
Setelah selesai bertemu dengan Rael. Hari pun sudah mulai gelap, Ravella kembali kekemarnya. Ravella pun pergi untuk membersihkan diri di bantu Reni. Sementara itu Para Spirit dan Garda kembali Kezona Mana.. Keempatnya sampai di markas tempat mereka selalu berkumpul.
Keempatnya lalu duduk di meja bundar membahas perihal yang mereka alami tadi siang. Sedangkan ketiga Spirit lainnya.. Yang berada jauh dari Markas, Masih tetap bertahan dengan semedi mereka. Ketiganya tampak tidak ada yang mahu menyerah.
Kembali kemeja bundar, Gira langsung membuka pembicaraan, karena rasa penasarannya. Yang tidak bisa di kekang lagi.. Akhirnya ia berceletuk.
"Hei Pak Tua.. Jangan bertele-tele. Cepat langsung keintinya saja." ujarnya menatap Garda yang duduk berseberangan darinya dan Jura, sementara Saga duduk di sebelah Garda.
"Hem.. Aku merasakan kekuatan Dewa Penghancur." ujar Garda singkat.
"Kekuatan Dewa Penghancur..!!! Tunggu dulu!" Ucap Saga, sambil berpikir seolah sedang mengingat sesuatu.
Lalu Saga melihat kearah Gira dan Jura.. Ia kemudian berujar.
"Hei.. Bukankah kita pernah membahasnya, waktu dengan Baginda Kaisar?"
"Benar! Saat itu Tama merasakan kekuatan mengerikan." Jawab Jura.
"Jangan bilang Spirit yang di khawatirkan Tama, adalah Dia..!!" Sambung Gira lagi.
"Berarti perasaan yang aku rasakan tadi.. Tidak salah lagi, Pantas saja aku merasa seperti mengenal Aura anak itu! ternyata begitu rupanya."
"Apa maksudmu??" Tanya Garda.
"Heeh.. Kalian masih mengingatnya bukan??" Ucap Saga menyeringai.
"Apa maksudmu?" Tanya Gira heran.
***
Setelah selesai mandi, Ravella pun bersiap-siap untuk makan malam dengan Duke.
"Tok.. Tok.. Tok.. Putri.." terdengar suara ketukan, dari luar pintu.
__ADS_1
"Masuk."
"Putri, Yang Mulia menyuruh anda untuk segera turun, beliau sudah menunggu di bawah." ujar Kepala Pelayan tersebut.
"Baik, aku akan segera turun."
Saat Ravella menuruni Tangga, tampak Duke sudah duduk di depan meja makan. Dengan berbagai hidangan sudah di tersedia di atas meja.. Ia melihat Ayahnya, tampak senyum hangat terbit di permukaan wajah tampannya.
"Ayah sudah lama menunggu?" tanya Ravella.
"Tidak Juga."
Sang pelayan menarik kursi untuk Ravella, Ravella duduk di samping Duke. Sambil makan, Duke pun langsung menanyakan tentang pertemuan Putrinya Tersebut.
"Putriku, bagaimana pertemuanmu dengan Bocah itu? Apa dia mengganggumu, atau kau merasa Risih padanya!! Jika ia, katakan saja pada Ayah.. Biar Ayah yang menyelesaikannya untukmu." Gumam Duke, sambil makan.
'Haah.. Mulai lagi, Aku tidak boleh sembarang bicara dengannya. Bisa-bisa anak itu akan diincar dengan Ayah.' Pikirnya agar berhati-hati untuk berbicara. "Tenang saja Ayah! Anak itu cukup menyenangkan, dan ia juga sangat sopan." ujar Ravella tersenyum, meyakinkan Sang Ayah. 'Aku sangat berhati-hati dalam berkata, jika aku salah bicara sedikit saja.. bisa runyam urusannya.'
"Baguslah, jika begitu. Oh iya Sayang, mulai hari ini kau harus tidur dengan Ayah, karena beberapa hari ini Ayah tidak bisa menemanimu tidur, Karena kesibukan Ayah yang begitu padat."
Ia mengeluh dalam hati, Lannox benar-benar tidak ingin melewati momen bersama Putrinya. Sepenat dan sesibuk apapun itu! Lannox pasti menyempatkan diri untuk meluangkan waktu bersama Putrinya.
Dan celakanya lagi.. semenjak kejadian Siang tadi, Lannox benar-benar akan lebih Protektif lagi kepada Putrinya! apalagi setelah tahu Spiritnya sendiri.. juga menaruh perasaan pada Putrinya.
"Haah.. Baiklah terserah Ayah saja." ujar Ravella sambil mengunyah makanan.
"Setelah ini.. kau duluan saja kekamar. Ayah akan menyusulmu nanti, Karena ada sedikit pekerjaan yang harus Ayah selesaikan."
"Heum.." angguk Ravella.
Tiba-tiba Ia menatap serius melihat kearah Ayahnya.. Timbul kekhawatiran di hati Ravella.
"Ayah.." panggilnya sambil melihat kewajah Sang Ayah, yang tampak sedang fokus dengan makanannya.
__ADS_1
"Ya, Sayang!" Jawab Duke sambil memotong daging dengan pisau.
"Meski Ayah sesibuk apapun, tetap jaga kesehatan Ayah. Ravel tahu, Ayah bekerja juga untuk Ravel. Tapi.." Ia menundukkan kepalanya.. lalu menarik nafas panjang, ia kembali berujar dan menatap Sang Ayah.
"Walau Ravel tidak pernah merasakan betapa hangatnya pelukan seorang Ibu, dan tidak pernah melihat bagaimana Sosok Ibu secara nyata. Meski begitu.. Sekarang hanya tersisa Ayah! Ravel tidak mahu kehilangan Ayah juga, Jadi jangan abaikan kesehatan Ayah hanya untuk pekerjaan." ujarnya sambil tersenyum.
Mendengar apa yang dikatakan Putrinya barusan.. Ia tersentak kaget, Tangan Lannox yang tengah asyik memotong irisan daging, langsung terhenti seketika. pertanyaan yang paling sensitif baginya.. Akhirnya keluar dari mulut Putrinya.
Melihat raeksi Putrinya.. Muncul Rasa sebak di dada. Mata yang berkaca-kaca di tahan agar tidak keluar, Ia berusaha terlihat tegar di depan Putrinya..
Agar tidak membuat Putrinya Khawatir.. Lalu ia memaksakan diri untuk tersenyum, dan mengusap kepala Putrinya dengan lembut.
"Tentu Sayang, Ayah akan mengingat pesanmu." ujarnya tersenyum.
'Setelah makan malam selesai, aku pamit untuk kembali kekamar. Tapi sebelum itu.. Aku berhenti di pertengahan tangga, dan melihat Punggung Ayahku yang sudah menjauh. Setelah melihat punggung bidangnya menghilang!
Aku melanjutkan kembali langkahku, untuk menaiki tangga demi tangga, hingga tanpa sadar, aku sudah berada di depan pintu kamarku! akupun masuk kedalam untuk berganti pakaian tidur.
Setelah selesai, aku pergi kekamar Ayah.. Dari kajauhan mata memandang. Tampak kedua Kesatria sedang berjaga di depan pintu Kamar Ayah, saat melihatku melangkahkan kaki mendekati pintu kamar Ayah.. Mereka menyapaku, lalu membukakan pintu untukku.
Aku pun masuk kedalam dan sesampainya di dalam, aku langsung berlari ke-ranjang Merebahkan tubuhku, yang terasa sangat lelah sekali.
Aku berbaring menghadap ke langit-langit kamar, sambil meletakkan tangan kiriku di atas dahi. entah kenapa setiap kali aku membahas tentang ibu! Ekspresi Ayah langsung berubah seketika.
Aku bisa merasakan ada air mata yang tertahan, yang tidak bisa ia tunjukkan saat berada di depanku. Tapi.. Dengan begitu aku jadi tahu.. Betapa kesepian dan dalamnya kerinduan Ayah pada Ibu.
Tanpa sadar aku telah menyentuh hal paling sensitif bagi Ayahku! tapi aku tidak bermaksud seperti itu, Hanya saja.. Akhir-akhir ini Ayah sering terlihat sibuk. dan terkadang ia tidur di ruang kerjanya, dan tidak kembali lagi kekamar.
Haah.. Sepertinya mulai sekarang aku juga harus memperhatikan Pak Tua itu.. Agar ia tidak merasa kesepian lagi. Uaaagggghhhh... Aku mengantuk sekali, Aku harap Ayah cepat menyelesaikan pe-ker-ja-an..'
Ravella pun langsung tertidur menjemput mimpinya.. suasana malam terasa sunyi dan begitu tenang. Tiba-tiba seluruh isi Mansion tertidur pulas.
Di tengah keheningan dan kegelapan malam, Muncul gerbang cahaya di kamar tempat Ravella terbaring. Sosok tinggi dan gagah, dengan ketampanan yang sangat sempurna.. Berjalan mendekati ranjang tempat Ravella tertidur. Pria berambut panjang sehitam malam, mengenakan pakaian hitam kemerahan.
__ADS_1
Netra Emasnya tertuju pada sosok gadis kecil, yang sedang terbaring dan hanya mengenakan Gaun putih polos. Ia menghampiri sosok Permaisuri kesayangannya itu.. Lalu duduk di sampingnya.