
Keenam Spirit telah terbangun dari pembekuan, Rabarus yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri, kini dibuat terkejut oleh pemandangan yang di suguhkan dihadapannya.
'Apa yang mereka sedang lakukan? Kenapa mereka sangat menghormatinya?? Apakah dia bukan musuh!!'
"Hormat kepada Kaisar Agung.." Ucap keenam Spirit serentak, semuanya menunduk hormat kepada Sang Naga Emas, yang ukurannya jauh lebih besar dari keenam Spirit lainnya.
Diantara keenam Spirit, Tampak kesedihan dimata Tama. Ia tidak banyak berbicara. namun, di dalam diam.. ia masih memikirkan keberadaan Ayahnya.
'Dimana Ayahanda..? Seharusnya beliau ada disekitar sini. Kenapa hanya kami berenam saja!! Padahal aku sudah menargetkannya kedalam mantraku, tapi bagaimana bisa dia tidak ada disini..?!! Jika sampai terjadi apa-apa kepadanya..! Aku, tidak akan pernah memaafkan diriku.'
Sementara Rabarus.. yang tidak percaya dengan apa yang terjadi.. Langsung mendekati para Spirit, dan, menghujani pertanyaan kepada Putranya.
"Hei.. Anak-anak.. Bagaimana bisa kalian ada disini, dan membeku seperti Es..?? Dimana Dewa, yang menyerang tadi??!" Tanya Rabarus penasaran.
Para Spirit, tidak mengenalinya sama sekali, karena perubahan bentuknya, dan energi yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Tama, yang melihat sosok Rubah Api putih, dengan kedua tanduk Api merah, di atas kepalanya.. Merasa tidak suka melihat kehadirannya, yang sok akrab.
"Siapa Kau?" Tanya Tama, tidak kenal dengan sosok yang ada di depannya. Begitupun dengan Spirit lain, yang juga merasa asing, dengan sosok baru tersebut. Sedangkan Rabarus, masih belum menyadari perubahan bentuknya yang baru.
"Hei nak, ini aku Rabarus Ayahmu..!" Ujarnya meyakinkan.
"Cih, apa kau sudah gila.. siapa kau? Beraninya mengaku-ngaku sebagai Ayahku. Aku tidak mengenalimu, menjauh dariku." Ujarnya tidak ramah.
merasa tidak senang, Tama, langsung bertanya kepada Kaisar Zando. Tentang sosok yang ada disebelahnya..!
"Maaf Kaisar.. Siapa dia sebenarnya? Beraninya dia mengaku sebagai Ayah saya, Apakah anda mengenalinya?"
Kaisar tidak menjawab, hanya diam mengabaikan pertanyaan Tama. kediaman Kaisar, membuat Spirit lain bingung, Dan saling menatap satu sama lain. Kaisar hanya duduk sambil bersedekap tangan, dan memperhatikan perdebatan keduanya.
"Kaisar..!! Memang siapa Naga Emas ini? dan, kenapa kalian begitu menghormatinya?? Tanya Rabarus kepada Spirit lainnya, karena ia masih belum mengerti dengan situasi tersebut.
"Beliau adalah seorang Kaisar, sang penguasa dari para Spirit, monster, dan ras hewan lainnya. apa kau bodoh? sampai tidak mengenali beliau sebagai Kaisar. Cih, untuk apa punya bentuk bagus, jika otakmu kosong." Ujar Tama Tajam.
"Plak.." Rabarus yang selalu sabar, akhirnya lepas kendali, ia memukul kepala Putranya, yang sudah bersikap tidak sopan dan berkata kasar kepadanya. "Dasar bocah nakal."
"Auuww.. Kau sepertinya mengajak berkelahi, ayo.. Akan aku ladeni kau." Tama, memegang kepalanya yang sakit, sambil menantang Rabarus, untuk berkelahi. sedangkan temannya yang lain, merasa heran dengan kelakuan rubah putih yang sok dekat.
'Siapa dia? Sangat tidak sopan, padahal tidak kenal. tapi, berani memukulnya begitu saja. Ehem.. Meskipun aku senang melihatnya. Hahaha..' Tanya Zaku kepada yang lainnya.. Namun, ia tampak senang melihat Tama dipukuli.
"Bocah sialan. Anak tidak berguna.. Anak durhaka, sampai tidak mengenali orang tuamu sendiri. Ternyata.. Bentukmu saja yang terlihat Pintar, tapi otakmu bodoh." Ujar Rabarus, yang sudah naik darah, melihat tingkah laku putranya sendiri.
"Apa.. Apa katamu!! Beraninya kau menyumpahiku a..." kata-katanya terhenti, mendengar tawa keras Sang Kaisar.
"Hahaha.. Hahaha.. Hahahaha.." Tawa kaisar bergema keras, tidak hanya membuat bingung, tapi juga membuat Para Spirit ketakutan. Karena mereka jarang mendengar Sang Kaisar, tertawa lepas seperti itu.
Kaisar yang sudah tidak bisa tahan lagi.. Akhirnya melepas tawanya. Ia benar-benar senang melihat pertengkaran kedua Ayah, dan Anak itu. Sungguh sangat menghiburnya. Sementara Para Spirit lain, dibuat bingung olehnya, begitu pun dengan Rabarus, dan Tama, yang ikut heran.
'Apa yang dia tertawakan?' Pikir Rabarus heran.
"Ma.. Maaf Kaisar, sebenarnya apa yang terlihat Lucu??" Tanya Saga, yang tampak takut.
"Haah.. Tidak hanya Rupa saja yang mirip. tapi, mulut kalian berdua juga sama-sama tajam."
__ADS_1
"A..apa maksud anda, Kaisar??" Tanya Tama, tak mengerti.
Setelah ia puas tertawa.. Kaisar Zando. kembali kemode serius.
"Dengar semuanya.." Kaisar menatap kearah semua Spirit, Lalu melihat kearah sosok Rabarus.. Lalu Ia berujar. "Dia memang benar Ayahmu.. Dan bemtuk ynag kalian lihat sekarang! Adalah bentuk sempurna dari sebelumnya."
"Apa!!!" Semua Spirit terkejut, dan saling melirik tak percaya.
"Apa kubilang.. Benarkan, kalau aku ini Ayahmu." 'bentuk baru..! Apa maksudnya?' Ujarnya mencerna kembali, ucapan Kaisar.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa..!" Tanya Tama, masih tak percaya.
Kaisar menceritakan semuanya kepada Para Spirit, wajah Tama berubah cerah. Mendengar apa yang di katakan Kaisar. Ia jadi merasa lega.. Dan Langsung melompat senang, menanduk sang Ayah.
"Hahahaha.. Jadi kau masih Hidup Pak Tua!! Kau benar-benar beruntung, Kau harus berterima Kasih kepada Kaisar. jika tidak ada beliau, Aku pasti sudah menyalahkan diriku sendiri sekarang. Terima kasih banyak Kaisar, karena sudah sudi menyelamatkan Ayahanda." Ujar Tama, melirik kearah Naga Emas.
Sementara itu.. Rabarus yang baru tahu kenyataannya, merasa menyesal, karena telah salah menduga terhadap Kaisar. Ia lalu menunduk hormat kepada Kaisar Zando.
"Terima kasih yang tak terhingga, karena telah sudi, menyelamatkan saya, dan membangkitkan saya kembali menjadi bentuk yang lebih baik dari sebelumnya. Sekali lagi, terima kasih banyak Kaisar. Tanpa bantuan anda.. Saya tidak akan ada disini, dan melihat Putra Saya. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa..! Tapi, jika anda mengizinkan, Izinkan saya bersumpah setia kepada anda."
Semua Spirit terkejut tak menyangka, dengan apa yang dikatakan Rabarus. Sedangkan Kaisar Zando, hanya berwajah datar, seolah tidak tertarik sama sekali dengan tawaran Rabarus. Bingung melihat ekspresi Sang Kaisar.. Semuanya terdiam membisu, menanti jawaban keluar dari mulut Kaisar.
tidak ada yang berani mengatakan apapun, begitupun dengan Rabarus. Setelah lama ia terdiam.. Akhirnya Sang Kaisar bersuara kembali.
"Kalian berlima, selain Jura, dan bocah ini. kembalilah kezona Mana, aku akan menemui kalian nanti."
"Baik Kaisar.. Kami mohon Undur Diri." Pamit kelimanya.. Yang di angguki oleh Sang Kaisar.
Saat Kaisar Zando merubah ukuran tubuhnya, Jura menunduk hormat kepada sosok yang sangat ia agungkan itu. sedangkan Rabarus.. Masih tidak beranjak dari tempatnya. Ia tetap bertahan, dengan posisi menundukkan kepala, dengan satu tangannya yang di lipat.
Setelah Kaisar menyusutkan tubuhnya seukuran Jura.. Ia berjalan mendekati sosok Rabarus. Lalu berujar.
"Kau tidak perlu bersumpah setia kepadaku.. Hanya karena ingin balas budi."
"Tidak Kaisar, Saya benar-benar tulus ingin.." belum selesai Rabarus bicara, perkataannya telah dipotong oleh Kaisar.
"Aku tidak tertarik." Ucapnya Tegas.
Mendengar perkataan Kaisar, hati Rabarus menjadi pilu.. karena merasa tidak di anggap sama sekali.
"K..kenapa? A..apakah Saya masih belum layak bagi anda!!" Ucapnya dengan rasa rendah diri, dan gugup.
Jura yang tidak sampai hati mendengar perkataan Rabarus, segera menundukkan pandangannya. Ia tidak ingin membuat Rabarus merasa malu, karena ada dirinya. Padahal dirinya sendiri, masih tidak sebanding jika dibandingkan Ayah temannya itu.
'Mengapa Paduka menolaknya.. Padahal, Levelnya jauh lebih tinggi dibandingkan diriku.'
...****************...
Keesokan harinya.. kegiatan di mansion berjalan seperti biasa. Para prajurit juga beraktifitas seperti tak terjadi apapun. Di meja makan.. Duke sedang menunggu Putri Ravella untuk sarapan.
"Tok.. Tok.. Tok.."
__ADS_1
"Masuk.."
"Ceklik, Yang Mulia Putri, Duke sudah menunggu dibawah. Anda diperintahkan untuk segera turun, sebelum makanan menjadi dingin." Ujar kepala pelayan tersebut.
"Oke.. Aku sudah siap. Ayo kita pergi.." Ucap Ravella senang. 'Kata Ayah.. Aku sudah tertidur cukup lama sekali. Dan hari ini.. Untuk pertama kalinya setelah aku bangun, aku benar-benar merasa senang.
Momen terakhir yang aku ingat sebelum tertidur panjang, setelah aku kembali dari tempat kakek Zando. Berbincang dengan Ayah, dan tak lama aku tertidur. setelahnya.. Aku tidak tahu apa yang terjadi.'
Ravella telah sampai di depan tangga, ia turun berlari kecil, menuruni tangga.
"Hati-hati Putriku, kau bisa terjatuh." Ujar Duke Khawatir.
"Tap.. Tap.. Tap.. Tap.. Selamat Pagi Ayaaah.." Ujarnya dengan ceria, sambil berlari kecil, memeluk dan mencium pipi Sang Ayah. lalu Ravella duduk di kursi samping Duke.
"Ayo Makan Putriku, kau sudah lama tidak makan enak.. Jadi Ayah telah menyuruh pelayan, menyiapkan hidangan terbaik khusus untukmu."
"Wuaah... kebetulan sekali Ayah. Ravel memang sangat lapar, gulp." Ujarnya sambil menelan ludah.
Melihat mata Sang Putri, yang berbinar menatap makanan. Duke tersenyum, apalagi mendengar ocehan manja putrinya, sudah lama ia tidak mendengarnya.. dan merasa sebahagia hari ini.
"Ayah.. Setelah selesai makan, Ravel ingin jalan-jalan mengelilingi Mansion, bolehkan!!"
"Tentu saja Putriku, Ayah akan mengizinkanmu, tapi dengan syarat.. Kau harus dikawal dengan prajurit pilihan Ayah."
'Haah.. Mulai lagi, ah biarlah.. Yang penting aku bisa jalan-jalan, sambil melatih kakiku yang sudah lama kaku ini.' keluhnya dalam hati. "Baiklah.. Terserah Ayah saja." Ujarnya Patuh.
***
Setelah makan, Ravella di ajak langsung oleh Duke, ketempat latihan para prajurit. Melihat kedatangan Duke, semua kesatria berhenti berlatih. Dan,
beramai-ramai mengatur barisan.
Melihat para prajurit berlari.. Mengatur barisan. Robi, dan Dean.. Yang sedang berlatih pun berhenti, dan ikut bergabung dalam barisan tersebut.
"Semuanya.. Hari ini aku datang untuk memilih sepuluh orang, di antara kalian."
"Haa.. Apa maksudnya?" suasana di tempat latihan menjadi riuh.
"Nama yang di sebutkan, segera maju kedepan."
'Haah.. Padahal cuma ingin jalan-jalan keliling mansion, tapi sampai harus mengumpulkan prajurit sebanyak ini.. Pak Tua ini benar-benar dah.'
"Roland, Jay, Eric, Olav, Mark, Omil, John, Eddie, Robi, Dean. Selain nama yang disebutkan, kalian lanjutkan kembali latihan."
Sepuluh kesatria pilihan, berbaris sambil melipat tangan kebelakang. Sementara Robi dan Dean, agak terpana melihat sosok cantik imut, berambut perak panjang, berada dalam gendongan Duke.
'Mungkinkah, Dia adalah Putri, yang dirumorkan..!! Baru kali ini, beliau membawanya.' Pikir Robi menerka.
'Siapa Anak Cantik lucu itu?? Mungkinkah, Dia Putri yang diceritakan para prajurit, si Kesayangan Yang Mulia!!' Dean, memperhatikan gadis kecil, yang ada dalam pelukan Duke.
"Apa Kalian Tahu, kenapa aku memilih kalian?"
__ADS_1
"Tidak Yang Mulia.." Ujar kesepuluh Kesatria, bersamaan.