AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
JANGAN BILANG, DIA SENGAJA MENGERJAIKU LAGI..!


__ADS_3

Dimansion, jura yang sedang duduk dikursi didekat ranjang ravella. Ia bersandar sambil memandang keluar jendela, pria berpakaian serba hitam, merenung jauh entah kemana.. hingga saga datang menepuk bahunya.. Membuat jura tersadar dari lamunannya.


"apa yang mengganggu pikiranmu, saudaraku!"


"haah.. tama, hingga saat ini, anak itu masih belum juga.. memberi kabar apapun! aku menjadi khawatir, takut dia kenapa-napa."


Saga yang sedang bersandar didinding samping jendela, sambil menatap kearah jura, ia melipat tangannya dan memperhatikan sikap temannya itu!


"kau sudah seperti orang tua jura.. yang selalu mengkhawatirkan kepergian anak-anaknya..! Tenanglah, aku yakin anak itu, baik-baik saja. Dia sudah besar, dia bisa menjaga dirinya sendiri."


"haah.. bukan begitu saga, jujur saja.. firasatku tidak enak akan sesuatu, namun aku tidak tau apa itu..! yang jelas, perasaan itu selalu mengganggu pikiranku sekarang. dan yang ada dalam pikiranku saat ini, adalah tama. Karena dia yang paling jauh keberadaannya, diantara kita."


"hmm.. entah kenapa..! semakin dekat hari yang dikatakan oleh kaisar, semakin banyak yang terjadi."


Jura menoleh kearah saga, yang memunggunginya sambil melihat keluar. pria yang mengenakan kemeja hijau dengan rapi, dan dipadukan celana hitam, ia tampak segar mengenakannya. dari sorot matanya, ia merasa ada kejanggalan.


"apa menurutmu itu tidak aneh jura, seolah kita dipaksa berpisah dari saudara kita yang lainnya."


Jura menurunkan pandangannya, kelantai. Ia mencerna apa yang dikatakan saga kepadanya..!


"hem.. entahlah, kita seakan terdesak dengan waktu. Aku juga tidak tau apa yang telah terjadi, bahkan garda juga menghilang begitu saja.. tanpa berita."


"hmm.. Kau benar, berbicara tentangnya, aku memang belum pernah melihatnya akhir-akhir ini. hmm.. coba saja kau tanyakan kepada zion! bukankah anak itu, cukup dekat dengannya?"


"kau benar, bicara tentang zion, sepertinya akan terjadi sesuatu."


"terjadi sesuatu.. apa maksudmu?"


"aku merasa, kekhawatiran gapi akan menjadi kenyataan."


"jika begitu, mengapa kau mengirim mereka berdua kesana..! bukankah sama saja mengantarkan mereka pada masalah baru."


"cih, kau tenang saja, biarpun begitu, bocah itu sangat bisa diandalkan. entahlah, aku hanya merasa sesuatu yang menarik akan segera terjadi."


Jura diam berpikir sejenak, saga menoleh memperhatikan temannya itu. dengan pandangan menelaah penuh tanya, namun jura tidak menyadari.. tatapan dari temannya, seolah ia sedang sibuk tenggelam dengan pikirannya sendiri.


'apa yang sedang ia pikirkan? akhir-akhir ini.. jura terlalu sulit untuk dipahami, aku terus memikirkan apa yang dia lakukan, tanpa sepengetahuan dari kami. meskipun ini hanyalah tentang kecurigaan, tapi perubahan sikapnya, mebuatku terkejut, dan itu meninggalkan banyak tanda tanya, dipikiranku.'


Saga menatap curiga kepada temannya, tampak kedua alisnya mengerut bingung. namun ia tidak ingin menegurnya, hanya memperhatikan secara diam-diam.


'kau tidak perlu memikirkan anak itu, jura..'


'ini.. bukankah, ini.. suara paduka!'


'ya.. Ini aku.'


Jura terdiam sejenak, lalu ia memejamkan kedua matanya, pandangan saga, sejak tadi hanya fokus tertuju kepada jura.


'apa yang sedang ia lakukan? gerak geriknya terlihat aneh, terkadang ia tampak seperti sedang berdialog dengan seseorang! mungkinkah itu kaisar? haah.. Jika itu kaisar, aku tidak heran, lagian.. jura tidak mungkin berkhianat. sialan apa yang aku pikirkan sekarang..! aku tidak boleh berpikiran buruk terhadap saudaraku, lupakan saja, omong-omong.. apa yang sedang zaku kerjakan? apakah dia serius melakukan semedi, atau malah keluyuran tidak jelas.'


'a.. apa maksud paduka..?'


'hem.. kau akan segera tau nanti.'


'sebelum itu, maafkan atas kelancangan hamba paduka..! jika boleh.. Izinkan hamba berta..'


'aku tau apa yang akan kau tanyakan jura, tidak perlu khawatir dengan keadaan tama. karena ia baik-baik saja sekarang.'


'benarkah.. syukurlah jika begitu. terimakasih telah menjawab kekhawatiran hamba paduka.'


Diam tidak ada jawaban, didunia elf, baginda raja sedikit penasaran, dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


"apa maksudmu istriku..!"


Ratu melihat kedua orang tuanya, mereka mengangguk, meyerahkan semuanya kepada ratu.


"suamiku, sebenarnya.. hal yang aku belum ceritakan, adalah.. tentang kebangkitan kekuatan argus."


"maksudmu..?"


Tanya raja tidak mengerti, dan ratu melihat ekspresi dari suaminya.. sedikit menarik nafasnya.


"kau tentu sudah mengetahuinya bukan, mengenai setengah darah, yang argus miliki..!"


"ya.. tentu saja, lalu apa hubungannya.. dengan kebangkitan yang kau maksud sayang..?"


"kekuatan argus saat ini, murni kekuatan elf. bukan campuran dari setengah darah lainya..!"

__ADS_1


"jadi maksudmu, dia juga mempunyai kekuatan dewa sama sepertimu, dan kedua orantuamu??"


"ya.. benar, sekarang.. kekuatan yang dimiliki argus, murni berasal darimu. tapi.."


"tapi apa istriku??"


Perkataan ratu langsung dipotong, dengan raja.


"aku, ayahanda, dan ibunda. harus berada disisi argus, saat terjadi kebangkitan kekuatan barunya! Jika kami bertiga tidak berada disampingnya, itu bisa sangat berbahaya bagi tubuhnya sendiri."


"jadi, karena itukah ayahanda, dan ibunda datang kemari..!"


"benar sekali, itu juga salah satu alasannya, karena kebangkitan cucuku, sudah sangat dekat. Jika kami tidak berada disampingnya.. Saat kebangkitannya terjadi, argus tidak akan bisa menahan besarnya kekuatan itu..!"


Ujar sang ayahanda ratu, menjelaskan kepada menantunya. tampak perubahan, pada mimik wajah baginda raja, yang semulanya cerah bagai musim semi, kini berubah dilanda musim gugur. tidak bisa ia pungkiri, meskipun ia terlihat galak saat didepan putranya itu, tapi sebenarnya ia sangat menyayangi putra bungsunya.


"ya.. tepatnya, jika kekuatan itu terlalu besar.. argus bisa dimakan oleh kekuatannya sendiri."


Sambung sang ibunda lagi, membuat raja semakin khawatir. Ratu yang peka akan perubahan suaminya itu, dengan cepat ia membelai wajah raja, untuk menenangkan tubuh suaminya yang bergetar sambil memegang sofa yang didukinya.


"sayangku, jangan terlalu khawatir dengan putramu. bukankah karena itu kedua orangtuaku datang kemari, dan aku juga ada disini."


Sang Dewi yang mengenakan gaun putih keemasan pada tubuhnya, membuatnya tampak indah, senyum lembut keibuan selalu terukir diwajahnya yang anggun, membuat siapapun yang melihatnya.. akan merasakan ketenangan dan merasa nyaman saat berada didekatnya. Wajah cantik sang dewi, yang tersenyum lembut saat menenangkan suaminya. Membuat sang baginda merasa tenang, ratu menarik lembut baginda raja, dan menyandarkan raja kedalam pelukannya, seolah baginda adalah anaknya.


Ya.. Jika terpaut usia, tentu saja dewi helmina jauh lebih tua dari pada suaminya sendiri, yang hanya berusia tujuh ratus tahun, karena dewa dewi terlahir abadi. Namun kelemahan para dewa.. Meskipun mereka terlahir abadi, tetapi.. Mereka juga bisa mati, jika dibunuh sesama dewa itu sendiri. Para dewa memang tidak pernah bisa menua sedikitpun. Mereka selalu terlihat awet muda. Begitupun para elf, mereka tidak bisa menua, hanya warna rambutnya saja yang berubah. para manusia elf, ketika mereka beranjak dewasa, mereka juga tidak bisa menua, tapi mereka tidak abadi, seperti para dewa, hanya saja.. Usia mereka lebih panjang daripada manusia biasa. Terpautnya usia yang sangat jauh.. karena itu terkadang, ratu menganggap suaminya itu seperti anak kecil, yang selalu butuh perhatian darinya. namun itulah sisi yang paling disukai dari suaminya. Terkadang baginda raja seperti anak-anak yang suka jahil pada siapapun, tapi dilain sisi.. dia juga bisa bersikap tegas, patuh, dan penurut. dan kadang, ia juga bisa bertindak dewasa sesuai umurnya.. Ia juga bisa bersikap layaknya pria sejati, saat berada didekat istrinya. raja sangat menyayangi sosok istrinya tersebut, yang selalu jauh lebih dewasa darinya. adakalanya, ia sangat ingin memanjakan istrinya.. akan tetapi, ratu tidak pernah menunjukkan sisinya itu, hanya sesekali tergantung moodnya.


"istriku.."


"hem... tidak bisakah! sesekali kau bersikap manja kepadaku!"


Ratu menepuk punggung suaminya, pelan.


"benarkah kau ingin aku bermanja kepadamu?"


Saat ratu mendengar pertanyaan suaminya, ia langsung menolak tubuh suaminya dari pelukannya.. Sambil memegang kedua bahunya dan sedikit menyeringai menggoda.


"tentu saja.. kau juga harus bergantung, dan bersandar padaku, kalau tidak.. apa gunanya aku sebagai suamimu, kau selalu saja memperlakukan aku seperti anak-anak yang membutuhkan pelukan ibu."


"haaah.. kalian ini, seperti dunia milik kalian berdua saja.. seolah-olah, semua orang disini hanya menumpang didalamnya. Cih, Jika ingin bermesraan, pergilah ketempat yang tidak ada orang lain, dasar bocah-bocah ini."


"hihiy.. bukankah kita juga sering begitu istriku...!"


"bisakah kau hentikan sikapmu itu suamiku!"


Sang dewa hanya tersenyum melihat sifat istrinya, Sedangkan raja dan ratu, setelah mendengar teguran dari ibunda dewi, mereka dalam sekejap langsung berpindah tempat, dan sekarang keduanya sudah berada didalam kamar mereka.


"padahal aku ini suamimu, pasanganmu, bukan anakmu."


Cemberut raja kepada istrinya.. yang tanpa raja sadari, membuat ratu tertawa lucu, saat melihat ekspresinya. Sikapnya yang seperti inilah membuat ratu jatuh hati kepadanya.


"apa yang kau tertawakan! Apa kau tidak mendengarkanku istriku.."


Keluh sang raja tampan itu.


"hmhmhm.. Inilah alasan kenapa aku bisa jatuh cinta kepadamu sayang, wajahmu yang seperti ini.. aku sangat menyukainya. hmm.. bukannya aku tidak mendengarmu sayangku, tapi.. wajahmu terlalu lucu untukku, dan jangan pernah menunjukkannya dihadapan wanita lain, karena sisimu ini, hanya aku yang boleh melihatnya.


"ia aku janji istriku, bagiku hanya ada dirimu seorang dihatiku, dan tempat itu telah terisi penuh hanya dengan dirimu. Begitupun dirimu minaku, jangan pernah melirik pria lain, Karena aku bisa sangat marah dan cemburu."


Ratu mengangguk dan tersenyum lembut, sambil membelai pipi suaminya, raja langsung meraih tangan ratu dan mengecup tangannya, dengan lembut.


"istriku.. kau terlalu lama meninggalkan aku sendiri, dalam kesepian. jadi kau harus bertanggung jawab, atas perbuatanmu kepadaku."


"hem.. apa maksudmu?"


Tanya ratu, berpura-pura tidak mengerti.


"apalagi.. karena argus sudah terlalu besar, dan dia juga sudah tidak ada sisi imutnya lagi, jadi.. kita harus membuat argus junior yang lainnya.."


"mmm.. bagaimana jika aku tidak mau..!"


"kau tidak bisa menolaknya, dan sekarang, kau harus dihukum, karena telah berani menelantarkan suamimu ini. selama tiga purnama aku menantikanmu, dan kau tau mina..! itu membuatku sangat menderita, saat berada jauh darimu. Jadi kali ini.. aku tidak akan melepaskanmu lagi, jadi kau harus patuh kepadaku, jika tidak.."


"hahahaha.. sayang, hentikan. Itu sangat geli.."


"aku tidak akan berhenti, jika kau tidak menurut padaku."


"hahahaha.. baik.. baik.. Aku akan menurutimu faran, hahaha tolong hentikan."

__ADS_1


Raja mengelitik pinggang istrinya, dan menggigit pelan leher sang istri.. Lalu iapun mengecup kening istri tercintanya dan merekapun bermadu kasih, menghabiskan malam indah berdua, ditemani terangnya bulan sabit.


...----------------...


Ditempat pertambangan, robi dan dean duduk untuk beristirahat. Keduanya berbicara pelan, sambil memperhatikan suasana sekitar.


"lihatlah para penjaga itu, ada yang aneh dengan mereka semua!"


"apa maksudmu?"


"kau lihat penjaga satu itu, diarah jam sembilan, dia sangat tidak normal. sejak tadi kuperhatikan, ia selalu menghindari matahari, seakan dia takut terbakar. Dan satunya lagi.. Diarah jam dua belas, matanya selalu melirik kekiri, dan kekanan dalam sekian perdetik."


Dean melihat kearah pria itu, dan benar saja.. seperti apa yang dikatakan robi. Matanya tidak berhenti melirik setiap tiga detik, matanya terus menatap kekiri dan kekanan.


"kau benar, jika manusia biasa, pastinya sudah mengalami sakit mata."


"ya.. begitupun penjaga diarah jam tiga, dan enam. Yang satunya sesekali lidahnya terjulur keluar, dan satunya lagi, sering menggaruk tubuhnya."


"ada yang aneh, jika seperti ini.. kita harus menggunakan sihir. Omong-omong.. Apa kau bisa menggunakan sihir?"


Tanya dean kepada robi.


"jika sihir, aku tidak bisa.. aku hanya bisa menggunakan aura, dan mana. Bagaimana denganmu?"


"hmm.. aku bisa ketiganya, tapi yang jadi permasalahannya sekarang! Bagaimana mengakali penjaga tersebut, kelihatannya.. mereka cukup merepotkan untuk dihadapi, ini akan menghambat kita saat kabur."


"kau tenang saja.. serahkan urusan para penjaga kepadaku, kau urus saja dokumen rahasia. Mereka pasti menyelundupkan barang-barang kepada distributor gelap, lalu menjualnya dengan harga tinggi. Dan dari enam puluh persen hasil keuntungan, lari kekantong mereka. Sementara untuk dua puluh persennya lagi, sisa dari hasil keuntungan yang telah dibagi, diserahkan kepada duke, tapi tidak beserta bunganya. Jika begitu, pantas saja yang mulia selalu dirugikan. Ada kecurangan dalam kasus ini, apa mereka tidak takut jika sampai ketauan oleh yang mulia. Aku saja.. sampai merinding membayangkannya."


Ujar robi sambil melipat tangan, Dan tetap waspada dengan keadaan sekitar. Sedangkan dean yang mendengarnya, hanya menopang sebagian wajahnya pada tangan kanannya.


"haah.. Entahlah, Kau faham sekali rupanya, aku sama sekali tidak mengerti urusan begitu. lantas apa rencanamu!"


'wajar saja aku tau, aku sering melihat ayahku mengurusi, bagian keuangan kekaisaran.' "yah, seperti rencana awal, kita bergerak malam ini. Kau ambil dokumennya, dan aku akan mengurus keempat penjaga itu setelahnya, kita akan kabur dari sini."


"bagaimana jika gagal?"


"kita akan langsung mengirim sinyal, kepada yang mulia. Dan menunggu bala bantuan, hmm.. Omong-omong kenapa para pekerja menjadi berkurang?"


"apa maksudmu!"


"bukankah tadi kita ada bertujuh, dan sekarang hanya tinggal lima, kemana yang duanya lagi?"


"setauku, tadi salah satu penjaga membawa mereka.. Melewati lorong tengah, saat kau sedang minum."


Ujar dean menjelaskan, karena saat robi sedang fokus minum, dean melihat kedua penjaga membawanya.


"ini.. tidak benar, aku rasa kasus ini tidak hanya menyangkut soal penyelundupan tambang, tapi.. juga ada keterlibatan tangan gelap, yang tidak kita ketahui."


Wajah robi mulai berubah, ia mengernyitkan kedua alisnya, dan tampak tidak tenang.


"kita harus berhati-hati robi, sepertinya ada yang tidak beres disini. Euh mereka datang kemari, ayo cepat.. kita kerja lagi."


Sambung dean, yang langsung bangkit berdiri, karena dua para penjaga tersebut menuju kearah mereka berdua. Sementara ditempat hutan terlarang, gapi dan zion baru saja tiba didepan gua yang dibicarakan gapi.


"paman, lihat.. cahaya itu masih berkilau terang, Apa kau melihatnya, kilauan dari dalam gua itu..!"


'hmm.. ini aneh, suasana disini juga menjadi suram mencengkam. Ada yang mencurigakan didalam sana..! pantas saja bocah ini merasa takut, untuk masuk kedalam.'


Zion, melihat gapi yang tiba-tiba mendekatinya dan bersembunyi dibawah tubuhnya yang besar.


'euh.. perasaan apa? yang aku rasakan barusan..!' "paman, sebaiknya kita pergi dari sini.."


"hem.. apa kau takut?" 'wajar saja jika dia takut, aura ini tidak biasa, sepertinya.. ada yang telah berani memasuki wilayahku. tapi, bukankah kata kakek, aku akan menemukan sesuatu yang menarik disini!'


Zion melirik kesekitar hutan, perasaannya menjadi tidak enak.


"ggggrrrrr.. ggggrrrrr.."


"inikah yang dibilang kakek menarik, cih, jangan bilang, dia sengaja mengerjaiku lagi..! sialan aku akan membuat perhitungan dengan pak tua itu. gapi.. cepat pergi dari sini."


Zion yang menyadari sesuatu, mulai merasa waspada, dan bersiap-siap untuk menyerang, ia melihat gapi masih tidak tega, untuk meninggalkannya sendirian, dan mengabaikan perkataannya.


"tapi, paman.. a..apa yang terjadi? k.. Kenapa kau jadi bersikap waspada seperti itu! dan tiba-tiba saja menyuruhku pergi, Aku tidak akan pergi jika tidak denganmu."


"tidak ada waktu untuk menjelaskannya, cepat nak, sekarang....!"


Teriak zion, dan tak lama seranganpun datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"bwuuussssshhh.. boooomm.. booooommm.."


__ADS_2