aku harus cepat menyelesaikan siksaan ini.
...****************...
Saga, duduk dengan tenang di kursi yang berada disamping ranjang Ravella. Ia mendengarkan dengan fokus nasehat temannya itu, yang duduk berhadapan dengannya.
Di ruangan kamar Ravella, selain besar dan luas, fasilitas di kamarnya juga sangat lengkap, tidak hanya sofa dan meja belajar, tapi ada juga empat kursi dengan meja bundar kecil, untuk bersantai.
Saga dan Jura duduk di kursi tersebut, sedangkan kedua spirit lain, yang tadinya duduk terpisah kini mendekat dan menarik kursi untuk duduk di dekat kedua temannya.
Mereka semakin tertarik mendengar Apa yang baru saja Jura utarakan tentang kecurigaanya itu, Dan belum sempat Jura bercerita.. Tak lama muncul seseorang dari balik Kedua pintu besar itu. Ia masuk dengan raut wajah sedingin Es, saat ia memasuki ruangan.. Tampak keempat Spirit sedang memperhatikannya.
'Hem.. Ada apa mereka melihatku seperti itu!' ia melihat keputrinya sekilas, lalu kembali melihat Keempat Spirit yang sedang menatapnya tajam. "katakan kenapa kalian melihatku seperti itu?? Apa kalian ingin membunuhku dengan tatapan kalian??"
Sedangkan keempat Spirit yang melihat kehadiran Duke, berbicara melalui pikiran, Agar tidak di dengar dengan Duke muda itu.
__ADS_1
'Hei, aku rasa dia masih belum menyadari Putri kesayangannya sekarang sedang tertidur sambil memeluk Gapi.' Ujar Tama kepada yang lainnya.
'Kau benar.. Jika sampai ia menyadari keberadaan Bocah itu! Ia pasti akan akan membuat rusuh, dan akan marah besar saat melihatnya. haah.. nasib bayi kecil itu, seperti berada di neraka jika ada bocah ini.' tambah Roya.
'Cih, jangan bahas neraka.. Jika kau sendiri belum pernah pergi kesana, dasar bodoh.' sahut Tama menyela Roya.
'kau yang idiot, itukan hanya perumpamaan dasar bebal. Kau mahu jadi Zaku ya.. Sembarangan mendefinisikan perkataanku. Jika orang yang pikirannya rendah sepertimu mendengarnya, mereka bisa salah mengartikan maksud perkataanku. Dikarenankan ada orang idiot sepertimu dan Zaku.' Ujar Roya tajam.
'Sialan kau.. Jangan samakan aku dengan anak itu!! Sudah pasti aku lebih pintar dari pada dia.'
'Hahaha.. Kalian berdua sudah hentikan. Jangan bercanda disaat seperti ini. Pikiran bodoh kalian tidak akan memberi solusi apapun.. Yang ada bocah itu malah akan mencurigai kita.' ujar Saga jadi penengah.
Sedangkan Jura hanya menyeringai menertawakan perdebatan teman-temannya itu. jika ia terus mendengar perdebatan bodoh dari keduanya, yang ada lama-kelamaan Duke akan sadar dengan keberadaan Gapi.
Untuk menghindari hal tersebut, Jura langsung mengambil tindakan dan menjawab pertanyaan Lannox.
"Kebetulan sekali nak, sebaiknya kau duduk disini.. Karena ada yang ingin kami bicarakan denganmu. Ini juga menyangkut keselamatan Master kami." Ujarnya bertindak cepat dan terlihat alami.
'Cih.. Cih.. Lihatlah teman kita satu ini, dia pandai sekali mengendalikan situasi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.' ejek Tama, berbicara pada Roya. Sambil melirik kearah Jura.
'Kau benar, kali ini aku setuju denganmu, kita jadi terlihat bodoh jika di ada dekatnya.' ujar Roya sepakat dengan Tama.
Sementara Saga yang melihat sikap kekana-kanakan keduanya, hanya bisa menghela nafas, dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
'Kalian berdua saja sudah seramai ini, apalagi jika ada Zaku. Haha.. Kalian akan menjadi Trio yang paling menyebalkan yang pernah ada.' keluh Saga sambil menertawakan keduanya.
'Sialan kau.. Bi..'
'Bisakah kalian diam.. Jika tidak, sebaiknya kalian pergi dari sini.' Jura melihat keduanya dengan tatapan tajam.
Melihat keseriusan Jura menegur keduanya, Tama dan Roya akhirnya bertindak patuh, karena ia tidak pernah melihat Jura bersikap dingin dan tegas seperti sekarang.
Setelah Lannox mendekat, tak lama muncul satu kursi yang entah datang darimana.
"Duduklah disini." ujar Jura menunjuk kursi tersebut.
Lannox menarik kursi yang membelakangi Putrinya, dan duduk berhadapan dengan keempat Spirit.
"Jangan bertele-tele katakan apa itu?" ujarnya langsung ketopik pembicaraan.
__ADS_1
"Hem.. Dengar nak, aku merasakan kebocoran dimensi, dan itu sangat berbahaya, Apalagi bagi penduduk awam. Terutama Dewi, bukankah dia baru saja kembali dari dimensi lain! Dan itu terjadi disebabkan kebocoran dimensi yang terbuka secara acak."
"Maksudmu?" tanya Lannox belum mengerti.
"Ruang dimensi sekarang tampaknya sedang kacau. Karena pintu dimensi lain tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. dan muncul di Mansion ini.. Artinya, itu juga berbahaya bagi Dewi.
Kau tahu sendiri sifat Putrimu bukan..! Dewi memang sudah pernah menguncinya, Tapi itu hanya bertahan untuk sementara waktu. Bisa jadi segel yang Dewi lakukan, telah melemah.
Untuk itu mulai sekarang, tarik kembali pengawal Putrimu. Mulai dari sini, aku dan yang lain yang akan mengawalnya.. Jadi kau tidak perlu terlalu memikirkannya."
'Apa yang dikatakan Pria ini juga sama dengan cerita istriku..! Bagaiman bisa Arabella banyak tahu apa yang terjadi di dunia ini..? Padahal dia sudah tidak berada di dunia ini..!
Berarti.. Meskipun raganya telah tiada dari dunia ini, tapi ia selalu memperhatikan kami dari dunia sana. Dan ia juga bisa kuseru, lalu datang kedalam mimpiku.
Haah.. Rasanya aku jadi ingin segera tidur, dan bertemu dengannya lagi.' ia merenungi apa yang di katakan Jura. "Baiklah aku serahkan penjagaan Putriku kepada kalian, tentu saja.. itu jauh lebih baik jika kalian sendiri yang turun tangan melindunginya ketimbang para prajurit.
Dibanding Prajurit.. Kalian lebih baik. Kalau begitu kalian bisa kembali sekarang, karena aku akan tidur di sini bersama Putriku." ujarnya.. Lalu mengusir keempatnya untuk segera pergi dari kamar.
Mendengar perkataan Lannox, yang lain saling melirik.
'Oi.. Jura, bagaimana caranya kita menyelamatkan Gapi?' ujar Tama melirik kearah Jura.
Jura diam seketika, lalu ia tersenyum dan dengan cepat berpindah tempat dan dalam sekejap Jura sudah berada di samping ranjang Ravella.
'Haah.. Padahal mereka sangat lucu saat tidur berdua. Sayang sekali Gapi, sepertinya kau harus tidur di tempat lain.' "Tik" dalam sekejap Gapi menghilang, dan berpindah kekamar sebelah tempat Gapi dirawat sebelumnya.
Tak lama Jura tersenyum, dan berseru kepada teman-temannya. "Kawan-Kawan ayo kita pergi."
Melihat Gapi sudah aman, yang lainpun dengan patuh mengikuti ajakan Jura.
"Baiklah, panggil kami jika terjadi apa-apa." ujar Jura.
"Hem." Lannox mengangguk.
Setelah semuanya pergi.. Lannox kembali melirik Putri kesayangnya, ia menghampiri dan berbaring di samping Ravella.
'Haah.. Anakku, tidak terasa kau sudah bertumbuh sedikit. Meski begitu aku sangat khawatir, terlalu banyak yang mengincarmu.'
Lannox berbaring telentang dan menyelipkan tangannya dibawah kepala.. Ia menatap keplafon kamar.
__ADS_1
'Hem..apa Zion dan Argus sudah selesai? Aku harap mereka berdua bisa akur.'