AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
LAUTAN BERMUDA


__ADS_3

Di Zona Mana, Para Spirit yang sedang terdiam memikirkan masalah kehilangan Putri Ravella.. Kini masih berdiam diri di dalam Markas.


Namun kini.. seolah sedang tersadar dari kebungkaman mereka.. Keenam Pria tampan tersebut saling melirik satu sama lain. Dan salah satu dari mereka bergumam pada yang lainnya!


"I-ini.. Apakah kalian merasakannya juga?" tanya Roya yang tampak semangat, dan untuk memastikan keraguannya tersebut.. Ia mencoba bertanya pada yang lain.


Apakah mereka juga merasakan seperti yang dia rasakan, atau hanya ia sendiri yang merasakan kehadiran Ravella! Dan pada akhirnya, keraguannya terjawab sudah. karena Spirit lain juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.


"Ya, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu." ujar Zaku.


"Aku juga.." sambung Saga.


"Kalau begitu, ayo kita temui Dewi.." ujar Tama, yang segera beranjak dari kursinya.


"Tunggu dulu...," ucap Jura.


Tama yang baru saja mendapatkan semangatnya, di hentikan oleh Jura. Mendengar instruksi dari Jura, Ia langsung membalikkan tubuhnya menghadap kearah Jura.


"Apa lagi yang harus kita tunggu?" ujar Tama tidak sabaran.


Jura yang sejak tadi diam dan hanya duduk bersandar di bibir jendela, segera bangkit dan menghampiri teman-temannya lalu bergumam pada mereka.


"Sebelum itu, ingat akan satu hal!" Jura berhenti sejenak sambil melihat kearah semua Spirit yang sedang menunggu jawabannya. "Jangan pernah lupakan pesan Baginda Kaisar, saat kita sedang berada di sisi Dewi.


Dan jangan pernah membahas tentang Dewa, atau penculikan tentang beliau. Karena sesungguhnya, beliau masih belum tahu apapun tentang masalah tersebut.


Bahwa, jika beliau sebenaranya adalah anak dalam Ramalan! Kita juga harus berhati-hati saat berbicara di depan Dewi. Kalian tahu sendiri.. Meski ia masih kecil! Tapi ia juga sangat pintar dan teliti.


Jika memang kalian tidak ingin masalah seperti ini terjadi lagi kedepannya.. Berhati-hatilah. Karena beliau juga sangat peka menangkap ekspresi kita, saat sedang berbohong." ujar Gira memperingatkan temannya itu.


Kelima Spirit mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Jura, dan setelah itu.. Keenam Pria tersebut pun langsung kembali ke Kastil, untuk menemui Sang Master.


***


Sementara itu di Alam Langit, sekembalinya Damu dari melaksanakan perintah Sang Dewa.. Ia langsung berlutut di hadapan Dewa Zando, Melaporkan apa yang telah ia lakukan.


"Lapor Paduka, Hamba telah melakukan sesuai perintah Paduka. Dan mereka sedang dalam perjalanan kemari Paduka." ujarnya sambil berlutut dengan satu kaki.

__ADS_1


Dewa Zando yang masih bungkam, dan membelakangi Damu, ia yang masih terdiam dalam keheningan. Dan setelah beberapa saat kemudian.. Ia kembali mengeluarkan suaranya.


"Kerja bagus, serahkan sisanya padaku." ujarnya singkat.


Damu pun tersenyum mendengar pujian dari Dewa Zando. Dan beberapa menit kemudian, di puncak gunung Alam Langit, yang di kelilingi dengan seribu kehadiran Pria Bersayap.


Berpakaian serba putih yang di lapisi dengan jubah emas. Mereka semua berlutut memberi hormat kepada Dewa Zando.


Dan salah satu pemimpin dari pasukan Langit, maju kedepan menghampiri Dewa Zando. Lalu ia berujar kepada Sang Dewa.


"Kami datang menghadap kepada Paduka Agung, kami sangat senang setelah sekian lama, akhirnya Paduka sudi memanggil kami kembali. Jika boleh hamba tahu.. Perintah apakah yang harus kami lakukan Wahai Paduka?" ujarnya menyapa Dewa Zando, dengan sangat sopan.


Dewa Zando menyambut dengan seringai tipis, lalu.. Ia melihat ketua pemimpin dari pasukan Langit, Dan Dewa Zando pun bergumam memberikan perintahnya.


"Seratus orang dari pasukanmu, ikutlah bersama Damu. dan sisanya, pergilah Ke Istana." ujarnya kepada si pemimpin pasukan.


"Titahmu adalah perintah bagi kami Paduka." ujarnya menunduk hormat.


Dan ia pun berbalik menghadap kepada Para Pasukan miliknya.. Lalu, sang ketua memberi perintah kepada pasukannya.


"Dengar semuanya.. Paduka membutuhkan seratus orang dari kalian. Berbanggalah dan Majulah, lalu patuhi Tuan Damu dengan patuh. Perintah Beliau adalah perintah Paduka."


Setelah melihat keseratus orang tersebut berada di sisi Damu, Dewa Zando pun langsung berujar pada Damu.


"Bawalah mereka untuk berjaga-jaga di langit Kastil, tempat PERMAISURIKU berada. Karena Para Spirit yang sekarang tidak akan sanggup."


Damu yang kebingungan, lalu mengutarakan pikirannya kepada Sang Paduka..!


"Memangnya apa yang sedang terjadi Paduka? Siapa yang akan kami hadapi? Apakah mungkin kita akan berperang!!" tanya Damu penasaran.


"Hem.. Kau akan segera tahu nanti setelah tiba di sana. Karena Spirit PERMAISURIKU yang sekarang, masih belum bisa menghadapi mereka!" ujar Dewa Zando datar.


'Sebenarnya apa yang telah terjadi? Sampai-sampai Paduka memerintahkan Pasukan ke sepuluh untuk turun. Dan apa maksud dari perkataan Paduka barusan?! Memangnya apa yang telah terjadi pada Dewi Permaisuri??' pikirannya di penuhi dengan banyak pertanyaan yang tidak terjawabkan.


Di satu sisi.. Damu sangat senang, akhirnya ia bisa mendapatkan misi penting setelah sekian lama ia berdiam diri hanya di sisi Sang Paduka.


Apa lagi misi kali ini sangat istimewa, karena ia di tugaskan melindungi Sang Permaisuri kesayangan Paduka. Di mana.. Kehadirannya juga sangat di tunggu-tunggu oleh Damu, dan yang lainnya.

__ADS_1


Dewa Zando yang bisa mendengar isi pikiran Damu, pun berujar dengan seringai di wajahnya.


"Kau tidak perlu memikirkan apapun, cukup lakukan apa yang aku perintahkan."


"Baik, di mengerti Paduka. Kalau begitu hamba akan menyelesaikan perintah Paduka secepat mungkin."


"Hem.. Pergilah."


"Baik." tegas Damu, lalu menghilang bersama seratus pasukan yang mengikutinya.


Setelah melihat kepergian Damu, Dewa Zando kembali melirik kearah Sembilan ratus pasukan yang tersisa, mereka sedang menunggu perintahnya dengan sabar.


"Bawalah Pasukanmu kembali keIstana lebih dulu, aku akan segera menyusul."


"Baik Paduka." ujarnya lalu menghilang bersama pasukannya.


Sedangkan Dewa Zando sendiri.. Ia langsung muncul di hadapan Garda. Tampak Garda sedang berlutut gemetaran, menantikan humuman dari Paduka.


"Apa kau sudah merenungkan kesalahanmu?" ujar Dewa Zando, mendekati sosok Garda yang kini tengah ketakutan.


Ketika Garda mendengarkan suara Sang Paduka, keringat terus mengucur dari kepalanya.. Ia sangat takut saat kemunculan Dewa Zando. Segala macam hukuman pun terbayang di benaknya.


"H-hormat H-hamba pada Paduka Agung. H-hamba mengaku salah Paduka.. Karena telah melupakan peraturan Alam Langit." ujar Garda gugup.


"Untuk sekarang, melihat apa yang telah kau lakukan pada PERMAISURIKU!! Aku akan memberikanmu keringanan. Karena kau telah membantu menghiburnya, namun di sisi lain, kau juga hampir mencelakainya.


Untuk itu.. Aku akan memberikamu hukuman ringan. Pergilah kedasar lautan bermuda. Renungi kesalahanmu sambil melafalkan doa, Dan jangan keluar sebelum aku memangilmu. Pergilah.."


"T-terima kasih Paduka Agung, belas kasihmu sungguh tidak terhingga. Kalau begitu.. hamba izin pamit dulu." ujarnya sambil bersujud di hadapan Dewa Zando.


Dan setelah kepergian Garda, Dewa Zando pun tersenyum penuh arti.


"Hem.." dan ia pun menghilang.


Sesudah Dewa Zando meninggalkan kota RUGA.. kota itupun kembali seperti semula. Menjadi tenang dan damai.


Di tempat lain, Garda pun tiba di Lautan bermuda... Namun, sesampainya ia di sana! perjalanannya tidak berjalan semulus yang ia pikirkan.

__ADS_1


Apa sebenarnya yang di rencanakan Dewa Zando untuk Garda?! Dan siapakah musuh yang akan dihadapi Damu???


__ADS_2