AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
AKU TAKUT KAU AKAN KECEWA


__ADS_3

"Hem.. Aku mengerti kebingungan kalian, jika berada di posisi kalian.. aku pun akan bereaksi sama seperti kalian berdua! Anak-anak.. Kemarilah." panggil Ravella pada keduanya, seolah mereka benar-benar anaknya.


Rog, dan Ron berjalan cepat menghampiri Ravella, lalu berdiri di kedua sisi Ravella.


"Perkenalkan, mereka berdua adalah Putraku.. Yang paling besar Rog, dan yang paling kecil Ron."


"Halo.. Apa kabar Yang Mulia Argus.. Senang berkenalan dengan anda. Mohon bimbingannya!" ujar keduanya menunduk hormat dengan sopan.


"Aku telah mengadopsi keduanya.. Jadi sekarang aku menjadi orang tua sah mereka." ujar Ravella menggemaskan. 'Yah! silahkan saja mereka berpikiran yang aneh-aneh tentangku,


tapi merekakan tidak tahu yang sebenarnya! Jika usiaku di kehidupan lalu di gabung dengan sekarang, aku jauh lebih tua daripada kalian tahu!' gumamnya dalam hati dengan bangganya.


Namun.. ia tidak tahu jika umur Argus yang sebenarnya jauh lebih tua darinya! meskipun usia masa lalunya di gabung dengan sekarang, Bahkan tidak bisa menandingi usia Argus yang sebenarnya.


Argus dan Roland menahan tawa, melihat si Putri kecil dengan percaya dirinya, menyebut kedua Pria yang lebih besar darinya itu.. dengan sebutan Putra tanpa beban sama sekali.


Argus dan Roland kemudian meminta maaf, dan memunggungi Ravella dan kedua pria muda, yang ada dikedua sisinya itu.


"Maaf, beri kami waktu sebentar Putri.." ujar Roland berbalik, dan meminta waktu jeda. Begitupun dengan Argus.


Rog, dan Ron saling menoleh, mereka juga sebenarnya sangat malu karena di anggap anak-anak oleh seorang anak, yang jauh lebih kecil usianya daripada mereka.


Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa bersikap tenang. berbeda dengan Ravella yang masih polos, ia justru tampak bingung dengan sikap keduanya.


"Puffftt hahahaha... Hahaha..." tawa Roland, dan Argus pecah, sampai mengeluarkan air mata.


Setelah keduanya puas tertawa.. Merekapun mengatur kembali ekspresi wajah mereka, dan menghapus air mata karena merasa lucu.


"Maaf Yang Mulia Kecil, jadi mereka berdua benar-benar Anak Angkat yang dirumorkan itu?" ujar Roland, bertanya mewakili Argus.


"Hem.. benar sekali, jadi mulai sekarang perlakukan mereka berdua dengan baik! Karena mereka berdua telah menjadi bagian dari keluargaku." ujar Ravella memberi peringatan pada keduanya.


"Kalau begitu, saya meminta maaf kepada anda berdua tuan muda.. Atas ketidak tahuan saya, Karena telah bersikap lancang. Saya kira anda berdua hanyalah Tamu Yang Mulia! Tapi ternyata anda berdua adalah Putra Yang Mulia Kecil." ujar Roland dengan sopan.

__ADS_1


Rog dan Ron merasa tidak enak hati, dengan penghormatan yang diberikan Roland. Keduanya merasa tidak terbiasa diperlakukan seperti itu, dengan perubahan sikap Sang Komandan yang tiba-tiba! Kedua kakak adik itu pun berujar.


"Anda tidak perlu bersikap Formal, Sir Roland. Saya lebih suka anda bersikap seperti tadi.." ujar Rog sambil mengusap kepalanya, karena merasa tidak enak hati.


Setelah menyelesaikan salah faham tersebut, mereka pun melanjutkan kembali langkah mereka memasuki kediaman Mansion.


Sesampainya di dalam kediaman, Ravella berujar pada Argus, dan Roland, sambil melihat keluar jendela.


"Sepertinya hari sudah sore ya.. Rog, Ron, kalian kembalilah untuk istirahat. Dan jika kalian membutuhkan sesuatu.. Jangan sungkan untuk memintanya kepada pelayan." ujar Ravella.


"Baik Yang Mulia Putri... Sekali lagi terima kasih banyak, kalau begitu kami izin undur diri dulu, untuk kembali kekamar." ujar keduanya menunduk sopan.. Lalu beranjak menaiki tangga lebih dulu meninggalkan Ravella, Argus dan Roland.


Setelah melihat punggung keduanya menjauh dari tangga.. Ravella melihat kearah kedua Pria yang masih setia menunggunya, dan ia kembali berujar pada Kedua Pria di depannya itu.


"Sir Roland, Argus, mohon bantuan kalian berdua. untuk menjaga anak-anak itu! Karena mereka berdua telah banyak mengalami penderitaan dan penyiksaan di luar sana.


Jadi karena itu, aku ingin menghibur keduanya, dan berharap mereka segera melupakan masa lalu yang kelam. Dan aku juga ingin mengembalikan rasa kepercayaan mereka yang telah hilang direnggut, karena perbuatan Para Bangsawan.


Mereka anak yang baik dan sangat penurut. jadi, bimbingan kalian berdua sangat diperlukan saat aku tidak ada di sisi mereka. Apalagi Rog..


"Anda Sangat bijasana dan begitu baik Putri.. Pantas saja anda sangat perhatian pada kedua anak itu!" ujar Roland terharu.


"Benar Yang Mulia.. Padahal anda masih sangat kecil, akan tetapi anda sudah memikirkan semuanya dengan seditail itu.. yang bahkan orang dewasa saja tidak pernah memperhatikan hal sesepele itu! Saya sangat beruntung bisa mengenal anda Putri.." ujar Argus tersenyum lembut, menatap hangat pada Ravella.


Namun, jauh di kedalaman hati Argus, ada kekecewaan yang muncul di raut wajah tampannya.


'Aku tidak menyangka! Di tubuhnya yang masih kecil, bahkan ia bisa mempunyai pikiran sedewasa ini. Benarkah ini adalah sosok Putri kecil yang pernah ditelantarkan oleh Yang Mulia dulu..!


Andai saja dulu aku lebih memperhatikannya..! Kami pasti sudah bisa menjalin hubungan yang jauh lebih dekat sekarang.


Bisa jadi ia akan bersandar dan hanya bergantung padaku, sayang sekali kita bertemu terlambat Putri..!


Jika saja kita bertemu lebih cepat, kau pasti lebih mengakuiku, daripada si kucing pemarah itu.' keluhnya dalam hati, tampak ada rasa penyesalan singgah di relung hatinya yang terdalam.

__ADS_1


Ravella memperhatikan ekspresi yang di pantulkan keduanya.. Yang satu merasa bangga, sedangkan yang satunya lagi, menunjukkan kesedihan yang tidak di mengerti oleh Ravella.


'Kenapa ia membuat ekspresi seperti itu?' pikirnya dalam hati. "Kalian berdua terlalu berlebihan. Hem.. Aku masih punya sedikit waktu sebelum kembali, Ayo kita tea time dulu hihi.." ujar Ravella tersenyum riang pada keduanya.


"Baik Putri, dengan senang Hati.." ujar keduanya serentak.


Argus, Dan Roland mengikuti Ravella pergi ketaman. Untuk menikmati suasana mansion di sore hari.. Ia menyempatkan waktu berbincang untuk lebih mengenal dekat sosok Argus, Spirit Ayahnya itu.


Argus tampak sangat senang.. Begitu banyak hari yang ia lalui.. Ia tidak pernah sebahagia hari ini..! Ia tampak begitu menikmati momen tea time tersebut, bersama sang Pujaannya, ia juga sangat suka mendengarkan, saat si Putri kecil berceloteh riang pada mereka berdua.


Namun tanpa mereka sadari.. Ada sosok yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia tersenyum lembut, melihat senyuman tulus Argus.


'Hem.. Hem.. Jadi Putri kecil itu, adalah sosok yang telah membuat hati Putraku bersemi..!' gumamnya.. Namun entah kenapa? Tiba-tiba ekspresi wajah Sang Ibunda, berubah menjadi sendu.


'Melihatnya saja.. aku langsung tahu, jika anak cantik itu.. adalah seorang Dewi yang sangat istimewa. Aku tidak yakin apa Putraku bisa memilikinya..!! Aku takut kau akan kecewa Putraku.' gumamnya dalam hati.


...****************...


Setelah Dewa Zando mengabaikan apa yang telah dilakukan Damu.. Ia masih terdiam di singgasana miliknya, dan hanya duduk diam mengamati semuanya dari kejauhan.


Sedangkan Damu, yang tidak berbicara lagi setelah mendapatkan teguran. Ia merasa beruntung, karena Sang Paduka mengabaikan begitu saja kesalahannya.


Walaupun sebenarnya sang Paduka tidak Marah pada sikap Damu.. Ia hanya menegurnya, agar tidak bersikap manja, Hanya karena dia merasa lebih senior di banding yang lain.


'Aku beruntung Paduka memaafkanku! Jika beliau benar-benar marah.. itu bisa berdampak buruk untukku.


Selain levelku di turunkan menjadi yang terendah! beliau juga akan mengambil kembali kekuatan yang sudah susah payah aku dapatkan dengan kerja kerasku.


Tapi sejujurnya.. aku merasa iri dengan yang lainnya! Mereka bisa bergerak bebas, sementara aku, seperti burung di dalam sangkar. Haah.. Aku sangat bosan sekali, Andai saja Paduka memberiku misi...!' keluhnya dalam hati.


Dewa Zando yang mendengarkan semuanya.. Hanya menyeringai dalam diam. Setelah lama bungkam dalam kediammannya, Sang Paduka akhirnya mengeluarkan suara.


"Damu..."

__ADS_1


Mendengar panggilan Sang Dewa, Damu yang tengah galau dengan pikirannya sendiri.. Langsung tersadar dari lamunannya, dan segera menyahut.


"Hamba Paduka!"


__ADS_2