AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
AKU TELAH MENGAMBIL KEPUTUSAN


__ADS_3

di dalam dimensi lain.. Jasad dari siburung hantu, telah terbujur kaku. meskipun masih ada kehangatan dari raga tersebut. Merasa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.. tanpa menunggu lama, sekelebat cahaya oranye keluar dari tubuh Tama, Menyambar dan mencengkram jasad burung hantu. cahaya oranye membungkus mayat burung hantu itu, beberapa saat kemudian.. Mayat itu menghilang. menjadi serpihan cahaya, dan menyatu dengan tubuh tama.


''hihihi... dengan begini, intensitas sihir milikku, makin melimpah. heh.. ternyata raga siburung gemuk ini.. Mempunyai hawa spiritual yang cukup tinggi. Dan sekarang, Aku harus segera menyelesaikan misi ini. Jika tidak, Aku bisa terlambat dari batas waktu yang telah di tentukan. Sudah cukup aku melewatkannya sekali, tidak akan ada kedua kalinya."


Setelah meyakinkan dirinya.. Tamapun, melihat pintu gerbang merah berukuran raksasa. Kedua pintu itu masih tertutup rapat, Ia berjalan melewati tangga demi tangga, setelah tiba pada tangga terakhir, yaitu.. tangga keseribu. Tama, berhenti tepat di depan kedua pintu gerbang tersebut. Kepalanya menyongak keatas, melihat ketinggian pintu merah besar.


'hmm.. Ukurannya bahkan melebihi ukuran si burung tadi, omong-omong.. Bagaimana caranya aku membuka pintu ini? Sigemuk bahkan tidak memberikan aku kunci untuk membukanya. apa Jangan-jangan.. dia lupa memberikannya!'


Saat Tama, sedang larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba saja.. sesuatu yang mengejutkan terjadi.


"nnngggiiikkk....." kedua gerbang terbuka dengan sendirinya, Dan, yang paling mengejutkan diantara semuanya adalah.


"bedebah.. Apalagi sekarang?" Tama menyipitkan matanya, sambil melipat kedua tangannya.


...----------------...


di Mansion Duke, setibanya Argus, Dean, dan Robi. Dalam ruangan kerja Duke, keteganganpun terjadi.


"Saya menghadap Yang Mulia."


Argus muncul dengan membawa Robi, dan Dean, bersamanya. Pria tampan berambut perak, sedang duduk membelakangi cahaya. Ia tampak sibuk mengurus dokumen, yang bertumpuk diatas meja kerja miliknya.


"baguslah, bagaimana dengan misinya! Apa kalian berhasil?" tanya Lannox dingin.


Keduanya tampak tertunduk malu, dengan rasa menyesal. Bagi mereka yang telah gagal dalam misi, berarti mereka sudah tidak mempunyai harapan lagi.. Untuk mendapatkan kepercayaan sang Duke. Dan, sudah pasti mereka tidak akan di terima di mansion, memikirkan itu saja.. Sudah membuat Robi, dan Dean, takut di buang.


(Robi) 'bagaimana ini.. Jika Kami gagal dalam misi ini, Yang Mulia pasti akan membuang Kami seperti barang tidak berguna. Aku sudah tidak mempunyai tempat tujuan selain tempat ini, bahkan, saat ini.. Pangeran pasti sedang mencari keberadaanku. Jika Yang Mulia menolak menerimaku, jalan satu-satunya..' keluh Robi hampir putus asa.


(Dean) 'Aku telah gagal dalam misi mudah yang diberikan Yang Mulia, Aku tau beliau juga sedang menguji Kami berdua. tapi, jika misi Yang beliau anggap mudah seperti ini saja.. kami tidak bisa menyelesaikannya! Tamat sudah harapanku, padahal masih banyak misteri yang belum terpecahkan. Aku bahkan belum tau dimana keberadaan rog sekarang! Dan juga.. Aku telah kabur dari orsi.


Aku yakin, mereka sekarang pasti sedang mencari keberadaanku. Melihat dari bagaimna ketatnya kerahasiaan Orsi, heh.. Mana mungkin mereka akan melepaskanku begitu saja. Walaupun aku dilaporkan mati, atau tertangkap dengan pihak musuh sekalipun, bukan berarti mereka akan mempercayainya dan datang menyelamatkanku layaknya Orang penting. Bagi Orsi, jika kau gagal dalam misi.. Maka kau harus mengakhiri nyawamu sendiri, atau diakhiri dengan sadis. Pasti ada muslihat tersembunyi yang tidak Aku ketahui selama ini, Aku juga harus berhati-hati terhadap mata-mata Orsi. Hanya disini aku bisa merasa aman, dan jauh dari pekerjaan kotor.'


Melihat kediaman keduanya.. Lannox menghentikan pekerjaannya, tampak wajah tampan menopang dagu, di atas kedua punggung tangannya, yang mengenakan sarung tangan hitam. Lannox terdiam dan memperhatikan keduanya, membuat suasana dalam ruangan tersebut menjadi sunyi dan tegang.


Sementara Argus, langsung menghampiri dan berdiri di belakang Tuannya, dan hanya mengamati keduanya dalam diam.


Dean dan Robi, tampak bingung dan ketakutan. Keringat dingin membasahi wajah mereka berdua.. Sedangkan Argus, hanya menyeringai memperhatikan keduanya. Dan setelah beberapa saat kemudian..


"lalu.. Laporan apa yang akan kalian berikan padaku?"


Keduanya saling melirik dengan ragu, Robi yang merasa bersalah, karena telah melapor dan menunjukkan kelemahan mereka berdua, yang berarti mereka telah gagal.


(Robi) "Sa.. Saya minta maaf Yang Mulia, padahal Kami telah menyanggupi, dan pergi dengan percaya diri. Akan tetapi, ka..karena merasa khawatir Dean tidak kunjung kembali.. Saya jadi berinisiatif lebih dulu, untuk meminta bantuan kepada Yang Mulia."

__ADS_1


"lantas?" tanya Lannox singkat.


(Dean) "ya.. yang mulia, ini semua salah saya. Karena terlalu percaya diri, dan saya juga tidak menyangka! Musuh yang kami hadapi, ternyata diluar batas kemampuan kami. saat Saya memasuki lorong.. Untuk mencari keberadaan dokumen tersebut, tiba-tiba pencarian Saya dihentikan dengan mahluk yang saya tidak tau wujud dan bentuknya. Dan, tak lama.. setelah saya bertarung dengannya, Bantuanpun datang. Tapi, ada yang aneh dengan mahluk itu!"


"hmm..maksudmu?"


(Dean) "mahluk itu tampak sudah berada lama disana, dan sepertinya.. Keberadaanya, bukan hanya kebetulan semata."


"..........." Lannox diam menyimak.


(Dean) "keberadaan mahluk itu.. Kelihatannya memang sudah direncanakan. Seperti yang pernah Yang Mulia kemukakan sejak awal. Jika keberadaan monster yang banyak menelan korban, itu memang benar adanya. Soalnya, saat Saya memasuki lorong rahasia! Mahluk itu sempat berbicara kepada Saya, dan bertanya seolah sudah akrab."


Flashback (""apakah sudah waktunya bagiku, makan siang?"


"......."


"katakan siapa kau?"


"......."


"kau tidak tampak seperti penjaga! apa kau orang baru?") masa kini.


"karena Saya tidak tau harus menjawab apa? Saya hanya diam, melihat saya tidak merespon. Dia langsung terdiam, dan mulai curiga. Lalu tak lama.. mahluk itu langsung menyerang Saya, Yang Mulia." gumamnya jujur.


Mendengar jawaban dari Dean, sebagian sudut bibir Sang Duke, terangkat keatas. Lalu setelahnya ia kembali melirik tajam kepada Robi. Melihat tatapan yang seakan menusuk dirinya. Tubuh Robi, menjadi dipenuhi keringat dingin dan rasa gemetar yang tidak bisa ia tutupi.


Mendengar jawaban jujur dari keduanya, kedua sudut bibir lannox terangkat. Namun, masih belum jelas, apakah senyum itu. Adalah sebuah kepuasan, atau sebuah ancaman, yang akan mengakhiri harapan keduanya.


"mendengar jawaban kalian berdua.. Aku telah mengambil keputusan."


Lannox bangun dari kursinya.. Dan melangkah maju duduk di meja kerjanya, sambil melipat tangan, dan menatap dingin pada kedua pria yang tengah berdiri, dengan wajah tertunduk dan tubuh yang gemetar.


Robi, dan Dean, menunggu dengan penuh harap cemas. Mereka tidak tau, jawaban apa yang akan diambil oleh Sang Duke. Dan keduanya, seperti sudah pasrah, apapun jawaban yang mereka katakan! Bukan berarti bisa membuat mereka lolos, karena yang paling dibutuhkan dalam misi ini.. Adalah keberhasilan dan hasil nyata dari tindakan mereka. Tapi sayangnya.. Keduanya telah gagal.


(Robi) 'jika kali ini.. aku tidak diterima! Aku sudah memutuskan, aku akan mengakhiri hidupku, daripada harus berakhir ditangan pangeran keji.'


(Dean) 'sial, aku telah gagal, pastinya Aku tidak akan diterima. Padahal aku sudah sangat senang, dan ingin mengabdikan diriku kepada Beliau, sebagai kesatria terhormat yang diakui oleh Beliau. Tapi sekarang, malah berakhir menjadi pecundang, statusku saja tidak jelas. Jika Beliau menolak! Kemana lagi aku harus pergi.. Sementara sekarang, aku pasti telah menjadi buronan para orsi. Kemanapun aku bersembunyi.. Hidup tidak akan aman lagi seperti dulu!" dean termenung, hanyut dalam pikirannya sendiri.


Keduanya terlihat seperti, tidak mempunyai semangat hidup. Sehingga mereka tidak menyadari, Sang Duke memperhatikan mereka berdua. Ada riak kesedihan, hinggap diwajah keduanya.


"ehem.. ehem.." Duke berpura batuk, menyadarkan lamunan mereka.


Mendengar suara batuk Sang Duke, keduanya kembali tersadar dari lamunan mereka. Dan menatap kosong kepada Sang Duke.

__ADS_1


'cih, lihatlah wajah mereka.. Tampak seperti mayat hidup sekarang.' gumamnya dalam hati, yang membuatnya ingin tertawa sinis. "kalian berdua LOLOS."


"baik Yang Mulia.. Kalau begitu kami akan.. Eugh...." jawab keduanya serentak sangat tidak bersemangat, karena masih belum sadar. Dan beberapa detik setelahnya, keduanya saling menoleh tak percay.


(Robi) "ka.. kami LOLOS....!" ucap Robi spontan.


(Dean) "apa itu benar Yang Mulia?" Robi masih belum percaya, dengan apa di dengarnya, ia mencoba bertanya lagi untuk memastikan.


"cih, apa aku sekejam itu dimata kalian..? Hingga membuat kalian ragu." jawabnya dengan tatapan tajam.


"Gedebag" keduanya langsung berlutut dengan satu kaki, dan tangan kanan menempel di dada mereka.


(Dean/Robi) "kami berjanji.. Akan Bersumpah setia kepada Yang Mulia, dan kami akan mengabdikan seluruh hidup kami hanya kepada Yang Mulia." ungkap keduanya semangat penuh kegembiraan, seakan baru kembalidari kematian, suara lantang bergema dalam ruangan Sang Duke.


"hah.. Aku akan menerima sumpah kalian secara resmi nanti. saat ini.. aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Untuk sekarang.. Kalian Aku beri libur dua hari, Atas dedikasi yang telah kalian lakukan. Kalian berhak mendapatkannya, dan manfaatkan waktu dua hari kalian sebaik mungkin, hingga aku memanggil kalian kembali.


(Robi/Dean) "baik, terima kasih Yang Mulia.. Kalau begitu, kami mohon undur diri dulu."


"hmm.."


Setelah memastikan keduanya pergi menjauh.. Dan meninggalkan ruang kerjanya. Lannox langsung bertanya pada Argus.


"bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan dokumennya..!"


(Argus) "sudah Yang Mulia." argus langsung mengeluarkan berkas, dalam sekejap semua dokuman sudah ada ditangannya.


"lalu.. Bagaimana, dengan mahluk itu?"


(Argus) "hamba sudah mengurungnya, didalam penjara kehampaan Yang Mulia."


"hmm.. Lebih baik kau pindahkan dia ketempat seharusnya, dan segera lakukan introgasi."


"baik, akan saya lakukan seperti keinginan Yang Mulia."


"satu lagi.. Bagaimana dengan sipelaku?"


Argus menyeringai.. Dan menjawab santai.


"hehehe.. Sekarang mereka sedang menikmati mimpi indah!"


"bagus, kau tidak perlu mengotori tanganmu, kirim mereka kehutan terlarang. Karena aku tidak akan memberi ampun para penghianat, Biarkan mereka menjadi santapan hewan buas. "


"seperti biasa.. Yang Mulia memang kejam. Ah! Omong-omong sebelum saya pergi, bisakah saya duduk disini sebentar Yang Mulia?"

__ADS_1


"hmm..." sahutnya acuh.


'sepertinya akan ada pertunjukan yang menarik.' seringai Argus, sambil duduk disofa, seolah sedang menanti sesuatu.


__ADS_2