
"Apa..!!! Memangnya, untuk apa ia mengincar Bunga tersebut Paduka? sampai harus membahayakan dirinya sendiri." tanya Damu.
Dewa diam sejenak, dan setelah beberapa menit ia bungkam.. Ia pun bergumam kembali, menjawab rasa penasaran Damu.
"Bunga kelopak sembilan warna, adalah bunga keabadian, yang hanya ada di dunia Roh. Dan hanya akan tumbuh selama seratus tahun sekali."
"Jika begitu.. pantas saja ia sampai mengincar Bunga tersebut. Jadi, itu motif dia yang sebenarnya. adalah mengincar keabadian..!!" Ujar Damu.
"Hem.. Tentu saja. Itu karena dia sudah tidak bisa bereinkarnasi lagi, sebab itu dia mengambil kesempatan ini, untuk mendapatkan keabadian." ujar Dewa dengan santainya.
"Lantas, apa yang harus hamba lakukan pada jiwa pria ini Paduka?"
"Hem.. Tuk.. Tuk.. Tuk..!!" Dewa hanya mengetuk lengan kursi, mengisi keheningan dengan suara ketukan jarinya. tanpa memberi jawaban apapun pada Damu.
'Kenapa Paduka Dewa, tampak tidak tertarik sedikitpun dengan jiwa Pria ini? Beliau juga kelihatannya sedang bosan! Ada apa dengan Paduka??'
Apa yang ada di hati atau pikiran Damu, bisa di dengar semuanya dengan Dewa Zando. Dan Ia masih tetap bungkam sambil memperhatikan jiwa Pria itu, dengan malas.
'Sebenarnya apa yang sedang Paduka pikirkan sekarang?!'
Tiba-tiba Cahaya bewarna hijau bulat kecil, keluar dari Raga Pria tersebut. Cahaya dari Energi jiwa tadi berubah menjadi permata hijau, permata Energi Jiwa keluar melayang menuju kearah Dewa Zando.
Dewa Zando merentangkan telapak tangannya, dan Cahaya Energi jiwa langsung mendarat di telapak tangannya.
Cahaya tersebut hilang dalam genggaman tangannya. Lalu, tak lama baru Terdengar suara Sang Dewa bergumam pada Damu.
"Setelah bola Energi jiwa kembali, aku akan melakukan pembersihan sekarang. Tidak ada ampun bagi jiwa yang telah melanggar peraturan." ujarnya tegas. "Tik." dan dalam petikan jarinya.. Tubuh jiwa pria itu berakhir menjadi serpihan debu dan menghilang.
"Gulp." Damu menelan ludah melihat, Akhir dari jiwa Pria tersebut.
Melihat reaksi Damu, Dewa pun bergumam. Membuat Damu tersentak kaget dari lamunannya sesaat.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" ujar Dewa datar.
"Pa-Paduka..! Jika jiwanya, harus berakhir hanya dalam sekejap. lantas, untuk apa Paduka memerintahkan hamba untuk menyelamatkan Jiwanya..??" ujar.. Damu gemetar, dengan ekspresi takutnya.
"Heum.. Aku sudah sering memberinya kesempatan. bahkan sampai tiga kali. Akan tetapi.. Ia sering mengingkari janjinya. Dan kali ini, sudah yang ketiga kalinya ia mengingkari janjinya padaku, Untuk itu aku akan mengahirinya dengan hukuman yang pantas ia terima.
Dan, soal aku menyuruhmu untuk menyelamatkannya..! Itu hanya alasan agar kau tidak bosan karena selalu berada di sisiku. Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau kau sedang bosan, dan menginginkan misi?
Apakah itu masih belum cukup untukmu Damu???" tanya Dewa datar, yang membuat Damu bergidik ngeri.
'Ja-jadi.. Paduka memberiku misi.. karena beliau tahu, jika waktu itu aku sedang mengeluh karena bosan!!! Oh tidak, ternyata beliau mendengar isi pikiranku selama ini.
Kebaikan beliau I-Ini benar-benar sangat berlebihan buatku. Hampir saja aku mengeluh! Jika tidak, nasibku pasti akan sama seperti Pria tadi.'
A-ampuni Hamba yang tidak tahu diri dan tidak faham ini, Paduka..!! " ujarnya berlutut dengan takut.
__ADS_1
"Haah.. Berdirilah Damu! Jangan membuatku, mengulangi ucapanku dua kali." ujarnya lembut, namun penuh tekanan.
"Ba-baik Paduka!" jawab Damu, langsung bangkit berdiri.
"Sekarang, aku ingin kau pergi katakan pada Garma. ia tidak perlu lagi mencari keberadaan jiwa tersebut." perintahnya.
"Akan hamba laksanakan Paduka." Damu pun memberi hormat, dan setelah itu ia pergi meninggalkan Istana.
Setelah kepergian Damu, Dewa bergumam pada seseorang yang sejak tadi ada di situ.
"Keluarlah.." perintahnya dingin.
"Hamba Paduka." jawabnya sopan.
Setelah di panggil oleh Sang Paduka, sosok yang sejak tadi hanya bersembunyi, kini muncul menunjukkkan wujudnya di hadapan Sang Paduka.
"Ada yang harus kau lakukan."
"Apa itu Paduka!"
...****************...
Keesokan harinya di Kastil.. Seperti biasa. Ravella dan para Spirit duduk berkumpul di taman, namun kali ini mereka berada agak jauh dari keberadaan Kastil.
Kelima Spirit dan Garda, duduk melingkar. Ravella yang berada di tengah, lantas bergumam pada keenam Pria tersebut.
"Kek.. Apa Kakek Tama masih belum kembali?" tanya Ravella dengan wajah polosnya, karena ia masih belum melihat sosok Tama, sejak ia kembali dari Mansion.
"Kakek.. Kau sudah kembali..! Darimana saja Kakek beberapa hari ini? Kakek pergi tanpa memberitahu apapun padaku?" ujarnya cemberut.
"khi...khi... Maaf soal itu Nak, aku juga tidak bermaksud tidak memberitahumu! Semuanya terjadi serba kebetulan." ujarnya sambil nyengir.
Ravella melihat sekilas kearah Rubah Api putih, yang berada di samping Tama. Sedangkan Rabarus, ia melihat sangat fokus. sosok kecil yang sedang berbicara pada Putranya itu.
Ia merasa takjub dengan sosoknya.. Dan baru saja Tama ingin memperkenalkan Ayahnya, pada Sang Master!
tiba-tiba saja Rabarus sudah maju lebih dulu, padahal ia masih belum di panggil dengan Putranya. Rabarus mendekati sosok kecil yang sekarang, sedang menatap lekat kepadanya.
"Sruuk.. Sruuk.. Sruuk.. Sruuk.." Rabarus berjalan memijak rumput, dan berhenti tepat di hadapan Ravella.
"Pak Tua, apa yang sedang kau lakukan??" Ujar Tama, terkejut melihat tingkah Ayahnya yang sangat berani, karena bersikap tidak sopan. Rabarus maju lebih dulu, padahal is belum di perkenalkan dengan Putranya.
Sedangkan Keenam pria lain yang tidak merasakan Aura jahat dari Rabarus, mereka membiarkan Rabarus mendekati Dewi mereka.. Sambil mengamati dalam diam, apa yang akan terjadi.
"Kau pastilah Sang Master yang sangat di banggakan Tama." ia bicara, namun tidak munggunakan kata Putraku.
Jadi, Ravella masih belum tahu siapa sosok sebenarnya yang sekarang ada di hadapannya.
__ADS_1
'Siapa Rubah ini..? Ia tampak sangat berbeda dengan sosok Kakek Tama!!' ujarnya bertanya-tanya.
Melihat rubah tersebut, tanpa banyak bicara Ravella bangkit berdiri.. Dan mendekat kearah sosok Rubah Api Putih yang memiliki dua tanduk Api merah di kepalanya.
Melihat reaksi berani si Putri Kecil itu.. Rabarus yang takut ia terluka karena terkena panas dari Apinya, Segera mundur beberapa langkah kebelakang.
'Kenapa ia mundur? Ah.. Apa mungkin, ia takut aku akan terluka terkena Apinya!! Hem.. Hem..'
Ravella tersenyum membuat pupil mata Rabarus yang tadinya tampak tenang.. Kini berubah takjub. tampak pupil matanya sedikit membesar, karena terkejut melihat reaksi berani Putri kecil yang ada di hadapannya itu.
"Kakek Tama.. Kemarilah." perintahnya.
Mengerti akan apa yang di maksud Sang Master, Tama si Rubah Api Merah langsung maju dengan patuh mendekat kearah sosok Sang Master.
Ravella melayang mendekati kepala Tama, karena bentuk Tama yang sekarang Adalah Rubah Api yang seukuran seekor Kuda.
Ia mengecilkan tubuhnya agar tidak mencolok, karena jika ia menggunakan sosok yang sebenarnya.. Ia bisa seratus kali lipat lebih besar dari sosoknya yang sekarang.
Tama menundukkan kepalanya.. Pada sosok kecil, yang sangat ia hormati dan ia sayangi.
Ravella membelai kepala Tama, tanpa terluka sedikitpun meskipun tangannya terkena kobaran dari tubuh Apinya.
"Ba-bagaimana bisa???" ujar Rabarus sontak tak percaya.
Ravella melayang turun, dan.. berjalan mendekati sosok Rabarus, sambil tersenyum hangat. Lalu ia melayang lagi agar bisa sejajar dengan tinggi Rabarus, karena ia ingin menyentuh Kepala Rabarus.
Ravella mendekatkan tanganya ke kening Rabarus sebelum ia menyentuhnya, awalnya Rabarus sempat ragu mendekatkan kepalanya pada tangan mungil Ravella.
Tapi Ia melihat wajah cantik menggemaskan si Putri, tampak biasa saja seolah ia tidak takut dengan sosok Rabarus.
Rabarus pun memejamkan matanya, dan menyodorkan kepalanya pada tangan Ravella. Ravella tersenyum hangat melihatnya yang tampak ragu-ragu dan masih malu-malu.
Ravella pun langsung membelai kepala Rabarus dengan lembut, Rabarus berubah seratus delapan puluh derajat saat di sentuh tangan Ravella.
Dari Rubah tua bijak yang sangat dewasa, kini tiba-tiba berubah menjadi Rubah Tua yang sangat manja saat di belai dengan Putri kecil itu.
Keenam Pria yang menyaksikan perubahan sikapnya dalam diam, kini sontak langsung tertawa. sosok Rabarus tampak sangat lucu. Mereka yang tadinya hanya memperhatikan saja, kini ikut tertawa lepas, karena merasa lucu dengan perubahan sikapnya yang manja saat di sentuh oleh Master mereka.
Bahkan Tama yang melihat sifat Ayahnya yang seperti itu merasa malu, dan mendecah kesal pada Sang Ayah.
"Cih, kemana perginya sosok Pria Tua yang suka membanggakan dirinya??" Ujarnya tajam.
'Si-sial.. Ini sangat nyaman. Ba-bagaimana bisa aku berubah jadi seperti ini? hanya karena di belai oleh anak Kecil sepertinya.' gumamnya dalam hati, karena sejujurnya ia juga merasa malu dengan perubahan sikapnya sekarang.
Rabarus sampai berguling-guling seperti anjing, yang sedang bermanja pada majikannya. Sampai tanpa sadar, ia menyusut menjadi sekecil Gapi. dengan Ekor Apinya yang sangat mengembang demi membuat Ravella lebih menyukainya.
Ia bahkan tampak sangat lucu dan menggemaskan, Tama makin tidak suka melihat perubahan sikap Ayahnya yang tampak sangat kekanak-kanakan baginya.
__ADS_1
Karena Rabarus telah mengalihkan perhatian Ravella dari Tama sepenuhnya, hanya untuk Rabarus sendiri,
"Cih, kau jadi menjijikan Pak Tua.. Tidak perlu sampai berbuat seperti itu!" ujar Tama tiba-tiba kesal.